Compartir

Pertemuan Mendadak

Autor: Chili Cemcem
last update Fecha de publicación: 2026-02-26 23:33:51
​"Oalah! Pak Gunawan yang itu!" Adam menepuk jidatnya, berakting seolah baru ingat. "Aduh, padahal aku sudah bilang nggak usah repot-repot. Aku cuma benerin pipa sedikit kok, eh malah dikasih alat pijat mahal begitu. Orang-orang itu memang baik sekali ya, Are."

​Areta mengembuskan napas panjang. Rasa cemburunya menguap, digantikan oleh rasa sedikit bersalah karena sudah menuduh suaminya punya "donatur" wanita.

​"Lain kali kalau bantu orang itu cerita," gumam Areta sambil kembali ke meja poto
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pria Culun Itu Suamiku   Kejutan Manis

    Keesokan harinya, Areta memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Setelah menyelesaikan beberapa pesanan di butik, ia menggendong Arkadia dan menyiapkan kotak bekal berisi masakan rumah favorit Adam.“Kita kasih kejutan buat Papa ya, Arkadia,” bisik Areta sambil mencium pipi gembul putranya.Areta memesan taksi online menuju gedung pencakar langit Rajawali Jaya Group.Begitu taksi online berhenti tepat di depan lobi utama gedung Rajawali Jaya, para petugas keamanan yang tadinya berdiri tegak langsung memberikan hormat paling takzim yang pernah Areta lihat. Mereka tidak menyapa dengan “Selamat siang, Bu,” melainkan dengan anggukan dalam seolah menyambut ratu yang pulang ke istananya.Areta melangkah masuk dengan tenang sembari menggendong Arkadia. Di lobi, Luna sudah menunggu dengan wajah sumringah.“Kak Areta! Akhirnya Pangeran Kecil mampir ke sini,” seru Luna riang. Ia langsung mengambil alih tas perlengkapan bayi Areta. “Tuan Adam ada di atas. Beliau baru saja menyelesai

  • Pria Culun Itu Suamiku   Baju Pengantin Luna

    Pagi ini, butik terasa lebih tenang. Setelah mengantar Areta ke butik, dan Arkadia ke rumah mama Veronica, Adam langsung berangkat ke kantor.Saat Areta sedang menyusun sketsa di meja kerjanya, pintu butik terbuka. Luna melangkah masuk dengan senyum formal yang biasa ia tunjukkan di kantor pusat."Selamat pagi, Nyonya Areta," sapa Luna dengan takzim, membungkukkan kepalanya sedikit.Areta meletakkan pensilnya, lalu menatap Luna dengan senyum tipis yang penuh arti. "Luna, sudahlah. Berhenti memanggilku 'Nyonya' dengan nada sekaku itu. Kita sedang di butik, bukan di ruang rapat Rajawali Jaya."Luna sedikit tersentak, matanya membelalak kecil. "Jadi ... saya harus panggil apa, nyonya? Sis?” kekeh Luna.“Boleh. Kakak ... aku lebih suka. Aku ingin seorang adik perempuan. Kamu bukan hal yang buruk. Mau?”“Tentu, Nyonya. Eh ... maksud saya, Kakak Areta.”Areta mengangguk diiringi senyuman. “Luna, kudengar kamu ke sini bukan untuk urusan kantor pusat?"Luna tersenyum tulus, kali ini le

  • Pria Culun Itu Suamiku   Pengunduran Diri Luna

    Suasana di kantor pusat Rajawali Jaya terasa lebih tenang sore itu, namun tidak di meja kerja Luna. Wanita yang dikenal sebagai “tangan kanan” Adam yang paling tangguh itu kini hanya terduduk diam. Di hadapannya, sebuah amplop putih bersih terletak di atas meja marmer yang biasanya dipenuhi tumpukan berkas dan jadwal CEO.Selembar surat di dalamnya terasa begitu berat, meski hanya terdiri dari beberapa paragraf. Surat pengunduran diri.Luna menyentuh permukaan amplop itu dengan ujung jarinya. Menjadi sekretaris Adam bukan sekadar pekerjaan baginya, itu adalah identitasnya selama bertahun-tahun. Ia yang mengatur setiap detak napas perusahaan ini, ia yang menjadi tameng Adam di saat-saat tersulit, dan ia pula yang menjadi saksi bisu kembalinya cinta Adam dan Areta.“Apa aku benar-benar sanggup meninggalkan semua ini?” bisiknya pada keheningan ruangan.Namun, bayangan wajah Pierre seketika melintas di benaknya. Pierre, pria Paris dengan senyum santai dan selera humor yang mampu merunt

