Share

Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku
Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku
Penulis: nababy

Istri Yang Tersakiti

Penulis: nababy
last update Tanggal publikasi: 2026-05-18 13:30:40

“Aahhh… Pak Kyle, kamu sangat nakal.” Suara desahan seorang wanita membuat Arabella membeku di depan pintu ruang kerja Kyle, suaminya sendiri.

Pintu itu tak tertutup rapat, menyisakan celah sempit yang mampu membuat siapapun bisa mengintip ke dalam.

Mata Arabella seketika membelalak, nafasnya tercekat ketika melihat suaminya tengah bercumbu dengan wanita lain. Dadanya berdesir, seolah jantungnya ingin meledak saat itu juga.

Dengan amarah yang memuncak, dia langsung menendang pintu sekuat tenaga hingga membuat dua orang yang tengah memadu kasih terkejut dan saling melepaskan pelukan satu sama lain.

“Kyle!” teriak Arabella keras.

Kedua tangannya saling mengepal kencang. Satu tangan yang membawa box kue langsung melempar ke arah Kyle hingga kue di dalamnya pecah berhamburan keluar mengotori lantai.

Kue yang dibelinya untuk memberikan kejutan ulang tahun pernikahan mereka yang pertama, kini sudah tak berbentuk lagi.

Tapi pria itu tidak terlihat panik ketika istrinya memergoki perselingkuhan mereka. Kyle justru terlihat kesal karena Arabella mengganggu.

“Bukankah aku sudah bilang jangan datang ke kantor?!” Kyle membentak balik Arabella sambil merapikan ikat pinggangnya yang sudah terbuka.

Sedangkan selingkuhan Kyle masih terdiam sambil merapikan bajunya seolah tak terjadi apa-apa.

Hati Arabella makin sakit. Ia berjalan cepat dan langsung menampar wajah wanita yang berada di samping Kyle.

Plak!

Tamparan keras Arabella membuat wanita itu terdiam sesaat. Rasa panas di pipinya membuatnya meringis kesakitan.

Kyle langsung mendorong Arabella hingga membuatnya hampir terjatuh. Ia langsung memeriksa kondisi kekasih gelapnya..

“Vanessa, kau tidak apa-apa?” Wajah panik Kyle menyeruak begitu saja sambil mengelus pipi Vanessa yang mulai kemerahan.

Kyle berbalik, menatap tajam pada istrinya.

“Apa yang kau lakukan?!” Kyle menghampiri Arabella dan balik menamparnya.

Tamparan Kyle begitu panas, hingga air mata yang ditahannya sejak tadi langsung menetes begitu saja. Kyle hanya diam dengan ekspresi yang menyeramkan. Pria itu sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah maupun penyesalan karena telah menamparnya.

Arabella menatap pria itu dengan mata bergetar. Pipinya masih terasa panas akibat tamparan yang baru saja mendarat beberapa detik lalu. Namun rasa sakit itu kalah jauh dibandingkan nyeri di dadanya.

“Kau bertanya apa yang aku lakukan?” suara Arabella pecah.

“Aku memergoki suamiku berciuman dengan wanita lain di kantor, Kyle!”

Vanessa masih berdiri di belakang Kyle sambil memegangi pipinya yang merah. Wanita itu terlihat seperti korban, padahal dialah perebut suami orang.

“Pak Kyle… aku takut,” ucap Vanessa lirih sambil berpura-pura gemetar.

Kyle langsung menarik Vanessa ke belakang tubuhnya seolah melindunginya dari Arabella.

“Sudah cukup, Arabella.”

“Cukup?” Arabella tertawa miris. Air matanya perlahan jatuh tanpa bisa ditahan.

“Hari ini ulang tahun pernikahan kita yang pertama, Kyle. Aku datang membawa kue untuk merayakannya bersama kamu, tapi kau malah…” Arabella tak kuasa melanjutkan kalimatnya.

Tatapannya jatuh ke lantai. Melihat kue yang tadi ia bawa kini hancur berantakan. Krim putih bercampur buah stroberi mengotori lantai ruang kerja itu. Sama seperti pernikahannya yang kini terasa menjijikkan.

Kyle mendecih pelan. “Jangan membuat keributan di kantorku.” Kyle langsung memotong ucapan Arabella.

