共有

Porsi Cinta yang Berbeda
Porsi Cinta yang Berbeda
作者: Momo

Bab 1

作者: Momo
Namun ketika mulai masuk kuliah, aku baru menyadari bahwa aku tidak menerima biaya hidup ataupun kartu kredit tambahan.

Aku menanyakan hal itu pada ayahku, tetapi dia mengerutkan kening. "Bukannya ibumu sudah kirim ke kamu?"

Aku mencari ibuku, tetapi dia malah balik bertanya, "Bukannya itu tugas ayahmu?"

Aku tidak pilihan lain selain meminta kakak laki-lakiku agar membuka kartu kredit tambahan untukku.

Kakak laki-lakiku terkejut. "Bukannya Andry sudah membukanya untukmu?"

Namun, ketika aku mencari teman masa kecilku, dia justru berkata, "Kakakmu sudah lama membukakan satu untukmu, 'kan?"

Mulanya aku mengira itu karena mereka belum berunding untuk menyamakan cerita.

Sampai aku menyadarinya hari ini.

Bukan karena mereka belum berunding.

Melainkan mereka semuanya memilih adik perempuanku, tanpa membuat kesepakatan sebelumnya.

Setelah berpikir sejenak, aku meninggalkan komentar di bawah unggahan tersebut:

[Kepada adik yang mengunggah: Aku lebih butuh panduan bertahan hidup untuk melewati liburan selama seminggu dengan anggaran 64 ribu.]

....

Tidak sampai sepuluh detik setelah komentar tersebut diunggah.

Kolom komentar yang mulanya dipenuhi dengan kalimat-kalimat 'Kak, angkat aku jadi adikmu', dan 'definisi keluarga impian', seketika menjadi senyap.

Dalam sekejap, layar dipenuhi dengan tanda tanya.

[???]

[Kakaknya? Yang benar saja?]

[Adiknya dapat 40 juta untuk liburan seminggu, sedangkan kakaknya dapat 64 ribu untuk seminggu? Bukankah sikap pilih kasih ini sudah kelewat batas?]

Beberapa orang bahkan menandai si pengunggah, memintanya untuk muncul dan menjelaskan.

Aku sedang asyik membaca ketika unggahan itu tiba-tiba dimuat ulang.

Ketika mengkliknya lagi, jelas bahwa konten itu telah dihapus.

Dalam waktu dua menit, lebih dari belasan pesan baru muncul di obrolan grup keluarga.

Natalia Salim lebih dulu mengirimkan pesan.

[Kak, aku nggak jadi jalan-jalan. Kakak jangan marah lagi.]

Setelah itu, empat tangkapan layar pengembalian saldo dikirim ke grup.

Dia mengembalikan masing-masing lima juta kepada orang tua kami, kakak laki-laki, dan juga Andri Gunadi, tanpa kurang sepeser pun.

Makin bijaksana dirinya, makin banyak orang dalam grup tersebut yang kasihan padanya.

Ibuku langsung menanggapi dan menandaiku di grup secara langsung.

[Gadis nakal, omong kosong apa yang kamu ucapkan di luar sana!]

[64 ribu untuk seminggu? Kamu membuat kami seakan-akan telah memperlakukanmu dengan buruk!]

[Kami memberimu biaya hidup, bahkan membukakan kartu kredit tambahan untukmu. Mahasiswi mana lagi yang hidupnya senyaman dirimu?]

Dulu, ketika aku menanyakan hal itu pada mereka secara terpisah, mereka akan selalu saling lempar tanggung jawab.

Kali ini, aku langsung bertanya di obrolan grup.

[Oh ya? Terus, mana biaya hidupku? Dan mana kartu kreditnya?]

Obrolan grup sempat hening sesaat.

Ayahku segera mengirim pesan suara.

"Sudah kasih kamu uang, tapi masih saja buat onar di sini?"

"Pokoknya, kami sudah kasih uangnya. Salahmu sendiri menghabiskan semuanya, dan sekarang kamu malah menyalahkan orang tuamu?"

