MasukBab 3. TANGIS KESEDIHAN
Perjalanan menuju pasar induk Kota Sukabumi memakan waktu hampir satu jam. Jarak empat puluh lima kilometer bukanlah masalah bagi mobil pick up Asep yang dipacu kencang. Sepanjang jalan, Dewa duduk dalam diam. Matanya mengawasi setiap detail dari balik kaca jendela yang diturunkan setengah. Ia melihat tiang listrik, rumah-rumah beton, papan reklame warna-warni, dan orang-orang yang berjalan dengan pakaian modern. Otaknya terus memproses data yang ia ambil dari Asep, mencocokkannya dengan realita visual di depannya. Mesin mobil yang menderu terasa bergetar di telapak kakinya. Ia benar-benar telah mendarat di peradaban yang membuang jalur kultivasi demi teknologi mekanis. "Nama saya Asep, Kang. Kalau akang teh namanya siapa?" Asep mencoba memecah keheningan sambil memutar kemudi. "Dewa," jawabnya singkat. "Oh, Dewa. Asli mana Kang? Kok pakaiannya kayak orang keraton begitu?" "Saya dari daerah pegunungan." Dewa enggan menjelaskan lebih detail. Ia menutup mata, pura-pura beristirahat. Setibanya di pasar sayur yang riuh dan becek, bau kol busuk, tomat segar, dan tanah basah menyambut mereka. Suara tawar-menawar terdengar saling bersahutan. Asep memarkirkan pikapnya di depan sebuah lapak semi permanen. "Nah, Kang. Tolong turunkan semua keranjang sayur ini. Susun di sebelah sana," Asep menunjuk area kosong di dalam lapak. "Saya mau kencing dulu sebentar. Jangan dibanting ya, tomatnya bisa hancur." Asep berjalan menjauh menuju toilet umum. Dewa menatap bak mobil yang penuh sesak. Setiap keranjang memiliki berat sekitar dua puluh hingga tiga puluh kilogram. Bagi manusia biasa, memindahkan puluhan keranjang ini membutuhkan tenaga dan waktu yang lumayan. Dewa menyingsingkan lengan baju Surjannya. Ia mengalirkan setitik energi Prana ke otot lengan dan punggungnya. Ia melangkah ke bak mobil, meraih dua keranjang sayur sekaligus di masing-masing tangan. Beban itu terasa seringan kapas. Ia bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa. Angkat, putar, letakkan. Gerakannya mengalir seperti tarian bela diri yang efisien. Tidak ada langkah yang terbuang. Saat Asep kembali sambil mengancingkan celananya, pria itu mematung. Rokok di bibirnya nyaris jatuh. Bak pikapnya telah kosong melompong. Di dalam lapak, keranjang-keranjang tomat, kol, dan sawi telah tersusun rapi hingga ke atas. Dewa berdiri di samping tumpukan itu, napasnya teratur tanpa ada setetes keringat pun di keningnya. "Gusti nu agung..." gumam Asep, matanya melotot. Bukan hanya Asep, beberapa kuli panggul dan pedagang di sekitar lapak juga berhenti beraktivitas, menatap Dewa dengan mulut terbuka. *** Di belahan dunia lain, tepatnya di sebuah mansion megah di kawasan elit Jakarta Selatan, udara terasa sangat pengap. Tirai-tirai tebal dibiarkan tertutup, menghalangi cahaya matahari pagi masuk ke dalam ruangan. Angelina Widodo duduk di sofa ruang tengah. Penampilannya kacau. Rambutnya yang biasanya ditata sempurna kini acak-acakan. Matanya merah dan membengkak karena terus menangis selama tujuh hari penuh. Kelopak matanya menghitam, wajahnya sepucat mayat. "Dewa... anakku... kamu ada di mana, Nak?" Suaranya parau, nyaris berupa bisikan. Air matanya sudah kering, namun rintihan penderitaannya terus menggema. Di sudut ruangan, Darius Atmaja berdiri menghadap jendela. Pria paruh baya yang ditakuti di dunia bisnis itu tampak kehilangan auranya. Kemejanya kusut. Rahangnya terkatup rapat, menahan amarah dan keputusasaan yang siap meledak kapan saja. Kakek Dewa, Bambang Atmaja, duduk di kursi roda, menatap foto cucunya dengan pandangan kosong. Garis-garis penuaan di wajah pria tua itu seolah bertambah drastis dalam seminggu terakhir. Mereka kehilangan pewaris satu-satunya, tulang punggung masa depan Atmaja Corporation. Berbanding terbalik dengan suasana berkabung di mansion utama, sebuah pesta kecil sedang berlangsung di sebuah vila mewah di Jakarta Barat. Dua botol anggur merah impor telah terbuka. Carlita Atmaja, wanita berusia lima puluhan dengan