Mag-log inBab 2. MANUSIA ANEH
Dewa membuka mata. Di luar gubuk, kicau burung mulai terdengar. Hujan badai semalam telah berlalu, menyisakan udara hutan yang bersih dan lembap. Ia menggerakkan bahunya. Rasa kaku perlahan memudar. Pikirannya langsung terhubung ke ruang penyimpanan spiritual yang tertanam dalam jiwanya. "Untung saja ruang penyimpanan ini tidak ikut hancur saat dimensi robek," batinnya. Sebuah pakaian muncul di telapak tangannya. Pakaian itu bukan baju zirah perang atau jubah sutra dewa, melainkan satu set pakaian Surjan Jawa berwarna biru pudar, lengkap dengan kain batik untuk bawahan dan celana komprang hitam. Di masa lalu, ini adalah pakaian perjalanannya saat menyamar di bumi Jawadwipa. Bagi Dewa, pakaian ini terasa nyaman dan praktis. Ia mengenakan pakaian itu dengan tenang. Kainnya terasa halus di kulit barunya. Dewa duduk kembali, mencoba mengingat detail pertarungannya sebelum terlempar ke tempat ini. Sepuluh pendekar tingkat Ilahi mengepungnya di Puncak Langit Ketujuh. Mereka adalah penguasa dari sepuluh sekte terbesar. Pedang cahaya, formasi petir, dan segel pembunuh jiwa dilontarkan bersamaan. Dewa membalas dengan Teknik Kehancuran Primordial. Benturan energi yang tercipta terlalu besar. Ruang dan waktu retak, menciptakan pusaran lubang hitam yang menyedot segalanya. Tubuh dewa miliknya hancur karena tekanan dimensi, hanya menyisakan jiwanya yang berhasil menembus portal waktu dan jatuh ke dalam raga pemuda bernama Dewangkara ini. "Dunia ini miskin energi spiritual," keluhnya sambil menghirup udara. "Namun cukup tenang. Aku harus memahami dan menyelidiki dunia seperti apa tempat pemilik tubuh ini berada sebelum melangkah lebih jauh." Ia bangkit, menempelkan tangannya ke dinding gubuk. Struktur tanah liat itu runtuh menjadi serpihan debu dan kembali menyatu dengan tanah hutan. Kriuk kriuk kriuk… Tiba-tiba terdengar suara musik dari dalam perutnya, suara khas panggilan tubuh yang minta diisi dan di suplai energi baru. “Benar-benar lemah tubuh yang saya tempati ini. Bagaimana bisa, saya masuk kedalam tubuh yang begitu lemah, tanpa energi spiritual sedikitpun? Baiklah, lebih baik saya segera pergi dari tempat ini dan mencari perkampungan penduduk untuk mengisi perut,” gumam Dewa sambil mengusap perutnya. Kemudian Dewa melesat ke atas pucuk pohon tertinggi untuk mencari perkampungan, menggunakan dahan-dahan pohon sebagai pijakan tubuhnya melesat berlari bagaimana angin. Kecepatannya jauh menurun dibandingkan saat ia memiliki tubuh aslinya, namun masih sangat cepat untuk ukuran manusia biasa. Brumm… brumm… Suara dengungan aneh memecah konsentrasinya. Dewa menghentikan langkah di pucuk pohon pinus. Ia menoleh ke arah selatan. Suaranya terdengar mekanis, berirama, dan berat. Ia memicingkan mata, memperkuat pandangannya. Di kejauhan, ia melihat sebuah pita hitam panjang yang membelah lereng bukit. Di atas pita hitam itu, benda-benda kotak berbahan besi bergerak dengan kecepatan sangat tinggi. "Kereta besi? Berlarian tanpa ditarik kuda pelacak? Teknologi macam apa ini?" Dewa bergumam, rasa penasarannya terpancing. Ia melesat turun, melintasi pepohonan hingga mencapai bahu jalan aspal. Ia berdiri di sana, menatap aspal yang keras dengan ujung kakinya. Angin berembus kencang setiap kali kereta besi itu lewat. Bau bahan bakar dan asap knalpot menyengat hidungnya. Ia memperhatikan pengemudi di balik kaca transparan. Dunia ini benar-benar asing baginya. Tiba-tiba, suara derit rem yang kasar terdengar. Sebuah mobil bak terbuka berwarna hitam yang terlihat sedikit penyok di bagian bumper berhenti tepat satu meter di depannya. Bagian belakang mobil itu dipenuhi keranjang bambu berisi sayuran segar. Pintu terbuka. Seorang pria berusia pertengahan tiga puluhan, mengenakan kaus oblong pudar dan celana jins robek, melangkah turun. Ia menatap Dewa dari atas ke bawah. "Kang, akang mau ikut?" tanyanya dengan logat Sunda yang kental. Dewa menatap pria itu dengan wajah datar. Bahasa yang digunakan pria itu sama sekali tidak ia kenali. Namun, sebagai entitas tingkat tinggi, kendala bahasa adalah masalah sepele. Dewa memusatkan energinya ke mata. Ajian Penyerap Jiwa. Mata Dewa