Home / Urban / Pewaris Yang Teraniaya / Bab 5. MILIARDER MUDA

Share

Bab 5. MILIARDER MUDA

Author: MN Rohmadi
last update publish date: 2026-04-08 11:48:21

Bab 5. MILIARDER MUDA

Dewa melangkah santai menyusuri trotoar Kota Sukabumi. Matahari mulai meninggi, menyengat kulit. Di matanya, dunia modern ini sangat bising dan kacau, namun terstruktur dengan cara yang unik. Ia melihat deretan toko yang menjajakan pakaian jadi, alat elektronik, dan makanan. Ia mengamati orang-orang yang sibuk bertransaksi menggunakan lembaran kertas berwarna dan kartu plastik.

"Aku butuh sumber daya. Di dunia ini, uang adalah pengganti batu spiritual," pikirnya.

Kakinya berhenti di depan sebuah ruko bertuliskan "Toko Emas Sinar Abadi". Etalasenya terbuat dari kaca tebal, memamerkan deretan cincin, kalung, dan gelang berwarna kuning berkilau. Di dalam, pendingin ruangan menyala, menciptakan perbedaan suhu yang drastis dengan jalanan luar. Beberapa pengunjung tampak bertransaksi di depan kasir.

Dewa mendorong pintu kaca itu. Penampilannya yang mengenakan baju Surjan biru dan celana komprang hitam langsung menarik perhatian satpam dan pelayan toko. Namun, aura dingin dan cara berjalannya yang tegap membuat mereka enggan menegurnya.

Dewa mendekati meja etalase. Seorang pelayan wanita tersenyum sopan, meski matanya menatap heran. "Ada yang bisa dibantu, Pak? Mau cari perhiasan atau mau jual?"

Dewa memasukkan tangannya ke dalam saku celana, sekaligus membuka akses ke ruang penyimpanan spiritualnya. Jari-jarinya menyentuh tumpukan harta karun yang ia kumpulkan selama ribuan tahun. Ia mengambil sepuluh keping koin emas murni berukiran naga melingkar.

"Saya mau menukar ini dengan uang kertas," kata Dewa lugas, meletakkan sepuluh keping koin berat itu ke atas bantalan beludru merah di meja etalase. Bunyi denting logam yang berat terdengar nyaring.

Mata pelayan itu membelalak. Koin emas itu terlihat kuno, tanpa cap pabrik modern, namun warna kuningnya sangat pekat. "Sebentar, Pak. Saya panggilkan manajer."

Tak lama, seorang pria paruh baya berkacamata tebal keluar dari ruang belakang. Ia melihat koin itu dan langsung mengambil kaca pembesar. Tangannya cekatan meneteskan cairan kimia ke salah satu sisi koin, lalu menggosoknya pelan. Matanya melebar dari balik lensa kacamatanya.

"Ini... ini emas murni dua puluh empat karat. Kualitas tua, sangat langka," gumam pemilik toko itu terkesiap. Ia mendongak menatap Dewa, menilai pemuda misterius di depannya. "Dari mana Bapak mendapatkan koin ini? Apa masih ada lagi?"

"Itu peninggalan keluarga. Hanya sisa itu," jawab Dewa tenang, menyembunyikan fakta bahwa di ruang penyimpanannya masih ada ribuan keping koin serupa.

Pemilik toko menimbang koin tersebut di atas timbangan digital. "Masing-masing koin ini beratnya seratus lima gram. Total berat sepuluh keping adalah satu koma nol lima kilogram. Harga emas murni saat ini sekitar dua setengah juta per gram. Saya bisa menawarnya di angka dua miliar enam ratus dua puluh lima juta rupiah. Bagaimana?"

Dewa terdiam sejenak. Berdasarkan ingatan Asep, angka milyaran adalah jumlah kekayaan yang sangat besar untuk ukuran manusia biasa. Ia mengangguk ringan. "Bisa."

"Bapak punya rekening bank? Biar kami transfer sekarang juga demi keamanan."

"Saya tidak punya rekening bank. Berikan uang tunai saja."

Pemilik toko tertegun, menelan ludah. "T-tunai? Pak, itu uang yang sangat banyak. Bapak yakin mau membawanya secara tunai?"

Dewa menatapnya tajam. "Lakukan saja."

Satu jam kemudian, meja kasir toko itu dipenuhi tumpukan uang kertas pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu yang masih tersegel bank. Para pengunjung toko lain berhenti bertransaksi, menatap tumpukan uang itu dengan napas tertahan. 

