ログイン"Jangan telat makan..." cicit Thalia membaca sederet kalimat singkat yang tertera di layar ponselnya. Usai menghapus sisa air mata yang sempat menggenang di pelupuk matanya, sudut bibir Thalia terangkat tipis. Ada rasa hangat yang mendadak menyusup di tengah rasa sesak yang menghimpit hatinya. Perhatian kecil dari Zacky seolah menjadi penawar sementara atas rasa sakit akibat kata-kata pedas yang dilontarkan Sabrina beberapa saat lalu. Thalia menatap layar ponselnya cukup lama, memikirkan kata apa yang akan ia ketik sebagai pesan balasan. [Thalia : Iya, Zacky... Ini sebentar lagi aku mau turun ke kantin bareng Maya.. Makasih ya udah perhatian..] gumam Thalia pelan sambil menekan tombol kirim. Sesaat setelah pesan itu terkirim, Thalia menghela napas panjang. Ia berusaha menetralkan degup jantungnya yang masih belum stabil. Bayangan wajah anggun yang angkuh milik Sabrina, me
‘Eh.. Zacky balik? Apa ada yang tertinggal?!’ Thalia tersentak kaget dan buru-buru menegakkan posisi duduknya saat pintu terbuka perlahan, menduga Zacky atau Ivan yang kembali karena ada barang yang ketinggalan. Namun, sosok yang melangkah masuk ke dalam ruangan justru membuat darah Thalia seketika membeku. Seorang wanita berpenampilan sangat modis dengan gaun merah menyala dan kacamata hitam mahal melangkah masuk dengan gaya yang begitu anggun nan angkuh. Wanita itu melepas kacamata hitamnya, memamerkan riasan wajah sempurna dengan mata tajam yang menatap sekeliling ruangan sebelum akhirnya tatapannya terkunci tepat pada Thalia yang berdiri kaku di samping mejanya. "N-Nona Sabrina...?" pekik Thalia tertahan dengan suara bergetar. Gadis itu mengenali wajah Sabrina dari berita yang beredar sebelumnya saat Zacky menjemputnya di bandara dan berpelukan, tampak mesra. Sabrina
Thalia kembali duduk di kursi kerjanya dengan helaan napas panjang. Ia merapikan rok kerjanya dan rambutnya yang sedikit berantakan. Namun, saat pikirannya mulai kembali jernih, rasa cemas dan ketakutan akan masalah kantor kembali membayangi benaknya. "Zacky..." panggil Thalia pelan, menatap punggung tegap Zacky yang tengah merapikan celana dan jas kerjanya sendiri di depan cermin dinding. Zacky memutar tubuhnya menghadap Thalia. "Ada apa?" "Foto itu..." bisik Thalia cemas, jemarinya meremas tepi meja kerjanya. "Grup obrolan kantor masih ramai membicarakan foto aku yang turun dari mobil kamu di basement. Gimana kalau nanti ada yang melapor ke HRD atau malah Pak Joshua tahu?" Zacky melangkah mendekat ke meja Thalia, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan raut wajah yang mendadak kembali dingin. "Tidak ada yang berani melaporkan apapun, Thali
"Z-Zacky! Mau apa lagi?! Ini di atas meja kerja kamu!" pekik Thalia panik, tangannya refleks bertengger di bahu lebar Zacky. "Sekarang giliranmu, Thalia," sahut Zacky singkat tanpa memberi jeda. "T-tapi—" Belum sempat Thalia menyelesaikan protesnya, Zacky sudah mendorong kedua paha mulus Thalia hingga terbuka lebar di hadapannya. Tangan besar pria itu menyusup masuk ke bawah lipatan rok kerja Thalia yang didalamnya sudah terasa sangat basah akibat gejolak gairah yang ia saksikan sendiri sejak tadi. Zacky menarik pelan kain pelindung segitiga berwarna merah muda itu ke bawah, menyingkirkannya hingga memamerkan inti goa Thalia yang sudah memancarkan kilau basah. "Z-Zacky, jangan dilihatin begitu... Aku malu!" jerit Thalia kecil sambil menutupi wajahnya yang merah padam. Zacky tidak menghiraukan bisikan gadis itu. Tanpa membuang waktu, satu jari panjangnya menyusup perlahan
"Z-Zacky... B-beneran harus melakukan ini...?" cicit Thalia lirih dengan suara gemetar, matanya mendongak menatap sosok tegap Zacky yang duduk mematung di hadapannya. Wajah Thalia memerah sempurna hingga ke pangkal lehernya. Posisinya yang masih terduduk canggung di atas karpet tebal tepat di depan celana kain Zacky membuat napasnya terasa semakin sesak. Aroma maskulin yang bercampur gairah panas yang menguar dari tubuh Zacky seolah mengunci seluruh akal sehat Thalia saat ini. Zacky menundukkan kepala, menatap lurus manik mata bulat gadisnya yang berair dengan tatapan mendalam yang begitu menghipnotis. "Aku tidak suka menunggu, Thalia," bisik Zacky rendah dengan nada suara bass yang begitu serak dan menuntut. "Lakukan." Thalia menelan salivanya yang terasa sudah payah. Mengabaikan sisa rasa takut dan rasa malu yang membakar paras cantiknya, jari tangan hal
Sentuhan langsung telapak tangan Thalia yang tepat di atas pusaka Zacky yang sangat keras, panas, dan berdenyut membuat Thalia hampir saja memekik kaget secara refleks. 'Z-Zacky! Apa yang kamu lakukan?!' jerit Thalia dalam hati dengan mata membelalak lebar ketakutan. Thalia mencoba menarik jari tangannya kembali dengan rasa panik luar biasa. Namun, Zacky justru menekan tangan mungil Thalia semakin erat di sana, mengunci telapak tangan gadis itu untuk meremas dan merasakan sendiri betapa keras dan tersiksa miliknya karena menahan gairah penderitaan di bawah sana. Sementara itu, di atas meja, raut wajah Zacky tetap terlihat begitu tenang, datar, dan dingin tanpa ekspresi sedikit pun. "Jadi, Pak... Pada bagian pasal empat ini, pihak investor meminta jaminan pembagian saham sebesar lima belas persen," jelas Hans panjang lebar Jari tangannya menunjuk salah satu paragraf berkas di atas meja, s







