MasukBab 77. KEPALA HANCUR DALAM SEKALI TEPUK Seorang Dwarapala melayangkan tinjunya yang sebesar roda truk, menderu ke kepala Jaka Tole. Tentu saja Jaka Tole tidak rela kepalanya dijadikan samsak gratis. Dengan sangat mudah, Jaka Tole menghindari pukulan Dwarapala itu. Kemudian secara reflek tangan kanannya melakukan serangan balasan ke kepala Dwarapala itu. Wusss…. Plak…! Prok… Terdengar suara nyaring, membuat semua pengunjung warung makan tertegketika telapak tangan Jaka Tole, terlebih dahulu mengenai kepala raksasa itu. Darah berwarna kehijauan berhamburan membasahi warung makan Pendopo Jawa, butiran-butoran darah memercik kesegala penjuru membasahi tubuh para pengunjung warung makan. Meskipun sebagian besar pengunjung warung makan adalah seorang pendekar yang sakti, akan tetapi kecepatan darah dari kepala Dwarapala yang dihancurkan telapak tangan Jaka Tole terlalu cepat dan mengerikan. Hanya satu orang yang tidak terkena percika
Bab 76. KERIBUTAN DENGAN TIGA DWARAPALA Begitu memasuki kota Para Dewa, mata Jaka Tole semakin kagum. Ternyata kota ini sangatlah megah, seisi kota berisi bangunan-bangunan besar lagi mewah. Bangunan berbentuk Joglo Jawa serta menara-menara setinggi sembilan tingkat ada di beberapa tempat. Menara-menara ini satu lantainya setinggi sepuluh meter, sehingga sembilan tingkat sama dengan sembilan puluh meter sampai seratus meter. Menara-menara ini ada yang terbuat dari batu hitam penuh aura spiritual dan ada juga yang terbuat dari kayu pohon Jati, kayu asli tanah Jawa dwipa yang mashur. Jaka Tole seakan menjadi seekor semut yang hidup diantara belalang, sejak tadi dia belum bertemu dengan ras manusia, hal ini tentu saja tidak aneh, karena tempat ini adalah dunia para Dewa atau Dedemit dan Siluman. “Sebaiknya aku merubah bentuk tubuhku, agar tidak terlalu mencolok.” Dalam hati, Jaka Tole segera menemukan ide, agar kehadirannya tidak terlalu direndahkan dan ter
Bab 75. HYANG MAHA TUNGGAL Penampilan mereka seperti bangsawan Jawa Kuno, sang pria memakai pakaian tradisional Jawa yaitu Bestak Jawa berwarna biru, dengan celana panjang biru dan yang menjadi ciri khasnya adalah ada kain batik yang melilit di pinggangnya. Kain batik ini bisa dipendekkan jika digunakan untuk berperang atau bertarung, sementara untuk kegiatan sehari-hari kain batiknya dipanjangkan hingga diatas mata kaki. Di kepalanya ada penutup kepala berupa Blankon Mangkubumen, dengan kain memanjang di bagian belakangnya. Sementara di bagian depan Blangkon Jawa itu ada Bros atau hiasan berbentuk matahari yang terbuat dari emas murni. Sementara sang wanita memakai pakaian tradisional Jawa yang sangat indah dan menawan, tubuhnya ditutupi kain batik dengan kemben yang terbuat dari benang emas melilit bagian dadanya. Selain kain batik dan kemben yang menutupi tubuhnya,wanita ini juga memakai pakaian kebaya Jawa yang terbuat dari beludru berwarna biru.
