Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Zeyon Theodora. Semua itu disebabkan oleh jurnal dalam gadget yang terbaca oleh kakeknya, Georgio Theodora atau biasa disapa Gio, Tuan Besar.
Zeyon Theodora. Zee nama panggilannya, memiliki trauma mendalam sejak umur tiga tahun. Diakibatkan melihat baku tembak yang terjadi di rumah. Dalam ingatan Zee, suara desing peluru beradu serta darah yang menggenang hampir melumuri lantai putih. Untuk menghilangkan trauma itu, keluarga Theodora mengangkat dirinya menjadi pewaris sah dan mereka menetap di ibu kota untuk meneruskan hidup dengan tenang. Ditambah berbagai macam rangkaian terapi rutin Zee lakukan untuk menghilangkan trauma. Salah satunya dengan menulis jurnal isinya terserah Zee. Bisa kegiatan kesehariannya atau sekedar apa yang dirasakan dirinya. Jurnal itu juga berfungsi sebagai monitoring dokter pribadinya ketika sesi terapi dilakukan. Cukup ampuh mengurangi pikiran cemas yang berlebih serta menstabilkan emosi Zee yang mudah meluap. Segala pergerakan ternyata selalu dipantau oleh Gio. Zee pun baru tahu, karena kejadian ini terjadi, seharusnya jurnal itu hanya diketahui oleh Zee dan juga terapisnya. "Apa kamu pantas memiliki perasaan itu!" Gio membentak, bahkan didepan kedua orangtua Zee, Araya dan Tedi. Tapi tidak ada satupun dari mereka merespon untuk membela. Tedi terdiam sambil melayangkan tatapan menghakimi pada Zee. "Aku membesarkan mu bukan untuk jatuh cinta padanya. Anthea, dia itu adikmu." Gio terdiam sambil memegangi kepala, hilang kata-kata saking kesalnya. "Sekarang juga kamu keluar dari rumah ini!" Ada rasa sakit di dalam dada, napas Zee mulai naik turun secara tidak beraturan. Tanpa menunggu Gio lebih menghina, detik itu juga Zee angkat kaki dari rumah yang sudah empat belas tahun menjadi tempat berlindungnya. Saat membuka pintu Zee bertatapan dengan Anthea atau biasa dipanggil Thea. Dia menatap Zee dengan mata terbelalak, terkejut melihat Zee akan pergi dengan pipi merah dan darah disudut bibir. Zee merasa sama, seharusnya jadwal Thea masih dalam kelas piano. Lalu pandangan Thea beralih pada orang-orang yang ada dibelakang. "Ada apa?" Dia bertanya polos dengan raut wajah yang masih sama. Kalau Zee terlalu lama menatap wajahnya, mungkin Zee akan mengurungkan niat untuk meninggalkan rumah ini. Maka kembali Zee paksakan kakinya melenggang pergi, melewati tubuh Thea begitu saja. "Zee!" Ada getaran dalam suaranya yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasakan rasa sesak. 'Tolong jangan panggil namaku.' Batin Zee, nyatanya Thea tidak berhenti sampai disitu Zee mulai mendengar derap langkah kaki dibelakang, lambat laun menjadi lebih cepat. Dia masih terus mengikuti Zee. Tidak ada yang mencoba menghentikannya. Percuma saja, Thea adalah jenis orang yang tidak bisa menahan diri untuk segala hal yang diinginkannya. Jika itu sudah masuk keinginannya, maka hal tersebut harus jadi miliknya. "Zeyon Theodora!" Thea menangkap pergelangan tangannya. "Apa yang terjadi, Zee mau kemana?" Mereka berhadapan saat ini, tidak ada cara lain lagi. Zee harus membuat Thea membenci dirinya. Rasa sakit akan membuat Thea menderita, tapi itu hanya sebentar. Hidup Thea bisa kembali normal setelah ini. "Aku muak liat muka mu yang sok polos!" Zee menatap mata Thea dengan penuh kebencian yang seharusnya di layangkan pada tiga orang didalam rumah. "Rengekan mu yang enggak pernah dewasa, sangat mengganggu telingaku." Perlahan Thea mulai melonggarkan cengkraman tangannya. Zee langsung