“Kantormu?” ulangnya lirih. “Tapi aku ini istrimu…”

Kyle mengusap wajahnya kasar, seolah sudah lelah menghadapi semua ini.

“Dengar baik-baik, Arabella.” Suara pria itu berubah dingin. Sangat dingin hingga membuat tubuh Arabella membeku di tempat.

“Pernikahan kita sejak awal hanyalah pernikahan bisnis. Kau tahu itu.”

Arabella menatapnya tak percaya.

“Aku tahu kita dijodohkan…” suaranya bergetar. “Tapi aku pikir seiring waktu…” Lagi-lagi kalimatnya tak terselesaikan.

“Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini.” Kalimat itu menghantam Arabella begitu telak.

Kyle melanjutkan tanpa belas kasihan sedikit pun.

“Ayahku memaksaku menikah denganmu demi kerja sama perusahaan keluarga kita. Kalau bukan karena itu, aku tidak akan pernah melirikmu!” Suara Kyle seperti pisau tajam yang menghujam jantungnya.

Nafas Arabella tercekat. “Apa maksudmu?”

Kyle menatapnya datar. “Tak ada satu haripun aku pernah mencintaimu.”

Sunyi. Ruangan itu tiba-tiba terasa sesak. Arabella merasa seperti kehilangan pijakan. Tubuhnya limbung beberapa langkah ke belakang. Air matanya jatuh semakin deras.

Selama setahun penuh ia berusaha menjadi istri sempurna. Bangun pagi untuk menyiapkan sarapan Kyle. Menunggu pria itu pulang meski larut malam. Menghafal kopi favoritnya. Menemani acara bisnis membosankan hanya agar Kyle tidak sendirian.

Dan selama satu tahun pria itu tidak pernah mencintainya. Sama sekali tidak pernah.

“Kalau begitu…” bibir Arabella bergetar hebat.

“Kenapa kau menikahiku?”

Kyle tersenyum tipis penuh ejekan.

“Aku sudah menjawabnya. Karena bisnis.” Jawaban itu menghancurkan sisa pertahanan Arabella sepenuhnya.

Vanessa yang berdiri di belakang Kyle bahkan terlihat menang. Tatapan wanita itu penuh sindiran seolah berkata bahwa Arabella hanyalah istri resmi yang menyedihkan.

Arabella mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga kukunya menusuk telapaknya sendiri.

“Aku membencimu…” lirihnya.

Kyle tidak bereaksi. Pria itu bahkan terlihat tidak peduli. Dan itu jauh lebih menyakitkan.

Dengan langkah gemetar, Arabella akhirnya berbalik pergi. Ia keluar dari ruang kerja itu tanpa menoleh lagi.

“Arabella!” suara Kyle terdengar memanggil.

Namun wanita itu tidak berhenti.

“Aku bilang jangan membuat masalah di luar sana!”

Arabella tertawa kecil di tengah tangisnya. Ternyata setelah menghancurkan hatinya, yang dipikirkan Kyle hanyalah reputasi.

Malam itu hujan turun deras membasahi jalanan kota. Arabella duduk diam di dalam mobilnya dengan tatapan kosong. Tangannya masih gemetar di atas kemudi. Bayangan Kyle dan Vanessa terus terulang di kepalanya.

“Aku tidak pernah mencintaimu.” Kalimat itu seperti kutukan yang terus menggema tanpa henti.

Air matanya jatuh lagi. Dadanya terasa begitu sakit sampai sulit bernafas. Ia menyalakan mobil dan melaju tanpa arah. Hingga akhirnya lampu neon berwarna merah biru menarik perhatiannya.

Sebuah diskotik mewah yang ramai dipenuhi orang. Musik menghentak terdengar bahkan dari luar bangunan. Arabella menatap tempat itu selama beberapa detik sebelum akhirnya keluar dari mobil.

Mungkin, malam ini ia hanya ingin melupakan semuanya. Meski hanya sebentar. Suasana diskotik begitu bising dan penuh aroma alkohol. Lampu-lampu berputar menyilaukan mata.

Arabella duduk di bar sendirian sambil menenggak gelas demi gelas alkohol.

“Tambahkan lagi,” katanya pelan pada bartender.

