共有

Pernikahan Sederhana

作者: Chili Cemcem
last update 公開日: 2025-12-02 10:06:34

"Ada yang ingin aku sampaikan padamu. Dengarkan, Adam. Biar aku perjelas, aku gak mau ada rahasia di antara kita. Aku ini desainer yang selalu jujur dengan apa yang ada di hatiku," kata Areta, nadanya sedingin es batu di gelasnya.

Areta duduk tegak, membiarkan suaranya yang tajam mendominasi kafe kecil di pinggir kota itu. "Aku menerima perjodohan ini karena aku mengincar Gedung Serbaguna milik Papa. Itu bisa kupakai untuk pagelaran busanaku tanpa harus bayar sewa. Papa bilang, gedung itu akan jadi milikku jika aku mau bersama denganmu."

Ia menunggu reaksi Adam. Apakah marah, malu, atau tersinggung. Tapi Adam hanya menyimak dengan tenang, sesekali mengangguk.

"Kamu jangan tersinggung kalau papaku menukar semua ini dengan gedung serbagunanya," lanjut Areta, melempar nada sarkas. "Aku ini seorang desainer. Namaku adalah brand. Jadi, mari kita buat kesepakatan. Kita hanya akan menikah selama setahun. Setelah itu, kita cerai."

Belum sempat Areta menyampaikan rentetan persyaratan, Adam mengangkat wajahnya. Di balik kacamata tebal itu, matanya berwarna cokelat gelap, memandang Areta dengan tatapan yang ... aneh. Bukan tatapan memuja, bukan tatapan marah, tapi tatapan menilai yang sangat teliti.

Areta merasa tatapan itu sedikit tidak nyaman, seolah Adam bukan melihat desainer glamor, tapi melihat kerusakan yang ada di baliknya.

Namun, hanya sesaat. Adam kembali menunduk ke jarinya. "Saya minta maaf, Nona Areta," katanya, masih dengan suara pelan dan formal. "Tapi saya sudah berjanji dengan Kakek saya, dan juga Pak Rajes, kalau pernikahan ini akan berlangsung selamanya."

Areta menegang. "Apa katamu?"

Adam berhenti, menarik napas. Ia menunjuk ke arah Areta, bukan dengan jarinya, tapi dengan pandangannya yang terarah ke bagian bawah mantel Areta.

"Lagipula, saya rasa Nona tidak punya pilihan," lanjut Adam, senyum tipisnya muncul. "Desainer terkenal mana yang masih mengenakan celana kulit palsu di pagelaran busana Paris?"

Jantung Areta serasa berhenti. Pipa napasnya seolah terhenti. Celana kulit yang ia kenakan itu ... memang palsu. Ia membelinya di butik vintage karena ia tidak mampu membeli yang asli setelah kegagalan dua pagelaran terakhir.

"Bagaimana?" Areta nyaris tak bersuara. Bagaimana Adam, seorang penjahit kampung dengan kacamata kusam, bisa mengetahui detail sekecil itu hanya dengan sekali pandang?

Wajah Adam yang tadinya polos kini tersenyum tipis. Seutas senyuman yang membuat Areta merasa telanjang, seluruh kebohongannya terkuak.

"Kalau begitu," kata Adam sambil membungkuk lagi. "Senang bertemu dengan calon istriku. Saya siap kapan saja kalau kamu sudah siap. Oh iya, saya sudah membayar makanan dan minuman kita. Saya permisi. Saya masih banyak pekerjaan. Kalau butuh apa-apa, bisa hubungi saya lagi. Kapan saja."

Adam beranjak dari kursinya. Dengan langkah santai, ia melenggang keluar kafe Angin Senja, meninggalkan keheningan dan kebingungan yang memenuhi ruang kepala sang calon mempelai wanita.

Areta kalap. Ia mengambil roti di hadapannya dan menggigitnya dengan kesal. “Dia … itu … apa dia bilang? Dia berani mengataiku? Pasti dia cuma asal ngomong! Kebetulan tebakannya benar! Menikah selamanya dengannya? Enggak akan!”

Namun, satu minggu kemudian.

“Saya terima nikah dan kawinnya Areta Nindiya Kusuma binti Rajes Kusuma dengan mas kawin emas lima gram dan uang tunai dua puluh tujuh juta rupiah, dibayar tunai.”

"Sah..."

Satu kata itu, “sah” menutup babak kebebasan Areta.

