LOGINSagara memarkir mobilnya di basement apartemen. Dengan langkah mantap, dia menuju lift dan menekan tombol lantai apartemennya. Dalam pikirannya, ada banyak hal yang berkecamuk, terutama tentang rahasia yang harus dia simpan rapat-rapat.
Begitu pintu apartemen terbuka, suasana sunyi menyambutnya. Namun, suara televisi yang samar terdengar dari ruang tamu segera menarik perhatiannya. Dia berjalan pelan menuju sofa dan melihat sosok Qaiyara tergeletak dengan gaya tidur yang tidak beraturan. Satu kaki menggantung di sisi sofa, tangan memeluk bantal, dan rambutnya menutupi sebagian wajah. Di layar televisi, kartun kesukaannya, Tom and Jerry, masih beraksi dengan suara nyaring. Sagara hanya bisa menghela napas. “Kamu ini lebih kayak anak kecil daripada mahasiswa.” Namun, saat memperhatikan wajah Qaiyara yang tertidur lelap, perasaan iba menyelimutinya. Ia teringat kondisi orang tua Qaiyara. Gadis itu terlihat begitu riang setiap hari, tapi Sagara tahu jika suatu saat dia tahu tentang kenyataan itu, senyumnya mungkin akan memudar. “Tolong tetap seperti ini,” gumamnya pelan. “Jangan pernah kehilangan senyummu.” Sagara memasang ekspresi wajah datar, membungkuk dan menyentuh bahu Qaiyara. “Bangun. Katanya laper, nih saya bawain sesuatu.” Qaiyara mengerjap-ngerjapkan matanya. "Hah? Udah pagi, ya? Saya siap-siap dulu..." ucapnya setengah sadar sambil mencoba berdiri. “Pagi apanya? Ini baru jam delapan malam,” balas Sagara sambil meletakkan kantong kresek di atas meja. Sagara melonggarkan dasinya dengan satu tangan, membuat Qaiyara yang baru sepenuhnya sadar menatapnya dengan bingung. "Kok... kayak adegan di drama Korea, sih?" pikirnya sambil menelan ludah. Dia mengamati Sagara dengan intens, mulai dari lengan kemeja yang tergulung rapi hingga cara dia mengusap lehernya yang tampak lelah. Bahkan aroma maskulin samar dari tubuh Sagara membuat Qaiyara tertegun. Sagara menyadari tatapan itu. “Kenapa ngelihatin saya kayak saya ngutang duit?” Qaiyara langsung tersentak. “Nggak! Nggak! Saya cuma... lapar. Iya, lapar banget.” Sagara menghela napas dan menunjuk kantong kresek di atas meja. "Itu buat kamu. Makan sebelum dingin." Setelah berkata begitu, Sagara berlalu menuju kamar tanpa menoleh lagi. Namun, kepala Qaiyara secara refleks mengikuti gerakannya sampai dia menghilang di balik pintu kamar. Setelah sadar apa yang baru saja dia lakukan, Qaiyara langsung menggelengkan kepala. “Apa-apaan, sih, Qai? Lo gila, ya?! Jangan halu, deh!” gumamnya sambil menampar pipinya pelan. Qaiyara beralih ke kantong kresek dengan rasa penasaran. Dengan cepat dia membuka isinya. Sebuah kotak makanan dengan aroma nasi goreng yang menggoda menguar. Ketika dia membuka kotaknya, matanya membulat. “Nasi goreng spesial... dengan dua telur?! Telur mata sapi dan telur rebus?” Dia mengamati lebih dekat, bahkan membelah telur rebus itu dengan hati-hati. Kuning telur matang sempurna, tidak terlalu keras atau terlalu lembek. Dia tersentak. “Dari mana dia tahu aku suka kayak gini? Bahkan dengan tambahan extra kerupuk.” Dengan penuh semangat, Qaiyara mulai makan. Tapi rasa penasaran terus menggelitik pikirannya. “Jangan-jangan dia sebenarnya stalker? Atau... mungkin dia diam-diam suka sama aku?” pikirnya sambil menyuapkan nasi ke mulut. Dengan cepat Qaiyara menghalau pikirannya tersebut, “Mana mungkin, cowok dingin kek kulkas empat pintu itu sukanya si Karin itu. Pasti!” Tiba-tiba dia terbatuk karena