Aku masih ingin berdebat, tetapi kakakku keluar dan menasihatiku.

[Sudahlah, nggak perlu memperdebatkan masalah sepele.]

[40 juta itu kami berikan pada Natalia sebagai hadiah atas kerja kerasnya dalam Latihan Dasar Kepemimpinan, dan penghargaan Siswa Berprestasi yang diraihnya. Itu sebabnya, kami ingin dia pergi bersantai selama liburan nanti.]

Teman masa kecilku, Andry, juga membujukku.

[Stefany, Om dan Tante selalu adil.]

[Kali ini, Natalia dapat hadiah karena dia menjadi siswa berprestasi. Kelak kalau kamu punya prestasi, mereka pasti akan beri kamu hadiah juga.]

Ibuku langsung menimpali.

[Benar, kapan kami pernah pilih kasih?]

[Kalau kamu dapat penghargaan Siswa Berprestasi, Ibu juga akan kasih kamu hadiah.]

[Tapi jelas-jelas kamu nggak dapat!]

Kata-katanya dirangkai dengan begitu indah.

Namun, dia sepertinya lupa kalau aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan.

Sebelum semester dimulai, orang tua kami yang katanya 'tidak pilih kasih' itu mendaftarkan Natalia dan aku ke kursus mengemudi.

Hanya saja, biaya kursus mengemudi yang diambil Natalia sebesar sembilan juta.

Sebaliknya, biaya kursusku hanya satu juta.

Mobil-mobil milik kursus mengemudiku sudah usang dan reyot, seolah-olah akan hancur kapan saja.

Saat ketiga kali naik mobil, rem tiba-tiba blong, dan bagian depan mobil hampir menabrak tembok.

Kaki kananku patah di tempat kejadian.

Gipsnya bahkan masih belum dibuka ketika kampus dibuka kembali.

Yang lebih menggelikan lagi, karena biaya pengobatanku menghabiskan 10 juta, orang tuaku malah menebus Natalia 10 juta agar dianggap 'adil'.

Keempat transfer yang dikirim Natalia dikembalikan oleh mereka.

Andry turun tangan untuk meredakan situasi.

[Begini saja.]

[Biar Natalia simpan uang itu dulu, terus suruh dia traktir kita makan malam untuk merayakannya. Dengan begitu, anggap saja masalah ini telah berlalu, oke?]

Aku mulanya tidak ingin ikut.

Namun, teringat diriku yang hanya makan sayur selama lebih dari seminggu ini, aku berpikir bahwa Natalia pasti akan mentraktir makan malam mewah di restoran kelas atas.

Jadi, aku dengan tidak tahu malu membalas.

[Oke.]

Keesokan harinya, aku sengaja melewatkan makan siang.

Mengingat ini bukan hanya memungkinkanku untuk makan lebih banyak di malam hari, tetapi juga menghemat biaya makan, aku diam-diam merasa senang.

Ketika tiba di restoran, kakakku dan Andry sudah ada di sana.

Mereka masing-masing memegang kotak hadiah yang dikemas dengan sangat indah.

Mata Natalia berbinar saat membuka hadiah itu.

"Kak, dari mana kamu tahu aku suka ini?"

"Andry, ini sudah lama masuk dalam daftar keinginanku!"

Aku duduk diam di samping, dengan penuh harap menantikan makan malam. Namun, Andry tiba-tiba memanggilku.

"Stefany, Teddy dan aku tadinya mau masing-masing belikan hadiah untuk kalian, tapi karena nggak berunding, kami nggak sengaja membelikan semua hadiah untuk Natalia."

"Lain kali baru beli kasih kamu, ya?"

Dulu juga seperti ini.

Selalu mengatakan mereka tidak berunding, dan semua hadiah berakhir dibeli untuk Natalia.

Awalnya, aku masih percaya mereka tidak berunding sebelumnya.

Setelah terulang berkali-kali, aku akhirnya mengerti.