riasan tebal, duduk menyilangkan kaki di sofa. Ia memutar gelas anggur di tangannya, tersenyum licik. Di seberangnya, Jaka Atmaja menyesap cerutunya dalam-dalam, menghembuskan asap tebal ke udara. "Kakak pertama pasti sedang memikirkan peti mati sekarang," kekeh Jaka pelan. "Tidak ada anak, tidak ada pewaris. Saham perusahaan akan segera jatuh bebas." "Dan saat mereka sedang sibuk menangisi kematian bocah sialan itu, kita masuk sebagai keluarga terdekat untuk mengamankan aset," timpal Carlita, matanya berkilat serakah. Jaka mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau yakin tidak ada jejak yang tertinggal? Jika Darius mencium sedikit saja keterlibatan kita, dia akan menghancurkan kita berdua sampai ke akar-akarnya." "Tenang saja, Jaka. Orang-orang bayaranku sangat profesional. Tubuh bocah itu tidak akan pernah ditemukan. Hutan Halimun sangat luas dan buas. Bahkan tulang belulangnya pun akan habis dimakan babi hutan," desis Carlita puas, tidak menyadari bahwa mangsa yang mereka buang kini telah bangkit dengan kekuatan yang bisa meratakan gunungBab 50. PEMILIK HATI BUSUK Demikian juga teman-teman satu kelas, mereka hanya bisa mencibir dalam hatinya. Para mahasiswa juga bingung, karena pihak kampus tidak pernah menegur atau memberi skors atas semua kelakuannya. Sepertinya Dewa memang sudah malas untuk belajar yang baginya tidak penting. Hal ini tentu saja sangat wajar, dengan usia aslinya yang sudah ribuan tahun, bagi Dewa sudah bukan waktunya lagi untuk belajar sesuatu yang tidak penting bagi peningkatan Kanuragan nya. Hanya saja dia mencoba mengikuti kehidupan tubuh yang ditempatinya. Waktu berlalu tanpa terasa, satu semester sudah terlewati di kampus Nusantara. Nama Dewa sudah sangat terkenal sebagai biang kerok dan kekuatannya membuat tidak ada satu mahasiswa pun yang berani ribut dengannya. Selama satu semester, tidak ada satupun mahasiswa yang tahu, kalau Universitas Nusantara ini adalah milik orang tuanya. Semua mahasiswa hanya tahu, kalau Dewa berlatar belakang seorang kong
Bab 49. CENGKRAMAN MAUT Dewa menatap komandan pengawal keluarga Tanoto di depannya dengan tatapan datar, bagi Dewa manusia seperti George tidak pantas dipandang dengan dua mata. George lebih pantas dipandang dengan mata terpejam, karena kesombongannya tidak seimbang dengan kemampuannya. “Kamu….” Terdengar suara yang cukup pelan dari mulut Dewa, sementara jaringan tangannya bergerak memberi isyarat agar George datang mendekat. Begitu mendengar perkataan Dewa, tenggorokan George seakan langsung mengering, jakunnya terus bergerak naik turun untuk menelan ludah. Sedangkan kedua kakinya entah kenapa bergetar sendiri, membuat keperkasaan nya sebagai komandan pasukan langsung tercoret dengan telak. George tetap berdiri diam ditempatinya, dia sama sekali tidak berani untuk berjalan mendekat kearah Dewa. Sementara itu Shanti dikejauhan, sedang berdiri terpaku melihat pengawal andalannya sama sekali tidak berguna. Melihat George sama sekali tidak men
Bab 48. SENTILAN MAUT Setelah menjalani waktu pemulihan dari lukanya, dia segera mencari pekerjaan baru usai pensiun dari tentara khusus. Dan kebetulan ada rekannya yang memberi informasi, kalau keluarga Tanoto membutuhkan pengawal pribadi. Dengan jalur khusus, serta latar belakangnya dari prajurit khusus, akhirnya dia diterima bekerja sebagai pegawai pribadi. Setelah sekian lama bekerja di keluarga Tanoto kemampuannya benar-benar teruji dan tidak mengecewakan. Akan tetapi hari ini, sepertinya dia sedang terkena batunya, karena lawan yang dihadapi bukanlah pria biasa. Dengan ekspresi sombong dan merendahkan, George segera mendekati Dewa, setelah Shanti menunjuk ke arahnya. Sementara itu Dewa yang sedang mencengkram tinju Siswo, terlihat cuek melihat kedatangan bala bantuan dari pihak Shanti. Sebagai seorang pendekar Kanuragan, tentu saja dia sudah bisa mendeteksi kekuatan orang-orang yang baru saja datang. “Cih… kirain minta bantuan pe
