مشاركة

SMS Rahasia

مؤلف: Chili Cemcem
last update تاريخ النشر: 2025-12-04 01:36:22

“Episode baru terjerumus di neraka rumah penjahit kampung dimulai,” batin Areta, kakinya yang dibungkus sepatu bot mahal melangkah hati-hati di atas paving gang sempit itu.

Ia berjalan di belakang Adam. Bau masakan rumahan dan suara-suara tetangga langsung menyergap Areta. Pemandangan ini sangat kontras dengan kediaman mewahnya.

"Rumahmu ... apakah jauh dari sini?" tanya Areta, mencoba menahan nada jijik.

Adam menoleh ke belakang, kacamata tebalnya memantulkan jendela rumah tetangga. "Sudah sampai, Nona Areta."

Areta menatap bangunan di depannya. Sebuah rumah kecil, bersahaja, dengan pintu kayu dicat hijau tua. Bekas kos-kosan yang pernah ditempati papanya Areta.

Sebenarnya Areta pernah ke rumah itu, bukan hanya sekali. Tapi beberapa kali. Setiap hari besar. Dan Adam masih mengingat momen itu.

Gadis cilik gaya modis.

“Namaku Areta Nindiya Kusuma. Saat dewasa nanti, aku akan jadi model terkenal. Areta Niku. Kalau kamu mau minta tanda tanganku, sekarang saja. Nanti susah loh,” ucap Areta penuh percaya diri saat usia sepuluh tahun ketika ikut mama dan papanya bersilaturahmi ke rumah Adam saat kakeknya masih hidup.

Adam tersenyum mengingat momen itu. Kini, tanda tangan yang dimaksud tidak hanya tertera di kertas biasa, tetapi di buku nikah mereka berdua.

Adam membuka pintu. Di dalamnya, rumah itu kecil, tetapi mengejutkan. Lantai keramik putihnya mengkilap. Perabotan hanya sebuah sofa tua, televisi tabung, dan sebuah meja besar yang di atasnya teronggok mesin jahit industri yang kokoh.

"Selamat datang." Adam berujar. "Ini adalah ruang kerjaku dan ruang tamu. Ada beberapa kamar bekas kos-kosan yang tidak terpakai," lanjutnya.

Areta hanya berdiri kaku di ambang pintu, koper-kopernya yang bermerek memenuhi pintu masuk. "Aku butuh kamar. Dua kamar. Satu untukku, satu untuk ruang kerjaku."

"Sudah kusiapkan," Adam mengangguk santai. "Mari aku tunjukkan kamar utama."

Adam berjalan melewati dapur kecil yang juga bersih. Ia berhenti di depan pintu kayu paling ujung.

"Ini adalah kamar yang dulu ditempati papa Rajes Kusuma saat merintis usaha," kata Adam, suaranya mengandung sedikit nostalgia.

Areta terdiam, terkejut mendengar hubungan masa lalu itu.

Adam membuka pintu. Kamar itu kecil, tetapi bersih dari debu dan sarang laba-laba. Di dalamnya terdapat ranjang dengan lebar 140 cm dan lemari kayu yang terlihat tua, namun terawat.

"Lemari ini tua, tapi tidak ada rayap yang mengusiknya. Ranjangnya sudah kuganti," jelas Adam. "Aku harap cukup nyaman."

Areta memeriksa. Ranah kecil itu memang bersih. Jendelanya besar, menghadap ke halaman samping.

"Di luar itu, adalah tempatku menanam sayuran segar. Aku harap udaranya cukup bagus," Adam menambahkan.

Areta mencibir. "Sayuran segar di gang sempit. Lucu sekali."

"Kamar sebelah bisa kamu gunakan sebagai butik mini dan ruang kerja. Aku sudah memindahkan sisa-sisa barang ke gudang," lanjut Adam, menunjuk ke kamar di sampingnya.

Areta merasakan sentuhan aneh dari perhatian Adam.

Dia menyulap kamar bekas Papa hanya untukku?

"Aku butuh kamar mandi yang bersih. Dan jangan pernah, sekali lagi, jangan pernah masuk kamarku tanpa izin," desis Areta, kembali ke mode agresif.