berkilat samar. Pria di depannya, Asep, tiba-tiba mematung. Tatapannya menjadi kosong, tangannya yang bersiap menyalakan rokok terhenti di udara. Dewa tidak melukai jiwanya, ia hanya menyalin ingatan permukaan. Dalam sekejap, ribuan kosa kata, tata bahasa, aturan sosial, sejarah singkat Indonesia, dan letak geografis kota Sukabumi mengalir masuk ke dalam otak Dewa. Rasa sakit sesaat berdenyut di pelipisnya akibat masuknya informasi mendadak. Asep mengerjap. Tubuhnya tersentak kecil, seolah baru saja melamun sedetik. "Eh, gimana Kang? Ikut nggak?" tanyanya lagi, tidak sadar ingatannya baru saja diunduh. Dewa menatap Asep. Kini bahasa pria itu terdengar sangat jelas. Ia sudah memahami konsep mobil, uang, pekerjaan, dan waktu saat ini yaitu tahun dua ribu dua puluh enam. "Ikut ke mana?" Dewa balik bertanya, intonasinya datar namun pengucapannya sempurna. Asep tersenyum lebar, menepuk kap mobilnya. Ia mengira pemuda berpakaian aneh ini adalah orang kampung yang sedang mencari peruntungan di kota. "Bantu saya bongkar sayuran ini di pasar kota. Nanti saya kasih uang bongkar. Lumayan buat beli nasi padang sama kopi." Dewa menatap tumpukan keranjang sayur itu, lalu kembali menatap Asep. "Baiklah." Ia melangkah ringan, masuk ke dalam kursi penumpang kereta besi itu.Bab 77. KEPALA HANCUR DALAM SEKALI TEPUK Seorang Dwarapala melayangkan tinjunya yang sebesar roda truk, menderu ke kepala Jaka Tole. Tentu saja Jaka Tole tidak rela kepalanya dijadikan samsak gratis. Dengan sangat mudah, Jaka Tole menghindari pukulan Dwarapala itu. Kemudian secara reflek tangan kanannya melakukan serangan balasan ke kepala Dwarapala itu. Wusss…. Plak…! Prok… Terdengar suara nyaring, membuat semua pengunjung warung makan tertegketika telapak tangan Jaka Tole, terlebih dahulu mengenai kepala raksasa itu. Darah berwarna kehijauan berhamburan membasahi warung makan Pendopo Jawa, butiran-butoran darah memercik kesegala penjuru membasahi tubuh para pengunjung warung makan. Meskipun sebagian besar pengunjung warung makan adalah seorang pendekar yang sakti, akan tetapi kecepatan darah dari kepala Dwarapala yang dihancurkan telapak tangan Jaka Tole terlalu cepat dan mengerikan. Hanya satu orang yang tidak terkena percika
Bab 76. KERIBUTAN DENGAN TIGA DWARAPALA Begitu memasuki kota Para Dewa, mata Jaka Tole semakin kagum. Ternyata kota ini sangatlah megah, seisi kota berisi bangunan-bangunan besar lagi mewah. Bangunan berbentuk Joglo Jawa serta menara-menara setinggi sembilan tingkat ada di beberapa tempat. Menara-menara ini satu lantainya setinggi sepuluh meter, sehingga sembilan tingkat sama dengan sembilan puluh meter sampai seratus meter. Menara-menara ini ada yang terbuat dari batu hitam penuh aura spiritual dan ada juga yang terbuat dari kayu pohon Jati, kayu asli tanah Jawa dwipa yang mashur. Jaka Tole seakan menjadi seekor semut yang hidup diantara belalang, sejak tadi dia belum bertemu dengan ras manusia, hal ini tentu saja tidak aneh, karena tempat ini adalah dunia para Dewa atau Dedemit dan Siluman. “Sebaiknya aku merubah bentuk tubuhku, agar tidak terlalu mencolok.” Dalam hati, Jaka Tole segera menemukan ide, agar kehadirannya tidak terlalu direndahkan dan ter
Bab 75. HYANG MAHA TUNGGAL Penampilan mereka seperti bangsawan Jawa Kuno, sang pria memakai pakaian tradisional Jawa yaitu Bestak Jawa berwarna biru, dengan celana panjang biru dan yang menjadi ciri khasnya adalah ada kain batik yang melilit di pinggangnya. Kain batik ini bisa dipendekkan jika digunakan untuk berperang atau bertarung, sementara untuk kegiatan sehari-hari kain batiknya dipanjangkan hingga diatas mata kaki. Di kepalanya ada penutup kepala berupa Blankon Mangkubumen, dengan kain memanjang di bagian belakangnya. Sementara di bagian depan Blangkon Jawa itu ada Bros atau hiasan berbentuk matahari yang terbuat dari emas murni. Sementara sang wanita memakai pakaian tradisional Jawa yang sangat indah dan menawan, tubuhnya ditutupi kain batik dengan kemben yang terbuat dari benang emas melilit bagian dadanya. Selain kain batik dan kemben yang menutupi tubuhnya,wanita ini juga memakai pakaian kebaya Jawa yang terbuat dari beludru berwarna biru.