Bisik-bisik mulai terdengar riuh. Tatapan iri, kagum, dan serakah berseliweran dari orang-orang di luar toko. Dewa menjadi pusat perhatian, dijuluki sebagai miliarder muda berpakaian keraton.

Pemilik toko memerintahkan pelayannya memasukkan uang itu ke dalam puluhan kantong plastik hitam besar agar tidak terlalu mencolok, meski usahanya sia-sia karena semua orang sudah melihatnya.

"Pak, apa di dekat sini ada penginapan yang bersih?" tanya Dewa, memegang dua kantong plastik besar dengan santai, seolah isinya hanya kerupuk.

"B-bapak tidak bawa kendaraan? Biar sopir toko saya yang mengantar Bapak ke hotel terbaik di kota ini. Bahaya membawa uang sebanyak ini berjalan kaki," tawar pemilik toko, setengah panik melihat ketenangan Dewa.

Dewa menerima tawaran itu tanpa banyak bicara. Mobil operasional toko membawanya ke sebuah hotel bintang empat di pusat kota. Dibantu sopir toko dan dua bellboy hotel yang kebingungan melihat kantong plastik hitam, kekayaan baru Dewa dibawa masuk ke lobi.

Lantai marmer lobi hotel berdecit saat sepatu bot kulit Dewa melangkah masuk. Ia berjalan lurus ke arah meja resepsionis. Wanita berseragam rapi di balik meja itu tersenyum profesional, menutupi rasa herannya melihat pemuda berpakaian tradisional Jawa datang dengan rombongan pembawa plastik hitam.

"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa dibantu? Apa sudah melakukan reservasi sebelumnya?"

"Belum," jawab Dewa singkat. Matanya menyapu lobi yang mewah. "Siapkan satu kamar terbaik untuk saya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 24. MENGARANG CERITA

    Bab 24. MENGARANG CERITA “Di depan ada Mas Dewa,” kata kepala pelayan dengan suara bergetar, menahan rasa suka cita yang tidak bisa ditahan. “Apa? Dewa, anakku pulang?” teriak Angelina Widodo atau ibu kandung Dewa yang pertama kali bereaksi, begitu mendengar kabar kalau anaknya yang sudah menghilang lama telah pulang. “Iya, Bu, kata satpam, Mas Dewa baru saja turun dari taksi dan saat ini sedang memasuki pintu gerbang.” “Anakku… Dewa…!!” sekali lagi Angelina Widodo berteriak memanggil Dewa sambil segera bangkit dari duduknya dan berlari untuk bertemu dengan anak yang selama ini dirindukan. Sementara itu Dewa yang sudah masuk ke halaman rumahnya, tampak berdiri diam memandangi rumah keluarga pemilik tubuh yang ditempati dengan tatapan takjub. “Ternyata anak ini berasal dari keluarga kaya, benar-benar tidak menyangka kalau jiwaku bisa bertransmigrasi ke tubuh anak orang kaya,” pikir Dewa yang kemudian segera melanjutkan langkahnya menuju mansion besar di depannya.

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 23. PULANG KE KELUARGA ATMAJA

    Bab 23. PULANG KE KELUARGA ATMAJA Malamnya, niat Dewa yang akan pulang besok pagi langsung membuat suasana rumah menjadi lebih hangat. “Kenapa Mas Dewa mau pulang? Apa tidak betah dengan pelayanan kami?” kata Bu Pariyem sambil menatap pemuda ganteng di depannya dengan perasaan tak berdaya. “Bukan begitu bu, saya sudah lama meninggalkan rumah. Takutnya orang tua saya khawatir, apalagi saya juga mau kuliah di Universitas, jadi tidak mungkin saya tinggal disini.” Jawaban Dewa langsung membuat semua orang tidak berdaya, tapi mereka sangat memaklumi kesulitannya. “Kang Dewa, saya mengucapkan terimakasih atas bantuang akang selama ini,” kata Aisyah dengan mata memerah menahan haru akan sebuah perpisahan yang entah kapan lagi mereka bisa bertemu lagi. “Tidak perlu mengucapkan terimakasih, saya juga senang bisa tinggal di rumah kamu dan dilayani dengan baik.” “Aisyah, tadi mas Dewa memberi ayah uang dua ratus juta.” “Apa? Mas Dewa memberi uang dua ratus juta?

