MasukBab 5. MILIARDER MUDA
Dewa melangkah santai menyusuri trotoar Kota Sukabumi. Matahari mulai meninggi, menyengat kulit. Di matanya, dunia modern ini sangat bising dan kacau, namun terstruktur dengan cara yang unik. Ia melihat deretan toko yang menjajakan pakaian jadi, alat elektronik, dan makanan. Ia mengamati orang-orang yang sibuk bertransaksi menggunakan lembaran kertas berwarna dan kartu plastik. "Aku butuh sumber daya. Di dunia ini, uang adalah pengganti batu spiritual," pikirnya. Kakinya berhenti di depan sebuah ruko bertuliskan "Toko Emas Sinar Abadi". Etalasenya terbuat dari kaca tebal, memamerkan deretan cincin, kalung, dan gelang berwarna kuning berkilau. Di dalam, pendingin ruangan menyala, menciptakan perbedaan suhu yang drastis dengan jalanan luar. Beberapa pengunjung tampak bertransaksi di depan kasir. Dewa mendorong pintu kaca itu. Penampilannya yang mengenakan baju Surjan biru dan celana komprang hitam langsung menarik perhatian satpam dan pelayan toko. Namun, aura dingin dan cara berjalannya yang tegap membuat mereka enggan menegurnya. Dewa mendekati meja etalase. Seorang pelayan wanita tersenyum sopan, meski matanya menatap heran. "Ada yang bisa dibantu, Pak? Mau cari perhiasan atau mau jual?" Dewa memasukkan tangannya ke dalam saku celana, sekaligus membuka akses ke ruang penyimpanan spiritualnya. Jari-jarinya menyentuh tumpukan harta karun yang ia kumpulkan selama ribuan tahun. Ia mengambil sepuluh keping koin emas murni berukiran naga melingkar. "Saya mau menukar ini dengan uang kertas," kata Dewa lugas, meletakkan sepuluh keping koin berat itu ke atas bantalan beludru merah di meja etalase. Bunyi denting logam yang berat terdengar nyaring. Mata pelayan itu membelalak. Koin emas itu terlihat kuno, tanpa cap pabrik modern, namun warna kuningnya sangat pekat. "Sebentar, Pak. Saya panggilkan manajer." Tak lama, seorang pria paruh baya berkacamata tebal keluar dari ruang belakang. Ia melihat koin itu dan langsung mengambil kaca pembesar. Tangannya cekatan meneteskan cairan kimia ke salah satu sisi koin, lalu menggosoknya pelan. Matanya melebar dari balik lensa kacamatanya. "Ini... ini emas murni dua puluh empat karat. Kualitas tua, sangat langka," gumam pemilik toko itu terkesiap. Ia mendongak menatap Dewa, menilai pemuda misterius di depannya. "Dari mana Bapak mendapatkan koin ini? Apa masih ada lagi?" "Itu peninggalan keluarga. Hanya sisa itu," jawab Dewa tenang, menyembunyikan fakta bahwa di ruang penyimpanannya masih ada ribuan keping koin serupa. Pemilik toko menimbang koin tersebut di atas timbangan digital. "Masing-masing koin ini beratnya seratus lima gram. Total berat sepuluh keping adalah satu koma nol lima kilogram. Harga emas murni saat ini sekitar dua setengah juta per gram. Saya bisa menawarnya di angka dua miliar enam ratus dua puluh lima juta rupiah. Bagaimana?" Dewa terdiam sejenak. Berdasarkan ingatan Asep, angka milyaran adalah jumlah kekayaan yang sangat besar untuk ukuran manusia biasa. Ia mengangguk ringan. "Bisa." "Bapak punya rekening bank? Biar kami transfer sekarang juga demi keamanan." "Saya tidak punya rekening bank. Berikan uang tunai saja." Pemilik toko tertegun, menelan ludah. "T-tunai? Pak, itu uang yang sangat banyak. Bapak yakin mau membawanya secara tunai?" Dewa menatapnya tajam. "Lakukan saja." Satu jam kemudian, meja kasir toko itu dipenuhi tumpukan uang kertas pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu yang masih tersegel bank. Para pengunjung toko lain berhenti bertransaksi, menatap tumpukan uang itu dengan napas tertahan. Bisik-bisik mulai terdengar riuh. Tatapan iri, kagum, dan serakah berseliweran dari orang-orang di luar toko. Dewa menjadi pusat perhatian, dijuluki sebagai miliarder muda berpakaian keraton. Pemilik toko memerintahkan pelayannya memasukkan uang itu ke dalam puluhan kantong plastik hitam besar agar tidak terlalu mencolok, meski usahanya sia-sia karena semua orang sudah melihatnya. "Pak, apa di dekat sini ada penginapan yang