Ini pertama kalinya ia mabuk separah ini. Namun semakin banyak alkohol yang masuk, wajah Kyle justru semakin jelas di pikirannya.

Arabella tertawa kecil sambil mengusap air mata yang kembali jatuh.

“Bodoh…” gumamnya pada diri sendiri. “Aku benar-benar bodoh…”

Di sela tangisannya seseorang datang menghampiri.

“Kalau wanita secantik kamu menangis sendirian di tempat seperti ini… para pria bisa salah paham.” Suara rendah seorang pria tiba-tiba terdengar di sampingnya.

Arabella menoleh perlahan. Dan untuk sesaat nafasnya tercekat. Pria itu sangat tampan.

Rambut hitamnya sedikit berantakan, matanya tajam namun malas, sementara senyum tipis di bibirnya terlihat begitu berbahaya.

Ia mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka, memperlihatkan tulang selangka yang tegas. Pria itu duduk santai di samping Arabella sambil menatapnya lekat.

“Boleh aku duduk di sini?” tanya pria itu.

Arabella mengernyit samar karena efek alkohol.

“Kamu siapa?”

Pria itu tersenyum kecil. “Ren.”

Ia mengambil gelas Arabella, lalu meminumnya sedikit tanpa izin.

“Dan malam ini, aku rasa kamu membutuhkan seseorang untuk melupakan rasa sakitmu.” Ren tersenyum tipis seperti serigala siap memangsa.

“Bisakah kau melakukannya?” tanya Arabella lemah.

“Tentu…” Ren mendekatkan bibirnya ke telinga Arabella kemudian berbisik,

“Aku bisa membuatmu melupakan semuanya dengan kenikmatan yang kuberikan padamu.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Selalu Dipihakmu

    ​"Ayo turun, Ara," ucap Kyle dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mencoba menampilkan citra seorang suami yang perhatian dan penuh kasih di hadapan publik rumahnya.“Kenapa kau membawaku kesini?” Alis Arabella bertaut.“Tentu untuk meluruskan kesalahpahaman kita pada papa dan mama. Aku ingin kau menjelaskan pada mereka soal pernikahan kita.”Mobil hitam yang dikemudikan Kyle sudah memasuki halaman luas kediaman Adisurya, memecah kesunyian siang yang terik. Mesin dimatikan, menyisakan keheningan yang kaku dan pekat di dalam kabin. Kyle menarik napas panjang, merasa bahwa ia telah berhasil menaklukkan situasi, meredam badai, dan mengembalikan kendali penuh atas hidup serta rumah tangganya. Egoisnya yang sempat terkoyak kini kembali berdiri tegak.​Arabella membuka pintu sisi penumpangnya secara perlahan dan melangkah keluar. Udara siang itu menyambut wajahnya yang pucat. Ia menatap bangunan megah rumah keluarga Adisurya itu, tempat dimana ia selama ini terjebak dalam kepalsuan p

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Sebuah Sandiwara

    ​"Kau lihat sendiri kan, Ara?" ucap Kyle dengan nada memamerkan kemenangan. "Pada akhirnya, kau tetap tidak punya pilihan selain kembali padaku. Pria kafe jalanan yang kau bangga-banggakan itu... dia tidak ada apa-apanya saat berhadapan dengan kenyataan. Dia cuma penonton luar yang tidak punya hak sedikit pun atas hidupmu."Kyle menoleh sejenak melihat wajah istrinya yang duduk terdiam di kursi penumpang depan, samping Kyle.​Arabella tidak merespons. Ia bahkan tidak memutar kepalanya satu milimeter pun untuk menatap Kyle. Diamnya Arabella justru memicu dorongan provokasi di dalam diri Kyle yang masih menyimpan dendam atas persetubuhan emosional dan fisik antara Arabella dan Ren.​"Aku cuma penasaran," lanjut Kyle, nada suaranya berubah menjadi lebih tajam dan bernada tuduhan. "Sudah sejauh mana kau menjual dirimu pada bajingan itu, hah? Apakah kau menikmatinya? Kau berlagak seperti wanita suci dan teraniaya di depan Papa dan Mama, tapi di belakangku kau berkeliaran dengan pria lain

