Início / Urban / Pewaris Yang Teraniaya / Bab 2. MANUSIA ANEH

Compartilhar

Bab 2. MANUSIA ANEH

Autor: MN Rohmadi
last update Data de publicação: 2026-04-08 11:40:55

Bab 2. MANUSIA ANEH

Dewa membuka mata. Di luar gubuk, kicau burung mulai terdengar. Hujan badai semalam telah berlalu, menyisakan udara hutan yang bersih dan lembap. Ia menggerakkan bahunya. Rasa kaku perlahan memudar.

Pikirannya langsung terhubung ke ruang penyimpanan spiritual yang tertanam dalam jiwanya. "Untung saja ruang penyimpanan ini tidak ikut hancur saat dimensi robek," batinnya.

Sebuah pakaian muncul di telapak tangannya. Pakaian itu bukan baju zirah perang atau jubah sutra dewa, melainkan satu set pakaian Surjan Jawa berwarna biru pudar, lengkap dengan kain batik untuk bawahan dan celana komprang hitam. Di masa lalu, ini adalah pakaian perjalanannya saat menyamar di bumi Jawadwipa. Bagi Dewa, pakaian ini terasa nyaman dan praktis. Ia mengenakan pakaian itu dengan tenang. Kainnya terasa halus di kulit barunya. Dewa duduk kembali, mencoba mengingat detail pertarungannya sebelum terlempar ke tempat ini.

Sepuluh pendekar tingkat Ilahi mengepungnya di Puncak Langit Ketujuh. Mereka adalah penguasa dari sepuluh sekte terbesar. Pedang cahaya, formasi petir, dan segel pembunuh jiwa dilontarkan bersamaan. Dewa membalas dengan Teknik Kehancuran Primordial. Benturan energi yang tercipta terlalu besar. Ruang dan waktu retak, menciptakan pusaran lubang hitam yang menyedot segalanya. Tubuh dewa miliknya hancur karena tekanan dimensi, hanya menyisakan jiwanya yang berhasil menembus portal waktu dan jatuh ke dalam raga pemuda bernama Dewangkara ini.

"Dunia ini miskin energi spiritual," keluhnya sambil menghirup udara. "Namun cukup tenang. Aku harus memahami dan menyelidiki dunia seperti apa tempat pemilik tubuh ini berada sebelum melangkah lebih jauh."

Ia bangkit, menempelkan tangannya ke dinding gubuk. Struktur tanah liat itu runtuh menjadi serpihan debu dan kembali menyatu dengan tanah hutan. 

Kriuk kriuk kriuk…

Tiba-tiba terdengar suara musik dari dalam perutnya, suara khas panggilan tubuh yang minta diisi dan di suplai energi baru.

“Benar-benar lemah tubuh yang saya tempati ini. Bagaimana bisa, saya masuk kedalam tubuh yang begitu lemah, tanpa energi spiritual sedikitpun? Baiklah, lebih baik saya segera pergi dari tempat ini dan mencari perkampungan penduduk untuk mengisi perut,” gumam Dewa sambil mengusap perutnya.

Kemudian Dewa melesat ke atas pucuk pohon tertinggi untuk mencari perkampungan, menggunakan dahan-dahan pohon sebagai pijakan tubuhnya melesat berlari bagaimana angin. Kecepatannya jauh menurun dibandingkan saat ia memiliki tubuh aslinya, namun masih sangat cepat untuk ukuran manusia biasa.

Brumm… brumm…

Suara dengungan aneh memecah konsentrasinya. Dewa menghentikan langkah di pucuk pohon pinus. Ia menoleh ke arah selatan. Suaranya terdengar mekanis, berirama, dan berat. Ia memicingkan mata, memperkuat pandangannya.

Di kejauhan, ia melihat sebuah pita hitam panjang yang membelah lereng bukit. Di atas pita hitam itu, benda-benda kotak berbahan besi bergerak dengan kecepatan sangat tinggi.

"Kereta besi? Berlarian tanpa ditarik kuda pelacak? Teknologi macam apa ini?" Dewa bergumam, rasa penasarannya terpancing.

