LOGINTiga hari berlalu sejak malam di gua terlarang itu, dan Suliwa masih berusaha keras menyembunyikan gejolak yang terus bergolak di dalam tubuhnya.
Setiap malam, setelah tugasnya selesai, ia menyelinap ke sudut terpencil di belakang gudang logistik, tempat dimana tidak ada seorang pun yang lewat. Malam itu, ia duduk bersila di atas tanah dingin, mencoba mengingat cara mengendalikan energi yang kini mengalir deras dalam meridiannya. Setiap kali ia memusatkan kesadaran ke dalam tubuhnya, rasa panas yang menyakitkan langsung menjalar dari dada hingga ke matanya. "Sial," desisnya pelan sambil menahan napas, mencoba menekan gejolak itu sebelum meledak keluar. Ia sudah mencoba berkali-kali, namun setiap kali energi itu mendekati permukaan, Segel Rantai Takdir di dalam dirinya bereaksi, menahan sebagian besar kekuatan itu dengan paksa. Rasanya seperti mencoba menahan aliran sungai deras hanya dengan kedua tangan kosong. Suliwa membuka matanya perlahan, mengatur napas yang masih memburu. Ia menatap ke arah langit malam yang dipenuhi bintang, mencoba menenangkan pikirannya yang penuh kekhawatiran. "Kalau begini terus, aku bisa mati sebelum sempat mengendalikannya," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Ia teringat kilasan ingatan yang sempat masuk ke benaknya saat menyentuh cincin giok itu. Ada fragmen-fragmen teknik pernapasan yang samar, potongan pengetahuan yang tidak lengkap namun cukup untuk memberinya petunjuk. Suliwa mencoba mengingat urutannya, menarik napas dalam-dalam melalui hidung, menahannya selama beberapa detik, lalu melepaskannya perlahan sambil membayangkan energi itu mengalir kembali ke pusat dadanya. Perlahan, rasa panas yang tadinya menyiksa mulai mereda. Suliwa membuka matanya lebar-lebar, terkejut sekaligus lega. "Berhasil," bisiknya, senyum tipis nyaris terukir di wajahnya yang biasanya datar. Namun kelegaan itu tidak bertahan lama. Keesokan paginya, seluruh gudang logistik dipenuhi bisik-bisik dari murid-murid lain yang baru saja mendengar kabar dari faksi utama. "Eh, eh.. ngomong-ngomong kalian sudah sudah dengar belum?" tanya Bata pada beberapa murid lain sambil menyusun karung beras, suaranya penuh semangat menggosip. "Tetua Agung dari Sekte Pedang Langit hilang tanpa jejak. Katanya sudah beberapa hari tidak ada kabar." "Sekte Pedang Langit? Bukannya itu sekte musuh kita?" tanya murid lain, alisnya terangkat. "Iya, tapi katanya ini bukan sekadar hilang," sambung Bata, suaranya merendah seolah membagikan rahasia besar. "Kudengar dari penjaga gerbang, ada tanda-tanda pertempuran di sekitar wilayah kita. Sekarang seluruh dunia kultivasi jadi geger." Suliwa yang sedang memilah tumpukan jamur kering di sudut ruangan berusaha menjaga wajahnya tetap tenang, meski jantungnya berdegup kencang mendengar percakapan itu. Ia menahan diri untuk tidak menoleh, takut ekspresinya akan membocorkan sesuatu. "Memangnya kenapa kita harus peduli?" sahut murid lain sambil mengangkat bahu. "Itu urusan faksi utama, bukan urusan kita di logistik." "Aduh..Kau ini bodoh atau bagaimana, sih," balas Bata sambil mendengus. "Kalau ada Tetua tingkat tinggi hilang, itu artinya seluruh sekte bakal siaga penuh. Bisa saja kita disuruh ikut berjaga malam, atau lebih parah lagi, diinterogasi kalau-kalau kita tahu sesuatu." Kata "diinterogasi" itu membuat perut Suliwa terasa mual. Ia meletakkan jamur kering yang sedang dipegangnya dengan hati-hati, berusaha menyembunyikan tangannya yang mulai berkeringat dingin. "Heh! Suliwa, kau kenapa diam saja dari tadi?" tanya Bata tiba-tiba, matanya menyipit curiga ke arahnya. "Tidak apa-apa," jawab Suliwa cepat, suaranya berusaha terdengar sedatar mungkin. "Hanya memikirkan tugas yang belum selesai saja." Bata menatapnya sejenak, namun akhirnya hanya mendengus dan kembali sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Suliwa menghela napas lega dalam hati, meski ia tahu ini baru permulaan. Jika berita ini benar, pencarian besar-besaran pasti akan segera dimulai, dan cepat atau lambat, kecurigaan bisa mengarah ke siapa saja, termasuk dirinya. Siang harinya, seluruh murid logistik dikumpulkan secara mendadak di halaman gudang. Seorang murid senior dari faksi penegak hukum berdiri di depan mereka, wajahnya tegas dan penuh wibawa. "Dengar baik-baik," ucap murid