kerupuknya tersangkut di tenggorokan. Sagara yang mendengar batuk itu keluar dari kamar dengan ekspresi datar. “Kamu kenapa?” “Ke... ke... kelepasan nikmat, Pak!” jawab Qaiyara sambil terengah-engah. Sagara mengernyitkan dahi. "Kelepasan nikmat? Kamu tuh makan atau maraton?” Qaiyara hanya tertawa gugup sambil meletakkan kotak makanannya diatas meja. “Nggak. Makasih buat makanannya. Rasanya... enak banget.” Sagara hanya mengangguk, dan kembali masuk ke kamarnya. “Makannya pelan-pelan aja, nggak bakalan ada yang mau rebut makananmu!” Meskipun Sagara sudah masuk ke dalam kamar, Qaiyara menganggukkan kepalanya. “Saya terbaru, deh! Mas Dosen tahu menu kesukaan saya,” ujar Qaiyara. Sagara yang hendak menutup pintu kamarnya, masih bisa mendengar ucapan Qaiyara, ia menggeleng sambil menyunggingkan senyuman tipis. “Kamu gampang banget terharu. Hidup kamu pasti penuh plot twist, nggak bisa ketebak.” * * * Setelah makan, Qaiyara berbaring di sofa, kembali melanjutkan tontonan kartunnya. Tapi pikirannya terus saja melayang pada Sagara. Bagaimana mungkin pria itu tahu makanan kesukaannya sedetail itu. Saat dia merenung, pintu kamar Sagara terbuka lagi. Pria itu keluar dengan membawa buku tebal. "Kalau kamu mau tidur, matikan TV-nya. Kasihan tv-nya, butuh istirahat juga." Qaiyara meliriknya dari sofa. “Bilang aja, nantinya boros listrik, 'kan? Nggak usah takut, Mas Dosen, nanti saya yang bayar deh kalau uang bulanan saya udah masuk.” “Masuk kemana? Rekening saja kamu tidak punya,” balas Sagara tanpa ekspresi. Qaiyara mendengus. “Langsung diuangkan aja, Mas. Saya ini udah kere total, udah nggak punya duit sepeserpun. Mau minta ama orang tua, malu. Takutnya, mereka kira, kamu nggak mampu menafkahi anak mereka yang cantik ini.” Sagara terdiam, berpikir sejenak, lalu berkata, “Hmm... Setelah saya pikir-pikir lagi, kamu masih kecil untuk memegang uang bulanan sebanyak itu. Takutnya, nanti kamu malah salah gunakan uang itu, jadi, untuk uang belanja kebutuhan dalam rumah, saya yang akan mengaturnya. Begitu juga dengan uang jajanmu sehari-hari, saya yang akan mengaturnya, biar kamu nggak boros. Itung-itung, kamu belajar menabung.” Mendengar ucapan Sagara, mata Qaiyara membelalak dalam seketika. “Ngak bisa gitu, dong, Pak! Apa yang Anda ucapkan tadi, nggak tertulis dalam kontrak, saya nggak terima. Saya mau pegang uang bulanan saya sendiri. Gimana kalau saya harus membeli kebutuhan pribadi saya yang sangat-sangat pribadi? Masa iya harus laporan dulu ama Bapak!” protes Qaiyara yang berapi-api. Sementara itu, Sagara tampak tetap tenang, ia menyunggingkan senyumnya. “Kamu lupa, Qai? Bahwa saya adalah peraturan mutlak dalam kontrak itu!” seru Sagara mengingatkan. Qaiyara mendengus kesal. “Itu peraturan gila, dan nggak adil buat pihak istri,” ujar Qaiyara dengan nada kesal, “Mendingan, Bapak ceraiin saya sekarang juga!” pinta Qaiyara. Dengan santainya, Sagara melipat tangannya di depan dadanya, menggelengkan kepalanya serta memejamkan matanya untuk sesaat. “Minta cerai sebelum waktunya, harus membayar denda 1M. Sanggup?” Mata Qaiyara membelalak sempurna, seakan ingin keluar dari tempatnya. “Fix, ini terlalu gila!” ujar Qaiyara sambil menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir dengan semua itu. “Ikuti saja alurnya, Qai. Kamu nggak akan rugi, kok! Itung-itung, mengurangi beban orang tuamu, kamu nggak kasihan apa, ama orang tuamu yang harus membiayai pendidikanmu? Apalagi