LOGINThalia membelalakan mata mendengar ucapan Zacky saat baru saja meraih tisu di atas nakas untuk mengelap bibirnya. Namun Zacky sudah langsung membalik posisi mereka membalik, Thalia dibawah kungkungan Zacky. “Zacky, kamu mau apa?! Bukannya kamu udah.. Keluar?!” cicit Thalia polos. “Kamu belum, Thalia..” ucap Zacky datar. “Tapi Zacky.. Aahhh..!” Bibir Thalia terbungkam ciuman Zacky, tangan pria itu pun sudah meremas dua squishy Thalia bersamaan, sementara naga yang baru saja tertidur itu menempel tepat di depan pintu goa. Zacky dengan cepat berpindah ke bawah, kedua tangannya membuka lebar kedua kaki Thalia ke atas. “Zacky, jangan.. Nghhh.. Aahhh.. Zacky..” Lidah pria itu sudah mendarat tepat di atas kacang mete, melumat pintu goa dengan lidah. Sesekali lidah Zacky masuk ke dalam menghisap sensasi basah di dalam sana. Satu jari tengahnya ikut berjuang di dalam, memberikan permainan ternikmat untuk Thalia Gadis itu menggeliat, mengerang nikmat dengan dadanya yang sesek
Thalia baru saja melepas sepatu high heelsnya dengan helaan napas lega, namun tubuhnya langsung menegang saat merasakan sepasang lengan kokoh melingkar erat di pinggangnya dari belakang. "Z-Zacky...?" cicit Thalia pelan. Zacky menyandarkan dagunya di bahu Thalia, menghirup aroma wangi yang menguar dari leher gadis itu. "Hukumanmu baru akan dimulai, Thalia." "Lho? Kan tadi di restoran aku sudah nurut makan banyak banget!" protest Thalia seraya memutar tubuhnya, menghadap langsung ke dada bidang Zacky. "Itu hadiah karena kamu nurut," jawab Zacky datar. "Hukuman karena membuatku cemburu di lobby, baru dimulai," ucap pria itu telat di wajah Thalia dengan nada berat dan serak. Thalia membelalakkan mata, jantungnya berdebar kencang melihat sorot mata Zacky yang dipenuhi gairah dan hasrat terpendam. Pria itu mengangkat tubuh mungil Thalia dengan mudah, membawanya melangkah menuju area kamar utama. "Z-Zacky! Pelan-pelan, aku masih pegal karena semalam..." bisik Th
"Z-Zacky... Dengar dulu..." cicit Thalia lirih, matanya menatap Zacky dengan mata berkaca-kaca. "Aku tadi benar-benar kaget waktu Mas Rendy tiba-tiba muncul dan bicara seperti itu. Aku bahkan tidak berniat menjawab ajakannya." "Tapi kamu tidak langsung menolaknya di depannya," balas Zacky datar, rahang tegasnya masih tampak mengeras, menahan emosi dan cemburu yang membakar dadanya sejak dari lobby tadi. "Aku hanya berusaha bersikap sopan dan jadi panik karena kamu menelepon dengan mengancam mau turun!" ucap Thalia pelan, berusaha membela diri, wajahnya tampak cemberut dan menggemaskan. "Mana berani aku ngobrol lama-lama kalau tahu kamu sudah siap-siap mau menyeret aku ke mobil?" cicitnya lirih. Zacky memperhatikan wajah polos Thalia yang kini mengerucut kesal. Amarannya yang sempat menyulut kesabarannya perlahan menguap, berganti perasaan gemas yang luar biasa pada gadis sampingnya. "Lain kali, kalau ada pria yang mencoba mendekatimu lagi, katakan langsung bahwa kam
‘Aduh mampuss aku, kenapa mas Rendy malah teriak-teriak sih?! Semoga aja Zacky gak dengar, kalau gak, dia pasti marah..’ batin Thalia gelisah mendengar teriakan Rendy. Namun Thalia tidak sempat menjawab atau menolak, ia hanya melempar senyum panik. Gadis itu sempat melambaikan tangan sambil setengah berlari keluar dari pintu kaca lobby menuju mobil mewah yang menunggunya.Ia sama sekali tidak menyadari kalau suara Randy terdengar jelas oleh Zacky yang masih membuka kaca mobilnya lebar. Thalia membuka pintu mobil belakang dan segera duduk di samping Zacky, menutup pintu mobil dengan terburu-buru. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun cepat saat aroma parfum maskulin yang tajam menyambut indra penciumannya.Thalia melirik Zacky, pria itu duduk bersandar di sampingnya, wajah tampan tampak semakin dingin tanpa ekspresi sedikitpun. Manik matanya menatap lurus ke depan, sementara tangannya terdiam diatas pahanya
Thalia menghentikan langkahnya, menoleh dengan ragu karena mendengar suara seorang pria yang memanggilnya. Ia melihat pria itu bertubuh tinggi memakai kemeja biru muda dan kacamata berbingkai tipis, berjalan mendekatinya dengan senyuman ramah."Mas Rendy?" cicit Thalia sedikit terkejut.Pria itu, salah satu staf senior dari divisi keuangan yang sempat terang-terangan mencoba mendekati Thalia sebelum akhirnya mundur secara teratur karena ancaman dan teror tidak jelas dari Arjuna."Wah, beneran kamu, Thalia! Nggak nyangka bisa ketemu kamu di lobby jam segini," sapa Rendy dengan tatapan mata hangat yang tampak jelas. "Kamu kelihatan makin cantik dan makin anggun sejak pindah ke lantai atas, Thalia.. Tapi jadi makin jarang ketemu..""A-ah, terima kasih, Mas Rendy," balas Thalia canggung, melangkah mundur setengah langkah untuk menjaga jarak. "Mas Rendy baru mau pulang juga?" tanyanya basa-basi. "Iya, nih. K
"Z-Zacky! Tunggu sebentar!" cicit Thalia panik sambil menepuk lengan Zacky begitu pintu lift eksekutif terbuka di lantai dasar. Ia memegangi perut bagian bawahnya dengan raut wajah meringis menahan buang air kecil. Zacky menghentikan langkah kakinya, menoleh ke arah gadis di sampingnya dengan alis terangkat tipis. "Ada apa, Thalia?" "A-aku mau mampir ke kamar mandi sebentar, Zacky. Kebelet banget dari tadi di ruangan..." bisik Thalia dengan pipi memerah canggung. "Kamu jalan duluan aja ke mobil, nanti aku langsung nyusul ke sana." Zacky menatap Thalia sejenak sebelum mengangguk pelan. "Jangan lama-lama, Thalia. Aku tunggu di dalam mobil." "Iya, Zacky! Cuma sebentar kok!" seru Thalia lega, buru-buru memutar langkah melintasi koridor menuju area toilet wanita terdekat di lantai satu. Begitu memutar kran dan membasuh tangannya di wastafel beberapa saat kemudian, Thalia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Wajahnya masih menyisakan rona kemerahan, dan bayangan perkat







