LOGIN"Zacky, aku tidak akan membiarkanmu membatalkan acara ini hanya karena ketakutan yang belum terjadi," pangkas Thalia lembut namun penuh dengan penekanan.Wanita itu melangkah mendekati suaminya yang masih berdiri kaku di depan jendela kaca penthouse. Thalia mengulurkan kedua tangannya, merengkuh pinggang pria itu dari belakang, dan menyandarkan pipinya di punggung tegap Zacky. Tidak ada lagi keraguan atau getaran cemas dalam suaranya."Mama sudah mempersiapkan semuanya dengan penuh kebahagiaan. Aku tidak ingin mengecewakannya, Zacky. Dan lagipula, aku tidak takut. Aku memiliki pelindung paling hebat di seluruh dunia yang akan selalu menjagaku, bukan?" lanjut Thalia, memberikan usapan lembut di punggung suaminya.Mendengar kalimat penuh keyakinan dan keberanian dari bibir istrinya, rahang Zacky yang sedari tadi mengeras kaku perlahan mengendur. Pria dominan itu membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Thalia
Thalia mencondongkan wajahnya, mendaratkan kecupan-kecupan basah dan lembut di sepanjang dada bidang Zacky, turun menyusuri perut rata suaminya.Napas Zacky menderu kasar, tangannya refleks meremas seprai di sisi lutut Thalia untuk menahan diri agar tidak langsung menerkam istrinya."Sshh... Kamu benar-benar menguji batas kesabaranku malam ini, Thalia," desis Zacky suaranya sangat berat, matanya berkabut gelap menahan hasrat yang siap meledak."Aku hanya ingin memanjakanmu," balas Thalia sensual.Namun, batas kesabaran Zacky akhirnya habis. Pria itu tidak bisa lagi hanya berdiam diri.Dalam satu gerakan yang sangat posesif, Zacky menarik pinggang Thalia, mengangkat wanita itu dan membaringkannya kembali ke tengah ranjang.Zacky menyusul naik, mengurung tubuh istrinya dengan menumpu berat badannya pada kedua tangan."Aku yang akan bergerak, Thalia. Tugasmu hanya menikmati setiap sentuhanku," geram Zacky.Pria itu menunduk, menyambar bibir Thalia dengan ciuman yang sangat liar. Tangan
"Selesai sudah..." desah Thalia lega, menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat mempesona. Wanita itu duduk bersandar santai di sofa penthouse, memandangi layar laptop yang terhubung langsung dengan kamera pengawas rahasia di ruang rapat utama Alvarez Tower. Jantungnya yang semula berdebar karena cemas kini penuh rasa bangga dan lega. Dari balik layar, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Arthur, pria paruh baya utusan Vanguard Corp yang tadinya masuk dengan dagu terangkat sombong, kini masih bersimpuh memohon di bawah kaki suaminya. [T-Tuan Alvarez! Saya mohon... Berikan kami perpanjangan waktu! Jangan hancurkan perusahaan kami sore ini juga!] isak Arthur dari dalam layar, suaranya yang putus asa terdengar jelas melalui speaker laptop Thalia. Thalia menatap wajah Zacky di layar. Suaminya itu berdiri dengan postur tegap menunjukkan sisi dominan yang tampak jelas. Tidak ada sedikitpun belas kasihan di w
Thalia mencondongkan wajahnya, mendaratkan kecupan-kecupan basah dan lembut di sepanjang dada bidang Zacky, turun menyusuri perut rata suaminya. Napas Zacky menderu kasar, tangannya refleks meremas seprai di sisi lutut Thalia untuk menahan diri agar tidak langsung menerkam istrinya. "Sshh... Kamu benar-benar menguji batas kesabaranku malam ini, Thalia," desis Zacky suaranya sangat berat, matanya berkabut gelap menahan hasrat yang siap meledak. "Aku hanya ingin memanjakanmu," balas Thalia sensual. Namun, batas kesabaran Zacky akhirnya habis. Pria itu tidak bisa lagi hanya berdiam diri. Dalam satu gerakan yang sangat posesif, Zacky menarik pinggang Thalia, mengangkat wanita itu dan membaringkannya kembali ke tengah ranjang. Zacky menyusul naik, mengurung tubuh istrinya dengan menumpu berat badannya pada kedua tangan. "Aku yang akan bergerak
Disaat ruang meeting terasa penuh ketegangan, Thalia hanya bisa memperhatikan dari laptop di kamar penthouse. Zacky memberi Thalia izin memantau melalui CCTV yang terpasang di sana, itupun karena awalnya Thalia memaksa ingin ikut. “Tahan emosi Zacky, kamu gak perlu pakai kekerasan..” gumam Thalia cemas. Namun, di luar dugaan, raut wajah Zacky sama sekali tidak menunjukkan emosi atau ekspresi apapun. Sudut bibir Zacky justru tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat sinis dan mengintimidasi. Di balik ekspresi dinginnya, pikiran Zacky melayang pada senyum manis dan pelukan hangat Thalia sebelum ia berangkat.‘Istriku yang cantik dan jenius sudah menguliti kalian hidup-hidup, Arthur. Kalian hanyalah badut yang tidak sadar bahwa panggung ini sudah runtuh.’ batin Zacky dengan rasa bangga yang luar biasa."Kalian datang jauh-jauh ke sini hanya untuk menggonggong dengan draf murahan itu, Arthur?" desis Zacky r
"Mmph... Zacky, hentikan godaanmu. Para utusan Vanguard Corp itu pasti sudah mendarat dan bersiap merampok perusahaanmu," desah Thalia pelan, tubuhnya menggelinjang saat bibir Zacky menyapu leher jenjangnya."Biarkan saja mereka menunggu di lobi sampai membusuk," balas Zacky tanpa peduli. Pria itu mendaratkan kecupan basah di sepanjang tulang selangka Thalia, menghirup aroma manis dari kulit istrinya. "Menghabiskan waktu dengan istriku yang jenius ini jauh lebih berharga daripada meladeni sekumpulan serigala tua yang sedang sekarat."Thalia terkekeh pelan, menahan dada bidang suaminya dan mendongak untuk menatap manik mata pria itu. "Mereka bukan hanya sekarat, Zacky. Mereka datang untuk menyerahkan leher mereka sendiri ke tanganmu," pangkas Thalia dengan senyum penuh kemenangan. "Ingat kesepakatan kita. Kamu tidak boleh kehilangan ketenanganmu. Biarkan surat itu yang berbicara."Dada Zacky bergemuruh hebat mend







