เข้าสู่ระบบBab 4. AKSI PEMBUNUHAN
Berdiri di tengah riuhnya pasar Sukabumi, sekelebat ingatan tiba-tiba menyerang kepala Dewa. Memori dari pemilik asli tubuh ini. Kilasan visual yang berdarah dan penuh ketakutan. Tujuh hari lalu, senja di Gunung Salak. Angin bertiup dingin, membawa kabut tipis turun ke perkemahan. Dewangkara asli berdiri di tepi jurang, mengambil foto matahari terbenam dengan ponselnya. Suara tawa teman-temannya terdengar dari kejauhan. "Bro, aku buang air kecil dulu di sana. Gelap sedikit tidak apa-apa," Dewangkara melambai pada salah satu temannya, berjalan menjauh dari area tenda menuju pepohonan pinus. Ia tidak sadar, dari balik semak belukar, lima pasang mata yang dingin terus mengawasinya. Kelima pria itu berotot tebal, mengenakan jaket pendaki yang menutupi perlengkapan tempur di dalamnya. Mereka menyebar dengan formasi taktis, memotong rute kembali ke perkemahan. Saat Dewangkara selesai menaikkan ritsleting celananya dan berbalik, sesosok tubuh besar menyergapnya dari belakang. Lengan kekar melingkari lehernya. Sebelum ia sempat berteriak, sebuah sapu tangan basah berbau bahan kimia menyengat dibekapkan kuat-kuat ke hidung dan mulutnya. Dewangkara meronta, kakinya menendang tanah dengan panik. Namun cengkeraman pria itu sekuat baja. Kloroform bekerja sangat cepat. Pandangannya mengabur. Napasnya tersengal, dan dalam hitungan detik, dunia menjadi gelap total. "Cepat, bawa dia turun sebelum ada yang curiga," bisik pemimpin kelompok itu. Mereka memanggul tubuh remaja itu menembus gelapnya malam, turun menuju lembah Halimun yang tak berpenghuni. Di sana, sebuah lubang sedalam dua meter telah digali. Mereka melemparkan tubuh lemas Dewangkara ke dalam lubang. Tanah basah menempel di wajahnya yang pucat. "Kita kubur saja hidup-hidup. Biar dia kehabisan napas perlahan," usul salah satu pria. "Jangan ambil risiko. Nyonya minta dipastikan mati," potong pria bertubuh paling kekar. Ia mencabut sebilah pisau komando yang mengkilap tertimpa cahaya bulan. Pria itu melompat ke dalam lubang. Tanpa ekspresi, ia mengangkat pisau itu dan menghujamkannya ke dada Dewangkara yang masih pingsan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Darah segar menyembur, membasahi tanah merah. Hanya ada lenguhan pelan dan kejang kecil dari tubuh malang itu sebelum akhirnya benar-benar diam. Tidak ada perlawanan. Kematian yang sangat sunyi. "Selesai. Kubur dia," ucap pria itu dingin, menyeka pisaunya di celana korban. Memori itu berakhir seketika. Dewa mendecakkan lidah. "Cara membunuh yang kasar dan tidak bermartabat. Tenang saja, karena aku telah memakai tubuhmu, aku akan membayarkan hutang darahmu pada siapapun yang merencanakan ini." Lamunannya terpecah saat bau keringat dan parfum murah menyengat hidungnya. Beberapa ibu-ibu pedagang sayur kini mengerubunginya. Wajah tampan Dewangkara yang bersih, dipadukan dengan postur tegap dan pakaian Surjan kuno, rupanya menjadi daya tarik luar biasa di pasar itu. "Aduh, Kang Kasep, namanya saha? Kuat pisan angkat sayur," goda seorang ibu berdaster batik, matanya menatap lengan Dewa. "Akang teh udah punya istri belum? Kalau belum, mau dijodohin sama ponakan saya?" sahut yang lain. "Mending ikut jualan di lapak saya, Kang. Dijamin laris manis!" Dewa menatap kerumunan itu dengan alis berkerut. Ia tidak mengerti konsep 'menggoda' ala manusia biasa. Ia hanya mematung, menanggapi