Sama seperti biaya hidup dan kartu kredit tambahan, tidak ada seorang pun yang berniat memberikannya padaku.

Aku mengangguk.

"Ya."

Toh, aku tidak menginginkan hadiah apa pun saat ini.

Aku hanya ingin makan saja.

Tak lama kemudian, daging panggang disajikan.

Aku menelan ludah, bersiap mengambil sepotong daging panggang, dan menikmatinya dengan lahap.

Andry justru angkat bicara di saat ini, dan merusak suasana sekali lagi.

"Oh ya, nanti kita berempat bagi tagihannya saja."

"Makanan di sini nggak murah, dan Natalia paling muda di sini, mana mungkin kita biarkan dia yang bayar?"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 10

    Setelah kembali ke kampus, aku memfokuskan seluruh energiku kembali pada fisika.Akun media sosialku masih diperbarui, tetapi frekuensinya lebih jarang.Para penggemar mendesakku untuk memberikan kabar terbaru, jadi aku menggunggah foto laboratorium.[Belakangan ini sibuk dengan sebuah proyek, jadi nggak bisa sering-sering unggah video lagi.]Kotak masukku penuh dengan permintaan kolaborasi bisnis, tetapi aku hanya menerima beberapa yang sesuai.Aku menghabiskan sebagian besar waktuku di laboratorium, bekerja dengan para profesor mengolah data dan mempersiapkan diri untuk mendaftar studi lebih lanjut.Ketika guru bertanya jalur mana yang ingin aku tempuh di masa depan, untuk pertama kalinya aku tidak ragu-ragu."Aku ingin melakukan penelitian."Di paruh hidup pertamaku, aku bekerja mati-matian untuk mendapatkan uang agar bisa bertahan hidup.Sekarang, akhirnya aku memiliki kepercayaan diri untuk hidup mengikuti kata hatiku sendiri.Namun, orang tuaku dan kakakku belum menyerah sepenuhn

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 9

    Ibuku menatap kosong ke layar untuk waktu lama sebelum akhirnya bisa bersuara kembali."Tapi melakukan penelitian sangat melelahkan."Ayahku juga mengerutkan kening. Wajahnya tampak tidak puas."Menghasilkan uang melalui media sosial memang lebih cepat, tapi penurunan popularitas akun juga cepat. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan kesempatan ini."Kakakku juga membujukku."Stefany, kami melakukan ini demi kamu juga. Jangan selalu berpikir buruk tentang keluargamu."Aku menatap mereka dan tiba-tiba tersenyum."Bagiku, menjadi putri kalian lebih menyakitkan daripada melakukan penelitian."Begitu kata-kata itu dilontarkan, ekspresi mereka semua langsung berubah.Aku tidak melihat mereka lagi, dan mendorong koperku keluar dari bandara.Namun, begitu sampai di pintu, Andry mengejarku dari belakang dan menghalangi jalanku."Stefany, aku nggak sama dengan mereka.""Mereka datang ke sini demi akun media sosialmu, tapi aku datang ke sini demi kamu."Aku berhenti dan menatap waj

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 8

    Saat program pertukaran mahasiswa selama setahun hampir berakhir, koperku jauh lebih berat daripada saat aku baru tiba.Di dalamnya terdapat album kenangan dari laboratorium, surat rekomendasi yang ditulis oleh profesor, dan undangan untuk proyek penelitian yang baru saja kuterima.Akun media sosialku telah melampaui satu juta pengikut, dan pendapatan iklan telah mencapai angka yang mencengangkan.Pesawat mendarat pada malam hari di hari kepulanganku.Saat aku mendorong koperku keluar dari gerbang kedatangan, mataku langsung menangkap empat sosok yang berdiri di tengah kerumunan.Ibuku memegang buket bunga yang besar.Ayahku membawa kotak hadiah.Ada beberapa tas belanja diletakkan di samping kakakku, dan Andry juga membawa banyak barang.Ibuku lebih dulu menghampiriku, dan menyelipkan bunga itu ke pelukanku."Stefany, kamu kurusan, tapi juga jadi cantik."Aku melirik ke bawah.Itu mawar merah muda kesukaan Natalia.Aku tidak mengambilnya, dan hanya berkata, "Aku alergi terhadap serbuk