menepis tangan yang masih menempel itu dengan sekali hentakan. Thea terjatuh ke lantai, bersimpuh. Zee mantap melangkahkan kaki, kali ini tanpa sedikitpun menoleh kebelakang untuk melihat. Mulai terdengar Thea yang terisak. *** Anak rumahan usia 17 tahun, memiliki trauma yang belum sembuh. Sekarang berada diluar dan berjalan tanpa arah. Entah sudah berapa lama dan sejauh apa melangkah. Zee juga tidak tahu dirinya ada dimana? Duduk ditepian trotoar untuk sejenak mengamati tempat disekelilingnya. Gedung-gedung tinggi yang asing, sepertinya Zee benar-benar tersesat. Jangankan meminta tolong pada saudara bahkan teman sekalipun rasanya sungkan, dengan status baru anak angkat yang diusir keluarganya. Baru sadar, sekarang kemana Zee harus pergi? Sepersekian detik, sesuatu yang keras menghantam bagian belakang Zee. Saat itu juga pandangannya mulai kabur. 'Sedikit melenceng dari prediksi, terjadi lebih cepat.' Zee sadar hidupnya akan lebih berbahaya ketika mencoba menguak kebenaran dari keluarga Theodora.Rekam medis milik Thea terpampang disana. Walau nama belakang Thea sudah berbeda sekarang. Itu karena Thea sudah menikah, dan bisa saja dibawa ke rumah sakit oleh suaminya. Tangan Zeyon terus saja menggulir layar laptop, Raka sengaja meninggalnya sendiri. Tidak ada yang berani mengungkit atau mengusik jika menyangkut Thea. Bahkan Eva sekaligus, kecuali jika Zeyon yang memulai pembicaraan. Itu pun mereka akan menanggapi secara netral dan profesional menurut sudut pandang mereka. Namun kesempatan itu belum pernah terjadi. Hingga hari ini, makanya dari pada Raka harus canggung bersama, Raka memtuskan untuk membeli makan malam.Mengenai suami Thea, Zeyon menemukan namanya di data wali pasien. “Arun Bagaskara.” Zeyon sedikit menarik memori beberapa belas tahun kebelakang. Anak kecil yang seumuran dengan Thea. Salah satu kolega orang tua mereka, kerap kali keduanya dipasang-pasangkan, kecocokan mereka selain dari segi fisik juga latar belakang keluarga mereka yang setara.“Anak tengil itu y
Rafli yang selalu terlihat kalem, ini bisa berubah juga. Apa Zeyon memang sudah keterlaluan. Tapi niatnya memang hanya untuk memastikan keterlibatan keluarga Bagaskara saja. Tidak kah sikap yang ditunjukan Rafli padanya terlalu berlebihan.Apalagi Rafli yang mengungkapkan bahwa bisa saja Zeyon membunuh dirinya. Sungguh hal konyol untuk apa menukar nyawa Rafli dengan masuk dan mengulik infomasi yang tidak seberapa dari keluarga Bagaskara. Beberapa detik kemudian, Zeyon baru berani menatap wajah Rafli yang mengeras disana dan sedikit berwarna merah. Padahal suhu didalam mobil tidak panas sama sekali, AC mobil berfungsi dengan baik. Apa Rafli berada diambang batas sabarnya. ‘Apa nyawa Rafli memang tergantung padaku. Jika terjadi apa-apa deganku. Zara mungkin akan mengambil nyawa Rafli sebagai bayaran setimpal agar keluarga ini enggak ada dendam dimasa depan.’ Untuk sementara itu kesimpulan yang bisa Zeyon ambil.Mereka kembali ke hotel dengan Rafli yang terus saja memegang tensi emosi. K