riuhnya pujian itu dengan keheningan yang dingin. Sikap misteriusnya justru membuat ibu-ibu itu semakin gemas. "Hush! Hush! Bubar kalian! Ini bukan tontonan topeng monyet!" Asep datang menerobos kerumunan, menghalau para wanita itu seperti mengusir ayam. "Kalian ini mau dagang apa mau cari berondong? Ayo bubar!" Asep segera menarik lengan Dewa, membawanya menjauh dari area lapak sayur. "Wah, bahaya kamu di sini, Dewa. Bisa-bisa habis dimakan ibu-ibu pasar." Asep membawanya ke sebuah warung makan pinggir jalan. Asap mengepul dari panci rebusan kaldu sapi. Etalase kacanya menampilkan tumpukan ayam goreng, tempe, dan sambal terasi. Dewa duduk di kursi kayu, matanya mengawasi setiap menu. Saat makanan dihidangkan, Dewa memakannya perlahan. Rempah-rempah dunia modern—MSG, cabai, dan bawang—meledak di lidahnya. Rasa ini jauh lebih tajam daripada makanan hambar di alam kultivasi. Selesai makan, Asep mengeluarkan selembar uang kertas berwarna biru bergambar tokoh berwajah tersenyum. Ia menyodorkannya pada Dewa. "Ini ongkos bongkar tadi, Wa. Maaf cuma lima puluh ribu. Sisa uangnya kepotong buat makan kita." Dewa menatap uang itu. Ia mengerti dari ingatan Asep bahwa ini adalah alat tukar. Uang recehan di dunia ini. "Ambil saja," kata Dewa datar. "Terima kasih atas tumpangannya ke kota ini." Dewa berdiri, meninggalkan warung makan, sementara Asep menatap punggungnya yang menjauh dengan tatapan penuh keheranan. "Bocah aneh," gumamnya.Bab 76. KERIBUTAN DENGAN TIGA DWARAPALA Begitu memasuki kota Para Dewa, mata Jaka Tole semakin kagum. Ternyata kota ini sangatlah megah, seisi kota berisi bangunan-bangunan besar lagi mewah. Bangunan berbentuk Joglo Jawa serta menara-menara setinggi sembilan tingkat ada di beberapa tempat. Menara-menara ini satu lantainya setinggi sepuluh meter, sehingga sembilan tingkat sama dengan sembilan puluh meter sampai seratus meter. Menara-menara ini ada yang terbuat dari batu hitam penuh aura spiritual dan ada juga yang terbuat dari kayu pohon Jati, kayu asli tanah Jawa dwipa yang mashur. Jaka Tole seakan menjadi seekor semut yang hidup diantara belalang, sejak tadi dia belum bertemu dengan ras manusia, hal ini tentu saja tidak aneh, karena tempat ini adalah dunia para Dewa atau Dedemit dan Siluman. “Sebaiknya aku merubah bentuk tubuhku, agar tidak terlalu mencolok.” Dalam hati, Jaka Tole segera menemukan ide, agar kehadirannya tidak terlalu direndahkan dan ter
Bab 75. HYANG MAHA TUNGGAL Penampilan mereka seperti bangsawan Jawa Kuno, sang pria memakai pakaian tradisional Jawa yaitu Bestak Jawa berwarna biru, dengan celana panjang biru dan yang menjadi ciri khasnya adalah ada kain batik yang melilit di pinggangnya. Kain batik ini bisa dipendekkan jika digunakan untuk berperang atau bertarung, sementara untuk kegiatan sehari-hari kain batiknya dipanjangkan hingga diatas mata kaki. Di kepalanya ada penutup kepala berupa Blankon Mangkubumen, dengan kain memanjang di bagian belakangnya. Sementara di bagian depan Blangkon Jawa itu ada Bros atau hiasan berbentuk matahari yang terbuat dari emas murni. Sementara sang wanita memakai pakaian tradisional Jawa yang sangat indah dan menawan, tubuhnya ditutupi kain batik dengan kemben yang terbuat dari benang emas melilit bagian dadanya. Selain kain batik dan kemben yang menutupi tubuhnya,wanita ini juga memakai pakaian kebaya Jawa yang terbuat dari beludru berwarna biru.
