MasukBab 6. MENGURUNG DIRI
“Tolong Kartu identitas Anda,” kata resepsionis cantik yang melayani Dewa dengan sopan serta senyum mengembang di sudut bibirnya. Dewa tampak bingung saat dimintai untuk menyerahkan kartu identitas, maklumlah dia baru saja memasuki dunia fana yang energi spiritualnya sangat lemah dan belum seratus persen memahami kebiasaan didunia baru ini. Dewa dengan cepat segera menelusuri pengetahuan yang dia d******d dari memori milik Asep sang sopir mobil sayur. Akhirnya dia menemukan apa artinya kartu identitas, dan saat itu juga dia teringat dengan benda pipih hitam berbahan kulit dengan isi beberapa kartu. “Ini Bu,” kata Dewa sambil menyerahkan KTP milik Dewangkara Atmaja atau milik tubuh asli yang sedang ditempati. Dewa sendiri belum tahu siapa nama yang tertera dalam KTP yang diserahkan ke resepsionis hotel. Dan dia juga tidak terlalu memperhatikan deretan kartu Bank yang tersusun rapi di dalam dompet itu. Akan tetapi berbeda dengan resepsionis dan supir dari toko emas yang mengantarnya, mereka terkesiap melihat dengan jelas deretan kartu Bank dari berbagai Bank besar yang ada di Indonesia. Bahkan ada kartu Bank Internasional diantara deretan kartu Bank itu. Seketika sikap resepsionis yang melayani Dewa yang sudah ramah, kini menjadi lebih ramah lagi, bahkan terlihat sangat tertarik dengan Dewa, meskipun penampilannya sangat aneh. “Maaf pak Dewa, anda akan menginap berapa hari?” Dewa sangat terkejut ketika resepsionis cantik di depannya tahu namanya, padahal seingatnya dia sama sekali belum memperkenalkan diri. Dengan cepat Dewa segera mengingat memori yang pernah diunduh dari memori milik Asep sang sopir mobil sayur. Akhirnya dia tahu kalau didalam KTP yang diserahkan kepada resepsionis cantik itu ada nama dan identitas lengkap tentang pemilik tubuh yang ditempati. Dewa cukup menyesal telah menghasilkan benda yang dia temukan di dalam pakaian pemilik tubuh ini saat itu. Andai dia tahu kalau isi dalam benda aneh yang sekarang diketahui setelah mengunduh ingatan Asep, jika benda itu namanya dompet. Karena Dewa sama sekali tidak tahu, akan berapa lama dia menginap di hotel ini, akhirnya dia mengambil satu ikat uang seratus ribuan yang isinya adalah sepuluh juta rupiah. “Dengan uang ini, berapa lama saya bisa tinggal di hotel ini? Mata sang resepsionis cantik tampak membelalak, ekspresi wajahnya terlihat sangat tidak percaya. Ternyata di dalam tas plastik hitam itu isinya tumpukan uang seratus ribuan. Senyumannya semakin lebar saja dan keramahanmu. Dia sama sekali tidak menyangka, pemuda yang berpakaian aneh ini di dalam dompetnya penuh dengan Kartu Bank besar seluruh Indonesia. Padahal biasanya tamu yang menginap di hotel ini jarang membayar uang sewa dengan menggunakan uang tunai, di zaman modern seperti sekarang ini, banyak orang yang menggunakan kartu Bank sebagai biaya transaksi. Bahkan bisa scan QRIS dari semua aplikasi dan M Banking yang ada. “Anda bisa menginap di hotel kami selama dua belas hari,” kata resepsionis yang segera memerintahkan bellboy untuk mengantar Dewa ke kamarnya. Sebelum meninggalkan lobi, Dewa mengambil sepuluh lembar uang seratus ribuan untuk sopir yang mengantarnya. Di Dalam kamar hotel, Dewa sangat takjub dengan interior dan kemewahan kamar yang begitu bagus dan baru pertama kalinya dia sebagai manusia dari dunia lain melihat kemewahan kamar hotel di jaman modern. Begitu pintu kamar ditutup, Dewa segera tiduran di kasur yang begitu empuk dengan sprei yang sangat lembut. Di Dinding Dewa melihat ada kotak hitam besar yang menempel, karena bingung dengan benda itu, Dewa kembali menggali memori yang didapat dari ingatan Asep sang sopir mobil sayur. Padahal jika Dewa bisa menggali atau menyerap ingatan tubuh yang ditempatinya, maka ingatan itu akan sangat menakjubkan dan lebih lengkap daripada ingatan milik Asep. Begitu menyentuh remote, seketika itu juga mata Dewa melotot dan ekspresi wajahnya terlihat seperti orang bodoh yang baru saja menemukan benda aneh didepannya. Tubuhnya tampak menegang dan