"Aku mengerti," jawab Adam. "Kamar mandinya ada di sebelah dapur. Dan ini …."

Adam mengeluarkan kunci baru yang berkilauan.

"Kamar kamu memiliki kunci terpisah, Nona Areta. Aku menghargai privasimu sepenuhnya. Aku akan menunggu sampai kamu sendiri yang membuka pintu kamarmu untukku," Adam menyerahkan kunci itu.

“Gak akan pernah terjadi.” Areta membantah congkak.

Adam menanggapi dengan senyuman. Ia tampak santai. Lebih tepatnya, tampak sabar.

"Kamu bisa mengunci pintu ini dari dalam dan luar. Aku tidak akan pernah menyentuh pegangan pintu itu, kecuali kamu yang mengundangku."

Areta menatap kunci itu. Kesiapan Adam menaati kontrak dan detail persiapan kamar justru membuatnya curiga.

Pria ini terlalu baik. Ada apa di baliknya?

"Baik," Areta menyambar kunci itu. "Sekarang, aku ingin membersihkan diri. Dan malam ini, kita makan di luar. Aku tidak mau tahu, kamu harus membelikanku makanan yang layak."

"Maaf, Nona Areta. Sesuai kontrak, kita harus menunjukkan keharmonisan di depan umum," Adam menggeleng. "Tapi malam ini, saya ingin kamu makan malam di rumah. Aku akan memasak. Kamu adalah istriku sekarang."

Areta menatap Adam yang kini tersenyum tipis. Senyum itu kembali memantulkan bayangan kegagalan pagelarannya kemarin. Seolah Adam tahu bagaimana mengendalikan Areta.

"Baik," Areta akhirnya mengalah. Ia melangkah cepat ke kamar mandi.

Saat ia keluar, ia langsung mengunci pintu kamarnya dari dalam. Ia bersandar di pintu yang dingin itu. Ia sudah mendapatkan Gedung Serbaguna. Tapi ia baru saja menjual kebebasan dan kenyamanannya pada seorang pria culun yang terlalu sentimental dan terlalu pintar.

Di luar, di ruang tengah, Adam menatap pintu kamar Areta yang terkunci rapat. Ia membuka kacamata tebalnya. Matanya yang cokelat gelap dan tajam kini memancarkan kesedihan.

"Kamar Ayahmu. Kunci yang akan melindungi dirimu, Areta. Dan menjauhkan hatiku," bisik Adam pelan, lalu kembali memasang kacamatanya. Ia melangkah ke dapur, untuk membuat makan malam mereka berdua.

Saat menggoreng ikan, ponsel jadul Adam berdering. Ada SMS masuk.

[Pak Adam, rapat besok di majukan sekarang. Maaf mengganggu hari pertama pernikahan anda. Anda akan datang pukul berapa?]

Adam membaca pesan itu. Ia mematikan kompor sejenak. Rapat penting itu tidak bisa ditunda. Ia mengetik balasan singkat, sambil matanya menatap pintu hijau yang terkunci rapat. Jadwalnya baru saja berantakan, tetapi ia tidak ingin melewatkan makan malam pertamanya dengan Areta. Apa yang harus ia perbuat?

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pria Culun Itu Suamiku   Tamat

    Satu bulan setelah hiruk-pikuk pernikahan Luna dan Pierre berlalu, hari yang tak kalah istimewa pun tiba. Hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan Adam dan Areta.Sejak pagi, Adam bersikap sangat misterius. Ia pulang dari kantor jauh lebih awal dari biasanya, bahkan sebelum pukul dua siang, dan langsung meminta Areta bersiap-siap untuk makan malam romantis di luar.Malamnya, Adam membawa Areta ke sebuah restoran privat berkonsep rumah kaca di dataran tinggi yang menghadap ke lampu-lampu kota. Di tengah ruangan yang hanya diisi oleh mereka berdua, sebuah manekin tertutup kain beludru hitam berdiri tegak di dekat meja makan.Areta menatap manekin itu dengan dahi berkerut, lalu beralih menatap suaminya. "Adam ... apa itu?"Adam tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berjalan mendekat, lalu dengan satu gerakan pelan, ia menarik kain beludru tersebut.Areta seketika menahan napas. Matanya membelalak tak percaya.Di atas manekin itu terpasang sebuah gaun malam berwarna biru safir gela

