MasukLorong Unit Gawat Darurat dipenuhi suara langkah kaki yang tergesa.
Seorang dokter perempuan mendorong brankar bersama dua pria. Di atasnya terbaring Eric dengan wajah berlumuran darah. Lengan kanannya patah dalam posisi yang tidak wajar, sementara tubuhnya dipenuhi lebam dan luka. Kedua pria itu adalah Dominic dan Andreas. Dominic, tetangga kos Eric, menemukannya tergeletak tak berdaya di pinggir jalan. Ia kemudian segera menghubungi Andreas, satu-satunya teman Eric di kampus. Melihat kondisi sahabatnya, Andreas mengepalkan tangan kuat-kuat. Ia mengeluarkan ponselnya, memotret kondisi Eric, lalu mengirimkannya ke grup fakultas. ‘Lihat baik-baik apa yang sudah kalian lakukan. Aku tidak peduli siapa pun yang terlibat, kalau Eric sampai kenapa-kenapa, aku akan memastikan masalah ini tidak berhenti begitu saja.’ Foto itu segera membuat grup yang sebelumnya ramai menjadi sunyi. Namun keheningan tersebut tidak berlangsung lama. Foto Eric yang berlumuran darah dengan lengan patah segera memancing berbagai reaksi. Sebagian mulai mempertanyakan apakah Eric benar-benar pantas menerima perlakuan seperti itu, sementara yang lain masih menganggapnya sebagai akibat dari perbuatannya sendiri. Perdebatan kembali memenuhi grup. Di tengah semua itu, foto kondisi Eric mulai menyebar dari satu grup ke grup lainnya hingga akhirnya sampai kepada Xavia. Xavia menatap layar ponselnya cukup lama. Sejak sore, ia sebenarnya sudah berniat mengunggah video klarifikasi. Namun sebelum sempat melakukannya, keadaan telah berkembang jauh lebih cepat dari yang ia perkirakan. Tanpa menunggu lebih lama, Xavia segera merekam video. Ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sejak awal, kemudian mengunggahnya. Video tersebut dengan cepat menyebar. Narasi yang sebelumnya menyudutkan Eric mulai dipertanyakan. “Jadi Eric benar-benar korban?” “Gara-gara satu fitnah, orang sampai babak belur seperti itu.” “Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, siapa yang akan bertanggung jawab?” Akun-akun yang sebelumnya ikut menyebarkan video tentang Eric mulai menghapus unggahan mereka. Namun tidak semua orang langsung percaya. Perdebatan terus berlangsung. Namun kali ini, kemarahan yang sebelumnya tertuju kepada Eric mulai berbalik kepada Issabel, Christine, dan para mahasiswa yang terlibat dalam pengeroyokan. Tidak butuh waktu lama hingga beberapa media berita ikut mengangkat kasus tersebut, menyoroti dugaan fitnah dan kekerasan yang terjadi di lingkungan kampus. — Pintu ruang gawat darurat terbuka. Seorang dokter keluar sambil melepaskan sarung tangannya. “Siapa keluarga pasien?” Dominic dan Andreas saling berpandangan. “Kami temannya, Dok,” jawab Andreas. “Bagaimana kondisi Eric?” “Nyawanya sudah tidak dalam bahaya. Lengan kanannya mengalami patah tulang, tetapi sudah kami tangani.” Dokter berhenti sejenak. “Untuk saat ini, dia sudah diberi obat penenang dan perlu beristirahat. Kemungkinan beberapa jam ke depan ia akan sadar.” Andreas dan Dominic akhirnya mengembuskan napas lega. Setidaknya, Eric masih hidup. Seiring menyebarnya kasus tersebut, identitas beberapa mahasiswa yang terekam dalam video mulai terungkap. Latar belakang keluarga mereka pun ikut menjadi perhatian. Sebagian orang tua murka setelah mengetahui keterlibatan anaknya, sementara