Share

Bab 195

Penulis: Biee
last update Tanggal publikasi: 2026-06-03 23:18:37

Bara mendengus kasar, tidak berniat membuang waktu lebih lama lagi di ruangan yang penuh kepalsuan itu.

Dia berbalik, melangkah lebar menuju pintu kerja Handoko yang tebal tanpa memedulikan Marissa yang masih bersandar lemas di meja dengan napas yang belum teratur.

"Rapikan dirimu, Tante. Jangan sampai pelayan rumah melihat penampilanmu yang berantakan seperti itu," ucap Bara dingin sebelum membuka pintu dan melangkah keluar.

Bara segera menuju kamarnya di paviliun belakang. Kaos polo ketatnya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Wong Kabur Kanginan
di tunggu lanjutannya boosss
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 196

    Bara tidak memberi jarak. Dia menangkup tengkuk Arum, memperdalam rekatan bibir mereka. Mengetahui tidak ada dorongan menolak dari tangan kecil yang meremas kemejanya, Bara menyelipkan lidahnya masuk, menerobos barisan gigi Arum yang pasrah."Mmph..." Arum melenguh kecil.Lidah Bara mengabsen rongga mulut Arum dengan sapuan basah yang menuntut. Arum yang tidak pernah mengalami hal seperti ini hanya bisa memejamkan mata erat-erat. Karena tangannya sibuk meremas kemeja Bara, kedua tangan Arum tidak bisa bergerak bebas. Akhirnya, sisa jemari tangannya yang menempel di paha refleks mencengkeram dan memilin kain rok plisketnya sendiri sampai kusut masai.'Manis banget. Beda jauh sama mulut Tante Marissa yang bau alkohol,' batin Bara sambil terus melumat bibir Arum yang hangat.Rasa hangat yang asing menjalar dari perut bawahnya, membuat lutut Arum lemas seketika seperti jeli yang kepanasan. Desah napas Arum yang memburu beradu di antara pagutan mereka. Bunyi decapan basah yang samar mulai

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 195

    Bara mendengus kasar, tidak berniat membuang waktu lebih lama lagi di ruangan yang penuh kepalsuan itu. Dia berbalik, melangkah lebar menuju pintu kerja Handoko yang tebal tanpa memedulikan Marissa yang masih bersandar lemas di meja dengan napas yang belum teratur."Rapikan dirimu, Tante. Jangan sampai pelayan rumah melihat penampilanmu yang berantakan seperti itu," ucap Bara dingin sebelum membuka pintu dan melangkah keluar.Bara segera menuju kamarnya di paviliun belakang. Kaos polo ketatnya diganti dengan kemeja flanel gelap yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang kokoh. Setelah menyambar kunci motor dan tas ranselnya, dia langsung menuju garasi. Motor tua miliknya menderu membelah jalanan Jakarta yang mulai padat menuju gudang nomor tiga milik HDK Group di kawasan pelabuhan.Jam 11.00 WIB: Gudang Nomor tiga.Pekerjaan di gudang ternyata tidak memakan waktu lama. Bara dengan ketegasan yang dingin berhasil menekan kepala mandor gudang yang k

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 194

    Bara menyeringai tipis. Bukannya mendekat, dia malah melepas cengkeramannya di pinggang Marissa dengan sentakan kasar.Marissa terhuyung mundur hingga pinggulnya menabrak tepi meja kerja Handoko. Kimono sutra putih gadingnya sedikit terbuka di bagian dada, memamerkan kulit mulusnya yang naik-turun karena napas yang mendadak memburu. Matanya yang sayu menatap Bara dengan bingung dan kecewa."Bar... kenapa?" bisik Marissa. Bibir merahnya agak bergetar.Bara mundur satu langkah, melipat tangan di depan dada bidangnya. Dia menatap Marissa dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan."Tante pikir saya ini alat pemuas yang bisa Tante panggil kapan saja setiap kali Tante kesepian?" tanya Bara. Suaranya rendah dan penuh ancaman. "Tante salah besar."Marissa menarik kerah kimononya yang melorot, mencoba menutupi dadanya yang bidang dengan tangan gemetar. "Bara, jangan sok jual mahal. Semalam kamu yang menyeret Tante ke kamar tamu. Kamu juga menikmatinya, kan?""Semalam itu hukuman, Tante. D