harus serumah dengan kamu yang tingkatnya nggak ada bedanya dengan anak kecil.” Dalam hati, Qaiyara membenarkan apa yang dikatakan suaminya itu, selama ini ia terlihat bermanja-manja, sehingga lupa sampai membebani kedua orang tuanya. “Mendingan kamu pikirkan lagi tentang keputusanmu itu!” seru Sagara sambil melangkah kembali masuk ke dalam kamarnya. “Cih, keluar kamar cuma mau bilang itu? Mana nggak ada senyum-senyumnya, seremin tau!” celetuk Qaiyara dengan sedikit berteriak agar Sagara dapat mendengarnya. Sagara menoleh, menatapnya sebentar sebelum menjawab. "Kalau saya senyum, dunia ini bakal terlalu terang buat kamu." Qaiyara melongo mendengar jawabannya. “Wah, narsis maksimal! Udah lah, saya mau tidur aja. Malas ngeladenin cowok narsis seperti Anda.” Dia mengambil bantal dari sofa dan mendekati Sagara yang berdiri di ambang pintu kamarnya, lalu melempar bantal itu ke wajah Sagara sebelum buru-buru kabur ke kamarnya. Dari balik pintu, dia mendengar erangan Sagara yang seperti berusaha menahan rasa kesalnya membuat jantungnya berdebar. * * * Di dalam kamar, Sagara duduk di meja kerjanya sambil membuka laptop. Namun, pikirannya terus melayang pada rahasia yang harus dia simpan. Dia teringat tatapan penuh kasih Bu Megan di rumah sakit dan bagaimana Pak Haris memintanya untuk menjaga Qaiyara tetap ceria. "Bagaimana aku bisa merahasiakan ini dari dia? Cepat atau lambat, dia pasti tahu," gumamnya. * * * Pagi ini, Qaiyara bangun seperti biasanya, saat hendak ke dapur untuk membuat sarapan, ia baru teringat, bahwa tak ada satupun stok makanan di dalam kulkas. Qaiyara mendengus kesal, dan beranjak pergi dari dapur. “Emang, bener ya. Rumah segede ini isinya udara, doang!” Ia segera ke kamar Sagara, mengetuknya berulangkali sampai pemilik kamar itu membuka pintu kamarnya. “Apasih, sepagi ini kamu udah buat keributan?” protes Sagara dengan muka yang masih acak-acakan, sepertinya ia baru saja bangun dari tidurnya. Qaiyara berkacak pinggang, dan berkata, “Sepagi ini? Ini udah mau jam delapan, Mas Dosen! Giliran saya aja yang terlambat dua menit doang, kaga diizinin masuk kelas. Enak banget ya jadi dosen!” gerutunya. Sagara berdiri tepat di ambang pintu, dengan satu tangan yang bersandar di pintu. “Makanya, sekolah yang bener! Biar bisa rasain betapa enaknya jadi seperti saya!” “Udah ah, kalau kamu nggak punya kepentingan, buruan ke ke kampus sana. Ntar telat lagi!” seru Sagara sambil menutup pintunya. Sebelum pintu itu benar-benar tertutup, Qaiyara segera menahannya. “Mas, minta duit!” pinta Qaiyara sambil menengadahkan kedua tangannya. “Ntar di kampus sekalian, saya belum tarik tunai, nggak punya Chas sama sekali.” Qaiyara melipat tangannya di depan dadanya, mengerucutkan bibirnya. “Masa iya, saya ke kampus jalan kaki, mana belum sarapan. Gimana kalau tiba-tiba saya jatuh pingsan di jalan?” ujar Qaiyara dengan memasang wajah memelas. Sagara menarik napasnya dalam-dalam, kemudian masuk ke dalam kamar dan tak lama kemudian kembali dengan membawa sebuah kartu berwarna hitam di tangannya. “Nih, uang nafkah buat kamu. Pakai seperlunya aja, Pin-nya bulan dan tanggal lahir saya,” beber Sagara sebelum Qaiyara memintanya, kemudian ia kembali masuk dan menutup pintunya. “Eh, tapi...,” belum selesai Qaiyara berucap, pintu sudah tertutup dengan rapat. “Mana gue tahu bulan dan tanggal lahirnya, dia pikir gue ini dukun kali ya? Atau dia pikir, dia itu seterkenal itu sampai orang