yang lain berusaha mencegah masalah tersebut berkembang lebih jauh. Di internet, desakan agar para pelaku mendapat hukuman terus bermunculan. Pihak universitas juga mulai dituntut untuk segera memberikan penjelasan. Menjelang tengah malam, universitas akhirnya merilis pernyataan resmi. Mereka menyatakan telah membentuk tim investigasi khusus dan berjanji akan mengumumkan hasil penyelidikan paling lambat keesokan harinya. Pukul tiga dini hari. Eric perlahan membuka mata. Langit-langit putih rumah sakit menyambut pandangannya. Ia terdiam cukup lama, berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Beberapa detik kemudian, matanya membelalak. “Aku… masih hidup?” Butuh waktu beberapa saat hingga ia benar-benar menerima kenyataan. Ia selamat. Seseorang telah membawanya ke rumah sakit. Eric menoleh ke kanan. Lengan kanannya terbalut gips tebal dan digantung dengan penyangga. Hampir seluruh tubuhnya masih terasa nyeri, sementara wajahnya dipenuhi lebam dan luka lecet. Ia mengembuskan napas panjang. Masih hidup sudah lebih dari cukup. Cling! Suara mekanis yang asing tiba-tiba terdengar di telinganya. [Legacy Intelligence berhasil mengidentifikasi pengguna baru.] Di saat yang sama, sebuah layar transparan perlahan muncul di hadapannya, melayang di udara layaknya monitor holografis. Mata Eric langsung membelalak. “Ini…” Jantungnya berdegup lebih cepat. Layar itu sama persis seperti yang dilihatnya sebelum kehilangan kesadaran. Eric menelan ludah. “Jadi… itu bukan halusinasi?” [Sinkronisasi dimulai.] [1%… 2%… 3%… 4%…] Ceklek! Pintu ruang perawatan terbuka. Andreas yang baru masuk langsung membelalak saat melihat Eric telah sadar. “Eric!” Ia bergegas menghampiri ranjang, lalu menoleh ke belakang. “Dominic, cepat panggil dokter!” “Baik!” Dominic langsung berbalik dan berlari keluar ruangan. Sementara itu, Eric hanya menoleh sekilas ke arah Andreas. Ia sama sekali tidak memperhatikan apa yang terus diucapkan temannya itu. Seluruh perhatiannya tertuju pada layar transparan yang melayang di depan mata. Yang membuatnya semakin terkejut, Andreas tampak sama sekali tidak menyadari keberadaan layar tersebut. “Eric, kamu dengar aku?” Andreas melambaikan tangan di depan wajahnya. Tak ada jawaban. Tatapan Eric menembus tubuh Andreas, seolah sedang melihat sesuatu yang tak dapat dilihat orang lain. Perlahan, angka pada layar terus bergerak. [98%…] [99%…] [100%.] [Sinkronisasi selesai.] Layar di hadapan Eric berubah. ================================ LEGACY INTELLIGENCE Status: Aktif Pemilik: Eric Brown Usia: 23 Tahun ================================ Beberapa detik kemudian, baris tulisan baru perlahan muncul. [Selamat datang, Eric Brown.] [Saya adalah Legacy Intelligence, sebuah kecerdasan buatan yang dikembangkan sekitar 218 tahun setelah zaman Anda.] [Fungsi utama saya adalah membantu pengguna menganalisis informasi, menemukan solusi, dan meningkatkan peluang keberhasilan dalam menghadapi berbagai permasalahan.] Eric membelalak. “Dua ratus delapan belas tahun…?” Dadanya mulai berdegup semakin cepat. Malam itu Eric perlahan mencoba memahami Legacy Intelligence tersebut, sementara Andreas menjelaskan semua yang terjadi setelah ia kehilangan kesadaran. Namun setiap kali ditanya siapa pelakunya, Eric hanya diam. Tak lama setelah Andreas keluar