Share

Bab 18

Author: Saga
last update publish date: 2026-10-25 18:36:09

“Apa kamu sama Tommy sudah pernah berhubungan badan?”

Eca sedikit gelagapan. Bukannya ciut karena Eca mau menangkap basah mamanya tapi justru mamanya seolah menantang dirinya.

“Maksud Mama apa? Mama jangan mengalihkan pembicaraan. Mana mas Tommy! Dia di dalam kan?”

Gadis itu merangsek masuk tanpa memperdulikan mamanya. Dahi Laras berkedut melihat cara jalan anaknya yang agak mengangkang.

“Kaki kamu kenapa? Kenapa jalannya seperti itu?”

Eca menoleh ke mamanya. Dia seperti kebingungan.

“Hab
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 18

    “Apa kamu sama Tommy sudah pernah berhubungan badan?” Eca sedikit gelagapan. Bukannya ciut karena Eca mau menangkap basah mamanya tapi justru mamanya seolah menantang dirinya. “Maksud Mama apa? Mama jangan mengalihkan pembicaraan. Mana mas Tommy! Dia di dalam kan?” Gadis itu merangsek masuk tanpa memperdulikan mamanya. Dahi Laras berkedut melihat cara jalan anaknya yang agak mengangkang. “Kaki kamu kenapa? Kenapa jalannya seperti itu?” Eca menoleh ke mamanya. Dia seperti kebingungan. “Habis jatuh semalam, Ma!” “Jatuh?”“Iya, Ma.” “Jatuh dari mana? Semalam kamu sama siapa Eca?” Eca seolah mati kutu. Dia tidak siap dengan pertanyaan mamanya. “Waktu temen temen kosmu itu pulang, mereka bilang kamu sama gebetanmu? Kamu bikin mama kepikiran sampai tidak bisa tidur Eca. Siapa gebetanmu itu Eca?” “Anu, Ma. Mas Ronny. Kakak tingkat Eca. Kami check in di hotel.” Wajah Laras meradang. Dia mendekati anaknya. Menampar wajahnya keras-keras.“Gitu ya, Kamu. Mama susah-susah besarin kamu

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 17

    ​“Dari siapa, Tom?”​Tommy langsung memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku, takut Laras membaca pesan dari anaknya.​“Emm, anu, Ma. Dari Rina. Dia minta diantarkan makanan kesukaannya buat makan siang sekarang,” jawab Tommy berpikir cepat mencari alasan.​“Nanti saja, Tom. Tanggung, Mama sudah on banget nih.”​“Jangan, Ma. Nanti Rina bisa marah.”​“Masa kamu tega, Tom? Mama sudah menunggu-nunggu bisa berdua sama kamu. Semalam Mama sudah panas dingin dengar suara kamu yang menggairahkan. Mama sengaja menahan semalaman dan merencanakan supaya besoknya bisa ketemu di sini. Setelah kamu berhasil bikin Mama panas, kamu mau tinggalin begitu saja?”​Tommy memandang wajah Laras. Wanita itu hanya butuh waktu dimanja, disayangi. Dia wanita matang yang tampak lelah dengan kesendirian, bahkan wanita itu seolah menunggu waktu yang pas buat berdua.​“Iya, Ma. Maafin Tommy. Tommy sebenarnya juga sudah sangat ingin. Siapa sih yang gak mau sama Mama? Tapi Mama tahu sendiri kan Rina kayak gimana,”

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 16

    Tommy berdiri di depan apartemen Laras. Dia ragu hendak mengetuk pintu. Namun saat akan mengetuk pintu, ekor matanya menangkap langkah kaki yang mendekatinya. “Eh, Tommy. Sudah sampai. Ini ya berkas Mama?” Tommy menoleh. Terlihat wanita paruh baya itu tersenyum cerah melihat kedatangannya. Dia menggunakan pakaian kantor formal dengan celana kain panjang. Beda hari biasanya pakai rok yang tingginya di atas lutut. “Iya, Ma. Ini." Tommy menyerahkan map coklat itu. Kemudian buru-buru mau pamit. “Ma, saya pulang dulu ya.” “Kenapa buru-buru, Tom? Temani Mama di dalam sebentar saja.” “Enggak, bisa. Ma. Mau buru-buru pulang.” “Kamu kok sepertinya menghindar dari mama. Kenapa?” Tommy mengalihkan pandangan. Tatapan mata Laras. Bukan tatapan mata penuh nafsu yang masih bisa elak. Tapi tatapan mata seorang wanita yang butuh dimanja, diperhatikan. Membuat Tommy sulit mengelak. “Enggak, Ma.” “Ya, udah. Ayo masuk.” Laras mengambil kartu dari sakunya. Men-tap pintu. Kemudian membukanya.