bersih?" tanya Dewa, memegang dua kantong plastik besar dengan santai, seolah isinya hanya kerupuk. "B-bapak tidak bawa kendaraan? Biar sopir toko saya yang mengantar Bapak ke hotel terbaik di kota ini. Bahaya membawa uang sebanyak ini berjalan kaki," tawar pemilik toko, setengah panik melihat ketenangan Dewa. Dewa menerima tawaran itu tanpa banyak bicara. Mobil operasional toko membawanya ke sebuah hotel bintang empat di pusat kota. Dibantu sopir toko dan dua bellboy hotel yang kebingungan melihat kantong plastik hitam, kekayaan baru Dewa dibawa masuk ke lobi. Lantai marmer lobi hotel berdecit saat sepatu bot kulit Dewa melangkah masuk. Ia berjalan lurus ke arah meja resepsionis. Wanita berseragam rapi di balik meja itu tersenyum profesional, menutupi rasa herannya melihat pemuda berpakaian tradisional Jawa datang dengan rombongan pembawa plastik hitam. "Selamat siang, Pak. Ada yang bisa dibantu? Apa sudah melakukan reservasi sebelumnya?" "Belum," jawab Dewa singkat. Matanya menyapu lobi yang mewah. "Siapkan satu kamar terbaik untuk saya."Bab 69. SETOR NYAWA Dan dengan ketinggian ini, mereka masih dipuja dan disembah oleh ras manusia yang lemah imannya. Sebagai bangsa Demit yang hidup di alam Mayapada atau alam Dewa, mereka mempunyai umur yang sangat panjang hingga ribuan tahun. Berbeda dengan ras manusia di zaman sekarang, mereka hanya bisa hidup hingga usia seratus tahun. Sementara di dunia Mayapada, mereka seakan tidak pernah menua dan selalu muda dengan masa pertumbuhan struktur tubuhnya sangatlah panjang. Bangsa Demit, jika di dunia manusia sudah berusia seratus tahun, maka di dunia Demit mereka masih usia balita atau sama dengan bayi berusia satu tahun. Bahkan bisa baru beberapa bulan usia anak di dunia Demit. Sehingga manusia menganggap dunia Demit atau Dewa sebagai dunia abadi, arti abadi di dunia Demit, bukan berarti mereka tidak bisa mati. Tentu saja mereka bisa mati, hanya saja usia mereka sangat panjang hingga ribuan tahun. Bahkan bagi Demit yang mempunyai kesaktian, usia
Bab 68. TANTAKA RAJA BUTO IJO Setelah memastikan kalau di dalam gua tidak ada bahaya, Dewa segera berbalik dan menyuruh Raja Cliring dan yang lainnya kembali. “Kalian kembalilah, saya akan bertapa di tempat ini.” “Baik Raden, kami mohon diri,” jawab Raja Cliring yang segera memimpin para jendralnya untuk kembali ke istana ras Cliring. Setelah Raja Cliring pergi, Dewa segera melangkah memasuki gua di depannya. Energi yang sangat kuat segera menyambutnya, begitu kakinya memasuki bagian dalam gua. Dewa tampak takjub saat semakin dalam memasuki gua ini. Karena semakin kebagian dalam, bukannya semakin gelap, akan tetapi suasananya semakin terang, meskipun tidak seterang saat terkena matahari. Akan tetapi yang membuat ruangan gua terang adalah adanya kristal-kristal energi yang menempel di dinding gua. Kristal-kristal energi ini beraneka warna, ada yang hijau, biru, putih dan merah. Pencahayaan dari pantulan kristal energi ini begitu menawan. B
Bab 67. PERSEMBAHAN RIBUAN TAHUN “Argh…. ampun… ampun… ampun…” Terdengar suara jerit kesakitan, disusul suara permohonan ampun yang sangat menyayat hati. Raja Cliring dan para jendralnya menjerit kesakitan, tubuh mereka menggelepar seperti ikan yang kekurangan air Lidah mereka terjulur dengan mata membengkak seakan mau keluar dari rongga nya begitu terkena tekanan aura membunuh yang dipancarkan Dewa. Bayangan milyaran mayat yang menggunung memenuhi seisi gua ras Cliring. Bayangan mayat itu berasal dari berbagai ras, ada ras manusia dan ras dedemit atau ras Dewa. Juga ada ras binatang siluman purba dengan berbagai macam bentuknya yang sangat menyeramkan. “Ampun… Raden, ampuni kami…” terdengar suara lemah dari mulut Raja Cliring yang sedang menggelepar seakan ada gunung yang sedang menghimpit tubuhnya. Senyum sinis melintas di sudut bibir Dewa, dia segera mengurangi aura membunuh yang dipancarkan. Begitu aura membunuh berkurang, Raja C
