LOGINPesan masuk dari Thea masuk ke dalam ponsel Zee. .'Aku sudah dapat kabar baru dari Eva. Kamu telat memberitahuku. Jadi apa kabar buruknya.' Balas Zee untuk pesan yang masuk. 'Arun akan berada bersamaku selama 24 jam.' Tidak menunggu waktu lama Thea langsung membalas. Membaca balasan pesan itu, memang yang diharapkan oleh Zee. Arun menggunakan kesempatan yang Zee berikan sebagai suami dan calon ayah yang baik.'Lalu yang jadi masalahnya?' 'Ayo kita ceritakan semua ini pada Jun.' Balas Thea. Zee sempat tertegun melihat notifikasi pesan yang masuk, belum dibuka. Sengaja tidak mau menambah ke keruhan pikirannya saat ini. Lalu Zee berjalan untuk menyebarkan pikiran. Tapi melihat Sesilia, Zee jadi mendekatinya yang sedang menikmati hembusan angin di gazebio belakang. "Apa maksudmu dengan mengirim Revan pada Thea sebagai percobaan?" Ingin memastikan resiko dan keuntungan yang Zee terima akan sesuai."Masalah itu harus dituntaskan satu persatu. Apalagi urusan cinta di masa lalu." Sesili
Tidak ada jawaban dari Thea dan Zee juga tidak mau terlalu menekannya hari ini. "Lega rasanya kamu sudah aman. Aku harus segera kembali ke Ibu kokta."Banyak yang harus Zee diskusikan dengan yang lainnya tentang semua ini. Ditambah panggilan tadi. "Arun." Dengan cepat dia datang ketika Thea memanggilnya. "Zee akan pulang sekarang juga.""Dia enggak jadi sarapan bareng?" Arun datang sambil memakai celemek. Arun memasak."Walau aku enggak suka, tapi aku titip Thea padamu. Jadikan ini kesempatan terakhir untuk aku mempercayaimu!" Peringatan terkahirku pada Arun.Thea dan Arun pergi mengantar sampai pintu gerbang. Zee dan Thea kembali berpelukan sebagai salam perpisahan.Dalam perjalanan Zee langsung menghubungi nomor tadi. "Hallo.""Tuan, Tuan Muda Revan tidak sadarkan diri." Zee lega memang rasanya saat mendengar suara Ian. Itu tandanya Revan masih dalam sekapan. Bukan sepenuhnya lega karena kabar terbaru yang dilaporkan Ian.Bisa gawat kalau itu memang terjadi sesuatu pada Revan. Hubu
Pagi-pagi Zee sudah melihat satu paperbags diatas meja. Dilihat isi di dalamnya, satu set pakaian baru."Untuk Kak Zee, enggak mungkin pakai baju yang sama di hari yang berbeda.""Terima kasih." Setelah membersihkan diri, Zee langsung meminjam kunci mobil pada Evan. Zee masih belum bisa tenang karena Thea tidak menjawab telepon dan membalas pesan darinya. Jadi Zee putuskan untuk mengunjungi rumah keluarga Theodora yang ditempati oleh Thea saat ini. Rumah keluarga Theodora ini memang tidak banyak berubah, bahkan saat Zee pergi dari rumah. Dengan gugup Zee menekan bel rumah. Ternyata Arun yang datang membuka pintu, senyum yang sudah Zee pasang untuk menyambut Thea, terpaksa Zee turunkan lagi. Arun memandu Zee ke ruang tamu. Disana sudah aja Thea duduk di singel sofa. "Eva mengalami kecelakaan, truck besar menabrakannya dari arah belakang mobil yang dikerndarai. Diduga supir truck itu sedang dalam keadaan mabuk." Zee menjelaskan Investigasi sementara yang dilaporkan pihak beberwenan
Pagi harinya, Zee pergi keruang tengah rumah. anak buah Zee lebih banyak dari biasanya. Penjagaan diperketat. Karena Revan sudah ada disini. "Ian. Apa dokter sudah selesai memeriksa kondisinya?""Iya Tuan." Zee langsung menuju kamar tamu yang sudah di persiapkan khusus untuk Revan.Karena di masih kurang sehat maka Zee bermurah hati hanya membelenggu kedua kakinya dengan rantai panjang. Revan masih bisa berjalan kesana kemari bahkan untuk urusan kamar mandi juga tidak masalah."ZEE!" Revan mencoba menerjang, tapi jarak jangkauan rantai membuatnya tidak bisa menyentuh Zee yang berada jauh dari ambang pintu kamar. "Ini demi kebaikanmu Revan. Kamu sedang tidak sehat. Jika aku tidak begini. Ibumu akan lebih marah padaku.""Sialan dasar Iblis!""Ckckckc, sesama iblis dilarang saling mengatai. Paham." Zee kembali melenggang meninggalkan area kamar tamu. "Jangan biarkan keluar dari kamar ini tanpa instruksiku." Instruksinya pada Ian. "Siap Tuan!" Selanjutnya, Zee langsung tancap gas menu
