Home / Romansa / Please Me, Dear Bos! / Bab 56 Langkah yang Salah

Share

Bab 56 Langkah yang Salah

Author: Cynta
last update publish date: 2026-08-07 10:00:55

​Thalia membuka pintu penthouse secara perlahan-lahan.

Koridor disana terlihat agak sepi, namun di dekat lift VIP berdiri dua orang pria berbadan tegap memakai setelan jas hitam, pengawal yang ditugaskan Ivan dan Zacky.

‘Ternyata beneran aku dijaga..’ batinnya.

​Thalia menarik napas panjang, mencoba menetralkan raut wajahnya yang pucat agar tidak terlihat mencurigakan.

​"S-selamat sore, Pak..." sapa Thalia pelan dan sopan saat mendekati kedua pengawal ter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 82 Kebenaran yang Menyakitkan

    ​Thalia membelalakkan matanya karena terkejut dengan reaksi Papanya yang justru menamparnya, ia memegangi dadanya yang terasa sesak luar biasa. "P-Papa... Thalia tidak berbohong! Thalia berani bersumpah, kalau Thalia tidak mengarang cerita! Arjuna memang sejahat itu sama Thalia, Pa!"​"Papa tidak percaya!" teriak Felix tanpa rasa iba sedikitpun melihat tangisan putrinya. "Arjuna itu anak dari teman lama Papa! Dari dulu dia sangat sopan, bertanggung jawab, dan sangat mencintaimu! Mana mungkin dia melakukan hal sekeji itu padamu, Thalia?!"​"Tapi itu kenyataannya, Pa!" pangkas Thalia penuh rasa kesal."Kenapa Papa justru lebih percaya sama Arjuna dibanding anak kandung Papa sendiri?!"​"Karena kamu sudah terbuai rayuan CEO baru itu, Thalia!" seru Felix dengan suara menggelegar di ruang tamu. "Kamu pasti sengaja menjebak Arjuna agar kamu bisa bebas berhubungan dengan Pak Zacky yang kaya raya itu, kan?! Kamu men

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 81 Sambutan Palsu 

    ​"Papa... Thalia pulang..." panggil Thalia pelan, ia melangkah masuk melewati pintu depan rumah keluarganya. ​Rumah bergaya klasik bernuansa kayu itu terasa begitu sepi saat Thalia melangkah melewati ruang tamu. Perjalanan hampir dua jam menggunakan travel dari Jakarta membuat tubuhnya terasa sedikit lelah, ditambah rasa cemas yang masih ia rasakan di dalam hatinya.​Seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik melangkah keluar dari area ruang makan. Wajahnya yang tegas dan dipenuhi garis usia seketika menyunggingkan senyuman manis saat melihat sosok putri tunggalnya.​"Thalia! Akhirnya kamu sampai juga!" seru Papanya, Felix Effendy, melangkah lebar dan langsung merengkuh tubuh mungil Thalia ke dalam pelukan hangat.​Thalia sempat terpaku sejenak, membalas pelukan papanya dengan rasa haru yang mengalir hangat di dalam hatinya. Sudah cukup lama ia tidak merasakan kasih sayang langsung dari papanya sejak konflik finansial men

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 80 Rahasia yang Tersimpan

    ​Thalia memiringkan posisi duduknya, menatap dari samping wajah Zacky yang tampak begitu tampan dan sempurna di hadapannya ​"Zacky..." panggil Thalia pelan dan ragu. ​"HM?" sahut Zacky tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas di tangannya. ​"Emm... Kalau... Kalau besok lusa aku izin tidak masuk kantor seharian... Boleh tidak?" cicit Thalia berhati-hati, menahan napasnya menunggu reaksi pria itu. ​Gerakan tangan Zacky yang hendak membalik halaman kertas seketika terhenti kaku. Pria itu perlahan memutar kepalanya, menatap Thalia dengan manik mata hitamnya yang dalam dan mengintimidasi. ​"Izin?" ulang Zacky dingin. "Untuk urusan apa, Thalia?" ​"I-itu... Ada urusan pribadi yang sangat penting..." jawab Thalia terbata-bata, pikirannya berputar cepat mencari alasan palsu yang masuk akal. "T-teman lama aku dari luar kota datang... Di

