Home / Romansa / Please Me, Dear Bos! / Bab 48 Ajakan di Dalam Mobil

Share

Bab 48 Ajakan di Dalam Mobil

Author: Cynta
last update publish date: 2026-08-05 17:00:35

​Jantung Thalia berdesir hebat mendengar kata-kata Zacky, wajahnya semakin merona hingga ke belakang telinga.

​"P-pilihan... Maksud kamu... Aku?!" cicit Thalia terbata-bata, menatap Zacky tak berkedip.

​Zacky tidak menjawab dengan kata-kata, ia menunduk sedikit, mendaratkan kecupan hangat di kening Thalia, lalu turun ke ujung hidung dan berhenti sejenak di atas bibir ranumnya.

​"Gadis bodoh," bisik Zacky sensual, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 212 Dalam Dekapan Hangat

    ​"Z-Zacky...?" bisik Thalia lirih. Air matanya menetes membasahi kemeja jas Zacky saat aroma parfum maskulin yang sangat ia hafal menyapa hidungnya. "Zacky... Ini benar kamu...?" ​"Iya, ini aku, Thalia. Aku di sini... Kamu aman sekarang," bisik Zacky sangat lirih dan rendah, mengusap lembut bagian belakang kepala Thalia dan mengecup puncak kepalanya berkali-kali. "Maafkan aku... Maafkan aku karena terlambat menemukan mu.." ​"Zackyyy... A-aku takut..." tangis Thalia pecah sepenuhnya. Tangannya melingkar erat di leher kokoh Zacky, meremas jas pria itu seolah takut kalau saja Zacky akan menghilang darinya saat ini. "Arjuna... Dia mau membawa aku pergi jauh... Dia menodongkan senjata padaku..." ​Zacky mengeratkan pelukannya, ia bisa merasakan ketakutan luar biasa yang mengguncang tubuh gadis itu. Amarahnya semakin membakar dada, namun ia berusaha meredam suaranya

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 211 Terjebak dalam Ketakutan

    Pintu kamar terdorong kencang dari luar, seseorang itu bukan Zacky tapi Arjuna. Pria itu melangkah masuk dengan raut wajah panik yang bercampur amarah yang tampak nyata. Di tangan kanannya, menggenggam sebuah pistol hitam dengan erat. ​"Arjuna...!" jerit Thalia histeris, melangkah mundur ketakutan saat melihat senjata di tangan pria itu. ​"Si brengsek Zacky itu benar-benar menemukan tempat ini!" geram Arjuna penuh amarah, urat-uratnya memegang kaku di dahi dan lehernya. Dengan cepat ia bergerak meraih pergelangan tangan Thalia, menariknya kencang hingga tubuh mungil Thalia terdorong mengikuti langkahnya. ​"Lepasin aku! Lepasin, Arjuna! Zacky sudah datang! Kamu gak akan bisa lari lagi!" teriak Thalia sambil memberontak sekuat tenaga, memukul dada dan lengan Arjuna dengan satu tangannya. ​"Cukup, Thalia!" bentak Arjuna keras sambil mengacungkan pistolnya tepat di depan wajah Thalia.

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 210 Jejak yang Terkuak

    ​Thalia memeluk kedua lututnya di atas ranjang, menangis terisak-isak dalam keheningan kamar yang dingin. ​"Zacky... Kamu di mana...?" bisik Thalia dalam tangisnya yang memilukan. ​"Tolong aku, Zacky... Arjuna mau bawa aku pergi malam ini... Tolong selamatkan aku..." ** Zacky kembali ke dalam ruang kerja setelah tidak menemukan apapun di beberapa titik yang ia curigai. ​Suasana ruangan itu penuh aura kemarahan Zacky, ia berdiri kaku di depan jendela kaca besar, memperhatikan langit yang semakin gelap. Cklek..! ​Pintu ruangan itu kembali terdorong, terbuka perlahan. Ivan masuk dengan wajah penuh peluh dan napas terengah-engah. Di tangannya, masih memegang sebuah tablet digital. ​"Pak Zacky! Kami berhasil menemukannya!" seru Ivan penuh nada kemenangan. ​Zacky seketika berbalik cepat, matanya yang tajam berkilat mematikan. "Di mana tempatnya?!" ​"Tim siber baru saja berhasil membobol data penerbangan tak terdaftar di bandara lama pinggiran kota, Pak!" pangkas Ivan cepat seray