  • Pria Culun Itu Suamiku   Rumah Baru

    Suasana di ruang tengah yang tadinya ceria mendadak berubah haru ketika Adam dan Areta menyampaikan rencana kepindahan mereka. Mama Veronica yang sedang memangku Arkadia seketika mempererat pelukannya pada sang cucu, seolah takut malaikat kecil itu akan dibawa pergi detik itu juga.“Pindah? Secepat itu?” suara Veronica sedikit bergetar. Ia menatap Adam dan Areta bergantian dengan tatapan memohon.“Adam, Are ... apa tidak bisa ditunda sebentar lagi?” Veronica mulai melakukan negosiasi, matanya nampak berkaca-kaca. “Bagaimana kalau menunggu Arkadia bisa jalan dulu? Setidaknya sampai dia benar-benar lancar bicaranya. Dia masih terlalu kecil untuk pindah ke lingkungan baru.”Areta mendekat, duduk di samping ibunya dan mengelus lengannya lembut. “Ma, rumahnya tidak jauh kok. Hanya beda kecamatan saja.”“Tetap saja beda rumah, Areta!” potong Veronica cepat. “Begini saja, bagaimana kalau kalian saja yang menginap di rumah baru itu setiap akhir pekan? Seperti staycation. Mama sangat tidak

  • Pria Culun Itu Suamiku   Izin Ke Mertua

    Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden otomatis di kamar baru mereka. Areta perlahan membuka mata, merasakan kehangatan yang melingkupinya. Ia mendongak dan menemukan wajah Adam yang tampak begitu damai dalam tidurnya, sangat berbeda dengan sosok CEO yang dingin saat di kantor.Areta tersenyum manis, jemarinya hampir saja menyentuh rahang suaminya yang tegas. Namun, sedetik kemudian, kesadarannya pulih sepenuhnya. Ia melirik ke bawah selimut sutra mereka, teringat akan pergulatan manis semalam yang menjadi penutup sempurna hari pernikahan mereka.Wajahnya mendadak panas. Dengan gerakan panik yang kikuk, Areta menarik selimut lebih tinggi, menutupi hingga ke dagunya. "Duh, bagaimana ini ...," gumamnya gelisah, jantungnya berdegup kencang karena rasa malu yang tiba-tiba menyerang.Pergerakan Areta membuat Adam terusik. Pria itu menguap kecil, mengucek matanya dengan malas, lalu bukannya menjauh, ia justru melingkarkan lengannya di pinggang Areta dan menariknya

  • Pria Culun Itu Suamiku   Lupa Sesuatu

    Di dalam mobil yang melaju membelah keheningan malam, Adam tidak melepaskan genggaman tangannya dari Areta. Ia bisa merasakan jemari istrinya yang sedikit dingin dan gelisah—sebuah tanda bahwa separuh hati Areta masih tertinggal di kamar bayi tadi.“Dia akan baik-baik saja, Are,” bisik Adam lembut, seolah bisa membaca setiap kecemasan yang berputar di kepala istrinya. “Kamu adalah ibu yang luar biasa. Justru karena kamu ibu yang hebat, kamu berhak mendapatkan waktu untuk bernapas sejenak. Arkadia pasti bangga punya Mama yang bahagia.”Areta hanya tersenyum tipis, mencoba mengusir rasa bersalahnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Adam, merasakan detak jantung suaminya yang tenang dan stabil, hingga akhirnya mobil mulai melambat dan berbelok memasuki sebuah kawasan yang sangat asri.Kejutan di Balik GerbangMobil berhenti dengan perlahan. Adam tidak langsung membukakan pintu, ia membiarkan Areta melihat sendiri apa yang ada di depannya.“Kita sudah sampai,” ujar Adam lirih.Aret

  • Pria Culun Itu Suamiku   Kain Bentuk Hati

    Setelah pelanggan pengantin itu pulang dengan wajah puas, Areta mengembuskan napas panjang. Ia merasa lelah namun senang karena deposit awal sudah masuk ke rekening butiknya. Ia melangkah menuju meja jahit, bermaksud mengambil ponselnya di dalam tas untuk mengecek saldo.​Namun, saat jemarinya mero

  • Pria Culun Itu Suamiku   Pura Pura Jatuh

    Adam sedikit menegang melihat reaksi Areta terhadap email itu. Namun, tepat sebelum Areta sempat meminta KTP atau data dirinya untuk diinput ke sistem, ponsel di saku celana Adam bergetar pendek.​Adam melirik layar ponselnya di bawah meja. Sebuah pesan dari Luna masuk dengan sangat tepat waktu:​"

  • Pria Culun Itu Suamiku   Percayalah Padaku, Are

    ​"Salah? Itu luar biasa! Tapi Areta, dengarkan saya," suara Nyonya Dewi merendah, menjadi sangat serius. "Gaya potong dan detail teknis seperti itu adalah ciri khas dari departemen riset tekstil eksklusif milik Rajawali Jaya Group. Mereka hanya menggunakan teknik itu untuk pakaian pesanan khusus pa

  • Pria Culun Itu Suamiku   Kopi Tak Ampuh

    Areta sedikit membungkuk, melingkarkan pita ukur di sekeliling pinggang Adam yang ramping namun keras. Karena konsentrasi yang tinggi, wajahnya berada sangat dekat dengan perut Adam. Jemari Areta yang mungil agak kesulitan menarik ujung pita karena posisinya yang canggung. ​Tanpa sadar, Adam berge

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status