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 15

    Setelah membentak Tommy, Siska dan Maya menggeser duduknya, memberi ruang buat Eca. Eca duduk di tengah-tengah mereka.“Kamu kasar banget sama kakak iparmu,” tutur Siska.“Iya, gak boleh gitu,” timpal Maya.“Apaan sih kalian! Mentang-mentang dia jadi bahan gibahan kalian se-kos, kalian sok belain dia!”“Jangan marah-marah dong, Cantik!”“Iya, ih, baperan.”“Ini aku jadi cerita apa enggak?” tandas Eca.“Iya, jadi dong.”“Aw.”Eca merintih saat ingin merapatkan kakinya. Siska dan Maya khawatir.“Kenapa, Eca? Masih perih ya?”“Iya, padahal semalam waktu basah gak perih. Baru terasa pagi tadi.”Tommy yang masih di dapur ujung pura-pura membersihkan wastafel sambil menguping.“Duh, pasti kamu dapat yang gede ya. Kok bisa sih? Aku aja gak pernah lho sampai merasa kesakitan begini, apalagi jalan ngangkang,” ungkap Maya.“Ya jelas lah itu. Pas masuk jleb gitu ya, kayak kesumpal benda gede,” Siska tak kalah antusias.“Hehe, memangnya kayak pacarmu, Siska, anak mami. Kerasanya aja enggak.”“Iya

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 14

    Tommy membuka pintu. Laras melihat Tommy yang agak kacau. Berkeringat rambutnya acak-acakan. Pakaiannya juga seperti dipakai dengan buru-buru. "Kamu habis ngapain, Tommy." Laras menyelidik. Tommy tergeragap. Laras merasa aneh. Dengan tidak sabaran dia mendorong pintu itu dan melihat seisi kamar. Dahinya berkerut. "Kenapa, Ma?" Laras mengedarkan pandangan. Tidak ada yang aneh. Hanya dipan yang usang. Lantai yang bersih. Tommy tersenyum kaku, supaya terlihat tidak gugup. "Kamu habis ngapain sih, Tommy! Kamu kayak bawa seseorang di sini." "Gak ngapa-ngapain, Ma. Saya sendiri kok. Saya agak kurang enak badan saja. Tadi diare di kamar mandi gak selesai-selesai." Laras memandang wajah Tommy yang pucat. "Ih, ya sudah. Jangan lupa minum obat. Di kotak P3K di dapur ada. Ambil saja." "Tapi, saya gak dibolehin ke dapur sama Rina, Ma." "Gak papa, bilang saja disuruh Mama." "Iya, Ma." "Kamu bikin nafsu mama ilang saja, kamu bilang habis diare." Laras keluar pos. Tepat bersamaan deng

  • Montir Handal Idaman Mertua   Bab 13

    "Kalau telpon saja gimana. Kamu mendesah pelan saja. Temani mama sampai keluar." "Hah?""Gimana, Tom? Gak mau ya? Tega ya kamu biarin mama tersiksa sendiri?" Tommy melihat ke Eca, gadis itu menunjukan wajah paling sensual. Yang artinya setiap sentuhan. Penyatuan yang dilakukan Tommy membuat Eca melayang. Tommy sekuat tenaga menahan suaranya yang ingin mengerang kenikmatan. Tidak ingin Laras curiga. "Bukan begitu, Ma. Tapi, saya tidak pernah begituan." "Gampang, kamu tinggal mendesah saja. Keluarkan suara bass mu yang seksi itu, sayang. Terus nanti ikuti kata mama." "Iya, Ma." "Sebentar, Mama ambil posisi dulu ya." Mendengar perkataan Laras, Tommy menurunkan ponselnya. Kedua tangannya sekarang tegak mengungkung. Dia menggunakan kesempatan itu untuk menghentak lagi. Plek..Plek.. Plek. Suara hantaman itu terdengar. Deru nafas. Desisan halus. Eca merangkulkan tangannya ke leher beton Tommy. Dia mengangkat kepalanya. memajukan bibirnya. Melihat itu, Tommy hendak menyambar. Tapi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status