Bab 66. DIKEROYOK SEPULUH JENDRAL SILUMAN CLIRING Jren…. “Siapa kamu? Berani-beraninya memasuki istana Cliring!” bentak Raja Cliring yang mempunyai wajah seperti ular dan kadal purba dengan gigi-gigi tajam laksana binatang purba. Dewa hanya berdiri diam menatap Raja Cliring yang sedang berbaring diatas batu pualam berwarna hijau kaisar yang sangat murni. Dewa mengamati dengan seksama Raja kadal ular di depannya yang usianya sudah ribuan tahun, jika dilihat dari bentuknya. Dan dilihat dari kemampuannya yang bisa berbicara dengan bahasa manusia. “Hmmmm sepertinya kalian memang kadal ular yang sesungguhnya, bukan Naga seperti dalam cerita legenda di berbagai negara. “Siapa yang mengatakan kalau ras kami adalah ras Naga? Kami tidak pernah mengakui sebagai ras Naga.” “Betul juga, kalian memang benar-benar ras kadal ular yang sesungguhnya. Kalian tidak pernah mengaku sebagai ras Naga.” “Tentu saja, mana mungkin kami mengaku sebagai Naga dan merebut keh
Bab 65. ISTANA CLIRING RAS KADAL ULAR Begitu sampai di rumah, pemancing itu langsung masuk ke kamar dan tidur dengan tubuh menggigil, hingga akhirnya dia sakit selama tiga hari saking takutnya mendapatkan ikan sidat raksasa itu. Apalagi saat membayangkan saat melihat mata ikan sidat raksasa itu seperti mata seorang kakek tua yang sudah pasrah untuk dimakan Hingga akhirnya pihak keluarga dan kerabatnya datang menjenguk, dan begitu mendengar ceritanya, banyak orang menebak kalau Ikan sidat itu adalah ikan penunggu Kedung sungai Serayu tempat pemancing itu mencari ikan. Dan saking tua nya umur ikan sidat itu, hingga seperti mempunyai kesadaran spiritual dan berubah menjadi siluman. Keanehan lain terjadi, keesokan harinya, beberapa warga mendatangi tempat pemancing itu mendapatkan ikan sidat untuk membuktikan ceritanya, namun ikan sidat itu sudah tidak ada. Yang tersisa hanya kail, joran dan pakan ikan yang masih tergeletak di atas rerumputan. Hal ini ten
Bab 64. CLIRING RAS KADAL ULAR “Namaku Dewa, saya sengaja datang ke hutan Sanggabuana ini untuk mencari Naga Jawa,” kata Dewa dengan nada datar. “Apa? Kamu ingin mencari rakyatku? Apa yang akan kamu lakukan terhadap rakyatku?” bentak Raja ular Naga Jawa dengan suara menggelegar. Dalam pikiran sang Raja ular Naga Jawa, dia menduga kalau Dewa ingin mengeksploitasi rakyatnya, yang termasuk sebagai binatang langka. Dan rakyatnya akan diperjual belikan, sebagai barang dagangan.. Dewa sepertinya bisa membaca apa yang ada dalam pikiran Raja ular Naga Jawa di depannya. Kemudian dengan nada santai dia berkata, “Kedatangan saya hanya penasaran dengan bentuk ular Naga Jawa yang ada di Indonesia ini. Karena ada beberapa mitos yang menyatakan kalau Naga itu mempunyai empat kaki, dan kakinya seperti kaki elang atau kaki reptil.” “Ha ha ha ha… mana ada ular Naga mempunyai kaki? Namanya ras ular tentu saja tidak mempunyai kaki,” jawab Raja ular Naga Jawa sambil tersenyum penu
Bab 28. DATANG KE SEKOLAH SMA NYA “Bukankah Mas Dewa sudah mati?” “Huss… jangan keras-keras kalau ngomong, bagaimana kalau itu adalah arwahnya Mas Dewa yang ingin menjenguk sekolah ini.” “Hiii… bagaimana ini? Apakah kita sapa Mas Dewa?” “Kamu saja yang sapa sana, kalau saya sih nger
Bab 27. MENGEJUTKAN SATPAM SEKOLAH SMA NYA “Argh…!” “Brengsek, apa-apaan? Kenapa mobil di depan mundur begitu kencang menabrak mobilku?” “Tiin… tiin… tiin…!!” “Hoi… bisa nyetir apa gak sih?” Suara klakson dan makian terdengar silih berganti berbarengan dengan jeritan dari penum
Bab 22. SETUMPUK UANG YANG MENGEJUTKAN Dewa yang sudah mengenal perbedaan waktu di dunia siluman dan di dunia Fana hanya bisa menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum asam. Kemudian Dewa pura-pura bodoh agar tidak memperpanjang obrolan keluarganya Aisyah. “Kang makan dulu, sepertinya
Bab 21. HUTAN ALUSAN ATAU HUTAN SILUMAN “Apa yang terjadi? Kenapa saya malah tidur? Bukankah sebelumnya saya sedang duduk bersemedi? Di mana mustika ungu itu? Kenapa menghilang?” Dengan kesadaran yang belum pulih seratus persen, Dewa mencoba berdiri. Kemudian dia memeriksa peti kayu jati d