seketika itu juga, dia langsung menonton setiap acara yang ada di layar televisi. Seharian dia berada didalam kamar menonton televisi, secara perlahan Dewa mulai memahami dunia fana tempat dia saat ini berada. Dari siang hingga malam dia tidak keluar kamar, sehingga membuat karyawan hotel pemasaran. Tok tok tok tok… Terdengar suara pintu diketuk membuat Dewa yang sedang asyik menikmati acara televisi segera turun dari tempat tidur. Begitu pintu dibuka, dihadapan Dewa terlihat bellboy yang tadi mengantarnya. “Maaf pak, apakah bapak membutuhkan saya untuk memesan makanan?” “Makanan? Oh iya, dimana ada makanan?” “Di cafe hotel, anda bisa menikmati segala macam makanan yang anda butuhkan. Tapi jika anda mau tetap istirahat di dalam kamar, saya bisa membawakan makanan pesanan anda kesini.” Dewa tampak kagum dengan pelayanan hotel ini, dia tidak mengira kalau makanan bisa dipesan dari dalam kamar. Setelah berpikir sejenak, Dewa segera memutuskan untuk memesan makanan dari dalam kamar saja. Maklumlah saat ini Dewa sedang kecanduan nonton televisi untuk mempelajari pengetahuan untuk hidup di dunia fana iniBab 50. PEMILIK HATI BUSUK Demikian juga teman-teman satu kelas, mereka hanya bisa mencibir dalam hatinya. Para mahasiswa juga bingung, karena pihak kampus tidak pernah menegur atau memberi skors atas semua kelakuannya. Sepertinya Dewa memang sudah malas untuk belajar yang baginya tidak penting. Hal ini tentu saja sangat wajar, dengan usia aslinya yang sudah ribuan tahun, bagi Dewa sudah bukan waktunya lagi untuk belajar sesuatu yang tidak penting bagi peningkatan Kanuragan nya. Hanya saja dia mencoba mengikuti kehidupan tubuh yang ditempatinya. Waktu berlalu tanpa terasa, satu semester sudah terlewati di kampus Nusantara. Nama Dewa sudah sangat terkenal sebagai biang kerok dan kekuatannya membuat tidak ada satu mahasiswa pun yang berani ribut dengannya. Selama satu semester, tidak ada satupun mahasiswa yang tahu, kalau Universitas Nusantara ini adalah milik orang tuanya. Semua mahasiswa hanya tahu, kalau Dewa berlatar belakang seorang kong
Bab 49. CENGKRAMAN MAUT Dewa menatap komandan pengawal keluarga Tanoto di depannya dengan tatapan datar, bagi Dewa manusia seperti George tidak pantas dipandang dengan dua mata. George lebih pantas dipandang dengan mata terpejam, karena kesombongannya tidak seimbang dengan kemampuannya. “Kamu….” Terdengar suara yang cukup pelan dari mulut Dewa, sementara jaringan tangannya bergerak memberi isyarat agar George datang mendekat. Begitu mendengar perkataan Dewa, tenggorokan George seakan langsung mengering, jakunnya terus bergerak naik turun untuk menelan ludah. Sedangkan kedua kakinya entah kenapa bergetar sendiri, membuat keperkasaan nya sebagai komandan pasukan langsung tercoret dengan telak. George tetap berdiri diam ditempatinya, dia sama sekali tidak berani untuk berjalan mendekat kearah Dewa. Sementara itu Shanti dikejauhan, sedang berdiri terpaku melihat pengawal andalannya sama sekali tidak berguna. Melihat George sama sekali tidak men
Bab 48. SENTILAN MAUT Setelah menjalani waktu pemulihan dari lukanya, dia segera mencari pekerjaan baru usai pensiun dari tentara khusus. Dan kebetulan ada rekannya yang memberi informasi, kalau keluarga Tanoto membutuhkan pengawal pribadi. Dengan jalur khusus, serta latar belakangnya dari prajurit khusus, akhirnya dia diterima bekerja sebagai pegawai pribadi. Setelah sekian lama bekerja di keluarga Tanoto kemampuannya benar-benar teruji dan tidak mengecewakan. Akan tetapi hari ini, sepertinya dia sedang terkena batunya, karena lawan yang dihadapi bukanlah pria biasa. Dengan ekspresi sombong dan merendahkan, George segera mendekati Dewa, setelah Shanti menunjuk ke arahnya. Sementara itu Dewa yang sedang mencengkram tinju Siswo, terlihat cuek melihat kedatangan bala bantuan dari pihak Shanti. Sebagai seorang pendekar Kanuragan, tentu saja dia sudah bisa mendeteksi kekuatan orang-orang yang baru saja datang. “Cih… kirain minta bantuan pe