Pernikahan berlangsung amat sangat sederhana. Hanya dilakukan di kantor KUA, hanya dihadiri Rajes, istrinya, kerabat dekat Rajes selaku saksi serta keluarga Adam yang berjumlah dua orang saja.

Areta yang mengusulkan.

Alasannya logis. Ia ingin fokus dulu pada persiapan fashion show musim depan, dan pesta akan digelar usai pagelaran.

Areta duduk di samping Adam. Meski di KUA, ia tetap mengenakan gaun putih simple rancangan pribadinya. Rambutnya disanggul rapi.

Di sebelahnya, Adam mengenakan kemeja putih yang disetrika kaku. Kacamata tebalnya, rambutnya belah tengah, dan celana cingkrang-nya yang bahkan tidak ia ganti, terasa seperti hinaan visual di mata Areta.

"Kau bahkan tidak berusaha sama sekali," desis Areta pelan, hanya untuk didengar Adam.

Adam menoleh, tatapan tenangnya tersembunyi di balik lensa kacamata tebalnya. "Saya sudah berusaha, Nona Areta. Saya mencukur kumis saya."

Areta ingin meledak. Mencukur kumis? Itu yang dia sebut usaha?!

Setelah ijab kabul selesai, Rajes dan Veronica maju. Veronica mencium pipi Areta, ekspresinya campur aduk antara kelegaan dan juga kecemasan.

Bisakah putrinya menjadi istri yang baik untuk Adam?

"Kau sudah berjanji," bisik Veronica, memperingatkan. "Sekarang, Gedung Serbaguna adalah milikmu. Jangan hancurkan gedung itu dan juga pernikahanmu," sambungnya lalu mengecup kening putrinya.

Rajes, Papa, hanya menepuk bahu Areta, matanya penuh permohonan.

Upacara selesai. Areta menghindari Adam. Ia tidak mau ada foto yang menangkap kemesraan palsu.

Tetapi Rajes mendorong putrinya agar dekat dengan Adam dan kilatan foto mengabadikan momen sakral itu.

"Kita langsung ke rumahmu," perintah Areta pada Adam setelah mereka keluar dari KUA. "Aku sudah mengemas barang-barangku. Siap-siap saja rumahmu bakal kewalahan dengan barang bawaanku.”

Areta sengaja menguji kesabaran Adam. Karena syarat menikah mereka salah satunya adalah Areta harus tinggal bersama Adam. Dengan kata lain, Areta harus pindah ke rumah sederhana yang dalam angannya pasti banyak sarang laba-laba dan berdebu.

Adam mengangguk. "Tentu, Nyonya Prasaja. Mobil saya menunggu."

Areta duduk kaku di kursi mobil. "Aku sudah katakan, jangan panggil aku 'Nyonya Prasaja'!"

"Baik, Nona Areta," Adam membalas dengan formal. "Aku sudah mempersiapkan kamar terpisah untukmu, sesuai kontrak. Tapi ada satu hal yang harus kau ingat."

Adam menepi, memarkir mobil di pinggir jalan, tepat di mulut gang sempit itu. Ia menoleh ke Areta. Lensa tebal kacamatanya memantulkan cahaya matahari sore.

"Apa?" tanya Areta, merasa terancam lagi.

"Di hadapan semua orang, kau adalah istriku yang mencintaiku," ujar Adam, suaranya tenang namun mengandung otoritas. "Di rumah ini, kau bebas membenciku. Tapi di luar, aku adalah suamimu, dan kau harus menghormati janji pernikahan yang baru kita buat. Demi kehormatan Rajes Kusuma."

Adam membuka pintu mobil. Udara pengap dan bau masakan dari gang sempit langsung menyergap Areta.

"Silakan, Nona Areta," Adam mengulurkan tangan. "Selamat datang di rumah kita. Aku harap kau suka dengan kamar yang kusiapkan."

Areta menatap tangan Adam yang terulur. Ia membencinya, membenci rumah ini, membenci celana cingkrang itu. Tapi demi Gedung Serbaguna dan Pagelaran-nya, ia harus masuk.

Ia mengabaikan tangan Adam, mengambil koper mahalnya, dan melangkah masuk ke gang sempit.