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 22. SETUMPUK UANG YANG MENGEJUTKAN

    Bab 22. SETUMPUK UANG YANG MENGEJUTKAN Dewa yang sudah mengenal perbedaan waktu di dunia siluman dan di dunia Fana hanya bisa menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum asam. Kemudian Dewa pura-pura bodoh agar tidak memperpanjang obrolan keluarganya Aisyah. “Kang makan dulu, sepertinya akang belum makan,” kata Aisyah setelah suasana lebih tenang. Tak lama kemudian, di atas meja sudah tersedia aneka lalapan hasil kebun dan tempe goreng, tanpa ada daging maupun ikan sebagai lauknya. Maklumlah, keluarga orang tua Aisyah berasal dari keluarga petani miskin, bahkan rumahnya saja dinding bata tanpa plesteran semen. Waktu berjalan seperti siput saat ditunggu, akan tetapi akan secepat kilat saat kita tidak menunggunya. Tanpa dirasa Dewa sudah tinggal di rumah orang tua Aisyah selama tujuh hari, hal ini membuat gosip baru di kampung terpencil ini. Warga menduga kalau Dewa adalah calon suami Aisyah, setelah dia pergi dan berniat bercerai dengan Ujang, yang telah ber

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 21. HUTAN ALUSAN ATAU HUTAN SILUMAN

    Bab 21. HUTAN ALUSAN ATAU HUTAN SILUMAN “Apa yang terjadi? Kenapa saya malah tidur? Bukankah sebelumnya saya sedang duduk bersemedi? Di mana mustika ungu itu? Kenapa menghilang?” Dengan kesadaran yang belum pulih seratus persen, Dewa mencoba berdiri. Kemudian dia memeriksa peti kayu jati di depannya, sepasang matanya melotot tidak percaya dengan pemandangan di depannya. Karena mustika ungu itu telah menghilang, akan tetapi yang belum disadari Dewa, jika saat ini energi Prananya yang sebelumnya berkurang akibat pertarungan besar, kini sudah pulih seratus persen. Dan satu lagi yang masih belum disadari Dewa, adalah mengenai ingatan pemilik tubuh asli yang di tempati. Dia masih merasa kalau apa yang terlihat dalam ingatannya saat sedang meditasi, adalah sebuah mimpi saja. Dewa segera mengedarkan kesadaran spiritualnya untuk mencari benda apa pun yang menarik hatinya. Namun, benda yang diinginkannya tidak dapat dirasakan; hanya peti kayu jati di depannya

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 20. MUSTIKA JIWA

    Bab 20. MUSTIKA JIWA Mengandalkan kesadaran spiritualnya, tubuh Dewa segera masuk ke dalam lubang gua yang hanya sebesar tubuh manusia. Gua ini lebih tepat kalau disebut sebagai rumah ular dibandingkan dengan pintu gua. Karena Dewa harus merangkak untuk masuk ke dalam lubang ini. Dengan tingkat kewaspadaan tinggi, mengantisipasi adanya binatang liar di dalam lubang ini. Mengikuti aura kuat yang terpancar, Dewa terus merangkak semakin dalam ke lobang ini. Tanpa terasa, Dewa sudah masuk ke dalam lobang gua yang ukurannya sangat kecil ini sejauh seratus meter. Semakin dalam, aura kuat itu semakin terasa dan tubuhnya dengan ajaib merasa segar, serta aliran darahnya semakin lancar. Hingga akhirnya setelah merangkak sejauh dua ratus meter, barulah di depannya terlihat sebuah ruangan gua yang cukup luas. “Syukurlah, akhirnya lorong sempit ini berakhir. Betapa nyamannya bisa berdiri setelah merangkak begitu jauh,” kata Dewa yang segera mengawasi keadaan sekeliling

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 19. AURA KUAT

    Bab 19. AURA KUAT Bukannya menghadap ke arah Aisyah, Dewa malah menatap gadis kecil itu yang tampak bahagia melihat dirinya ikut bersamanya. Selama perjalanan, Dewa banyak diam, dia akan menjawab jika di tanya atau di ajak bicara Aisyah dan anaknya. Akhirnya sampai juga mereka di kota Ciamis, Dewa terus mengikuti ibu dan anak itu laksana seorang pengawal. Bahkan saat naik angkudes menuju desa tempat orang tua Aisyah tinggal, Dewa hanya diam sambil memperhatikan pemandangan selama dalam perjalanan. Ternyata kampung tempat orang tua Aisyah di sebuah desa yang sangat terpencil, melewati hutan dan jalan gunung yang rusak. Bagi Dewa yang terbiasa hidup dijaman berbeda, tentu saja tidak terlalu mempermasalahkan jalanan desa yang rusak. Akhirnya sampai juga mereka di kampung kelahiran Aisyah, begitu turun dari angkudes, Aisyah berkata,”Kang maaf, kampung saya sangat jauh dan terpencil.” “Tidak apa-apa, saya sudah biasa tinggal di kampung yang ada di tengah huta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status