LOGINThalia mengalungkan kedua lengannya di leher tegap Zacky, membalas pagutan itu dengan gairah yang sama liarnya.
Ia membiarkan suaminya menyalurkan segala bentuk perlindungan melalui sentuhan intim ini.Tangan kekar Zacky menyusup ke balik jubah tidur Thalia, memberikan usapan posesif yang menggetarkan punggung hingga ke pinggang istrinya.Ciuman mereka semakin dalam, napas keduanya saling berburu mengisi keheningan kamar.Zacky melepaskan tautan bibirThalia tidak takut melihat kedatangan Julian. Ia masih merasa aman karena pelukan suaminya, Thalia menatap Julian dengan datar dan penuh keberanian."Langsung pada intinya, Julian," pangkas Thalia tegas, suaranya bergema menembus keheningan ruangan. "Kamu memalsukan dokumen DNA, membakar mobil tahanan mu sendiri, dan membawa liontin milikku ke sini. Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" suara Thalia tegas tanpa ragu. Julian terkekeh pelan, tawa yang terdengar sangat dingin. Ia melangkah beberapa tindak mendekati mereka, namun langkahnya terhenti seketika Zacky menjentikkan jarinya, membuat belasan pengawal elit langsung mengarahkan moncong senjata api tepat ke kepala Julian.Zacky menatap Julian dengan pandangan seorang predator yang siap mengoyak mangsanya. Urat di lehernya tampak menonjol keras."Satu langkah lagi kamu mendekati istriku, Julian... Dan kepalamu akan berlubang sebelum kamu sempat mengedipkan mata," desis Zacky suara
"Dia ingin memancing kita keluar dari penthouse," balas Thalia tegas, jemari lentiknya mengusap lengan berotot Zacky yang melingkari perutnya. "Dia menggunakan klaim kakak kandung agar media dan publik menekan kita. Kalau aku bersembunyi terus, dia akan menggunakan narasi bahwa Alvarez Group menyandera pewaris sah Valerian." Zacky menyeringai sinis, kilat mematikan muncul di manik mata hitamnya. Pria itu mendaratkan kecupan di leher jenjang istrinya. "Biarkan dia bermain dengan media, Thalia. Ivan sudah memblokir seluruh stasiun berita utama. Tidak akan ada satu pun kata tentang dirimu yang lolos ke publik tanpa izinku," pangkas Zacky mutlak. "Tapi kita tidak bisa membiarkannya bergerak di bayangan terus, Zacky," bantah Thalia penuh keberanian. Ia memutar tubuhnya di atas pangkuan Zacky, menatap lurus ke dalam mata suaminya. "Atur pertemuan resmi. Aku ingin bertemu dengan Julian Valerian secara langsung
"Zacky, kamu selalu saja memotong pembicaraan dengan mengangkat tubuhku seperti ini.. Kita belum selesai.." pangkas Thalia lembut saat tubuhnya direbahkan secara perlahan di atas ranjang king-size. Bibir Thalia melengkung mengukir senyum manja, meski rona merah di pipinya tidak bisa disembunyikan. Keberaniannya yang membara saat menghadapi ancaman luar selalu meleleh begitu ia dihadapkan pada tatapan dominan dan penuh gairah dari suaminya. Zacky tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu menyusul naik ke atas ranjang, mengurung tubuh Thalia di bawah bayangan tubuh tegapnya. Ia menahan berat badannya pada kedua tangannya di sisi kepala Thalia, menatap lurus ke dalam manik mata bulat yang selalu berhasil melumpuhkan kewarasannya. "Kamu terlalu berani hari ini, Nyonya Alvarez," desis Zacky parau, suara baritonnya yang berat memancarkan hasrat kepemilikan yang sangat pekat. "Kamu tidak takut sedikitpun pada
Thalia menyandarkan kepalanya di dada bidang Zacky, matanya menatap tajam ke arah dokumen yang terbuka. embar pertama berisi grafik perbandingan DNA yang rumit, dengan stempel merah bertuliskan '99.9% MATCH - NADYA A. VALERIAN (MATERNAL LINE)'. "Lihat ini, Zacky. Laporan ini bukan palsu," pangkas Thalia dengan kening berkerut. "Stempel digital ini dikeluarkan langsung lembaga forensik paling independen di Erop. Mereka tidak bisa disuap." "Kalau bukan disuap, mereka mencuri sampel darah ibumu di masa lalu dan merekayasanya," balas Zacky dingin. "Faksi Bayangan memiliki teknologi medis yang cukup gila untuk melakukan hal itu." "Buka halaman berikutnya, Pak Ivan bilang ada fotonya," ucap Thalia, jantungnya mulai berdebar lebih kencang, namun keberaniannya menolak untuk surut. Zacky membalik halaman tersebut dengan gerakan kasar. Di balik lembaran kertas putih itu, terdapat sebuah foto hasil
Thalia mengalungkan kedua lengannya di leher tegap Zacky, membalas pagutan itu dengan gairah yang sama liarnya. Ia membiarkan suaminya menyalurkan segala bentuk perlindungan melalui sentuhan intim ini. Tangan kekar Zacky menyusup ke balik jubah tidur Thalia, memberikan usapan posesif yang menggetarkan punggung hingga ke pinggang istrinya.Ciuman mereka semakin dalam, napas keduanya saling berburu mengisi keheningan kamar. Zacky melepaskan tautan bibir mereka perlahan, mendaratkan kecupan-kecupan basah di leher jenjang Thalia."Kamu sangat mempesona saat berani mendebatku dan menghadapi musuh kita, Thalia," bisik Zacky dengan suara serak yang memabukkan, memberikan gigitan kecil di tulang selangka istrinya. "Membuatku ingin mengurungmu di atas ranjang ini dan tidak pernah membiarkan siapapun melihatmu.""Aku tidak akan keberatan dikurung, selama suamiku yang menjagaku," cicit Thalia dengan pipi merah padam, dadanya naik tur
"Kakak kandung laki-laki?" pangkas Thalia, suaranya terdengar sangat jernih dan tenang, memecah ketegangan yang dibawa asisten pribadi suaminya.Wanita itu sama sekali tidak menjerit atau gemetar. Tangannya yang mungil justru terulur, menarik selimut sutra untuk menutupi tubuhnya dengan anggun. Matanya menatap lurus ke arah Ivan yang masih mematung di ambang pintu, lalu beralih menatap suaminya."Omong kosong macam apa ini, Ivan?!" raung Zacky, suaranya menggelegar memantul di dinding kamar utama. Urat-urat di leher pria tegap itu menonjol liar, matanya berkilat memancarkan aura iblis yang siap mencabut nyawa. "Nyonya Nadya hanya memiliki satu putri! Dokumen wasiat itu mengatakannya dengan mutlak!""T-Tapi DNA-nya, Pak Zacky... Pengadilan di Erop tidak akan membekukan aset sebesar itu jika bukti genetiknya tidak tervalidasi sembilan puluh sembilan persen identik dengan mendiang ibu Nona Thalia," lapor Ivan dengan suara bergetar, menunduk dalam