lain tahu bulan dan tanggal lahirnya?!” gerutu Qaiyara, memutuskan untuk segera ke kampus dengan mencari data pribadi Sagara melalui ponselnya. Di perjalanan, Qaiyara tampak sibuk dengan ponselnya. “Duh, ribet banget, deh!” gerutu Qaiyara sambil mengotak-atik ponselnya, mencari biodata suaminya itu di forum kampus. Tiba-tiba, langkah Qaiyara terhenti saat mengingat sesuatu. “Ah, si Alina pasti tahu!” gumamnya saat mengingat bahwa temannya itu merupakan fangirl dosen dingin tersebut. Ia segera mengirimkan pesan pada Alina, menanyakan tanggal lahir dosen sekaligus suaminya itu. ALINA : “Ngapain lu nanyain tanggal lahir Pak Sagara? Lu mau pake jalur cepat? Lu mau pelet pak Sagara?” Begitulah balasan pesan yang Qaiyara dapatkan dari Alina. QAIYARA : “Udah, buruan. Ntar gue traktir, deh!” ALINA : “06-05-1996” “Buset, tua juga ya laki gue!” gumam Qaiyara. Ia segera menahan taxi, mampir ke tempat penarikan tarik tunai, kemudian bergegas ke kampus. “Good morning everyone!” sapa Qaiyara begitu sampai di kampus dan langsung menemui kedua sahabatnya yang pastinya, kalau bukan di kantin, ya di taman depan fakultas. “Buset, lu ngagetin aja, deh!” gerutu Alina. “Nah, ini dia orangnya. Lu ngapain tanyain tanggal lahir pak Sagara? Lu mau pelet dia?” tanya Dion yang belum memberikan waktu pada Qaiyara untuk duduk terlebih dulu. “Bahas itu nanti dulu, ya. Mendingan kita ke kantin, gue traktir!” “Seriusan?” tanya Alina dan diangguki Qaiyara. Dion mengusap kasar wajah Alina, “Ye... Giliran ditraktir aja, lupa Ama rasa penasarannya yang sedari tadi menggebu-gebu!” cibir Dion. “Perut nomor satu, Bro!” Kedua perempuan itu segera menuju kantin, meninggalkan Dion yang masih asik duduk di sana. Mau tak mau, Dion beranjak dari duduknya dan menyusul langkah kedua perempuan tersebut. “Buat kalian semua yang ada di sini, pesan aja semau kalian. Gue yang bayarin!” teriak Qaiyara yang naik diatas kursi untuk memberikan pengumuman. “YEY!!!” riuh tepuk tangan memenuhi kantin tersebut. “Gue liat-liat, banyak duit lu hari ini. Bapak lu abis jual tanah?” tanya Dion penasaran, dan diangguki oleh Alina yang juga penasaran. Belum sempat Qaiyara memberikan jawabannya, mata Alina terbelalak sempurna. “Apa jangan-jangan, lu jadi sugar baby-nya Pak Sagara?” Mendengar ucapan Alina dengan nada yang sedikit dengan teriakan, membuat beberapa orang di kampus itu menoleh ke arah mereka, terutama Qaiyara. Mata Qaiyara membulat, menepis tangan Alina. “Heh, lu kalau ngomong kaga pernah difilter, deh!” Dion mengangguk, “Ho'oh, jangan kek gitulah. Masa iya Qaiyara gue jadi baby sitter-nya si Sagara.” Dion berusaha membela Qaiyara. Namun, sayangnya, semua orang di kantin itu langsung tertawa lepas begitu mendengar ucapan Dion. “Sugar baby, Ege! Bukan, Baby sitter!” * * * Siang itu, setelah tak ada kelas lagi, Qaiyara memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Ia menolak ajakan nongkrong dari kedua sahabatnya itu, yang berakhir Dion dan Alina pergi berdua saja. Qaiyara yang masih di area fakultas, mengeluarkan ponselnya untuk meminta izin pada Sagara via W******p. QAIYARA : “Pak Dosen yang terhormat! Saya mohon izin untuk ke rumah orang tau saya. Pesan singkat ini saya akhiri, sekian dan terimakasih!” Sagara yang tengah memberikan materi di kelas siangnya, seketika terkejut kala membaca pesan tersebut. Dengan cepat ia mengetikkan balasannya, sambil mengemas barang-barangnya. SAGARA : “Sekarang kamu di