Ia melesat turun, melintasi pepohonan hingga mencapai bahu jalan aspal. Ia berdiri di sana, menatap aspal yang keras dengan ujung kakinya. Angin berembus kencang setiap kali kereta besi itu lewat. Bau bahan bakar dan asap knalpot menyengat hidungnya. Ia memperhatikan pengemudi di balik kaca transparan. Dunia ini benar-benar asing baginya.

Tiba-tiba, suara derit rem yang kasar terdengar. Sebuah mobil bak terbuka berwarna hitam yang terlihat sedikit penyok di bagian bumper berhenti tepat satu meter di depannya. Bagian belakang mobil itu dipenuhi keranjang bambu berisi sayuran segar.

Pintu terbuka. Seorang pria berusia pertengahan tiga puluhan, mengenakan kaus oblong pudar dan celana jins robek, melangkah turun. Ia menatap Dewa dari atas ke bawah.

"Kang, akang mau ikut?" tanyanya dengan logat Sunda yang kental.

Dewa menatap pria itu dengan wajah datar. Bahasa yang digunakan pria itu sama sekali tidak ia kenali. Namun, sebagai entitas tingkat tinggi, kendala bahasa adalah masalah sepele. Dewa memusatkan energinya ke mata.

Ajian Penyerap Jiwa.

Mata Dewa berkilat samar. Pria di depannya, Asep, tiba-tiba mematung. Tatapannya menjadi kosong, tangannya yang bersiap menyalakan rokok terhenti di udara. Dewa tidak melukai jiwanya, ia hanya menyalin ingatan permukaan. 

Dalam sekejap, ribuan kosa kata, tata bahasa, aturan sosial, sejarah singkat Indonesia, dan letak geografis kota Sukabumi mengalir masuk ke dalam otak Dewa. Rasa sakit sesaat berdenyut di pelipisnya akibat masuknya informasi mendadak.

Asep mengerjap. Tubuhnya tersentak kecil, seolah baru saja melamun sedetik. "Eh, gimana Kang? Ikut nggak?" tanyanya lagi, tidak sadar ingatannya baru saja diunduh.

Dewa menatap Asep. Kini bahasa pria itu terdengar sangat jelas. Ia sudah memahami konsep mobil, uang, pekerjaan, dan waktu saat ini yaitu tahun dua ribu dua puluh enam.

"Ikut ke mana?" Dewa balik bertanya, intonasinya datar namun pengucapannya sempurna.

Asep tersenyum lebar, menepuk kap mobilnya. Ia mengira pemuda berpakaian aneh ini adalah orang kampung yang sedang mencari peruntungan di kota. "Bantu saya bongkar sayuran ini di pasar kota. Nanti saya kasih uang bongkar. Lumayan buat beli nasi padang sama kopi."

Dewa menatap tumpukan keranjang sayur itu, lalu kembali menatap Asep. "Baiklah." Ia melangkah ringan, masuk ke dalam kursi penumpang kereta besi itu.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 50. PEMILIK HATI BUSUK

    Bab 50. PEMILIK HATI BUSUK Demikian juga teman-teman satu kelas, mereka hanya bisa mencibir dalam hatinya. Para mahasiswa juga bingung, karena pihak kampus tidak pernah menegur atau memberi skors atas semua kelakuannya. Sepertinya Dewa memang sudah malas untuk belajar yang baginya tidak penting. Hal ini tentu saja sangat wajar, dengan usia aslinya yang sudah ribuan tahun, bagi Dewa sudah bukan waktunya lagi untuk belajar sesuatu yang tidak penting bagi peningkatan Kanuragan nya. Hanya saja dia mencoba mengikuti kehidupan tubuh yang ditempatinya. Waktu berlalu tanpa terasa, satu semester sudah terlewati di kampus Nusantara. Nama Dewa sudah sangat terkenal sebagai biang kerok dan kekuatannya membuat tidak ada satu mahasiswa pun yang berani ribut dengannya. Selama satu semester, tidak ada satupun mahasiswa yang tahu, kalau Universitas Nusantara ini adalah milik orang tuanya. Semua mahasiswa hanya tahu, kalau Dewa berlatar belakang seorang kong