“Babak baru terjerumus di neraka rumah penjahit kampung dimulai,” batin Areta.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pria Culun Itu Suamiku   Tamat

    Satu bulan setelah hiruk-pikuk pernikahan Luna dan Pierre berlalu, hari yang tak kalah istimewa pun tiba. Hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan Adam dan Areta.Sejak pagi, Adam bersikap sangat misterius. Ia pulang dari kantor jauh lebih awal dari biasanya, bahkan sebelum pukul dua siang, dan langsung meminta Areta bersiap-siap untuk makan malam romantis di luar.Malamnya, Adam membawa Areta ke sebuah restoran privat berkonsep rumah kaca di dataran tinggi yang menghadap ke lampu-lampu kota. Di tengah ruangan yang hanya diisi oleh mereka berdua, sebuah manekin tertutup kain beludru hitam berdiri tegak di dekat meja makan.Areta menatap manekin itu dengan dahi berkerut, lalu beralih menatap suaminya. "Adam ... apa itu?"Adam tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berjalan mendekat, lalu dengan satu gerakan pelan, ia menarik kain beludru tersebut.Areta seketika menahan napas. Matanya membelalak tak percaya.Di atas manekin itu terpasang sebuah gaun malam berwarna biru safir gela

  • Pria Culun Itu Suamiku   Langkah Adam

    Setelah dasi biru dongker terpasang sempurna dan kecemasan Adam mereda, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu ruang tunggu. Protokoler acara melongongkan kepala dengan ekspresi sangat sopap.“Mohon maaf, Tuan Adam, Nyonya Areta ... lima menit lagi prosesi akan dimulai. Pengantin wanita sudah siap di posisinya,” lapor petugas tersebut.Adam menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu menatap Areta dengan senyum yang jauh lebih rileks. Ia menurunkan Arkadia dari gendongannya dan menyerahkannya kembali ke pelukan Areta.“Aku ke depan duluan, ya. Jaga jagoan kita,” ucap Adam sambil merapikan ujung jas hitamnya yang berpotongan tegas.“Semangat, Mas. Kamu pasti bisa,” bisik Areta memberikan dorongan moral.RAlunan musik instrumental lembut mulai mengalun, memenuhi ruang aula pernikahan yang didekorasi dengan sangat elegan, perpaduan antara selera seni Pierre yang megah dan sentuhan minimalis kesukaan Luna. Di ujung altar, Pierre sudah berdiri tegak. Wajahnya yang bia

  • Pria Culun Itu Suamiku   Menjelang Momen Sakral

    Begitu Areta membuka pintu rumah, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Adam yang duduk di lantai ruang tengah dengan kacamata tebal bertengger di hidungnya. Kemeja kantornya sudah dilepas, menyisakan kaos oblong yang sedikit terkena noda kuah sayur.Di depannya, Arkadia menutup mulut rapat-rapat, menolak suapan dari sendok kecil jika Adam tidak mengenakan kacamata “culun” tersebut.“Are, syukurlah kamu pulang!” seru Adam dengan nada memelas. “Aku sudah mencoba segala cara—berakting jadi robot, pesawat terbang, bahkan jadi direktur perusahaan lawan—tapi dia tetap tidak mau buka mulut kalau aku tidak pakai kacamata ini. Aku sudah hampir kehabisan ide!”Areta tertawa geli melihat suaminya yang berwibawa di ruang rapat, kini tak berdaya di hadapan balita yang keras kepala. “Itu karena kacamata itu membuatmu terlihat seperti ‘Papa’, bukan ‘Tuan Adam’ yang kaku. Arkadia tahu mana yang asli.”Keesokan harinya, suasana di apartemen Luna berubah menjadi pusat kendali mode. Areta da

  • Pria Culun Itu Suamiku   Kakak & Adik

    Areta mengajak Luna beranjak dari butik menuju sebuah toko bunga mungil di sudut jalan yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Toko itu milik seorang wanita tua yang sudah menjadi langganan Areta sejak awal ia merintis karier. Aroma segar tanah basah dan keharuman berbagai jenis bunga langsung menyambut mereka begitu pintu kayu toko itu terbuka."Bunga pengantin bukan sekadar pelengkap foto, Luna," ujar Areta sambil menyisir deretan bunga-bunga segar yang baru saja tiba. "Buket ini harus bercerita siapa kamu. Pierre mungkin ingin sesuatu yang megah, tapi aku ingin sesuatu yang... benar-benar Luna."Luna berjalan perlahan, jemarinya menyentuh kelopak bunga mawar putih yang sempurna, lalu beralih ke bunga Lily of the Valley. "Aku suka yang putih, Kak. Tapi aku merasa ada yang kurang kalau hanya putih."Areta mengambil setangkai Calla Lily putih yang jenjang dan kokoh, lalu memadukannya dengan beberapa kuntum Eustoma (Lisianthus) berwarna ungu muda yang sangat lembut dan kelopa