senior itu dengan suara lantang. "Mulai hari ini, seluruh area perbatasan termasuk Lembah Gunung Hitam akan diperiksa secara berkala oleh Pasukan Penegak Hukum. Siapa pun yang melihat atau mengetahui sesuatu yang berkaitan dengan hilangnya Tetua Agung dari Sekte Pedang Langit, wajib melapor segera." Suara bisik-bisik gugup menyebar di antara para murid yang berkumpul. Suliwa berdiri di barisan belakang, berusaha membuat dirinya sekecil mungkin di antara kerumunan, jantungnya berdegup kencang meski wajahnya tetap tenang. "Siapa saja yang menyembunyikan informasi atau terbukti terlibat," lanjut murid senior itu, nadanya semakin dingin, "akan dihukum berat tanpa pandang bulu. Komandan Kanaka sendiri yang akan memimpin penyisiran wilayah ini dalam beberapa hari ke depan." Mendengar nama Kanaka disebutkan secara langsung, tubuh Suliwa menegang seketika. Tangannya yang tersembunyi di balik lengan jubah refleks mengepal erat, menutupi cincin giok yang kini terasa berdenyut aneh, seolah bereaksi terhadap nama pemiliknya yang sesungguhnya. "Ia akan datang ke sini," batin Suliwa, rasa dingin menjalar di sepanjang tulang punggungnya. "Aku harus lebih berhati-hati mulai sekarang, atau semuanya akan berakhir sebelum sempat dimulai." Ketika pertemuan itu selesai dan para murid mulai bubar kembali ke tugas masing-masing, Suliwa berjalan pelan menuju sudut gudang, pikirannya dipenuhi oleh satu pertanyaan yang terus berputar. Berapa lama lagi ia bisa bersembunyi sebelum kebenaran ini akhirnya terbongkar, dan apa yang akan terjadi pada dirinya jika hari itu benar-benar tiba. "Suliwa, tunggu sebentar," panggil murid muda penjaga gerbang yang sempat berbicara dengannya beberapa hari lalu, tergesa menyusul langkahnya. Suliwa berhenti, menoleh dengan wajah setenang mungkin. "Ada apa?" "Kau dengar sendiri kan tadi? Katanya pasukan Komandan Kanaka akan memeriksa setiap sudut lembah, termasuk gua-gua di sekitar tebing dalam." Murid itu menurunkan suaranya. "Kau kan yang paling sering ke sana untuk cari jamur es. Apa kau melihat sesuatu yang aneh belakangan ini?" Jantung Suliwa berdegup kencang, namun ia memaksakan diri untuk menjaga suaranya tetap datar. "Tidak ada yang aneh. Hanya batu dan lumut seperti biasa." "Syukurlah kalau begitu," murid itu menghela napas lega. "Aku sempat khawatir kalau-kalau kau tersangkut masalah ini. Kudengar hukumannya bisa sangat berat kalau sampai ada yang dicurigai berbohong." "Aku akan berhati-hati," jawab Suliwa singkat, berusaha mengakhiri percakapan itu secepat mungkin sebelum pertanyaan berikutnya muncul.Ruangan latihan itu terasa luas dan sunyi, dinding-dindingnya yang dilapisi formasi pelindung kuno memancarkan cahaya biru lembut yang menenangkan. Suliwa berdiri di tengah ruangan, mengatur napasnya sambil mencoba mengingat kembali seluruh kenangan yang pernah ia terima dari proses pembukaan segel tingkat keempat. "Bagaimana kau berencana memulainya?" tanya Alicia, berdiri tidak jauh darinya, siap membantu kapan pun dibutuhkan. "Aku akan mencoba memusatkan kesadaranku pada benang merah yang pernah kutemukan," jelas Suliwa, memejamkan mata untuk berkonsentrasi. "Keinginan tulus untuk melindungi, bukan menguasai atau menghancurkan." Kanaka dan Ferian berdiri di sisi lain ruangan, mengamati dengan seksama, siap membantu kalau situasi berubah berbahaya. "Kami di sini kalau kau butuh sesuatu," ucap Ferian, memberikan dukungan moral. Suliwa mengangguk, mulai memusatkan energinya ke dalam dada, mencoba merasakan aliran kekuatan yang selama ini ia kendalikan melalui Teknik Aliran Tujuh E
Pagi berikutnya, Ferian mengirimkan pesan mendesak melalui salah satu prajurit pengawal, mengundang Suliwa dan Alicia untuk segera bergabung dengannya di ruangan khusus yang telah disiapkan untuk mempelajari arsip yang dibawa delegasi Sekte Pedang Langit. Wajahnya yang biasanya tenang kini menunjukkan kegembiraan yang tertahan."Aku menemukan sesuatu," ucap Ferian begitu mereka tiba, menunjuk pada sebuah gulungan kuno yang terbentang di atas meja kerjanya. "Catatan ini berasal dari masa pendirian Sekte Pedang Langit sendiri, mendokumentasikan pertemuan pertama antara pendiri sekte kami dengan sosok-sosok dari Kuil Awan Beku."Suliwa dan Alicia mendekat, mengamati tulisan kuno yang memenuhi gulungan itu, sebagian sudah pudar namun masih bisa dibaca dengan seksama. "Apa yang kau temukan tentang simbol itu?" tanya Suliwa penasaran."Di sini," Ferian menunjuk pada sebuah bagian, "disebutkan tentang konflik lama antara Kuil Awan Beku dengan sebuah kelompok yang menyebut diri mereka Aliran