Bab 74. KOTA PARA DEWA “Sepertinya mereka memang harus di musnahkan,” gumam Jaka Tole dalam hatinya sambil menatap kearah ribuan Demit Pohon yang sudah mulai bersiap dengan busurnya. “Jangan salahkan aku, jika bertindak keterlaluan,” kemudian Dewa segera mengibaskan tangannya kearah hutan di bawahnya yang dipenuhi ribuan Demit Pohon. Wusss…. Seberkas cahaya merah tiba-tiba saja muncul dari kibasan tangannya, cahaya merah itu membentuk sabit raksasa yang luasnya mencapi ratusan meter. Hutan tempat Demit pohon itu berada, seketika menjadi terang dan wajah-wajah panik mulai terlihat dari para demit Pohon di bawah yang sedang memegang busur. Rasa terkejut itu membuat para Demit Pohon seakan lupa untuk menghindar, sebelum kesadaran mereka pulih, sabit raksasa itu sudah jatuh menimpa hutan tempat tinggal mereka. Blarrr….!!! Api seketika membakar hutan kuno itu, beserta ribuan Demit pohon. Mereka berusaha lari menyelamatkan diri, akan tetapi semua
Bab 72. DEMIT ATAU DEWA POHON Kecepatan gerakan Jaka Tole melebihi kecepatan anak panah yang terbang ke arahnya, bahkan dia bisa terbang diantara ratusan anak panah yang tertuju pada dirinya. Mata spiritual Jaka Tole segera bekerja untuk mencari sumber anak panah ini. “Itu dia,” gumam Jaka Tole sambil mengatupkan gigi gerahamnya sambil menahan amarah. Dengan mata spiritualnya, Jaka Tole langsung melihat sosok-sosok makhluk yang tubuhnya menyerupai kayu. Manusia-manusia ini menempel di batang dan dahan pohon, Jaka Tole belum bisa ma memastikan makhluk apakah yang menyerang dirinya. Akan tetapi jika dilihat dari bentuk tubuhnya, dapat dipastikan kalau sosok itu adalah dari Demit Ras pohon. Setelah mengunci target, dalam sekejap Jaka Tole sudah berada di samping sosok Dewa atau Demit dari ras pohon setinggi lima meter yang membawa gendewa dan anak panah. Yang membuat takjub adalah gendewa itu berasal dari salah satu tangan yang membentuk busur
Bab 72. SERANGAN TERSEMBUNYI “Lanjutkan,” kata Baginda Raja Tanaka sang Raja dari ras Dewa Buto Ijo. Ras Buto juga bisa disebut sebagai Ras Kala atau Ras Dwarapala dalam bahasa Jawa kuno. Ras Dewa Dwarapala ada banyak ragamnya, bisa dilihat dari bentuk tubuh dan warna kulitnya. Seperti juga ras manusia, ada yang berwarna kecoklatan seperti orang Indonesia yang hidup di negara cincin api, ada juga yang berwarna putih dan pucat yang bermukim di kawasan dingin dan bersalju. Sedangkan manusia berkulit hitam, biasanya hidup di daerah yang sangat panas dan sering kekurangan air atau debit hujannya rendah. Akan tetapi di zaman sekarang manusia aneka warna kulit telah berbaur dan saling menjalin pernikahan, sehingga warna kulit tidak terlalu menjadi perbedaan. “Menurut pusaka kaca Benggala, sepuluh jendral yang baginda Raja perintahkan untuk menyelidiki fenomena aneh ini, mereka telah menghilang di dalam hutan purba.” “Apa?! Menghilang kemana mereka? Apak
Bab 71. MENAWAN SEPULUH JENDRAL DEWA BUTO IJO Mereka dimasukkan ke ruang khusus, seperti penjara yang ada didalam ruang penyimpanan. Dewa Jaka Tole melakukan hal ini tentu saja mempunyai rencana tersendiri. Dia ingin menjadikan para Dewa Buto ijo ini sebagai budaknya dan suatu saat tentu akan sangat dibutuhkan. Dewa atau Dewangkara dalam tubuh asli yang ditempati. Juga satu orang yang sama dengan Jaka Tole dalam dunia Dewa, sebelum dia diteleportasi masuk ke tubuh Dewangkara. Kali ini didunia para Dewa atau Demit, Dewa akan memakai nama aslinya yaitu Jaka Tole. Setelah memenjarakan sepuluh prajurit Dewa Buto ijo, senyum kegembiraan tersungging di sudut bibirnya. “He he he he… mumpung lagi didunia para Demit, lebih baik mulai mengumpulkan pasukan yang banyak. Siapa tahu akan bermanfaat di suatu saat. Apalagi ruang penyimpanan makhluk hidup, yang ada di dalam dimensi khusus sudah lama kosong.” Sambil menepuk kan tangannya di pakaian, Dewa sege
Bab 3. TANGIS KESEDIHANPerjalanan menuju pasar induk Kota Sukabumi memakan waktu hampir satu jam. Jarak empat puluh lima kilometer bukanlah masalah bagi mobil pick up Asep yang dipacu kencang. Sepanjang jalan, Dewa duduk dalam diam. Matanya mengawasi setiap detail dari balik kaca jendela yang dit
Bab 2. MANUSIA ANEHDewa membuka mata. Di luar gubuk, kicau burung mulai terdengar. Hujan badai semalam telah berlalu, menyisakan udara hutan yang bersih dan lembap. Ia menggerakkan bahunya. Rasa kaku perlahan memudar.Pikirannya langsung terhubung ke ruang penyimpanan spiritual yang tertanam dalam
Bab 1. BANGKIT DARI KUBURBlar…!!!Kilat menyambar, membelah langit malam di atas Gunung Salak. Suara guruh yang menyusul terdengar seperti raungan binatang buas yang terluka. Hujan badai turun tanpa ampun, menghantam pepohonan dan menyapu permukaan tanah lereng gunung yang curam. Di area datar de
Bab 6. MENGURUNG DIRI“Tolong Kartu identitas Anda,” kata resepsionis cantik yang melayani Dewa dengan sopan serta senyum mengembang di sudut bibirnya.Dewa tampak bingung saat dimintai untuk menyerahkan kartu identitas, maklumlah dia baru saja memasuki dunia fana yang energi spiritualnya sangat le