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 209 Rasa Kecewa

    Di dalam kamar, Thalia menghela nafas lega saat melihat bukan Arjuna yang masuk, melainkan Felix Effendy. Papanya melangkah masuk dengan wajah yang sangat tegang dan cemas.​"Papa..." desis Thalia dingin, menatap papanya dengan pandangan terluka dan penuh kekecewaan.​"Kenapa Papa masih ada di sini? Kenapa Papa gak biarkan aku mati saja sekalian daripada harus terkurung sama pria psikopat itu?!"​"Thalia, tolong jangan bicara seperti itu..." ringis Felix seraya mendekati tempat tidur.​"Papa baru saja bicara sama Arjuna di luar. Dia... Dia benar-benar berniat membawa kamu ke luar negeri malam ini juga!"​"Apa?!" pekik Thalia membelalak tak percaya.​"Ke luar negeri?!"​"Iya, Thalia!" pangkas Felix panik, tangannya memegang tepi ranjang.​"Dia sudah menyiapkan jet pribadi di bandara lama pinggiran kota! Dia mau membawa kamu dan Papa pergi malam ini juga setelah berkas dokumen kalian selesai!"​"Gak! Aku gak mau pergi!" jerit Thalia histeris, air matanya menetes kembali.​"Papa tega ban

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 208 Situasi yang Berbeda

    Sore itu cahaya matahari mulai meredup saat Thalia perlahan-lahan membuka matanya kembali.​Rasa pusing luar biasa terasa menyiksa dikepalanya. Hidungnya terasa perih dan tenggorokannya sangat kering.​"Eunngghh..." Thalia meringis pelan, memegangi kepalanya yang berdenyut kencang.​Ia menyadari dirinya kini berbaring di atas tempat tidur empuk dengan selimut tipis menyelimuti tubuhnya hingga dada.​Thalia dengan cepat memeriksa keadaan dirinya sendiri di balik selimut. Pakaian kerjanya masih utuh, meski kancing kemeja teratasnya sedikit terbuka dan rasa basah yang aneh.​"Arjuna..." cicit Thalia panik, dadanya naik-turun dipenuhi rasa ketakutan yang kembali ia rasakan.​Gadis itu segera terduduk tegak di atas kasur, pandangannya memperhatikan sekeliling ruangan yang sunyi.​Tidak ada sosok Arjuna di dalam kamar, hanya terdapat nampan berisi segelas air dan roti di atas nakas samping ranjangnya. ​Cklek!​Pintu kamar terbuka. Thalia tersentak kaget dan refleks menarik selimutnya rapat

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 207 Penolakan yang Sia-sia

    ​Thalia menepis tangan Arjuna dengan sangat keras hingga menimbulkan suara pukulan nyaring di dalam ruangan itu. ​"Jangan pernah berani menyentuhku aku dengan tangan kotormu itu, Arjuna!" pekik Thalia penuh amarah.​Arjuna meringis pelan, melihat punggung tangannya yang memerah akibat tepisan Thalia. Bukannya marah, pria itu justru terkekeh sinis. Matanya berkilat dipenuhi hasrat gairah yang berbahaya.​"Kamu makin berani ya sekarang, Thalia..." cicit Arjuna seraya mengusap tangannya sendiri. "Apa ini karena si Zacky itu? Jadi kamu merasa punya pelindung, hmm?"​"Zacky jauh lebih terhormat dari kamu!" tegas Thalia tanpa ragu, dadanya naik-turun menahan emosi. "Dia pria sejati yang menghargaiku! Gak kayak kamu yang cuma bisa mengancam, memeras, dan membikin hidup orang lain hancur!"​Mendengar nama Zacky disebut dengan penuh kebanggaan oleh bibir Thalia, raut wajah Arjuna seketika berubah gelap. Wajah tampannya mengeras kaku, kilatan kemarahan murni terpancar jelas dari manik matan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status