Masuk'Duh, kenapa orang-orang kaya ini omongannya pedas banget sih...' batin Thalia meratapi nasibnya yang seperti terjepit dari segala arah.
Kata 'gangguan emosional' dan 'rumor' yang diucapkan Joshua membuat Thalia teringat kembali pada ucapan Papanya di telepon beberapa saat lalu. Pipinya terasa panas dan dadanya makin sesak. Ia meremas kuat ujung rok kerjanya di balik punggung. ‘Apa aku seburuk itu..’ cicitnya dalam hati. "Saya tThalia hanya bisa menghela napas pasrah, menuruti perintah pria itu dan masuk ke dalam mobil. Begitu Zacky memutari mobil dan duduk di kursi pengemudi, suara deruman mesin berbunyi halus, lalu mobil melaju mulus meninggalkan area perkantoran menuju apartemen penthouse milik Zacky.Selama perjalanan tiga puluh menit, suasana di dalam mobil begitu hening. Thalia melipat kedua tangannya di atas pangkuan, menatap ke luar jendela dengan pikiran yang sangat kalut.‘Gue beneran nih mau diajak tinggal di apartemen Pak Zacky?! Kalau sampai Papa tahu, pasti sangat marah!’ batin Thalia gelisah. Di satu sisi, hatinya merasa sangat hangat dan aman setiap kali mengingat bagaimana Zacky membela dan memanjakannya di depan Papanya serta orang tuanya sendiri. Namun di sisi lain, bayangan teror pesan dari Arjuna kembali menari-nari di ingatan.'Gimana kalau Arjuna beneran nekat kirim foto-foto itu ke Papa? Atau ke email direksi kan
"S-selesaikan yang tertunda?! Maksud Pak Zacky... Maksud kamu apa, sih?!" pekik Thalia reflex dengan suara melengking.Tubuhnya seketika bergeser mundur selangkah hingga pinggulnya menabrak tepi meja kerja.Pria di hadapannya tidak menjawab, hanya melangkah maju satu langkah, mengikis jarak yang baru saja Thalia buat. Tangannya terulur santai meraih tas kerja Thalia yang tergeletak di atas meja, lalu membawanya pergi begitu saja tanpa meminta izin."P-Pak Zacky! Tunggu, say matikan komputer dulu! Tas saya biar saya bawa sendiri!" protes Thalia panik.Gadis itu bergegas mematikan komputer lalu mengejar Zacky. Tangannya kini bergerak panik hendak merebut tas kulit sintetis miliknya dari tangan pria itu."Jalan, Nathalia. Jangan membuat saya harus menggendongmu ke parkiran VIP," potong Zacky dingin tanpa memberi celah. Pria itu terus melangkah menuju pintu keluar ruangan eksekutif mengabaikan taraoan Thalia yang mengi
Thalia tertegun mendengar kata-kata Tamara, ‘Eh Tante Tamara kok pesan gitu ke Pak Zacky?! Aku ini kan hanya asistennya, bukan calon istri Pak Zacky..’ batinnya heran. ”Aku paham, Ma," sahut Zacky singkat tanpa nada protes."Kami jalan dulu, Zacky," pamit Joshua kaku seraya mengangguk pelan pada Thalia sebelum menggandeng tangan istrinya keluar dari ruangan kerja eksekutif tersebut.KLIK!Pintu otomatis itu tertutup rapat, Thalia menghela napas panjang, merasa sangat lega. "Huuuh... Akhirnya.. Rasanya oksigen di ruangan ini mendadak tipis banget pas ada orang tua Pak Zacky..." gumamnya lirih pada diri sendiri.Gadis itu menarik kursinya dan terduduk lemas. Ia mencoba memfokuskan pikirannya kembali pada deretan dokumen analisis keuangan yang terpampang di layar komputernya. Tangannya meraih pulpen, mencoba mencatat poin-poin penting. Namun, fokus Thalia sama sekali tidak bisa menyatu. Otaknya bertempur
'Kenapa Mamanya Pak Zacky bisa sebaik ini sama aku, padahal Papanya itu kalau liat aku kayak mau menelan aku hidup-hidup?!' batin Thalia panik. Gadis itu tersenyum lembut menatap Tamara Adelaide yang menepuk lengannya."E-eh... T-terima kasih banyak, Bu Tamara ..." cicit Thalia gagap, wajahnya merona merah hingga ke belakang telinga."S-saya tadi hanya kebetulan lewat dan mendengar suara dari dalam toilet. Sudah kewajiban saya untuk membantu.""Aduh, panggil Tante Tamara saja, Thalia. Jangan terlalu kaku begitu," potong Tamara lembut seraya menepis kebingungan Thalia dengan senyuman hangat.Beliau menoleh ke arah suaminya yang masih duduk tegak di sofa eksekutif dengan raut wajah kaku. "Papa lihat kan? Gadis manis ini yang tadi menolong Mama dari dalam kamar mandi. Bayangkan kalau tidak ada Nathalia, mungkin Papa sudah kebingungan mencari Mama yang terjebak di dalam sana! Ponsel papa dan Zacky juga gak bisa dihubu
Thalia menghentikan langkahnya, alisnya berkerut heran. "Permisi? Ada orang di dalam? Ada masalah dengan pintunya, Bu?" panggil Thalia prihatin dari luar bilik. "Eh? A-ada orang di luar?" sahut suara dari dalam, terdengar sangat lega sekaligus cemas. "Iya, Nak... Kuncinya mendadak macet dan tidak mau bergeser dari dalam. Apa kamu bisa membantu saya dari luar? Di bawah gagang pintu ada celah selot darurat." "Bisa, Bu! Sebentar ya, jangan panik," jawab Thalia sigap. Thalia buru-buru memeriksa tas kecilnya, mengambil koin kecil yang tersimpan di dalam dompetnya. Dengan cekatan dan hati-hati, ia memasukkan koin tersebut ke celah darurat di bawah gagang pintu, memutarnya kuat-kuat sampai terdengar bunyi yang nyaring. KLAK! Pintu bilik toilet itu akhirnya terbuka. Seorang wanita paruh baya bertubuh anggun melangkah keluar seraya mengelus dadanya lega.
"A-aku baik-baik saja, Zacky... Eh, Pak Zacky..." Thalia terperanjat mendengar suara Zacky di belakangnya.Jari tangannya baru saja menekan tombol hapus di layar ponsel lalu menyimpannya kembali ke dalam saku rok kerjanya.Ia berbalik perlahan, memaksakan sebuah senyuman tipis yang sangat gugup saat melihat Zacky sudah berdiri dekat di belakangnya. Tatapan mata pria itu tajam dan menuntut, seolah bisa membaca tiap kepanikan yang tampak jelas di wajah Thalia."Jangan bohong, Thalia," bisik Zacky rendah, suaranya nyaris tak terdengar namun penuh penekanan yang mengintimidasi. "Wajahmu tidak bisa menutupi apa pun."Thalia menghembuskan napas pelan, maju setengah langkah mendekati Zacky lalu berbisik sangat pelan dengan mata yang bergerak cemas melirik ke arah sofa, tempat Pak Joshua berada."Sumpah Pak Zacky, aku hanya gugup banget karena ada Pak Joshua di sini... Aura Pak Joshua menakutkan sekali," cicit Thalia memohon.