Bab 47. BALA BANTUAN DATANG Suara itu membuat siapapun yang mendengarnya merasa gigi mereka tiba-tiba saja menjadi ngilu. Meskipun sudah meremas tangan pengawal itu sampai patah, Dewa belum berani melepas genggamannya. Ekspresi wajah Dewa tampak dingin laksana di kutub, dia memandang pengawal itu dan Siswo serta Shanti dengan datar. “Lepaskan. Tangan temanku!” bentak Siswo sambil melayangkan tinjunya ke kepala Dewa. Meskipun dia sudah melihat sendiri kekuatan Dewa yang mampu merupakan tangan rekannya, Siswo sama sekali tidak takut. Melihat tinju Siswo melayang ke arahnya, Dewa sama sekali tidak panik. Bahkan saling santainya, dia tidak melepaskan genggaman di tangan pengawal itu. Tap… Tangan Dewa seperti Magnet yang berdekatan dengan besi, karena begitu cepat dan mudahnya tinju Siswo yang hampir mengenai kepalanya ditangkap dengan tangan satunya yang bebas. Tentu saja Siswo sangat terkejut dan panik, pikirannya langsung tertuju pada Apa yang
Bab 46. TINJU YANG GAGAL Bugh… “Aww…!” Baru juga di senggol bahunya, tubuh wanita itu seketika terhuyung dan jatuh di lantai basement. Dewa hanya melirik dengan tatapan sinis ke arah wanita itu tanpa ada sedikitpun niat untuk menolongnya. “Berhenti…! Dasar pria tak berpendidikan, awas kamu telah berani mencelakai aku!” ancam wanita itu sambil mengambil ponsel di tas mahalnya. “Siswo, cepat datang ke basement bank Himbara, saya diganggu orang,” perintah wanita itu pada seseorang melalui ponselnya. Sementara itu Dewa yang sudah kesal dengan sikap wanita itu sudah sampai di dekat mobilnya, tepat dengan kedatangan dua orang pria berbadan kekar yang menemui wanita itu. “Saya bu, tugas apa yang perintahkan kepada kami?” kata Siswo setelah sampai di depan wanita itu. “Kamu tangkap pemuda itu, dia sudah berani mendorong tubuhku hingga jatuh.” Siswo dan rekannya langsung mengikuti arah jari telunjuk wanita itu, seketika Siwo dan rekannya bergegas lari
Bab 45. BERTEMU WANITA KURUS CS wanita itu segera menatap Dewa dengan tatapan penuh selidik, setelah melihat pakaian mahal yang dikenakannya, CS itu segera berkata, “Bapak, mari ikut saya.” Dewa segera bangkit dari duduknya, kemudian mengikuti CS wanita itu menuju sebuah ruangan tertutup. Begitu sampai di ruangan khusus itu, CS wanita berbicara dengan rekannya, “Pak Ardi, bapak ini ingin membuat rekening untuk transaksi saham.” Ternyata petugas yang ada di ruangan ini bernama Ardi, dia seorang pria berusia empat puluh tahunan dengan pakaian rapi. Dengan senyum ramah, dia segera menjabat tangan Dewa, dan mempersilahkan Dewa untuk duduk. Setelah CS wanita itu pergi, Dewa segera mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke Bank Himbara ini. Dalam pembicaraannya, Dewa menyampaikan kalau dia sudah mempunyai akun Virtual yang sebelumnya sudah di gunakan untuk transaksi perbankan. Setelah dilihat di komputernya, nama Dewa langsung muncul dalam akun Virtual.
Bab 16. DIHADANG PREMAN “Kalian mau ngapain?” kata ibu muda itu dengan ekspresi takut mulai tergambar jelas di raut wajahnya. “He he he he… mau ngapain? Tentu saja mau nemenin eneng yang cantik,” kata salah satu preman yang memakai jaket denim belel. “Ibu… dede takut…” rengek gadis kec
Bab 15. IBU MUDA “Tentu saja saya akan meninggalkan kota Sukabumi, apalagi saya memang bukan warga Sukabumi,” kata Dewa dengan santainya seakan tidak menanggung beban apapun. Monalisa dan yang lainnya langsung terdiam begitu mendengar perkataannya, mereka tenggelam dalam pikirannya masing
Bab 14. NAMA ASLI DEWA ALIAS DEWA PENGHANCUR “Eh, ada teman-temannya Monalisa datang berkunjung. Maaf, Om dan Tante tidak menyiapkan jamuan untuk kalian,” sapa Isabella Gorgodze dengan ramah. Begitu melihat kedatangan kedua orang tua Monalisa, keempat sahabatnya segera berdiri dan menciu
Bab 13. BERDIRI TERTOTOK Di saat Dewa dan yang lainnya sudah keluar dari resto, tubuh Bagus tampak mulai dipenuhi keringat dingin. Rasa takut yang entah datang dari mana membuatnya sangat panik, namun rasa paniknya sama sekali tidak bisa dikeluarkan. Selain mulutnya yang membisu, tubuhnya juga