  • Pria Culun Itu Suamiku   Persiapan Luna

    Setelah perdebatan panjang soal garis pinggang dan pola payet mereda, Pierre tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia memasang wajah misterius, lalu melirik ke arah tas jinjing kulit besar yang ia letakkan di pojok butik sejak tadi."Luna, sebelum Areta melepaskan kain percobaan ini dari tubuhmu, aku punya satu hal lagi," ujar Pierre dengan nada suara yang tiba-tiba merendah dan penuh perasaan.Ia melangkah perlahan, mengambil sebuah kotak beludru berwarna biru gelap dari dalam tasnya. Dengan gerakan perlahan layaknya sedang melakukan ritual suci, Pierre membukanya di hadapan Luna dan Areta.Areta spontan menutup mulut dengan tangannya, matanya membelalak kagum. Di dalam kotak itu, terdapat sepasang sepatu hak tinggi dengan desain yang sangat artistik. Bagian tumitnya terbuat dari logam tipis berwarna perak yang meliuk indah, sementara bagian badannya dilapisi kain sutra transparan yang dihiasi sulaman bunga melati kecil, bunga favorit Luna, yang dibuat dari kerajinan tangan yang luar

  • Pria Culun Itu Suamiku   CEO Junior Terlelap

    Energi Arkadia akhirnya habis juga. Setelah berkali-kali meluncur di perosotan barunya, bocah mungil itu mulai mengucek mata dan bersandar di kaki kursi kebesaran Papanya. Dengan sisa tenaga, ia merangkak naik ke atas kursi kulit yang luas itu, kursi yang bagi orang lain adalah simbol kekuasaan, namun bagi Arkadia tak lebih dari tempat tidur yang empuk.Hanya dalam hitungan menit, Arkadia sudah tertidur pulas. Kepalanya bersandar pada bantal kecil yang sengaja diletakkan Areta di sana. Tubuh kecilnya terlihat sangat kontras dengan kursi CEO yang megah, menciptakan pemandangan yang sanggup meluluhkan hati siapa pun.Adam yang baru saja akan kembali ke mejanya terhenti. Ia memberikan isyarat telunjuk di depan bibir kepada Luna yang baru saja mau masuk membawa map."Jangan berisik," bisik Adam pelan. "Jagoan kecilku sedang menguasai singgasananya."Areta tersenyum simpul melihat suaminya yang rela "terusir" dari meja kerjanya sendiri. Tanpa keluhan, Adam memindahkan laptop dan bebera

  • Pria Culun Itu Suamiku   Detik Detik Persalinan

    Setelah drama sarapan pagi itu, Mama Veronica benar-benar membuktikan ucapannya. Ia langsung menetapkan status “Siaga Satu” di seluruh penjuru rumah. Sementara Areta mencoba kembali ke meja gambarnya untuk sekadar melihat-lihat desain Pierre, Mama Veronica sudah sibuk mondar-mandir di kamar utama.

  • Pria Culun Itu Suamiku   Kamar Ramah Bayi

    Suasana hangat menyelimuti butik pagi itu. Bau harum bubur ayam dan sup hangat dari rantang Mama Veronica berhasil mengalahkan aroma kain dan benang. Mereka duduk melingkar di area santai butik, namun bagi Areta dan Adam, ini lebih terasa seperti kursi pesakitan karena sorot mata Veronica yang mula

  • Pria Culun Itu Suamiku   Kedatangan Areta Yang Dijebak

    Di apartemennya, Areta mematikan televisi dengan tangan gemetar setelah mendengar kata “pulanglah”. Ia menangis tersedu-sedu sambil mendekap perutnya yang mendadak terasa sangat aktif. Si kecil di dalam rahimnya seolah ikut bereaksi mendengar suara ayahnya yang bergema dari benua lain.“Kamu dengar

  • Pria Culun Itu Suamiku   Apa Kamu Suka Anak Kecil?

    Malam di Paris terasa begitu sunyi saat Areta terduduk di tepi ranjangnya, hanya ditemani cahaya temaram dari layar tablet. Ia baru saja membuka unggahan terbaru akun resmi Rajawali Jaya Group yang menampilkan cuplikan jarak dekat (close-up) dari kain gaun utama yang akan dipamerkan.“Gaun ini...”

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status