mana?” QAIYARA : “Taman depan fakultas. Boleh, nggak nih?!” Sagara mengakhiri mata kuliahnya hari ini secara tiba-tiba, memberikan tugas pada para mahasiswanya. Ia keluar dengan langkah cepat, terburu-buru menuju parkiran dosen yang untungnya berdekatan dengan taman fakultas. Melihat Qaiyara yang hendak meninggalkan tempat itu, Sagara berlari dan langsung menarik tangan Qaiyara, membawanya masuk ke dalam mobilnya. Adegan itu tak luput dari pandangan mahasiswa lainnya, meninggalkan rasa penasaran yang mendalam dibenak mereka. Mahasiswa-mahasiswi itu mulai bercerita tentang hal tersebut, mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi antara Qaiyara dan Sagara. Di dalam mobil, Qaiyara yang masih terkejut dengan tindakan Sagara yang secara tiba-tiba, menoleh dan protes pada suaminya itu. “Ih, apaan sih, Pak!”“Udah, nggak usah kebanyakan drama.”Sagara dengan wajah datarnya, beranjak dari sofa dan berjalan menuju ranjangnya, sambil menatap Qaiyara yang bergelung di balik selimut.“Turun,” ucapnya pendek.Qaiyara memeluk bantal lebih erat. “Enggak.”“Qaiyara.” Nada suaranya mulai tegas.“Mas Sagara.” Nada Qaiyara tak kalah menantang.“Ini ranjang saya.”“Tapi ini istri kamu,” balas Qaiyara sambil menunjuk dirinya sendiri, lalu tersenyum puas.Sagara memijat pelipisnya. “Kamu tidur di sofa.”“Enggak mau. Saya udah capek, rela batalin ke rumah orang tua saya, buat ngucapin ulang tahun buat mama kamu. Sekarang, gantian dong kamu yang ngalah. Kamu tidur di sofa.”Sagara berpikir sejenak. Kalau dia terus berdebat, Qaiyara pasti akan minta pulang. Dengan menghela napas panjang, dia akhirnya menyerah.“Baik. Kamu menang.”Qaiyara tersenyum lebar. “Bagus. Saya memang selalu menang.”Sagara berbalik menuju sofa, sambil menggumam, “Kalau saya tahu begini, saya bakal cari alasan lain!” ia mendengus ke
“Pak, kenapa saya ditarik kayak mau diculik? Ini kampus, lho, semua orang ngelihat!” protes Qaiyara sambil melipat tangan di dada.Sagara tidak memberikan jawaban, ia masih bingung harus beralasan apa agar Qaiyara tidak ke rumah orang tuanya saat ini, sebab Bu Megan masih di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.Melihat Sagara yang tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya, Qaiyara berniat untuk keluar dari mobil, ketika ia mencoba membuka pintu mobil, Sagara dengan sigap mengunci pintu otomatis.Berulangkali Qaiyara mencoba untuk membuka pintu mobil, namun hasilnya tetap sama, tak bisa untuk dibuka. Ia menoleh dengan kesal ke arah suaminya itu. “Pak Dosen yang terhormat, mohon izinkan saya untuk keluar! Kalau nggak, saya akan bawa kasus ini ke meja hijau, kasus penculikan!” ancam Qaiyara.“Silahkan, laporankan saja!” seru Sagara penuh tantangan. “Saya penasaran, bagaimana media akan meluncurkan berita, 'Seorang perempuan diculik oleh suaminya sendiri'?” gumam Sagara denga
Sagara memarkir mobilnya di basement apartemen. Dengan langkah mantap, dia menuju lift dan menekan tombol lantai apartemennya. Dalam pikirannya, ada banyak hal yang berkecamuk, terutama tentang rahasia yang harus dia simpan rapat-rapat.Begitu pintu apartemen terbuka, suasana sunyi menyambutnya. Namun, suara televisi yang samar terdengar dari ruang tamu segera menarik perhatiannya.Dia berjalan pelan menuju sofa dan melihat sosok Qaiyara tergeletak dengan gaya tidur yang tidak beraturan. Satu kaki menggantung di sisi sofa, tangan memeluk bantal, dan rambutnya menutupi sebagian wajah. Di layar televisi, kartun kesukaannya, Tom and Jerry, masih beraksi dengan suara nyaring.Sagara hanya bisa menghela napas. “Kamu ini lebih kayak anak kecil daripada mahasiswa.”Namun, saat memperhatikan wajah Qaiyara yang tertidur lelap, perasaan iba menyelimutinya. Ia teringat kondisi orang tua Qaiyara. Gadis itu terlihat begitu riang setiap hari, tapi Sagara tahu jika suatu saat dia tahu tentang kenyat
