เข้าสู่ระบบThalia menghembuskan napas lega setelah pesan terakhir itu terkirim dan menyandarkan punggungnya yang terasa kaku.
“Selama mereka baik, aku juga harus baik pada mereka..” gumamnya lirih. Namun, mendadak ia teringat sesuatu. Thalia segera membuka pesan singkat dan mencari kontak Maya, sahabatnya di divisi pemasaran. [Thalia : Maya, maaf banget ya... Aku mendadak ada urusan mendesak di luar kantor siang ini, jadi aku nggak bisa ikut makan siang b"T-Tante Tamara... Sa-saya..." cicit Thalia terbata-bata dengan wajah pucat pasi. Tubuh gadis itu seketika menegang kaku di atas kursi saat menyaksikan Zacky dan Sabrina berdiri di ambang pintu ruangan VIP. Suasana hangat yang sebelumnya terasa dimeja makan itu seketika menguap, mendadak berganti menjadi sangat dingin dan mencekam. "Jaga ucapan kamu, Sabrina!" ucap Tamara dengan suara tegas yang membentak keras, berdiri dari kursinya dengan raut wajah penuh amarah yang jarang sekali ia perlihatkan. "Siapa yang mengajarimu berbicara kasar dan tidak beretika seperti itu?! Mama yang mengundangnya datang makan siang disini! Dia tamu kehormatan Mama.." "Tamu kehormatan?!" pekik Sabrina semakin tinggi, matanya menatap Thalia dengan kilatan benci yang luar biasa. "Ma, Mama sadar nggak sih siapa cewek ini?! Dia itu cuma asisten pribadi biasa di kantor Kak Zacky yang sukanya menggoda dan cari perh
Jantung Thalia seketika berdebar kencang saat mendengar Tamara membahas tentang acara besok. Ia teringat kembali bisikan Zacky beberapa jam lalu di ruang kerja, 'Dan besok aku akan membawamu ke acara itu, Thalia...' "P-Pak Zacky sempat menyebutkan soal acara besok pada Thalia, Tante..." sahut Thalia jujur dengan nada bergetar tipis. "Tapi... Pak Zacky belum menjelaskan secara detail acara apa sebenarnya itu." Tamara tersenyum penuh arti. "Zacky memang selalu suka bikin kejutan," gurau Tamara dengan kekehan lembut. Namun tak lama kemudian, raut wajah Tamara berubah agak hening, seolah menimbang sesuatu sebelum melanjutkan kata-katanya. "Thalia... Tante tahu, pasti banyak rumor atau hal-hal tidak menyenangkan yang kamu dengar belakangan ini di lingkungan kantor atau dari orang luar mengenai keluarga kami," ujar Tamara dengan nada suara yang terdengar tulus. Thalia membeku d
Thalia tersenyum pada Tamara, kagum dengan kebaikan dan kecantikan wanita itu. "Terima kasih, Tante," ujar Thalia sambil duduk dengan posisi tubuh yang sangat tegak dan sopan. Tamara melambaikan tangan pelan pada pelayan yang berdiri di sudut ruangan. "Tolong keluarkan hidangan pembuka dan minumannya sekarang ya." "Baik, Nyonya Tamara," jawab pelayan itu membungkuk hormat lalu melangkah keluar ruangan untuk menyiapkan hidangan. Setelah pelayan itu keluar, ruangan VIP itu kembali hening. Tamara menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling bertaut, menatap lekat-lekat ke arah wajah cantik Thalia dengan pandangan matanya yang penuh kasih sayang dan kekaguman. Diperhatikan secara intens oleh ibu dari CEO perusahaan sekaligus pria yang selalu melindunginya membuat Thalia berasa malu dan gugup. Rona merah tipis mendadak muncul di pipi gadis itu, ia menundukkan pandangannya sed
'Mungkin Sabrina benar...' rintih Thalia lirih dalam hatinya. Dada Thalia terasa sesak setiap kali bayangan itu muncul. Perbedaan status sosial antara dirinya yang hanya seorang anak piatu berlatar belakang sederhana dengan keluarga Zacky yang merupakan konglomerat terpandang selalu menjadi tembok raksasa yang menakutkan bagi Thalia. 'Keluarga besar mereka pasti sudah menyiapkan wanita yang setara untuk Zacky. Wanita anggun, kaya, dan berpendidikan tinggi seperti Sabrina... Bukan gadis biasa seperti aku yang cuma bisa bikin masalah...' Thalia meremas tali tas tangannya kuat-kuat, berusaha menahan agar air matanya tidak kembali menetes di depan pengemudi taksi. "Mbak, kita sudah sampai di lokasinya ya," suara pengemudi taksi memecah lamunan panjang Thalia. Thalia tersentak kaget, buru-buru membetulkan posisi duduknya dan menatap keluar jendela. Mobil telah berhenti di depa
Thalia menghembuskan napas lega setelah pesan terakhir itu terkirim dan menyandarkan punggungnya yang terasa kaku. “Selama mereka baik, aku juga harus baik pada mereka..” gumamnya lirih. Namun, mendadak ia teringat sesuatu. Thalia segera membuka pesan singkat dan mencari kontak Maya, sahabatnya di divisi pemasaran. [Thalia : Maya, maaf banget ya... Aku mendadak ada urusan mendesak di luar kantor siang ini, jadi aku nggak bisa ikut makan siang bareng kamu dan lainnya ke kantin.] Hanya dalam hitungan detik, pesan balasan dari Maya muncul dengan stiker wajah cemberut. [Maya : Yahh... Padahal aku mau nanya-nanya soal gosip heboh di grup kantor tadi pagi yang mendadak dihapus bersih sama IT! Yaudah deh, nggak apa-apa. Hati-hati di jalan ya, Tha!] Thalia tersenyum masam membaca balasan sahabatnya itu. "Maaf ya, Maya... Aku belum bisa cerita apa-apa sekarang," bisiknya lirih. Se
"Jangan telat makan..." cicit Thalia membaca sederet kalimat singkat yang tertera di layar ponselnya. Usai menghapus sisa air mata yang sempat menggenang di pelupuk matanya, sudut bibir Thalia terangkat tipis. Ada rasa hangat yang mendadak menyusup di tengah rasa sesak yang menghimpit hatinya. Perhatian kecil dari Zacky seolah menjadi penawar sementara atas rasa sakit akibat kata-kata pedas yang dilontarkan Sabrina beberapa saat lalu. Thalia menatap layar ponselnya cukup lama, memikirkan kata apa yang akan ia ketik sebagai pesan balasan. [Thalia : Iya, Zacky... Ini sebentar lagi aku mau turun ke kantin bareng Maya.. Makasih ya udah perhatian..] gumam Thalia pelan sambil menekan tombol kirim. Sesaat setelah pesan itu terkirim, Thalia menghela napas panjang. Ia berusaha menetralkan degup jantungnya yang masih belum stabil. Bayangan wajah anggun yang angkuh milik Sabrina, me







