Home / Romansa / Please Me, Dear Bos! / Bab 165 Ketegangan di Meja Kerja

Share

Bab 165 Ketegangan di Meja Kerja

Author: Cynta
last update publish date: 2026-08-28 16:28:54

​Pagi itu, suasana di gedung AR Corp tampak seperti biasa bagi orang luar, namun terasa sangat mencekam bagi Thalia.

​Sesuai kesepakatan rahasia mereka, Thalia kembali minta diturunkan dari mobil dua blok sebelum area gedung.

Zacky sempat menunjukkan raut tidak setuju dan menahan pergelangan tangan Thalia, namun gadis itu berhasil meyakinkannya dengan senyuman manis dan kecupan singkat di pipi Zacky.

​Thalia melangkah masuk melalui akses pintu karyawan biasa, menundukkan kepala dalam-dalam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 436 Hadiah Kemenangan

    ​"Kamu baru saja menghancurkan utusan musuh, dan sekarang kamu menuntut hadiah dariku?" goda Thalia, jemari lentiknya menyusup ke sela-sela rambut tebal Zacky, menariknya perlahan agar wajah pria itu semakin mendekat. ​"Hadiah kemenanganku hanya satu, Thalia. Kamu," geram Zacky rendah. ​Zacky kembali melumat bibir Thalia dengan gairah yang berlipat ganda. Tangan kekarnya dengan telaten membuka kancing gaun sutra krem yang dikenakan istrinya, menyingkapnya perlahan tanpa sedikitpun menyakiti Thalia. ​Sentuhan Zacky di atas kulit mulus Thalia terasa seperti sentuhan lembut yang hangat. Pria itu mengagumi setiap lekuk tubuh istrinya, mendaratkan kecupan panjang di perut buncit Thalia, menyapa kehidupan baru di dalam sana sebelum kembali naik untuk menyesap bibir Thalia. ​"Aahh... Zacky..." desahan panjang Thalia menggema di dalam kamar rahasia itu, meresapi setiap detik sentuhan yang diberikan suaminya dengan p

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 435 Pembalasan yang Sempurna

    ​"Zacky, jangan kotori tanganmu dengan darah kotor mereka hanya demi aku," pangkas Thalia lembut, menangkup kedua sisi rahang kaku suaminya dengan telapak tangannya yang hangat.​Wanita itu berlutut di atas sofa, menyejajarkan wajahnya dengan Zacky yang masih dipenuhi aura mengerikan. Mata Thalia menatap lurus ke dalam manik mata hitam pekat suaminya tanpa ada keraguan sedikitpun.​"Mereka tidak pantas membuat tangan suamiku berdarah," lanjut Thalia, ibu jarinya mengusap lembut urat-urat tegang di leher Zacky. "Buat mereka hancur tanpa sisa melalui kekuasaanmu yang sesungguhnya. Bungkam mereka hingga tidak ada satupun media di dunia ini yang berani menyebut nama mereka, Zacky. Itu jauh lebih menyiksa daripada sebuah peluru."​Mendengar kalimat tegas dan penuh perhitungan dari bibir istrinya, napas Zacky yang menderu kasar perlahan mulai teratur. Kilat kegelapan di matanya seketika memudar, digantikan rasa kagum dan gairah yang meledak l

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 434 Dalam Perlindungan Penuh

    Thalia melihat amarah yang meluap dari sorot mata Zacky mencoba menenangkannya. “Zacky tenanglah,” tangannya mengusap lembut lengan Zacky. “Biarkan aku selesaikan semua ini Thalia! Mereka tidak bisa seenaknya saja membentakmu!” geram Zacky tanpa menoleh ke arah Thalia, pandangannya beralih bergantian pada tiga tamu di depannya. ​Pengacara itu menelan ludah. "T-Tuan Alvarez, kami punya bukti genetik keturunan—"​"Bukti itu tidak berguna," potong Zacky dingin.​Zacky menjentikkan jarinya ke udara. Ivan segera melangkah maju, meletakkan sebuah map merah di atas meja.​"Buka itu," perintah Zacky kaku.​Pengacara itu dengan tangan gemetar membuka map merah tersebut. Matanya membelalak lebar saat membaca dokumen yang tertera di sana.​"Sesuai dengan hukum perdata internasional yang berlaku sah," ucap Zacky, mengitari meja dengan langkah pelan namun mengancam, bagaikan predator yang sedang menikmati ketakutan mangsanya.

