เข้าสู่ระบบLorong Unit Gawat Darurat dipenuhi suara langkah kaki yang tergesa.
Seorang dokter perempuan berlari sambil mendorong brankar bersama dua pria. Di atasnya terbaring Eric dengan wajah berlumuran darah. Lengan kanannya patah dalam posisi yang tidak wajar, napasnya lemah, sementara monitor di samping brankar terus mengeluarkan bunyi nyaring. Kedua pria itu adalah Dominic dan Andreas. Dominic, tetangga kos Eric, menemukannya tergeletak tak berdaya di pinggir jalan. Ia kemudian segera menghubungi Andreas, satu-satunya teman Eric di kampus. Melihat kondisi sahabatnya, Andreas mengepalkan tangan kuat-kuat. Tanpa ragu, ia memotret Eric lalu mengirimkan foto itu ke grup fakultas. ‘Persetan dengan kalian semua! Siapa pun yang terlibat dalam ini akan kupastikan berakhir di penjara! Kalian menyebut diri mahasiswa, tapi beramai-ramai menghancurkan hidup orang yang tidak bersalah. Sampah! Kalau Eric sampai kenapa-kenapa, kalian akan menyesal!’ Grup yang sebelumnya ramai seketika membisu. Foto Eric yang berlumuran darah dengan lengan patah membuat banyak orang terdiam. Namun tak lama kemudian, obrolan kembali meledak. Foto itu menyebar dari satu grup ke grup lain dengan kecepatan yang sulit dibendung. Opini publik pun terbelah. Sebagian menilai Eric telah menerima hukuman yang terlalu kejam, sementara tak sedikit yang menganggapnya sebagai ganjaran pantas bagi seorang pelaku pelecehan. Perdebatan terus memanas hingga kasus itu menjadi salah satu topik paling ramai dibicarakan. Di sisi lain, Xavia hanya mampu menatap foto kondisi Eric dengan mata berkaca-kaca. Ia tak pernah menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Sejak sore, ia sebenarnya berniat mengunggah video klarifikasi untuk membela Eric. Namun sebelum sempat melakukannya, Eric sudah lebih dulu menjadi korban amukan massa. Ia terlambat. Terlalu banyak video yang dipotong dan diberi narasi menyesatkan hingga membuat publik percaya bahwa Eric benar-benar bersalah. Tanpa berpikir panjang, Xavia segera merekam video klarifikasi. Dengan suara bergetar, ia menjelaskan kronologi yang sebenarnya sekaligus mengunggah rekaman saat Eric dikeroyok. Di akhir video, Xavia juga mengungkapkan bahwa Eric berasal dari keluarga sederhana. Penampilannya yang lusuh bukan karena ia pemalas, melainkan karena harus bekerja keras demi membiayai hidup dan kuliahnya sendiri. Video itu menyebar dengan kecepatan yang mengejutkan. Narasi yang sejak awal menyudutkan Eric mulai dipertanyakan. “Jadi Eric benar-benar korban?” “Gara-gara satu fitnah, hidup seseorang hampir hancur.” “Bayangin kalau Eric benar-benar mati. Siapa yang mau tanggung jawab?” “Cantik bukan berarti selalu benar.” Akun-akun yang sebelumnya menyebarkan video fitnah mulai diam-diam menghapus unggahan mereka. Namun tidak semua orang langsung percaya. “Tunggu dulu. Jangan buru-buru menyalahkan Issabel. Biar pihak kampus yang mengusut.” Sebagian menuduh Xavia sengaja membela Eric demi mencari sensasi, sementara yang lain menuntut pihak kampus mengusut kasus tersebut secara terbuka. Perdebatan pun mulai berbalik arah. Kemarahan publik yang semula tertuju pada Eric perlahan mengarah kepada Issabel, Christine, dan para mahasiswa yang mengeroyoknya. Tagar yang menuntut keadilan bagi Eric terus bermunculan hingga menjadi perbincangan nasional. Beberapa stasiun televisi dan media berita ikut mengangkat kasus itu, menyoroti dugaan perundungan, fitnah, serta kekerasan yang terjadi di lingkungan kampus. Dalam semalam, konflik pribadi antar mahasiswa berubah menjadi isu sosial yang menyita perhatian publik. ⸻ Pintu ruang gawat darurat terbuka. Seorang dokter keluar sambil melepaskan sarung tangannya. “Siapa keluarga pasien?” Dominic dan Andreas saling berpandangan. “Kami temannya, Dok,” jawab Andreas. Dokter mengangguk kecil. “Beruntung pasien segera mendapatkan