dari ruangan, layar transparan itu kembali muncul. [Kerabat sedarah terdeteksi.] [Lokasi: Negara Kravania.] [Apakah Anda ingin mengirimkan sinyal identifikasi kepada target?] [YA] [TIDAK] Eric membeku. “Kerabat…?” Napasnya tertahan. Setahunya, ia sudah tidak memiliki keluarga sejak kedua orang tuanya meninggal. Lalu siapa kerabat yang terdeteksi di Kravania? Apa mungkin masih ada keluarga lain yang belum pernah ia ketahui? Tatapannya terpaku pada dua pilihan di layar. Ruangan kembali hening. Setelah berpikir cukup lama, Eric akhirnya mengangkat tangan kirinya. Ujung jarinya perlahan menyentuh pilihan— [YA].Robert melirik pesan yang masih terbuka di layar ponselnya. “Robert? Memangnya apa yang sedang terjadi?” “Tidak ada.” Ia tidak berniat membuat istrinya ikut memikirkan masalah tersebut. “Aku hanya ingin memastikan.” “Baiklah.” Percakapan mereka sempat terdiam beberapa saat. “Bersabarlah sedikit lagi,” ucap Robert. “Setelah Nadine menyelesaikan SMP-nya, aku akan mengurus semuanya. Kalian pindah ke Velora dan kita akan tinggal bersama.” Hening sesaat terdengar dari seberang. “Kau serius?” “Aku sudah mempertimbangkannya.” Suara wanita itu terdengar lebih cerah. “Baiklah. Aku akan menunggu.” Robert tersenyum kecil. “Kau juga jangan terlalu memaksakan diri di sana,” lanjut wanita itu. “Pekerjaanmu memang penting, tapi jangan sampai lupa beristirahat.” “Aku tahu.” “Kau selalu mengatakan itu. Awas saja jika aku mendapat kabar kau sakit lagi.” Robert tertawa pelan. “Baiklah. Aku akan lebih memperhatikannya.” “Bagus.” Keduanya kembali berbicara sebentar sebelum a
Eric menatapnya beberapa saat.“Memangnya setiap hubungan harus dimulai dengan mengungkapkan perasaan?”“Harus. Itu sudah menjadi hukum mutlak.”“Kenapa harus?”Andreas mengernyit seolah pertanyaan itu terdengar aneh. “Karena kalau tidak ada yang mengatakannya, bagaimana kalian tahu hubungan kalian sudah sampai mana?”“Bukankah sikap seseorang sudah cukup untuk menunjukkan perasaannya?”“Itu berbeda.” Andreas menggeleng. “Kau bisa memperlakukannya dengan baik, dia juga bisa melakukan hal yang sama kepadamu. Tapi selama tidak ada yang mengatakannya, kalian tetap tidak punya hubungan apa-apa.”Eric terdiam sejenak.“Jadi menurutmu, setelah mengungkapkan perasaan, hubungan itu otomatis menjadi resmi?”“Kalau dia menerimamu, tentu saja.” Andreas menatapnya heran. “Memangnya selama ini kau pikir orang-orang mulai berpacaran bagaimana?”Eric tertawa kecil. “Aku hanya bertanya.”Andreas menggelengkan kepala tak berdaya.“Duduk, duduk.”Eric menarik kursi dan duduk.Andreas memasang wajah ser
Dominic terdiam.Tiga pasang mata menatapnya, menunggu jawaban. Namun, alih-alih menjawab pertanyaan Eric, Dominic justru menghela napas.“Jangan melempar pertanyaan seperti itu. Bagaimana aku bisa meninggalkan pekerjaanku yang sekarang? Sumber penghasilanku cuma dari sana.”“Memangnya berapa gajimu sekarang?”“Seribu lima ratus dolar.” Dominic berhenti sejenak. “Baru-baru ini naik seratus dolar. Katanya performa kerjaku cukup baik.”Eric merapikan sendok di samping piringnya.“Apa kau ingin berkuliah atau tidak?”Dominic mengerutkan kening. “Kau menanyakan itu terus. Memangnya kau mau membiayai kuliahku?”“Kenapa tidak?”Dominic terdiam.Ia mengira Eric hanya sedang menggodanya. Namun, ekspresi Eric tidak menunjukkan sedikit pun tanda sedang bercanda.“Jangan bercanda seperti ini. Nanti aku benar-benar menganggapnya serius.”“Aku memang serius.” Eric tersenyum kecil. “Bagaimana kalau seperti ini? Kau akan mendapat beasiswa dari perusahaanku. Sebagai gantinya, setelah lulus nanti, kau