Sagara sudah lebih dulu tiba di kelas. Duduk dengan tenang di depan, ia membuka laptopnya sambil memeriksa beberapa dokumen. Kelas sudah ramai, hanya ada beberapa kursi yang masih kosong, tetapi Sagara memperdulikannya. Ketika suasana begitu damai, suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat dari koridor. "Yar, tungguin kita dong!!" teriak Alina. “Cepat, kita udah telat nih!” Qaiyara berteriak, berhenti sejenak untuk menunggu kedatangan sahabatnya itu, lalu ia langsung menarik tangan Dion dan Alina yang hampir kehabisan napas. “Yar, kalau kita mati di perjalanan ini, kamu yang tanggung jawab!” keluh Dion, napasnya tersengal. “Lebih baik mati karena lari daripada mati karena dimarahi Dosen killer itu!” sahut Qaiyara tanpa ragu. Namun, tepat ketika mereka sampai di pintu kelas, suara Sagara yang dingin dan tegas menghentikan langkah mereka. “Stop.” Ketiganya langsung berhenti seperti robot yang kehabisan daya. Qaiyara, Dion, dan Alina menatap Sagara yang sudah berdiri di sana dengan
Mendengar ucapan Qaiyara, Bu Mirna, Pak Abas dan Ardan tahu bahwa itu hanyalah sebuah candaan semata, dan ketiganya tertawa mendengar candaan tersebut. Lain halnya dengan Sagara dan Manda, Sagara terus fokus pada makanannya, sementara Manda menjentikkan matanya, melihat suami dan kedua orang tuanya yang tertawa dengan tatapan penuh ketidaksukaan."Ternyata kamu selucu itu, ya?!" puji Bu Mirna.Qaiyara hanya tersenyum, memasang wajah polosnya. Mendengar pujian tersebut, Manda memutar mata jengahnya, melirik sinis pada Qaiyara.Setelah makan malam, Manda langsung masuk ke kamarnya. Sementara itu, Bu Mirna menatap Qaiyara dan Sagara dengan senyum lebar. “Kalian nggak usah pulang malam-malam begini. Nginep aja di sini, lagian kamar Sagara masih ada kok.”Qaiyara yang sedang minum hampir tersedak mendengar itu. “Ng-nggak perlu, Mah! Kami bisa pulang. Lagian, kan deket,” katanya cepat.“Deket apanya? Dari sini ke apartemen kalian itu lumayan jauh, lho,” balas Bu Mirna sambil melipat tangan.
Di kamarnya, Sagara belum tertidur karena masih larut dalam pikirannya, ia tengah melamun di balkon, dengan ditemani angin sepoi-sepoi malam itu.Saat asik memandangi gelapnya langit malam yang dihiasi bulan dan bintang, sebuah notifikasi pesan masuk mampu membuyarkan lamunan Saga. Kali ini, pesannya singkat tapi membuat Sagara makin gelisah.ARGA : “Karin bilang, dia mau ketemu elu begitu sampai di Indonesia.”Saga menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Tampak, Sagara menyentuh lehernya, dan berdehem berulang kali, rasanya lehernya sangat kering.Ia segera beranjak dari duduknya dan keluar kamar untuk mengambil segelas air. Namun, baru saja melangkah keluar, ia melihat tv yang masih menampilkan kartun."Dasar bocah!!" gumam Sagara, menghiraukan hal itu dan segera ke dapur untuk membasahi tenggorokannya dengan segelas air.Setelah kembali dari dapur, Sagara melangkahkan kakinya ke ruang tengah untuk menyuruh Qaiyara agar segera tidur, melatih perempuan itu untuk tidur lebih aw