Bab 74. KOTA PARA DEWA “Sepertinya mereka memang harus di musnahkan,” gumam Jaka Tole dalam hatinya sambil menatap kearah ribuan Demit Pohon yang sudah mulai bersiap dengan busurnya. “Jangan salahkan aku, jika bertindak keterlaluan,” kemudian Dewa segera mengibaskan tangannya kearah hutan di bawahnya yang dipenuhi ribuan Demit Pohon. Wusss…. Seberkas cahaya merah tiba-tiba saja muncul dari kibasan tangannya, cahaya merah itu membentuk sabit raksasa yang luasnya mencapi ratusan meter. Hutan tempat Demit pohon itu berada, seketika menjadi terang dan wajah-wajah panik mulai terlihat dari para demit Pohon di bawah yang sedang memegang busur. Rasa terkejut itu membuat para Demit Pohon seakan lupa untuk menghindar, sebelum kesadaran mereka pulih, sabit raksasa itu sudah jatuh menimpa hutan tempat tinggal mereka. Blarrr….!!! Api seketika membakar hutan kuno itu, beserta ribuan Demit pohon. Mereka berusaha lari menyelamatkan diri, akan tetapi semua
Bab 72. DEMIT ATAU DEWA POHON Kecepatan gerakan Jaka Tole melebihi kecepatan anak panah yang terbang ke arahnya, bahkan dia bisa terbang diantara ratusan anak panah yang tertuju pada dirinya. Mata spiritual Jaka Tole segera bekerja untuk mencari sumber anak panah ini. “Itu dia,” gumam Jaka Tole sambil mengatupkan gigi gerahamnya sambil menahan amarah. Dengan mata spiritualnya, Jaka Tole langsung melihat sosok-sosok makhluk yang tubuhnya menyerupai kayu. Manusia-manusia ini menempel di batang dan dahan pohon, Jaka Tole belum bisa ma memastikan makhluk apakah yang menyerang dirinya. Akan tetapi jika dilihat dari bentuk tubuhnya, dapat dipastikan kalau sosok itu adalah dari Demit Ras pohon. Setelah mengunci target, dalam sekejap Jaka Tole sudah berada di samping sosok Dewa atau Demit dari ras pohon setinggi lima meter yang membawa gendewa dan anak panah. Yang membuat takjub adalah gendewa itu berasal dari salah satu tangan yang membentuk busur
Bab 72. SERANGAN TERSEMBUNYI “Lanjutkan,” kata Baginda Raja Tanaka sang Raja dari ras Dewa Buto Ijo. Ras Buto juga bisa disebut sebagai Ras Kala atau Ras Dwarapala dalam bahasa Jawa kuno. Ras Dewa Dwarapala ada banyak ragamnya, bisa dilihat dari bentuk tubuh dan warna kulitnya. Seperti juga ras manusia, ada yang berwarna kecoklatan seperti orang Indonesia yang hidup di negara cincin api, ada juga yang berwarna putih dan pucat yang bermukim di kawasan dingin dan bersalju. Sedangkan manusia berkulit hitam, biasanya hidup di daerah yang sangat panas dan sering kekurangan air atau debit hujannya rendah. Akan tetapi di zaman sekarang manusia aneka warna kulit telah berbaur dan saling menjalin pernikahan, sehingga warna kulit tidak terlalu menjadi perbedaan. “Menurut pusaka kaca Benggala, sepuluh jendral yang baginda Raja perintahkan untuk menyelidiki fenomena aneh ini, mereka telah menghilang di dalam hutan purba.” “Apa?! Menghilang kemana mereka? Apak
Bab 6. MENGURUNG DIRI“Tolong Kartu identitas Anda,” kata resepsionis cantik yang melayani Dewa dengan sopan serta senyum mengembang di sudut bibirnya.Dewa tampak bingung saat dimintai untuk menyerahkan kartu identitas, maklumlah dia baru saja memasuki dunia fana yang energi spiritualnya sangat le
Bab 5. MILIARDER MUDADewa melangkah santai menyusuri trotoar Kota Sukabumi. Matahari mulai meninggi, menyengat kulit. Di matanya, dunia modern ini sangat bising dan kacau, namun terstruktur dengan cara yang unik. Ia melihat deretan toko yang menjajakan pakaian jadi, alat elektronik, dan makanan. I
Bab 4. AKSI PEMBUNUHANBerdiri di tengah riuhnya pasar Sukabumi, sekelebat ingatan tiba-tiba menyerang kepala Dewa. Memori dari pemilik asli tubuh ini. Kilasan visual yang berdarah dan penuh ketakutan.Tujuh hari lalu, senja di Gunung Salak. Angin bertiup dingin, membawa kabut tipis turun ke perkem
Bab 3. TANGIS KESEDIHANPerjalanan menuju pasar induk Kota Sukabumi memakan waktu hampir satu jam. Jarak empat puluh lima kilometer bukanlah masalah bagi mobil pick up Asep yang dipacu kencang. Sepanjang jalan, Dewa duduk dalam diam. Matanya mengawasi setiap detail dari balik kaca jendela yang dit