Setelah berbicara dengan beberapa tamu, Eric akhirnya memiliki sedikit waktu untuk bernapas.Namun, belum sempat ia meninggalkan tempatnya, seseorang sudah berjalan menghampirinya.“Akhirnya kerja kerasmu selama ini terbayar lunas.”Eric menoleh.Xavia berdiri di hadapannya dengan senyum kecil.“Selamat.”“Terima kasih.”Tatapan Xavia sempat turun ke bahu Eric. Ia kemudian membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sapu tangan.“Ada noda kecil di jasmu.”Eric mengikuti arah pandangannya dan baru menyadari noda tersebut.“Oh, untung kau melihatnya.” Ia menerima sapu tangan itu dan membersihkan noda di jasnya.Xavia hanya tersenyum melihatnya.“Terima kasih.” Eric mengembalikan sapu tangan tersebut.Xavia mengangguk kecil lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.Tidak jauh dari sana, Andreas dan Dominic yang melihat keduanya mulai berbicara pelan sambil sesekali tertawa.Xavia kembali menatap Eric.“Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu mulai sekarang? Tuan Brown, Tuan Eric, atau Tuan Muda?”
Tidak lama setelah Eric mengambil tempat di barisan depan, acara peresmian akhirnya dimulai.Seorang pembawa acara naik ke atas panggung dan menyambut seluruh tamu yang hadir. Setelah beberapa kata pembuka, Wali Kota Oxfield mendapat kesempatan memberikan sambutan singkat sebelum akhirnya giliran Robert dipanggil.Tepuk tangan kembali terdengar.Robert berdiri dari kursinya dan berjalan menuju panggung.Sebagai Presiden Direktur, dialah yang selama satu bulan terakhir menangani hampir seluruh proses pembangunan perusahaan. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, lalu menjelaskan secara singkat arah perusahaan dan rencana mereka setelah mulai beroperasi.Namun, tidak semua perhatian tertuju kepadanya.Sesekali, beberapa pasang mata beralih ke barisan depan.Eric duduk tenang bersama para pemegang saham lainnya.Di antara para pengusaha, pejabat, dan orang-orang dari industri farmasi yang memenuhi tempat itu, usianya terlihat sangat muda.“Dia Eric Brown?”“Y
Satu bulan berlalu.Dalam waktu sesingkat itu, banyak hal telah berubah.Perusahaan farmasi yang sebulan lalu masih berupa rencana di atas meja kini telah berdiri.Kantor pusat di Oriville mulai beroperasi dua minggu lalu. Alih-alih membangun dari nol, mereka membeli sebuah gedung yang sudah berdiri dan merenovasinya sesuai kebutuhan. Sebagian besar urusan administrasi dan manajemen perusahaan kini ditangani dari sana, sementara fasilitas produksi utama berada di Oxfield.Robert menepati perkataannya.Dengan bantuan dua belas keluarga, berbagai hal yang seharusnya membutuhkan waktu berbulan-bulan berhasil diselesaikan jauh lebih cepat. Tenaga ahli didatangkan, jaringan pemasok dibentuk, jalur distribusi dipersiapkan, sementara fasilitas yang mereka dapatkan di Oxfield direnovasi dan disesuaikan dengan kebutuhan produksi.Eric sendiri tidak banyak terlibat dalam urusan tersebut.Selama satu bulan terakhir, sebagian besar waktunya digunakan untuk menyempurnakan formula dua produk pertam