  • Pria Culun Itu Suamiku   Langkah Adam

    Setelah dasi biru dongker terpasang sempurna dan kecemasan Adam mereda, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu ruang tunggu. Protokoler acara melongongkan kepala dengan ekspresi sangat sopap.“Mohon maaf, Tuan Adam, Nyonya Areta ... lima menit lagi prosesi akan dimulai. Pengantin wanita sudah siap di posisinya,” lapor petugas tersebut.Adam menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu menatap Areta dengan senyum yang jauh lebih rileks. Ia menurunkan Arkadia dari gendongannya dan menyerahkannya kembali ke pelukan Areta.“Aku ke depan duluan, ya. Jaga jagoan kita,” ucap Adam sambil merapikan ujung jas hitamnya yang berpotongan tegas.“Semangat, Mas. Kamu pasti bisa,” bisik Areta memberikan dorongan moral.RAlunan musik instrumental lembut mulai mengalun, memenuhi ruang aula pernikahan yang didekorasi dengan sangat elegan, perpaduan antara selera seni Pierre yang megah dan sentuhan minimalis kesukaan Luna. Di ujung altar, Pierre sudah berdiri tegak. Wajahnya yang bia

  • Pria Culun Itu Suamiku   Menjelang Momen Sakral

    Begitu Areta membuka pintu rumah, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Adam yang duduk di lantai ruang tengah dengan kacamata tebal bertengger di hidungnya. Kemeja kantornya sudah dilepas, menyisakan kaos oblong yang sedikit terkena noda kuah sayur.Di depannya, Arkadia menutup mulut rapat-rapat, menolak suapan dari sendok kecil jika Adam tidak mengenakan kacamata “culun” tersebut.“Are, syukurlah kamu pulang!” seru Adam dengan nada memelas. “Aku sudah mencoba segala cara—berakting jadi robot, pesawat terbang, bahkan jadi direktur perusahaan lawan—tapi dia tetap tidak mau buka mulut kalau aku tidak pakai kacamata ini. Aku sudah hampir kehabisan ide!”Areta tertawa geli melihat suaminya yang berwibawa di ruang rapat, kini tak berdaya di hadapan balita yang keras kepala. “Itu karena kacamata itu membuatmu terlihat seperti ‘Papa’, bukan ‘Tuan Adam’ yang kaku. Arkadia tahu mana yang asli.”Keesokan harinya, suasana di apartemen Luna berubah menjadi pusat kendali mode. Areta da

  • Pria Culun Itu Suamiku   Kakak & Adik

    Areta mengajak Luna beranjak dari butik menuju sebuah toko bunga mungil di sudut jalan yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Toko itu milik seorang wanita tua yang sudah menjadi langganan Areta sejak awal ia merintis karier. Aroma segar tanah basah dan keharuman berbagai jenis bunga langsung menyambut mereka begitu pintu kayu toko itu terbuka."Bunga pengantin bukan sekadar pelengkap foto, Luna," ujar Areta sambil menyisir deretan bunga-bunga segar yang baru saja tiba. "Buket ini harus bercerita siapa kamu. Pierre mungkin ingin sesuatu yang megah, tapi aku ingin sesuatu yang... benar-benar Luna."Luna berjalan perlahan, jemarinya menyentuh kelopak bunga mawar putih yang sempurna, lalu beralih ke bunga Lily of the Valley. "Aku suka yang putih, Kak. Tapi aku merasa ada yang kurang kalau hanya putih."Areta mengambil setangkai Calla Lily putih yang jenjang dan kokoh, lalu memadukannya dengan beberapa kuntum Eustoma (Lisianthus) berwarna ungu muda yang sangat lembut dan kelopa