Bab 47. BALA BANTUAN DATANG Suara itu membuat siapapun yang mendengarnya merasa gigi mereka tiba-tiba saja menjadi ngilu. Meskipun sudah meremas tangan pengawal itu sampai patah, Dewa belum berani melepas genggamannya. Ekspresi wajah Dewa tampak dingin laksana di kutub, dia memandang pengawal itu dan Siswo serta Shanti dengan datar. “Lepaskan. Tangan temanku!” bentak Siswo sambil melayangkan tinjunya ke kepala Dewa. Meskipun dia sudah melihat sendiri kekuatan Dewa yang mampu merupakan tangan rekannya, Siswo sama sekali tidak takut. Melihat tinju Siswo melayang ke arahnya, Dewa sama sekali tidak panik. Bahkan saling santainya, dia tidak melepaskan genggaman di tangan pengawal itu. Tap… Tangan Dewa seperti Magnet yang berdekatan dengan besi, karena begitu cepat dan mudahnya tinju Siswo yang hampir mengenai kepalanya ditangkap dengan tangan satunya yang bebas. Tentu saja Siswo sangat terkejut dan panik, pikirannya langsung tertuju pada Apa yang
Bab 46. TINJU YANG GAGAL Bugh… “Aww…!” Baru juga di senggol bahunya, tubuh wanita itu seketika terhuyung dan jatuh di lantai basement. Dewa hanya melirik dengan tatapan sinis ke arah wanita itu tanpa ada sedikitpun niat untuk menolongnya. “Berhenti…! Dasar pria tak berpendidikan, awas kamu telah berani mencelakai aku!” ancam wanita itu sambil mengambil ponsel di tas mahalnya. “Siswo, cepat datang ke basement bank Himbara, saya diganggu orang,” perintah wanita itu pada seseorang melalui ponselnya. Sementara itu Dewa yang sudah kesal dengan sikap wanita itu sudah sampai di dekat mobilnya, tepat dengan kedatangan dua orang pria berbadan kekar yang menemui wanita itu. “Saya bu, tugas apa yang perintahkan kepada kami?” kata Siswo setelah sampai di depan wanita itu. “Kamu tangkap pemuda itu, dia sudah berani mendorong tubuhku hingga jatuh.” Siswo dan rekannya langsung mengikuti arah jari telunjuk wanita itu, seketika Siwo dan rekannya bergegas lari
Bab 45. BERTEMU WANITA KURUS CS wanita itu segera menatap Dewa dengan tatapan penuh selidik, setelah melihat pakaian mahal yang dikenakannya, CS itu segera berkata, “Bapak, mari ikut saya.” Dewa segera bangkit dari duduknya, kemudian mengikuti CS wanita itu menuju sebuah ruangan tertutup. Begitu sampai di ruangan khusus itu, CS wanita berbicara dengan rekannya, “Pak Ardi, bapak ini ingin membuat rekening untuk transaksi saham.” Ternyata petugas yang ada di ruangan ini bernama Ardi, dia seorang pria berusia empat puluh tahunan dengan pakaian rapi. Dengan senyum ramah, dia segera menjabat tangan Dewa, dan mempersilahkan Dewa untuk duduk. Setelah CS wanita itu pergi, Dewa segera mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke Bank Himbara ini. Dalam pembicaraannya, Dewa menyampaikan kalau dia sudah mempunyai akun Virtual yang sebelumnya sudah di gunakan untuk transaksi perbankan. Setelah dilihat di komputernya, nama Dewa langsung muncul dalam akun Virtual.
Bab 20. MUSTIKA JIWA Mengandalkan kesadaran spiritualnya, tubuh Dewa segera masuk ke dalam lubang gua yang hanya sebesar tubuh manusia. Gua ini lebih tepat kalau disebut sebagai rumah ular dibandingkan dengan pintu gua. Karena Dewa harus merangkak untuk masuk ke dalam lubang ini. Dengan t
Bab 19. AURA KUAT Bukannya menghadap ke arah Aisyah, Dewa malah menatap gadis kecil itu yang tampak bahagia melihat dirinya ikut bersamanya. Selama perjalanan, Dewa banyak diam, dia akan menjawab jika di tanya atau di ajak bicara Aisyah dan anaknya. Akhirnya sampai juga mereka di k
Bab 22. SETUMPUK UANG YANG MENGEJUTKAN Dewa yang sudah mengenal perbedaan waktu di dunia siluman dan di dunia Fana hanya bisa menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum asam. Kemudian Dewa pura-pura bodoh agar tidak memperpanjang obrolan keluarganya Aisyah. “Kang makan dulu, sepertinya
Bab 21. HUTAN ALUSAN ATAU HUTAN SILUMAN “Apa yang terjadi? Kenapa saya malah tidur? Bukankah sebelumnya saya sedang duduk bersemedi? Di mana mustika ungu itu? Kenapa menghilang?” Dengan kesadaran yang belum pulih seratus persen, Dewa mencoba berdiri. Kemudian dia memeriksa peti kayu jati d