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 193

    Aroma minyak jenuh dan nasi goreng agak gosong menyengat sampai ke tangga bawah. Bara melangkah ke ruang makan dengan kaos polo hitam ketat yang mencetak otot lengan dan dadanya yang tegap. Dia menarik kursi di ujung meja panjang tanpa suara.Di kursi utama, Handoko duduk kaku. Kemeja kerjanya licin tanpa lipatan. Pria tua itu menatap tablet di tangannya dengan mata sedingin es."Kamu terlambat lima menit, Bara," ucap Handoko datar. "Di HDK Group, terlambat artinya potong bonus. Di rumah ini, artinya kamu tidak menghargai saya.""Maaf, Pak. Ada urusan semalam," jawab Bara santai.Matanya lalu tertuju pada dua wanita di depannya.Marissa duduk tegak, pura-pura sibuk menuangkan teh. Pagi ini dia memakai sweater rajut berleher tinggi hingga menutupi seluruh tenggorokannya. Kulit wajahnya yang putih mulus tampak pucat. Saat cangkir tehnya beradu dengan tatakan, bunyinya berdenting nyaring karena tangannya gemetar. Jiplakan kemerahan di lehernya akibat cengkraman semalam tersekat rapat, ta

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 192

    Bara menghentikan langkah di undakan tangga pertama. Dia menoleh pelan dengan wajah sedatar mungkin. Tatapannya turun ke arah dada Keyla. Dua titik menonjol di balik tanktop tipis gadis itu terlihat jelas.'Gawat, apa dia denger sesuatu tadi? Aku harus pura-pura tenang. Tenang... Tenang Bara.'"Bukan urusanmu," jawab Bara. Suaranya serak.Keyla mendengus. Dia berjalan mendekat sambil melipat tangan di dada. Bau alkohol tercium dari mulutnya."Bukan urusan gue lo bilang? Lo itu cuma anak haram dekil yang numpang di sini!" Keyla menunjuk muka Bara. "Nyokap lo yang mati kelaparan di kampung itu pasti gak pernah ngajarin sopan santun ya? Pantas aja, emaknya aja cuma perempuan desa murahan yang mauan digituin sama Papa."Grrt.Kedua tangan Bara yang menggantung di sisi tubuh langsung mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Urat-urat besar mendadak menonjol di sepanjang lengan kekarnya, berdenyut cepat seiring dengan deru napasnya yang mendadak berat. Rahangnya bergesek keras samp

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 191

    "Ini hukuman karena kamu terlalu lancang, Tante. Bilang parfum orang lain murahan, padahal lubangmu sendiri selalu mengemis minta diisi di sini," ejek Bara. Crek crek crek...Jarinya bergerak semakin brutal di dalam, memilin titik paling peka Marissa hingga wanita itu mendesah pasrah."Ah Bara, tolong... Tolong penuhi lubang Tante ...""Bilang dulu, kalau Tante butuh punyaku untuk memenuhi lubang Tante!""Ah... iya, Tante memang butuh punyamu, Bar... cepatlah... Penuhi lubang basah Tante ..." rintih Marissa, lubangnya berkedut jepit menjari Bara.Bara menarik jarinya keluar, menimbulkan bunyi plop yang basah. Dia melepas sabuk celananya dengan satu tangan. Klik. Bunyi logam beradu memecah kesunyian. Tanpa menggunakan pengaman atau aba-aba, Bara mengarahkan kejantanannya yang sudah menegang keras ke lubang basah Marissa, lalu menghantam masuk dari belakang dengan satu sentakan penuh amarah.Jleb! Spruut!"Aaaaahh!" Marissa menjerit kencang saat daging tebal Bara melesak sampai m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status