Pintu tertutup kemudian terdengar suara pintu dikunci. Ruangan masih gelap, seperti enggan menyalakan saklar lampu. “Apa yang kamu lakukan?” Suara itu dikenali, Zeyon dengan sikap waspada langsung menyalakan lampu dan melihat sosok yang menariknya kedalam ruangan.“Rafli.” Satu tarikan napas panjang yang sedari tadi ditahannya lolos begitu saja melihat waja orang yang Zeyon kenal. “Aku hanya ingin bertemu dengannya kamu enggak usah—““Apa Anda mau semua yang kita rencanakan secara matang, berantak begitu saja karena satu tindakan bodoh dari Tuan Muda.”“Baiklah, aku hanya akan menyapa saja dan kita kembali ke rencana awal.” Zeyon sudah bergerak kearah pintu, dia takut Thea sudah pergi terlalu jauh. Sulit dikejar dan kalau mereka berada di tengah keramaian itu akan mempersulit pertemuan Zeyon dan Thea, secara diam-diam.Sebelum mencapai pintu, Rafli sudah sigap memasang badan menghalangi, Zeyon melotot melihat sikap Rafli yang seperti ini padanya. “Apa cuman itu, bagaimana kalau dengan
Kalaupun infomasi ini muncul dan tidak yakin jika Georgio masih dalam pengawasan Tedi. Zee tetap akan muncul dan menghadapi reskio besar yang terjadi. Georgio masuk ke rumah sakit bertepatan dengan usaha Tedi melenyapkan Zee dari keluarga Theodora. Untuk memiliki harta dan kekuasaan keluarga Theodora maka jalan berikutnya yang harus Tedi tempuh yaitu menyingkirkan Georgio tentunya. Sayang, rencana Georgio selangkah lebih maju dibandingkan Tedi, Gerogio seperti sudah memprediksi semua hal ini akan terjadi di masa depan."Thea?" Dia berlari kearah Zee sambil menangis, siapa yang membuatnya menangis! Tubuh mungilnya bergetar hebat, Zee jadi memeluknya, mecoba menenangkan Thea sambil mengelus rambut panjang yang terurai berantakan dipunggunya."Zee, tolong aku. Ibu dan Ayah sangat menakutkan.""Apa?!" Zee mengendurkan pelukanya untuk melihat wajah Thea yang penuh dengan air mata."Aku mau ikut Zee kemanapun. Karena mereka berdua sudah berencana akan membunuhku.""Thea! Kemari!" Orang yang
Ke esokan harinya Zee sudah bersiap dengan pakaian rapih, sebelum itu dia menyempatkan diri untuk melihat kondisi Evan yang sejak semalam belum sadarkan diri. Evan, anak buah yang Zee banggakan saja bisa dikalahkan olehnya. Bahkan Rafli tidak terluka atau mengeluarkan keringat sama sekali ketika bertarung. "Eva, bagaimana keadaannya sudah membaik? Aku sudah menyuruh orang untuk membeli semua keperluan yang Evan butuhkan demi kepulihan dirinya. Mungkin sekarang lagi dijalan.""Padahal sudah lebih baik, jadi merepotkan Tuan Muda." Zee yang maju mundur untuk merelai mereka hingga Evan jatuh tidak sadarkan diri. Zee juga ambil bagian karena salahnya membiarkan duel yang tidak seimbang diawal tetap dibiarkan begitu saja."Bisa kita bicara di luar sebentar." Mereka keluar dari kamar Evan.Ruang tengah menjadi pilihan tempat yang paling dekat. Sebenarnya Zee agak khawatir, jika mereka dilatih dalam pengawasan Rafli bisa menjadi monster ganas yang tidak terkendali.Monster yang tidak bisa men
Tunggu! Tadi kalau Zee tidak salah dengar Rafli sempat berbicara dengan Eva dan memanggilnya 'Kak'. Mereka sudah sedekat itu, apa Eva sudah kenal dan tahu kekuatan Rafli yang sebenarnya? Maka dari itu dia sangat khawatir. Pasalnya Eva terlihat acuh saat Evan di serbu oleh sekolompok orang atau saat dirinya harus mengalihkan perhatian para penembak. Itu karena Eva tahu batasan diri Evan, dia akan mampu mengatasinya. Jika lawan Evan sekarang lebih kuat dibandingkan dirinya, Jelas Eva khawatir, mau bagaimanapun Evan adalah adik kandungnya.Di halaman belakang sudah ada Evan dan Rafli yang sedang ancang-ancang untuk adu kekuatan. Tidak ada senjata hanya kekuatan tubuh dan keahlian ilmu bertarung yang mereka adukan. Evan yang duluan menyerang. Benar kata Genta, pukulan yang dilayangkan Evan penuh dengan emosi. Tidak mengenai satupun tubuh lawan. Kuda-kudanya juga tidak kokoh, sehingga pijakan kaki Evan mudah menggeser.Sejauh ini Rafli belum melawan, dia hanya menghindari pukulan dari Evan