Malam itu, setelah seluruh diskusi strategi selesai untuk hari itu, Suliwa dan Alicia kembali ke kamar mereka masing-masing, namun sebelum benar-benar beristirahat, mereka berkumpul di kamar Suliwa untuk mencoba menghubungi sosok pendiri kuil seperti yang sudah direncanakan."Kau siap mencobanya?" tanya Alicia, duduk di dekat Suliwa yang memegang cincin gioknya dengan hati-hati."Sesiap yang bisa kulakukan," jawab Suliwa, memejamkan mata dan memusatkan energinya ke dalam cincin itu, mengingat teknik yang pernah diajarkan untuk berkomunikasi jarak jauh.Cincin itu mulai berdenyut hangat, dan setelah beberapa saat yang terasa panjang, suara samar mulai terdengar dalam kesadaran Suliwa, jauh lebih lemah dibandingkan komunikasi mereka sebelumnya di perjalanan pulang dari kuil."Suliwa," terdengar suara sosok pendiri kuil, terputus-putus namun masih bisa dipahami. "Koneksi kita semakin melemah seiring jarak yang bertambah jauh.""Kami butuh bantuanmu," ucap Suliwa cepat, menyadari waktu ko
Kanaka dan Wulandari melangkah menuju ruang tahanan khusus yang telah disiapkan untuk Moza, sebuah kamar sederhana namun terjaga ketat dengan formasi penahan energi yang mencegah kemungkinan pelarian menggunakan kultivasi. Moza duduk di sudut ruangan itu, penampilannya jauh berbeda dari sosok anggun yang biasa memancarkan kepercayaan diri."Moza," sapa Kanaka, suaranya tegas namun tidak lagi menyimpan amarah yang sama seperti sebelumnya. "Kami punya beberapa pertanyaan tambahan untukmu."Moza mengangkat wajahnya, matanya yang biasa berkilau penuh perhitungan kini menunjukkan kelelahan dan sedikit ketakutan. "Aku sudah mengatakan semua yang kutahu.""Mungkin ada detail yang belum sempat terungkap," ucap Wulandari, duduk di kursi yang disediakan di seberang Moza. "Kami membutuhkan informasi lebih lanjut tentang cara komunikasimu dengan pihak yang mengaku sebagai perwakilan Aldebaran."Moza menghela napas panjang, menyadari bahwa kerja sama penuh mungkin menjadi satu-satunya jalan untuk
Ruang pertemuan kecil yang biasa digunakan tim strategi aliansi baru itu dipenuhi ketegangan begitu Suliwa dan Alicia tiba, membawa buku tua dan laporan tentang kemungkinan penyusupan yang baru saja mereka rasakan. Wulandari, Kanaka, dan Ferian sudah menunggu, wajah mereka menunjukkan keseriusan yang sama."Ada apa?" tanya Wulandari, memperhatikan raut wajah Suliwa dan Alicia yang tampak tegang."Kami menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan," ucap Alicia, meletakkan buku tua itu di atas meja. "Sekaligus merasakan indikasi bahwa mata-mata Aldebaran mungkin sudah berhasil menyusup ke area sekte."Kanaka segera duduk tegak, perhatiannya sepenuhnya tertuju pada laporan itu. "Penyusupan seperti apa yang kalian maksud?"Suliwa menjelaskan kejadian di lorong, bagaimana salah satu prajurit pengawal mereka merasakan sensasi diawasi yang mengarah ke sayap timur, tempat kamarnya berada. "Kami tidak menemukan siapa pun secara langsung, tapi sensasinya cukup kuat untuk tidak diabaikan.""Ini sejal
Siang itu, ketika sebagian besar delegasi sibuk dengan urusan masing-masing, seorang murid muda dari Sekte Gunung Hitam berjalan sendirian menyusuri lorong sempit menuju perpustakaan sekte, membawa beberapa gulungan yang harus ia kembalikan. Ia tidak menyadari bahwa sejak beberapa menit terakhir, seseorang mengikutinya dari kejauhan."Permisi," sebuah suara lembut memanggil dari belakang, membuat murid itu berhenti dan menoleh.Seorang wanita asing berdiri di sana, mengenakan jubah sederhana tanpa lambang sekte yang jelas, senyumnya ramah namun ada sesuatu yang aneh dalam sorot matanya. "Aku baru di sini, mengunjungi kerabat dari salah satu delegasi. Bisakah kau menunjukkan arah menuju aula pertemuan?""Tentu," jawab murid itu, tidak curiga sedikit pun. "Ikuti jalur ini, belok kiri di persimpangan berikutnya.""Terima kasih," ucap wanita itu, namun tidak langsung pergi. "Kudengar ada kehebohan besar kemarin. Seorang pewaris misterius muncul di tengah pertemuan?"Murid itu mengangguk,







