تسجيل الدخولBesok paginya, Renata sedang sibuk mempersiapkan live streaming di butiknya untuk kembali menyindir Areta. Namun, tiba-tiba seorang pria berseragam kurir resmi dari Rajawali Jaya Group datang membawa surat peringatan (Somasi) dan map besar. Bukan cuma itu, Adam diam-diam menelepon tim legal di kantornya (lewat jalur belakang) untuk meninjau kembali izin usaha butik Renata yang ternyata menunggak pajak daerah di tanah milik keluarga Rajes. Di saat yang sama, Adam menggunakan akun “anonim” yang berpengaruh di dunia fashion Jember untuk mengunggah perbandingan karya Areta dan Renata secara objektif. Hasilnya? Netizen mulai berbalik membela Areta karena kualitas desain Areta memang jauh di atas Renata. Areta yang awalnya down, tiba-tiba mendapat telepon dari Renata dengan suara gemetar. “Areta... tolong cabut tuntutannya! Aku nggak tahu kalau gedung itu ternyata sudah dijaminkan ke Rajawali Jaya buat operasional proyekmu!” Areta bingung, tapi ia langsung melihat Adam yang sedang s
“Oh, gantungan kunci ini?” Adam (versi CEO) mengambil benda itu dengan gerakan tenang, seolah-olah itu hanya benda remeh yang tidak berharga. Ia memutarnya di sela jari dengan santai.“Ini adalah merchandise resmi dari program ‘Rajawali Peduli Driver’ yang kami jalankan bulan lalu, Ibu Areta. Kami membagikannya secara Cuma-Cuma kepada ratusan mitra, staf lapangan, bahkan tamu yang datang ke gedung ini,” jelas Adam dengan suara berat dan berwibawa.Ia meletakkan kembali kunci itu ke meja dengan bunyi klotak yang meyakinkan. “Mungkin asisten Anda mendapatkannya dari satpam di depan atau menemukannya di lobi. Kami memproduksi ribuan gantungan kunci seperti ini.”Areta tampak mengerutkan dahi, menatap gantungan kunci boneka kucing itu lekat-lekat. “Ribuan? Tapi kucing ini telinga kirinya agak sobek sedikit, persis punya Gus...”Adam hampir saja tersedak udara, tapi ia segera menimpali dengan nada dingin khas bos besar. “Itu karena kualitas produksinya memang massal, Ibu Areta. Namanya jug
"Gus," panggil Areta pelan di balik helmnya."Ya, Bos?""Terima kasih ya buat tadi pagi. Dan maaf kalau aku galak. Aku cuma nggak suka lihat orang yang aku sayang direndahkan begitu saja," bisik Areta.“Terima kasih ya buat tadi pagi. Dan maaf kalau aku galak. Aku Cuma nggak suka lihat orang yang aku sayang direndahkan begitu saja,” bisik Areta.Adam tersenyum di balik kaca helm. “Aku tahu, Are. Kamu itu singa betina kalau urusan melindungi orang rumah.”“Tapi besok-besok, kamu harus lebih rapi kalau ikut aku ke kantor! Aku nggak mau kejadian tadi terulang. Besok kita ke pasar, aku belikan kamu kemeja baru yang lebih keren.”Adam terkekeh. “Siap, Bos Besar!”*Areta berdiri tegak di depan meja resepsionis dengan gaya bos besar. Ia mengenakan blazer terbaiknya, sementara Adam berdiri di belakangnya dengan kemeja baru hasil belanja di pasar kemarin (yang sebena”Saya tidak akan menandatangani kontrak apapun sebelum saya bertemu dengan CEO Anda,” tegas Areta kepada Luna. “Saya ingin
Lobi samping dekat kantin karyawan Rajawali Tower mendadak riuh. Areta berlari setengah tidak peduli dengan bunyi hak sepatunya yang beradu keras dengan lantai marmer. Di sana, di tengah kepungan tiga satpam berbadan tegap, ia melihat "Gus"—suaminya—sedang berdiri memegang helm kusamnya dengan wajah pasrah."Ada apa ini?!" teriak Areta, suaranya menggelegar membelah kerumunan karyawan yang mulai berbisik-bisik.Seorang komandan satpam menoleh. "Maaf, Bu. Pria ini memaksa masuk ke area VIP kantin. Dia bilang dia asisten Ibu, tapi penampilannya... ya Ibu lihat sendiri, sangat tidak sesuai dengan standar gedung ini."Areta melihat suaminya dari ujung kaki ke ujung kepala. Kaos oblong yang sedikit pudar warnanya, celana jeans yang terkena noda oli motor matic tadi pagi, dan sandal jepit yang tampak sangat kontras dengan kemewahan lobi Rajawali.Hati Areta mencelos. Bukan karena malu, tapi karena sakit hati melihat pria yang semalam rela tidur di lantai demi bantal darinya itu kini dihinak
Pagi itu, suasana di kediaman Mama Veronica terasa tenang, namun ketegangan di hati Adam belum sepenuhnya sirna. Sebelum sinar matahari benar-benar menyengat, Adam melangkah menuju ruang kerja di lantai bawah. Di sana, ia melihat sosok pria yang sangat ia hormati sedang menyesap kopi hitamnya sambil menatap taman belakang.Rajes, ayah kandung Areta.Berbeda dengan Areta yang meledak-ledak, Rajes adalah samudera yang tenang. Dialah orang yang pertama kali menjabat tangan Adam—bukan sebagai “Agus” sang asisten, melainkan sebagai Adam, pria yang ia pilih secara sadar untuk mendampingi putri tunggalnya.*Adam menutup pintu kayu ek itu dengan pelan. “Pagi, Pa.”Rajes menoleh, tersenyum tipis, lalu memberi isyarat agar Adam duduk di kursi kulit di hadapannya. “Bagaimana lantainya semalam, Dam? Keras?”Adam tertawa kecil, sedikit malu. “Ternyata Areta masih punya stok bantal untuk pria pembohong seperti saya, Pa.”Rajes meletakkan cangkir kopinya. Gurat wajahnya menunjukkan kewibawaan
Ketegangan di depan ruko belum sempat mereda saat sebuah mobil mewah lainnya—kali ini sebuah sedan putih elegan yang sangat familiar bagi Adam—berhenti tepat di belakang motor matic mereka.Seorang wanita paruh baya turun dengan anggun. Perhiasannya berkilau terkena lampu jalan, namun wajahnya memancarkan kehangatan yang kontras dengan dinginnya tatapan Areta tadi.“Mama Vero?” gumam Adam, jantungnya mencelos.Senyumnya mengembang lebar saat melihat menantu dan putri tunggalnya.“Sudah, jangan masak lagi. Areta, kamu pucat sekali. Ayo, ikut Mama saja. Tinggalkan motor ini, biar nanti supir Mama yang urus kain-kain ini ke dalam ruko. Kalian makan malam di rumah, Mama sudah rindu mengobrol,” ajak Mama Vero sambil merangkul Areta.Suasana meja makan di rumah masa kecil Areta terasa sangat hangat. Berbagai hidangan kesukaan Areta tersaji, namun suasana hati Areta justru semakin dingin. Ia merasa seperti orang asing di tengah keakraban Mama Vero dan Adam.“Adam, makan yang banyak,” ucap