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 79 Mencium Kebohongan

    ​"M-Mas Rendy... Jangan bercanda gitu donk..." cicit Thalia lirih penuh kepanikan, tangannya meremas kuat tisu dalam genggaman tangannya. ​"Aku gak bercanda, Thalia," bisik Rendy rendah hanya untuk didengar Thalia. "Soal tawaran makan siang itu... Awalnya aku hanya ingin makan berdua, tapi hari ini bisa makan bareng kamu aku udah seneng.." ​Thalia akhirnya hanya terdiam, bingung dan serba salah menghadapi situasi saat itu. Namun ia terselamatkan dengan jam istirahat yang membuat mereka harus segera kembali ke ruangan. “Thalia, makasih ya udah boleh gabung makan siang sama teman-teman kamu.. Aku harap kita bisa makan siang lagi,, berdua.. Aku duluan ya, daahh!” Thalia bergeming mendengar kata-kata Rendy sementara teman-temannya justru menggodany. “Thalia, Rendy ngejar kamu lagi tuh!” kata Riri. “Iya, daripada sama Arjuna.. Mending sa

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 78 Suasana Panas di Kantin

    ​Wajah Thalia seketika merah padam. "I-iya, Pak Zacky! Sudah sana berangkat, nanti terlambat!" cicitnya malu-malu, tangannya dengan lembut mendorong pelan lengan tegap Zacky. Sementara itu Thalia sendiri segera melangkah ke kantin lantai bawah gedung AR Corp, disana suasana tampak ramai oleh lalu lalang karyawan dari berbagai divisi yang sedang menikmati istirahat makan siang. Suara denting piring dan obrolan riang memenuhi seluruh area kantin yang luas dan modern tersebut.. ‘Aduh, Maya mana sih?! Tadi gak janjian dulu..’ gumamnya menyesal karena ia ditinggal teman-teman dari divisi pemasaran. ​Thalia berjalan membawa nampan makanannya yang berisi nasi ayam bakar dan es teh manis, mencari keberadaan teman-temannya. Tiba-tiba.. ​"Thalia! Sini!" teriak Maya melambaikan tangannya dari sudut meja dekat jendela besar. Di sana sudah duduk Rini dan Sheila yang sedang menikmati makan siang mereka. ‘

  • Please Me, Dear Bos!    Bab 77 Panggilan Telepon Meresahkan

    Pagi itu saat Thalia membuka mata, Zacky sudah tidak berada disampingnya, namun suara denting sendok di area dapur menandakan pria itu sudah terbangun lebih dulu. ​Thalia mendudukkan tubuhnya di atas ranjang, memegangi dadanya yang mendadak berdebar teringat percakapan lusa dan ucapan Zacky tadi malam. Drrttt.. Drrttt.. Drrttt.. ​Suara getaran ponsel milik Thalia di atas meja rias mengejutkan lamunannya. Thalia melangkah pelan, meraih ponselnya. Gadis itu melihat nama yang tertera di layar ponsel membuat raut wajahnya seketika menegang. ‘​Papa.’ ​Dengan jari tangan sedikit gemetar, Thalia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. ​[H-halo, Pa? sapa Thalia pelan dan penuh keraguan. ​[Thalia,] suara berat dan tegas milik ayahnya terdengar dari seberang saluran. [Kamu harus pulang ke rumah lusa. Ada hal sangat penting yang harus Papa bicarakan secara langsung denganmu.”] ​[H-hal penting apa, Pa? Soal pekerjaan Thalia atau...?] tanya Thalia cemas. Ingat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status