Bab 74. KOTA PARA DEWA “Sepertinya mereka memang harus di musnahkan,” gumam Jaka Tole dalam hatinya sambil menatap kearah ribuan Demit Pohon yang sudah mulai bersiap dengan busurnya. “Jangan salahkan aku, jika bertindak keterlaluan,” kemudian Dewa segera mengibaskan tangannya kearah hutan di bawahnya yang dipenuhi ribuan Demit Pohon. Wusss…. Seberkas cahaya merah tiba-tiba saja muncul dari kibasan tangannya, cahaya merah itu membentuk sabit raksasa yang luasnya mencapi ratusan meter. Hutan tempat Demit pohon itu berada, seketika menjadi terang dan wajah-wajah panik mulai terlihat dari para demit Pohon di bawah yang sedang memegang busur. Rasa terkejut itu membuat para Demit Pohon seakan lupa untuk menghindar, sebelum kesadaran mereka pulih, sabit raksasa itu sudah jatuh menimpa hutan tempat tinggal mereka. Blarrr….!!! Api seketika membakar hutan kuno itu, beserta ribuan Demit pohon. Mereka berusaha lari menyelamatkan diri, akan tetapi semua
Bab 72. DEMIT ATAU DEWA POHON Kecepatan gerakan Jaka Tole melebihi kecepatan anak panah yang terbang ke arahnya, bahkan dia bisa terbang diantara ratusan anak panah yang tertuju pada dirinya. Mata spiritual Jaka Tole segera bekerja untuk mencari sumber anak panah ini. “Itu dia,” gumam Jaka Tole sambil mengatupkan gigi gerahamnya sambil menahan amarah. Dengan mata spiritualnya, Jaka Tole langsung melihat sosok-sosok makhluk yang tubuhnya menyerupai kayu. Manusia-manusia ini menempel di batang dan dahan pohon, Jaka Tole belum bisa ma memastikan makhluk apakah yang menyerang dirinya. Akan tetapi jika dilihat dari bentuk tubuhnya, dapat dipastikan kalau sosok itu adalah dari Demit Ras pohon. Setelah mengunci target, dalam sekejap Jaka Tole sudah berada di samping sosok Dewa atau Demit dari ras pohon setinggi lima meter yang membawa gendewa dan anak panah. Yang membuat takjub adalah gendewa itu berasal dari salah satu tangan yang membentuk busur
Bab 72. SERANGAN TERSEMBUNYI “Lanjutkan,” kata Baginda Raja Tanaka sang Raja dari ras Dewa Buto Ijo. Ras Buto juga bisa disebut sebagai Ras Kala atau Ras Dwarapala dalam bahasa Jawa kuno. Ras Dewa Dwarapala ada banyak ragamnya, bisa dilihat dari bentuk tubuh dan warna kulitnya. Seperti juga ras manusia, ada yang berwarna kecoklatan seperti orang Indonesia yang hidup di negara cincin api, ada juga yang berwarna putih dan pucat yang bermukim di kawasan dingin dan bersalju. Sedangkan manusia berkulit hitam, biasanya hidup di daerah yang sangat panas dan sering kekurangan air atau debit hujannya rendah. Akan tetapi di zaman sekarang manusia aneka warna kulit telah berbaur dan saling menjalin pernikahan, sehingga warna kulit tidak terlalu menjadi perbedaan. “Menurut pusaka kaca Benggala, sepuluh jendral yang baginda Raja perintahkan untuk menyelidiki fenomena aneh ini, mereka telah menghilang di dalam hutan purba.” “Apa?! Menghilang kemana mereka? Apak
Bab 6. MENGURUNG DIRI“Tolong Kartu identitas Anda,” kata resepsionis cantik yang melayani Dewa dengan sopan serta senyum mengembang di sudut bibirnya.Dewa tampak bingung saat dimintai untuk menyerahkan kartu identitas, maklumlah dia baru saja memasuki dunia fana yang energi spiritualnya sangat le
Bab 5. MILIARDER MUDADewa melangkah santai menyusuri trotoar Kota Sukabumi. Matahari mulai meninggi, menyengat kulit. Di matanya, dunia modern ini sangat bising dan kacau, namun terstruktur dengan cara yang unik. Ia melihat deretan toko yang menjajakan pakaian jadi, alat elektronik, dan makanan. I
Bab 4. AKSI PEMBUNUHANBerdiri di tengah riuhnya pasar Sukabumi, sekelebat ingatan tiba-tiba menyerang kepala Dewa. Memori dari pemilik asli tubuh ini. Kilasan visual yang berdarah dan penuh ketakutan.Tujuh hari lalu, senja di Gunung Salak. Angin bertiup dingin, membawa kabut tipis turun ke perkem
Bab 3. TANGIS KESEDIHANPerjalanan menuju pasar induk Kota Sukabumi memakan waktu hampir satu jam. Jarak empat puluh lima kilometer bukanlah masalah bagi mobil pick up Asep yang dipacu kencang. Sepanjang jalan, Dewa duduk dalam diam. Matanya mengawasi setiap detail dari balik kaca jendela yang dit