Setelah berbicara dan mendapatkan kesepakatan dengan Arun. Zee tidak meninggalkan Thea dan Arun memberikan ruang itu pada Zee. Di ruangan rawat itu hanya berisikan Thea dan Zee. Tangan Zee tidak lepas, memegangi erat tangan Thea untuk beberapa menit berlalu hingga Zee merasakan gerakan dari jari-jari Thea dalam genggamnnya."Thea!" Suara panggilan Zee membuat perlahan kesadaran Thea kembali. "Kamu enggak apa-apa?"Terlihat sekali wajah Thea merasa bersalah tapi Zee tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya, tanpa menunggu penjelasan keluar dari mulut Thea. Rasa lega dihati Zee karena bisa lagi melihat Thea membuka mata. Beberapa jam yang lalu Zee sangat ketakutan akan kehilanga Thea, Zee takut akan hilang seperti Aya yang meninggalkan Zee selama-lamanya. Tepat pada saat itu, Arun masuk kedalam ruang rawat inap dan mata Thea menangkap sosok itu. Suasana menjadi sangat canggung diantara keduanya, beberapa detik. "Arun sedang apa disini?" Tanya Thea. Ah, Zee hampir melupakan kun
"Terserah kamu mau pakai segimana pun kartu itu tanpa limit." Thea melihat black card yang tersodor padanya. Pikir Zee harusnya ini bisa bekerja. Wanita itu suka shopping bukan?"Apa aku bisa membeli privat jet dengan kartu ini?" Oh ayolah, Zee salah. Thea sudah biasa di manjakan seperti ini sejak dulu."Silahkan saja. Tapi FYI, kita sudah punya dua benda itu." Apa Thea rela menambah biaya perawatan dan pajaknya?Selesai sarapan mereka memiliki agenda kegiatan masing-masing. Thea dan Eva yang langsung berangkat ke rumah sakit.Zee langsung masuk ke ruang kerja. Menyalakan laptop dan mulai ikut meeting virtual yang sudah dijadwalkan Evan yang sedang berada di Ibu Kota.Sebelum itu satu panggilan masuk ke ponsel milik Zee. "Ya Rafli?""Aku mau mengabarkan kalau aku sudah sampai dan berada di sisi Tuan Besar.""Kamu kenapa mengirimku penjaga baru? Aku bukan tua bangka yang tidak bisa apa-apa!" Protes Georgio terdengar dari sebrang sana, sudah Zee duga. Kehadiran Rafli bukan hanya sebaga
"Ah, kamu so sweet sekali sih. Bibi jadi ingat Ibumu..." Ada jeda beberapa saat diantara mereka "Bibi sudah melihat beritanya, turut berduka cita. Maaf juga Bibi tidak bisa kesana.""Tidak apa, lagi pula jika Bibi Zara kesana akan terjadi sesuatu karena aku lepas kendali. Sudah pilihan tepat diam,
"Cuman ini yang bisa aku lacak." Mereka sedang berkumpul di meja makan saat Raka turun sambil menyerahkan tumpukan kertas yang dia jepit diatas papan dada. Zee pikir berkas pekerjaan ilegal keluarga Theodora yang tidak diketahui oleh Tedi akan banyak. Nyatanya kurang dari lima puluh lembar. Sunggu
Walau belum pulih total Zee tidak merasa khawatir, dua orang jenius dibidang kedokteran bersamanya. Genta dan juga Eva. Mereka berdua yang akan memantau Zee. Peralatan medis yang diperlukan pun mereka angkut ke mansion yang ada di Paradise. Rumah seluas satu hektar tanah berdiri megah dengan dua lan
"Jangan berisik nanti Kakak bangun!" "Kamu yang membuat berisik, sedang apa disini?" "Aku bosan dirumah. Mau jenguk Kakak sebentar." 'Suara dua orang? Kenapa berat sekali untuk membuka mata. Sekujur tubuhku semuanya terasa sakit.' "Lihat tangannya bergerak!" 'Aku masih hidup? Padahal aku