  • Pria Culun Itu Suamiku   Persiapan Luna

    Setelah perdebatan panjang soal garis pinggang dan pola payet mereda, Pierre tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia memasang wajah misterius, lalu melirik ke arah tas jinjing kulit besar yang ia letakkan di pojok butik sejak tadi."Luna, sebelum Areta melepaskan kain percobaan ini dari tubuhmu, aku punya satu hal lagi," ujar Pierre dengan nada suara yang tiba-tiba merendah dan penuh perasaan.Ia melangkah perlahan, mengambil sebuah kotak beludru berwarna biru gelap dari dalam tasnya. Dengan gerakan perlahan layaknya sedang melakukan ritual suci, Pierre membukanya di hadapan Luna dan Areta.Areta spontan menutup mulut dengan tangannya, matanya membelalak kagum. Di dalam kotak itu, terdapat sepasang sepatu hak tinggi dengan desain yang sangat artistik. Bagian tumitnya terbuat dari logam tipis berwarna perak yang meliuk indah, sementara bagian badannya dilapisi kain sutra transparan yang dihiasi sulaman bunga melati kecil, bunga favorit Luna, yang dibuat dari kerajinan tangan yang luar

  • Pria Culun Itu Suamiku   CEO Junior Terlelap

    Energi Arkadia akhirnya habis juga. Setelah berkali-kali meluncur di perosotan barunya, bocah mungil itu mulai mengucek mata dan bersandar di kaki kursi kebesaran Papanya. Dengan sisa tenaga, ia merangkak naik ke atas kursi kulit yang luas itu, kursi yang bagi orang lain adalah simbol kekuasaan, namun bagi Arkadia tak lebih dari tempat tidur yang empuk.Hanya dalam hitungan menit, Arkadia sudah tertidur pulas. Kepalanya bersandar pada bantal kecil yang sengaja diletakkan Areta di sana. Tubuh kecilnya terlihat sangat kontras dengan kursi CEO yang megah, menciptakan pemandangan yang sanggup meluluhkan hati siapa pun.Adam yang baru saja akan kembali ke mejanya terhenti. Ia memberikan isyarat telunjuk di depan bibir kepada Luna yang baru saja mau masuk membawa map."Jangan berisik," bisik Adam pelan. "Jagoan kecilku sedang menguasai singgasananya."Areta tersenyum simpul melihat suaminya yang rela "terusir" dari meja kerjanya sendiri. Tanpa keluhan, Adam memindahkan laptop dan bebera

  • Pria Culun Itu Suamiku   Persiapan Pagelaran

    Di dalam ruang kerja pribadinya yang sunyi, Lea tidak bisa duduk dengan tenang. Ia berjalan mondar-mandir di atas karpet Persia-nya, langkah kakinya yang berirama menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan. Jemarinya yang dihiasi cincin berlian tak henti memutar-mutar ponselnya.Pikirannya

  • Pria Culun Itu Suamiku   Apa Kamu Suka Anak Kecil?

    Malam di Paris terasa begitu sunyi saat Areta terduduk di tepi ranjangnya, hanya ditemani cahaya temaram dari layar tablet. Ia baru saja membuka unggahan terbaru akun resmi Rajawali Jaya Group yang menampilkan cuplikan jarak dekat (close-up) dari kain gaun utama yang akan dipamerkan.“Gaun ini...”

  • Pria Culun Itu Suamiku   Balasan Dari Paris

    Malam di Paris terasa berbeda bagi Areta setelah Luna menghampirinya dengan wajah yang sulit diartikan. Luna baru saja menutup telepon rahasianya dengan Rian, sekretaris pengganti di Jakarta, dan informasi yang ia bawa sanggup meruntuhkan sisa-sisa tembok pertahanan di hati Areta. ​"Nyonya Are ..."

  • Pria Culun Itu Suamiku   Kenangan yang Menyiksa

    “Tuan, ini laporan mingguan dari divisi logistik dan beberapa dokumen akuisisi lahan di Paris yang butuh tanda tangan basah Anda,” ucap Rian sambil membungkuk hormat, namun matanya tak bisa menyembunyikan rasa heran melihat bosnya dikelilingi manekin.“Letakkan di sana, di atas tumpukan kain perca

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status