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 433 Tamu Tak Dikenal

    ​"Lalu apa yang akan kita lakukan, Zacky? Membiarkan mereka masuk?" tanya Thalia, sorot matanya tidak menunjukkan ketakutan, melainkan rasa penasaran dan tekad yang kuat.​"Kita akan menyambut mereka dengan karpet merah, Sayang," balas Zacky, menyeringai sinis. [Ivan, ubah rute. Kita menuju kantor sekarang juga. Siapkan ruang pertemuan VIP.]​"Zacky, kamu bilang aku tidak boleh ke kantor karena kondisiku!" protes Thalia pelan, memukul dada bidang suaminya.​"Ini pengecualian, Thalia. Aku butuh kamu duduk di sampingku saat aku menghancurkan mereka. Aku ingin mereka melihat dengan jelas siapa pemilik sah dari aset tersebut," geram Zacky posesif.​Satu jam kemudian, di dalam ruang pertemuan VIP yang super mewah di lantai teratas Alvarez Tower.​Suasana di dalam ruangan itu terasa sangat canggung dan tegang. Tiga orang yang mengklaim sebagai kerabat jauh Valerian duduk dengan dagu terangkat sombong di satu sisi meja oval raksasa.

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 432 Didalam Mobil yang Luas

    ​"Z-Zacky, aa yang kamu lakukan? Ruangan mobil ini cukup luas. Aku bisa duduk di kursi sebelahmu," cicit Thalia dengan pipi merona merah.​"Aku ingin memeluk istriku. Diam dan nikmati saja posisimu, Nyonya Alvarez," geram Zacky rendah, melingkarkan kedua lengannya di pinggang Thalia dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu.​Thalia terkekeh pelan, jari lentiknya menyusup ke sela-sela rambut tebal Zacky, memberikan usapan lembut yang membuat pria itu memejamkan mata menikmatinya. Keberanian Thalia benar-benar telah terbentuk sempurna, ia tidak lagi merasa canggung bermanja dengan pria paling dominan ini.​[Ivan,] pangkas Zacky tanpa mengangkat wajahnya dari leher Thalia, suaranya seketika berubah menjadi sangat dingin dan profesional.​[Ya, Pak Zacky,] sahut Ivan dari kursi depan melalui interkom.​[Bagaimana hasil penelusuran dokumen warisan lahan tua yang ada di dalam kotak kayu itu? Apakah segel Valerian itu masih

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 431 Mencari Penjelasan

    ​"Papa, kenapa Papa selama ini menyembunyikan kebenaran tentang Mama dariku?" pangkas Thalia, suaranya terdengar lembut namun menuntut sebuah penjelasan.​Wanita itu melangkah masuk ke dalam ruang rawat inap  VVIP tempat papanya dirawat. Hari ini, Felix Effendy, papa Thalia, tampak jauh lebih sehat. Selang-selang infus yang selama beberapa minggu terakhir menempel di tubuhnya telah dilepas, pria paruh baya itu sedang merapikan beberapa helai pakaiannya ke dalam tas karena dokter sudah mengizinkannya pulang hari ini.​Felix menghentikan gerakannya. Wajahnya kembali memuat mendengar pertanyaan putrinya. Ia menatap Thalia yang berdiri anggun dengan balutan gaun sutra krem, lalu pandangannya beralih pada sosok pria yang berdiri di belakang Thalia. ​Zacky Farelio Alvarez. Pria itu langsung melangkah maju, meletakkan sebelah tangannya di pinggang Thalia, memberikan dukungan posesif yang tak terbantahkan.​"Thalia... kamu..

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status