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 49. CENGKRAMAN MAU'T

    Bab 49. CENGKRAMAN MAUT Dewa menatap komandan pengawal keluarga Tanoto di depannya dengan tatapan datar, bagi Dewa manusia seperti George tidak pantas dipandang dengan dua mata. George lebih pantas dipandang dengan mata terpejam, karena kesombongannya tidak seimbang dengan kemampuannya. “Kamu….” Terdengar suara yang cukup pelan dari mulut Dewa, sementara jaringan tangannya bergerak memberi isyarat agar George datang mendekat. Begitu mendengar perkataan Dewa, tenggorokan George seakan langsung mengering, jakunnya terus bergerak naik turun untuk menelan ludah. Sedangkan kedua kakinya entah kenapa bergetar sendiri, membuat keperkasaan nya sebagai komandan pasukan langsung tercoret dengan telak. George tetap berdiri diam ditempatinya, dia sama sekali tidak berani untuk berjalan mendekat kearah Dewa. Sementara itu Shanti dikejauhan, sedang berdiri terpaku melihat pengawal andalannya sama sekali tidak berguna. Melihat George sama sekali tidak men

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 48. SENTILAN MAUT

    Bab 48. SENTILAN MAUT Setelah menjalani waktu pemulihan dari lukanya, dia segera mencari pekerjaan baru usai pensiun dari tentara khusus. Dan kebetulan ada rekannya yang memberi informasi, kalau keluarga Tanoto membutuhkan pengawal pribadi. Dengan jalur khusus, serta latar belakangnya dari prajurit khusus, akhirnya dia diterima bekerja sebagai pegawai pribadi. Setelah sekian lama bekerja di keluarga Tanoto kemampuannya benar-benar teruji dan tidak mengecewakan. Akan tetapi hari ini, sepertinya dia sedang terkena batunya, karena lawan yang dihadapi bukanlah pria biasa. Dengan ekspresi sombong dan merendahkan, George segera mendekati Dewa, setelah Shanti menunjuk ke arahnya. Sementara itu Dewa yang sedang mencengkram tinju Siswo, terlihat cuek melihat kedatangan bala bantuan dari pihak Shanti. Sebagai seorang pendekar Kanuragan, tentu saja dia sudah bisa mendeteksi kekuatan orang-orang yang baru saja datang. “Cih… kirain minta bantuan pe

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 47. BALA BANTUAN DATANG

    Bab 47. BALA BANTUAN DATANG Suara itu membuat siapapun yang mendengarnya merasa gigi mereka tiba-tiba saja menjadi ngilu. Meskipun sudah meremas tangan pengawal itu sampai patah, Dewa belum berani melepas genggamannya. Ekspresi wajah Dewa tampak dingin laksana di kutub, dia memandang pengawal itu dan Siswo serta Shanti dengan datar. “Lepaskan. Tangan temanku!” bentak Siswo sambil melayangkan tinjunya ke kepala Dewa. Meskipun dia sudah melihat sendiri kekuatan Dewa yang mampu merupakan tangan rekannya, Siswo sama sekali tidak takut. Melihat tinju Siswo melayang ke arahnya, Dewa sama sekali tidak panik. Bahkan saling santainya, dia tidak melepaskan genggaman di tangan pengawal itu. Tap… Tangan Dewa seperti Magnet yang berdekatan dengan besi, karena begitu cepat dan mudahnya tinju Siswo yang hampir mengenai kepalanya ditangkap dengan tangan satunya yang bebas. Tentu saja Siswo sangat terkejut dan panik, pikirannya langsung tertuju pada Apa yang