pertolongan. Kalau terlambat sedikit saja, kondisinya bisa jauh lebih buruk.” Andreas langsung melangkah maju. “Bagaimana kondisi Eric, Dok?” “Nyawanya sudah tidak dalam bahaya. Lengan kanannya memang mengalami patah tulang, tetapi sudah kami tangani. Untuk saat ini, yang paling kami khawatirkan justru kondisi psikologisnya. Pasien mengalami trauma dan tekanan emosional yang cukup berat, jadi kami memberinya obat penenang agar bisa beristirahat. Kemungkinan selama beberapa jam ke depan ia belum akan sadar.” Andreas dan Dominic akhirnya mengembuskan napas lega. Setidaknya, Eric masih hidup. ⸻ Seiring semakin viralnya kasus tersebut, identitas satu per satu mahasiswa yang terekam dalam video mulai terungkap. Tak hanya mereka, latar belakang keluarga masing-masing pun ikut menjadi sasaran pencarian warganet. Reputasi keluarga mereka perlahan mulai tercoreng. Sebagian orang tua murka setelah mengetahui anaknya terlibat dalam perundungan yang hampir merenggut nyawa seseorang. Namun sebagian lainnya justru berusaha menutupi masalah itu dengan memanfaatkan pengaruh yang mereka miliki. Kemarahan publik semakin memuncak. “Pelaku harus dihukum!” “Kampus jangan coba-coba menutupinya!” “Korbannya hampir kehilangan nyawa!” Desakan agar universitas segera mengusut kasus tersebut terus berdatangan dari berbagai pihak. Gelombang tekanan yang semakin besar membuat pihak kampus akhirnya tak bisa lagi berdiam diri. Menjelang tengah malam, universitas merilis pernyataan resmi. Mereka menyatakan telah membentuk tim investigasi khusus dan berjanji akan mengumumkan hasil penyelidikan paling lambat keesokan harinya. ⸻ Pukul tiga dini hari. Eric perlahan membuka mata. Langit-langit putih rumah sakit menyambut pandangannya. Ia terdiam cukup lama, berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Beberapa detik kemudian, matanya membelalak. “Aku… masih hidup?” Butuh waktu beberapa saat hingga ia benar-benar menerima kenyataan. Ia selamat. Seseorang telah membawanya ke rumah sakit. Eric menoleh ke kanan. Lengan kanannya terbalut gips tebal dan digantung dengan penyangga. Hampir seluruh tubuhnya masih terasa nyeri, sementara wajahnya dipenuhi lebam dan luka lecet. Ia mengembuskan napas panjang. Masih hidup sudah lebih dari cukup. Cling! Suara mekanis yang asing tiba-tiba terdengar di telinganya. [Legacy Intelligence berhasil mengidentifikasi pemilik baru.] Di saat yang sama, sebuah layar transparan perlahan muncul di hadapannya, melayang di udara layaknya monitor holografis. Mata Eric langsung membelalak. “Ini…” Jantungnya berdegup lebih cepat. Layar itu sama persis seperti yang dilihatnya sebelum kehilangan kesadaran. Eric menelan ludah. “Jadi… itu bukan halusinasi?” [Sinkronisasi dimulai.] [1%… 2%… 3%… 4%…] Ceklek! Pintu ruang perawatan terbuka. Andreas yang baru masuk langsung membelalak saat melihat Eric telah sadar. “Eric!” Ia bergegas menghampiri ranjang, lalu menoleh ke belakang. “Dominic, cepat panggil dokter!” “Baik!” Dominic langsung berbalik dan berlari keluar ruangan. Sementara itu, Eric hanya menoleh sekilas ke arah Andreas. Ia sama sekali tidak mendengar apa yang terus diucapkan temannya itu. Seluruh perhatiannya tertuju pada layar transparan yang melayang di depan mata. Yang membuatnya semakin terkejut, Andreas tampak sama sekali tidak menyadari keberadaan layar tersebut. “Eric, kamu dengar aku?” Andreas melambaikan tangan di depan wajahnya. Tak ada jawaban. Tatapan Eric menembus tubuh Andreas, seolah sedang melihat sesuatu yang tak dapat dilihat orang lain. Perlahan, angka pada layar terus bergerak. [98%…] [99%…] [100%.] [Sinkronisasi selesai.] Layar di hadapan Eric berubah. ================================ LEGACY INTELLIGENCE Status: Aktif Pemilik: Eric Brown Usia: 22 Tahun ================================ Beberapa detik kemudian, baris tulisan baru perlahan muncul. [Selamat datang, Tuan Eric.] [Saya adalah Legacy Intelligence, sebuah kecerdasan buatan yang dikembangkan sekitar 218 tahun setelah zaman Anda.] [Fungsi utama saya adalah membantu pemilik menganalisis informasi, menemukan solusi, dan meningkatkan peluang keberhasilan dalam menghadapi berbagai permasalahan.] [Perhatian.] [Saya tidak dapat mengambil keputusan atas nama pemilik. Seluruh pilihan tetap berada di tangan Anda.] Eric membelalak. “Dua ratus delapan belas tahun…?” Dadanya mulai berdegup semakin cepat. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa sedang berhadapan dengan sesuatu yang sepenuhnya berada di luar nalar manusia. .. Malam itu berlalu. Eric perlahan mulai menerima keberadaan Legacy Intelligence tersebut, sementara Andreas menjelaskan semua yang terjadi setelah ia kehilangan kesadaran. Namun setiap kali ditanya siapa pelakunya, Eric hanya menggeleng. “Lupakan saja. Biar aku yang menanganinya sendiri.” Andreas menatapnya beberapa saat, tetapi akhirnya mengangguk pelan dan menghormati keputusannya. Tak lama setelah Andreas keluar dari ruangan, layar transparan itu kembali muncul. [Kerabat sedarah terdeteksi.] [Lokasi: Negara Kravania.] [Apakah Anda ingin mengirimkan sinyal identifikasi kepada target?] [YA] [TIDAK] Eric membeku. “Kerabat…?” Napasnya tertahan. Selama dua puluh dua tahun hidup, ia selalu percaya bahwa kedua orang tuanya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Apa mungkin masih ada keluarga lain yang belum pernah ia ketahui? Tatapannya terpaku pada dua pilihan di layar. Ruangan kembali hening. Setelah berpikir cukup lama, Eric akhirnya mengangkat tangan kirinya. Ujung jarinya perlahan menyentuh pilihan— [YA].Setelah keluar dari ruang rawat Vincent, Eric menyapa singkat anggota keluarga Rothwell di sana sebelum berpamitan. Tak lama kemudian, sedan hitamnya meninggalkan halaman Rumah Sakit Trinity.—Di dalam ruang rawat, Vincent masih berdiri terpaku.Ia mengepalkan kedua tangannya berulang kali, lalu menggerakkan bahu dan memutar tubuhnya.Tak ada rasa sakit. Tak ada rasa pegal. Tubuhnya benar-benar telah pulih.“Hahaha…!” tawa puas tiba-tiba memenuhi ruangan.“Luar biasa…” gumamnya pelan.Ia berusaha menenangkan diri. Namun, setiap kali merasakan tubuhnya yang telah pulih sepenuhnya, senyum di wajahnya justru semakin sulit disembunyikan.Tepat saat itu, pintu ruang rawat terbuka.Beberapa anggota keluarga Rothwell bergegas masuk setelah mendengar suara tawanya.Vincent buru-buru berdeham pelan, berusaha kembali memasang wajah tenang.“Ada apa?” tanya salah seorang dari mereka.Vincent sedikit terkejut melihat beberapa orang masuk bersamaan ke dalam ruangannya. Ia menarik napas panjang,
Terdengar keheningan beberapa saat dari seberang telepon.“Aku benar-benar sembuh. Lukaku perlahan membaik. Kau tidak akan percaya sampai kau melihatnya sendiri.”Mendengar itu, sudut bibir Eric perlahan terangkat.Benar saja. Resep obat dari Legacy Intelligence memang tidak perlu diragukan lagi.“Bagus kalau begitu,” ucap Eric singkat.Vincent langsung melanjutkan, “Kau dapat pil itu dari mana? Apa benar itu warisan keluargamu? Kenapa efeknya bisa secepat itu?”“Ya.” Eric hanya menjawab satu kata.Ia sama sekali tidak berniat menjelaskan lebih jauh. “Jadi kapan kau keluar dari rumah sakit? Bukankah kau bilang ingin meminta penjelasan dariku?”Vincent langsung tertawa kecil. “Ah, lupakan saja soal itu. Lagipula meski luka di wajahku mulai sembuh, tubuhku masih terasa pegal.”Nada suaranya perlahan berubah penuh semangat. “Nanti setelah aku keluar dari rumah sakit, temani aku memberi pelajaran pada mereka.”“Tentu.” Eric mengangguk pelan. “Nanti siang, setelah kuliahku selesai, aku aka
