Masuk"Mmph... Zacky..." desah Thalia pasrah, membalas lumatan itu gairah yang sama.
Lidah hangat Zacky menerobos masuk, mengabsen setiap inci rongga mulut istrinya, menghisap rasa manis yang selalu menjadi penawar terbaik bagi jiwanya.Tangan kekar Zacky menyusup ke balik gaun sutra merah anggur yang dikenakan Thalia. Jemari menyingkap kain mahal dengan telaten, mengekspos kulit mulus dan tonjolan lembut di perut buncit Thalia.Zacky melepaskan pagutan bibirnya sejeThalia berbaring di atas tempat tidur pemeriksaan dengan gaun sutra kremnya yang tersingkap sedikit di bagian perut. Zacky berdiri tepat di sampingnya, menggenggam jemari Thalia dengan sangat erat. Pria itu menatap layar berteknologi tinggi dengan raut wajah yang sangat serius, seolah sedang meninjau dokumen transaksi triliunan rupiah.Dokter mengoleskan gel bening yang hangat di perut Thalia, lalu menggerakkan alat periksa di atas kulit mulus tersebut."Mari kita lihat perkembangan si kecil," ucap Dokter penuh senyum.Layar di depan mereka seketika menampilkan gambar tiga dimensi beresolusi tinggi. Tampak sosok bayi yang sudah terbentuk sangat sempurna, sedang menggerakkan tangan kecilnya seolah melambaikan tangan ke arah layar.Detak jantung bayi berirama cepat menggema merdu memenuhi ruangan.Air mata haru seketika menetes di pipi Thalia. Ia mencengkeram genggaman tangan Zacky lebih erat. "Zacky... Lihat dia... Jarinya
"Mmph... Zacky..." desah Thalia pasrah, membalas lumatan itu gairah yang sama. Lidah hangat Zacky menerobos masuk, mengabsen setiap inci rongga mulut istrinya, menghisap rasa manis yang selalu menjadi penawar terbaik bagi jiwanya.Tangan kekar Zacky menyusup ke balik gaun sutra merah anggur yang dikenakan Thalia. Jemari menyingkap kain mahal dengan telaten, mengekspos kulit mulus dan tonjolan lembut di perut buncit Thalia.Zacky melepaskan pagutan bibirnya sejenak untuk meraup udara. Matanya menatap perut buncit istrinya dengan kilat penuh cinta yang mendalam. Ia menundukkan wajahnya, mendaratkan ciuman-ciuman basah yang hangat di atas kulit perut Thalia."Jagoan Papa... Terima kasih karena sudah menjaga Mama hari ini," bisik Zacky lembut, menempelkan telapak tangannya yang besar di sana.Duk.Sebuah gerakan halus berkedut dari dalam rahim Thalia, menekan tepat di telapak tangan Zacky seolah menyapanya.
Thalia tersenyum puas melihat reaksi Julian yang tampak kebingungan. “Kamu lihat kan, suamiku jauh lebih cerdik darimu, Julian!” desisnya. "Vila itu hanyalah umpan kosong yang kusiapkan khusus untuk serangga sepertimu, Julian," ucap Zacky suara beratnya terdengar mengintimidasi. Aura mematikan menguar dari tubuh tegap Zacky. Pria itu maju setengah langkah, mengunci tubuh Thalia di balik punggungnya sementara moncong pistol peraknya terarah presisi di antara kedua mata Julian. "Dan sinyal remote murahanmu itu sudah dilumpuhkan pemancar pemotong frekuensi milik tim Ivans sejak kamu menginjakkan kaki di gedung ini," sambung Zacky telak. Julian menatap layar raksasa itu dengan mata terbelalak lebar. Tangannya gemetar menekan tombol remote tersebut berkali-kali, namun tidak ada respons apa pun. Remote itu mati total, menjadi gumpalan plastik tanpa guna.
Thalia tidak takut melihat kedatangan Julian. Ia masih merasa aman karena pelukan suaminya, Thalia menatap Julian dengan datar dan penuh keberanian."Langsung pada intinya, Julian," pangkas Thalia tegas, suaranya bergema menembus keheningan ruangan. "Kamu memalsukan dokumen DNA, membakar mobil tahanan mu sendiri, dan membawa liontin milikku ke sini. Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" suara Thalia tegas tanpa ragu. Julian terkekeh pelan, tawa yang terdengar sangat dingin. Ia melangkah beberapa tindak mendekati mereka, namun langkahnya terhenti seketika Zacky menjentikkan jarinya, membuat belasan pengawal elit langsung mengarahkan moncong senjata api tepat ke kepala Julian.Zacky menatap Julian dengan pandangan seorang predator yang siap mengoyak mangsanya. Urat di lehernya tampak menonjol keras."Satu langkah lagi kamu mendekati istriku, Julian... Dan kepalamu akan berlubang sebelum kamu sempat mengedipkan mata," desis Zacky suara
"Dia ingin memancing kita keluar dari penthouse," balas Thalia tegas, jemari lentiknya mengusap lengan berotot Zacky yang melingkari perutnya. "Dia menggunakan klaim kakak kandung agar media dan publik menekan kita. Kalau aku bersembunyi terus, dia akan menggunakan narasi bahwa Alvarez Group menyandera pewaris sah Valerian." Zacky menyeringai sinis, kilat mematikan muncul di manik mata hitamnya. Pria itu mendaratkan kecupan di leher jenjang istrinya. "Biarkan dia bermain dengan media, Thalia. Ivan sudah memblokir seluruh stasiun berita utama. Tidak akan ada satu pun kata tentang dirimu yang lolos ke publik tanpa izinku," pangkas Zacky mutlak. "Tapi kita tidak bisa membiarkannya bergerak di bayangan terus, Zacky," bantah Thalia penuh keberanian. Ia memutar tubuhnya di atas pangkuan Zacky, menatap lurus ke dalam mata suaminya. "Atur pertemuan resmi. Aku ingin bertemu dengan Julian Valerian secara langsung
"Zacky, kamu selalu saja memotong pembicaraan dengan mengangkat tubuhku seperti ini.. Kita belum selesai.." pangkas Thalia lembut saat tubuhnya direbahkan secara perlahan di atas ranjang king-size. Bibir Thalia melengkung mengukir senyum manja, meski rona merah di pipinya tidak bisa disembunyikan. Keberaniannya yang membara saat menghadapi ancaman luar selalu meleleh begitu ia dihadapkan pada tatapan dominan dan penuh gairah dari suaminya. Zacky tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu menyusul naik ke atas ranjang, mengurung tubuh Thalia di bawah bayangan tubuh tegapnya. Ia menahan berat badannya pada kedua tangannya di sisi kepala Thalia, menatap lurus ke dalam manik mata bulat yang selalu berhasil melumpuhkan kewarasannya. "Kamu terlalu berani hari ini, Nyonya Alvarez," desis Zacky parau, suara baritonnya yang berat memancarkan hasrat kepemilikan yang sangat pekat. "Kamu tidak takut sedikitpun pada