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 46. TINJU YANG GAGAL

    Bab 46. TINJU YANG GAGAL Bugh… “Aww…!” Baru juga di senggol bahunya, tubuh wanita itu seketika terhuyung dan jatuh di lantai basement. Dewa hanya melirik dengan tatapan sinis ke arah wanita itu tanpa ada sedikitpun niat untuk menolongnya. “Berhenti…! Dasar pria tak berpendidikan, awas kamu telah berani mencelakai aku!” ancam wanita itu sambil mengambil ponsel di tas mahalnya. “Siswo, cepat datang ke basement bank Himbara, saya diganggu orang,” perintah wanita itu pada seseorang melalui ponselnya. Sementara itu Dewa yang sudah kesal dengan sikap wanita itu sudah sampai di dekat mobilnya, tepat dengan kedatangan dua orang pria berbadan kekar yang menemui wanita itu. “Saya bu, tugas apa yang perintahkan kepada kami?” kata Siswo setelah sampai di depan wanita itu. “Kamu tangkap pemuda itu, dia sudah berani mendorong tubuhku hingga jatuh.” Siswo dan rekannya langsung mengikuti arah jari telunjuk wanita itu, seketika Siwo dan rekannya bergegas lari

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 45, BERTEMU WANITA KURUS

    Bab 45. BERTEMU WANITA KURUS CS wanita itu segera menatap Dewa dengan tatapan penuh selidik, setelah melihat pakaian mahal yang dikenakannya, CS itu segera berkata, “Bapak, mari ikut saya.” Dewa segera bangkit dari duduknya, kemudian mengikuti CS wanita itu menuju sebuah ruangan tertutup. Begitu sampai di ruangan khusus itu, CS wanita berbicara dengan rekannya, “Pak Ardi, bapak ini ingin membuat rekening untuk transaksi saham.” Ternyata petugas yang ada di ruangan ini bernama Ardi, dia seorang pria berusia empat puluh tahunan dengan pakaian rapi. Dengan senyum ramah, dia segera menjabat tangan Dewa, dan mempersilahkan Dewa untuk duduk. Setelah CS wanita itu pergi, Dewa segera mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke Bank Himbara ini. Dalam pembicaraannya, Dewa menyampaikan kalau dia sudah mempunyai akun Virtual yang sebelumnya sudah di gunakan untuk transaksi perbankan. Setelah dilihat di komputernya, nama Dewa langsung muncul dalam akun Virtual.

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 43. DADA YANG LEMBUT

    Bab 43. DADA YANG LEMBUT Apa yang dilakukan Dewa tanpa sepengetahuan keluarganya, bahkan dosen Abdul Somad juga tidak mengetahui, kalau apa yang diajarkan nya sudah dipraktekkan oleh mahasiswa pembuat onar ini. Saat ini Dewa sedang berada di kampus, seperti biasa untuk pelajaran yang tid

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 42. BERMAIN SAHAM

    Bab 42. BERMAIN SAHAM Dengan wajah memerah menahan rasa sakit dan amarah yang meluap, dosen Abdul Somad berniat untuk memberi hukuman kepada Dewa. Sebelum menuju Dewa, dia menanyakan nama mahasiswa yang begitu berani membuat onar dan melempar dirinya hingga menabrak pintu kelas. “Kal

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 41. NASIB APES DOSEN ABDUL SOMAD

    Bab 41. NASIB APES DOSEN ABDUL SOMAD Perlahan dosen Ayunina berjalan mendekat kearah kursi Dewa, sebagai dosen, dia merasa tidak dihormati oleh mahasiswa baru seperti Dewa. Padahal semua mahasiswa, baik pria maupun wanita jika bertemu dengannya pasti akan menyapa dengan ramah. Lebih-leb

  • Pewaris Yang Teraniaya    Bab 38. KETUA BEM YANG SIAL

    Bab 38. KETUA BEM YANG SIAL Ketua BEM ini bernama Rudi, mempunyai postur tubuh tinggi dan berambut gondrong. Begitu masuk kedalam kantor dosen, dia segera menemui dosen Anggoro yang mempunyai tubuh kekar. “Saya pak, ada apa ya?” lapor Rudi begitu sampai di depan dosen Anggoro. “

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status