Tak terasa, sedan hitam itu akhirnya memasuki halaman kediaman Keluarga Jones.Eric menghentikan mobil tepat di depan gerbang. “Sudah sampai,” ucapnya pelan.“Ayo masuk dulu. Kita makan malam, baru setelah itu kamu pulang,” ajak Xavia.Eric terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu harus menerima atau menolak. “Ini…”Melihat keraguan di wajah Eric, Xavia kembali berkata, “Ini permintaan Kakekku.”“Permintaan Tuan Jones?” tanya Eric memastikan.Xavia mengangguk pelan.Eric mengembuskan napas. “Baiklah.”Sedan hitam itu pun perlahan bergerak memasuki halaman Kediaman Keluarga Jones.Tak lama kemudian, mereka berdua turun dari mobil. Eric berjalan mengikuti Xavia menuju pintu utama.Beberapa pelayan yang melihat pemandangan itu saling bertukar pandang. Meski tak seorang pun berani berkomentar, raut wajah mereka jelas menunjukkan keterkejutan.Bagaimanapun, baru kali ini mereka melihat Xavia pulang bersama seorang pria.Sesampainya di ruang jamuan, ternyata belum ada seorang pun di sana. Namun
Melihat pesan dari Xavia, sudut bibir Eric perlahan terangkat. “Kau bawa mobil sendiri atau kujemput?”balasnya.“Jemput.”“Baiklah. Kirimkan lokasimu.”Tak lama kemudian, sebuah titik lokasi masuk ke ponselnya.Eric segera mengambil kunci sedan hitam di atas meja, lalu meninggalkan Mansion Brown.Bukan tanpa alasan ia mengajak Xavia.Jika nanti pembicaraan dengan Keluarga Rothwell berkembang ke arah yang tidak diinginkan, kehadiran Xavia setidaknya dapat sedikit mencairkan suasana. Bagaimanapun, gadis itu masih memiliki hubungan dengan keluarga tersebut. ⸻Pada saat yang sama, Xavia telah selesai bersiap.Penampilannya tampak sedikit lebih rapi dibanding biasanya.Kurang dari tiga puluh menit kemudian, seorang pelayan menghampirinya.“Nona Xavia, ada seseorang yang mencari Anda di depan gerbang.” Xavia mengangguk pelan, lalu berjalan keluar.Sesampainya di gerbang, ia langsung melihat sedan hitam milik Eric terparkir di sana. Pemuda itu sedang berbincang santai dengan satpam yang b
Sementara itu, entah bagaimana, Danny, Zaki, dan Joshua juga berakhir di rumah sakit malam itu.Kondisi mereka bahkan jauh lebih parah dibanding Vincent. Beberapa tulang di tubuh mereka patah, sementara wajah mereka nyaris tak bisa dikenali.Orang tua ketiganya tentu murka melihat kondisi anak-anak mereka. Namun setelah mengetahui seluruh kronologi kejadian, amarah itu perlahan berubah menjadi keputusasaan.Mereka tahu anak-anak merekalah yang lebih dulu memulai semua ini. Terlebih lagi, pihak yang mereka hadapi adalah Keluarga Rothwell.Tak seorang pun dari mereka berani membawa masalah itu ke jalur hukum. Mereka hanya bisa menelan kepahitan sambil berharap amarah Keluarga Rothwell berhenti sampai di situ.Sementara itu, Eric dan Andreas memilih meninggalkan rumah sakit setelah memastikan Vincent telah mendapatkan penanganan dari dokter.Mereka kembali ke bar untuk mengambil mobil, lalu pulang ke mansion.Semakin malam, semakin banyak anggota Keluarga Rothwell berdatangan ke rumah sa
Tanpa sadar, bongkahan bata di tangan Danny terlepas dan jatuh ke aspal.Wajah Zaki seketika memucat. “Sial… itu mobilnya. Habislah kita.”Joshua mengernyit bingung. “Memangnya dia siapa?”Zaki menelan ludah. “Dia mahasiswa baru, Vincent Rothwell.”Danny dan Zaki memang sudah mengetahui identitas Vincent sejak awal.Begitu Joshua mendengar nama itu, wajahnya ikut memucat.Vincent melangkah mendekati Danny.Tatapannya dingin. “Apa yang kau lakukan dengan mobilku?”Danny buru-buru mengangkat kedua tangannya. “Tenang dulu. Aku akan mengganti semuanya.”Vincent mendengus. “Kau kira aku kekurangan uang? Aku bertanya, kenapa kau merusak mobilku?”Belum sempat Danny menjawab… Empat pria bertubuh kekar tiba-tiba muncul dari arah belakang.Tanpa aba-aba…Brak!Salah seorang dari mereka langsung menerjang Vincent hingga tubuhnya terhempas ke aspal.Belum sempat Vincent bangkit…Buk!Sebuah pukulan keras kembali menghantam wajahnya. Disusul tendangan demi tendangan yang menghujani tubuhnya.Dann