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 7

    Beberapa bulan berlalu dengan cepat.Di luar dugaan, aku bisa beradaptasi dengan cepat.Saat baru mengikuti kelas, aku tidak begitu memahami banyak istilah teknis, jadi aku harus meninjau materi terlebih dahulu dan mendengarkan rekaman kelas berulang kali hingga larut malam.Suatu kali di kelas fisika, profesor menuliskan rumus-rumus di seluruh papan tulis dan kemudian berbalik untuk bertanya apa ada yang bisa menyimpulkan langkah terakhirnya.Ruang kelas hening selama beberapa detik.Aku mengangkat tangan dan menjawab dengan bahasa Ingis yang terbata-bata. Dia menatapku, lalu tertawa."Stefany, tetaplah di sini usai kelas."Setelah kelas berakhir, dia menyerahkan formulir lamaran asisten laboratorium kepadaku."Penyimpulanmu tentang rumus sangat bagus. Apa kamu tertarik untuk bekerja di laboratoriumku?"Hatiku kegirangan, tetapi aku berpura-pura tenang dan mengangguk."Aku tertarik."Beasiswa dan tunjangan laboratorium disetujui dengan cepat.Namun, biaya hidup di luar negeri sangat t

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 6

    Tidak perlu menjawab pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.Karena orang yang mengajukan pertanyaan ini mungkin sudah memiliki jawaban di dalam hatinya.Jadi, aku langsung menutup telepon.Tak lama kemudian, Andry mengirim pesan.[Aku sudah tanya. Ternyata kamu sungguh nggak menerima sepeser pun.]Tak lama kemudian, pesan dari Natalia juga masuk.[Apa yang kamu katakan pada Kak Andry?][Dia tadi marah besar. Padahal, semua orang keluar untuk bersenang-senang, tapi sekarang semuanya telah rusak gara-gara kamu.]Tak lama kemudian, ibuku juga menanyaiku.[Stefany, kenapa kamu begitu nggak pengertian?][Mentang-mentang kamu di luar negeri sekarang, kamu pun membuat kekacauan seperti itu di rumah?]Kakakku tidak pernah sabar denganku, jadi dia langsung mengirimiku pesan suara.Setelah mengkliknya, aku mendengar suara tertahannya keluar."Stefany, kamu hebat ya sekarang.""Andry barusan mengamuk. Dia ngotot ingin memeriksa aplikasi bank-ku, dan bahkan ingin meminta riwayat transaksi pada

  • Porsi Cinta yang Berbeda   Bab 5

    Saat pesawat mendarat, waktu sudah menunjukkan pagi di luar negeri.Setelah melewati imigrasi bersama guru, aku menempuh perjalanan bus selama satu jam menuju kampus sebelum akhirnya aku punya waktu untuk menyalakan ponselku.Puluhan pesan yang belum dibaca menumpuk di obrolan grup keluarga.Dimulai dari pesan dari kakakku.[Stefany, bukankah keretamu sudah sampai sejak lama?]Beberapa menit kemudian, dia bertanya lagi: [Resepsionis hotel bilang mereka nggak melihatmu. Kamu kabur ke mana lagi?]Pesan dari Andry menyusul tak lama kemudian.[Stefany, jangan marah-marah lagi. Semua orang menunggumu makan. Jangan merusak suasana.]Orang tuaku keluar satu per satu.[Adikmu mengkhawatirkanmu sepanjang perjalanan. Jangan membuatnya khawatir.][Kita semua satu keluarga, kenapa nggak bisa dibicarakan baik-baik?]Aku yang membaca pesan-pesan itu, mendadak merasa sangat lelah.Seolah-olah rasa kantuk akibat lebih dari sepuluh jam di pesawat telah hilang sepenuhnya di saat ini.Aku bersandar di pi

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status