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Keputusan Yang Terpaksa

    ​Pintu kaca ruang VIP terbuka perlahan. Setiap langkah kaki yang diayunkan Arabella terasa begitu berat, seolah ia sedang menyeret rantai besi tak kasat mata. Di belakangnya, Kyle melangkah dengan gaya tenang namun memancarkan keangkuhan yang nyata, seolah-olah seluruh koridor itu adalah wilayah kekuasaannya.​Ren masih berdiri di sana, menyandarkan punggungnya pada dinding lorong tak jauh dari kamar VIP. Pria itu menengok seketika saat mendengar pintu terbuka. Sorot matanya yang semula tajam dan dingin mendadak melembut begitu menangkap sosok Arabella yang tampak lesu dengan wajah pucat membendung beban mendalam.​Tanpa memperdulikan keberadaan Kyle, Ren melangkah maju mendekati Arabella. Pria itu mengabaikan jarak profesionalisme dan langsung mengulurkan tangannya dengan hangat.​"Ara... gimana keadaan ayahmu?" tanya Ren lembut, suaranya seperti oase di tengah gurun kekacauan yang menghimpit dada Arabella. "Ayo, aku antar kamu pulang. Kamu butuh istirahat, wajahmu pucat banget."​Re

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Sandiwara Sang Suami Bajingan

    “Papa, sudah sadar?” ​Suara Kyle meluncur mulus, terdengar begitu tulus dan sarat akan penyesalan semu. Pria itu berdiri di sisi ranjang rumah sakit dengan postur membungkuk hormat, menampakkan citra seorang menantu teladan yang sedang dilanda rasa bersalah mendalam.​Begitu pintu kaca kamar VIP tertutup rapat di belakang punggungnya, atmosfer di dalam ruangan berubah menjadi panggung sandiwara yang memuakkan. Kyle yang sedetik lalu masih menunjukkan seringai arogan di hadapan Ren, kini dengan lihai memutar balik gesturnya menjadi pria penuh iba. Ia bahkan membiarkan matanya sedikit memerah, menciptakan ilusi seolah-olah ia adalah korban dari kesalahpahaman rumah tangga yang hampir menghancurkan hidupnya.“Pa, Kyle disini. Papa tenang saja, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan Ara dan aku akan selalu menjaga perusahaan keluarga ini.”​Arabella, yang berdiri tidak jauh dari sudut ruangan, harus menggigit bagian dalam pipinya hingga terasa a

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Jangan Bercerai

    ​Pintu kaca kamar VIP menutup rapat, memutus segala kebisingan, caci maki, dan ketegangan yang tadi sempat pecah di lorong rumah sakit. Ruangan itu beraroma desinfektan yang tipis, diisi oleh suara monoton dari monitor detak jantung dan alat bantu pernapasan yang terpasang di sisi ranjang.​Arabella melangkah pelan dengan lutut yang terasa lemas. Di atas pembaringan rumah sakit itu, Mahendra Adiwangsa, pria paruh baya yang selama ini menjadi pilar terkuat dalam hidupnya terbaring sangat pucat. Wajah sang ayah tampak tirus, dengan mata terpejam rapat dan selang oksigen yang melingkar di hidungnya. Pertahanan diri Arabella yang tadinya dibangun dengan baja seketika runtuh berkeping-keping.​Ia duduk di kursi sisi ranjang, menggenggam tangan Mahendra yang terasa dingin dan rapuh. Air mata yang sejak tadi mati-matian ia tahan akhirnya tumpah menderas, membasahi punggung tangan sang ayah.​"Papa..." cicit Arabella tertahan, suaranya bergetar hebat di

  • Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku   Dua Pria Yang Bertemu Di Lorong Rumah Sakit

    ​"Sialan kau, Arabella! Berani-beraninya kau datang bersama bajingan ini?!" bentak Kyle dengan suara menggelegar, memecah keheningan koridor.​Pria itu melangkah maju dengan kepalan tangan yang bergetar hebat di kedua sisi tubuhnya. Urat-urat di lehernya menegang, dan matanya menyala merah, menatap tajam ke arah Arabella sebelum beralih memindai sosok Ren yang berdiri tepat di samping wanita itu dengan postur santai namun siaga.​Arabella menegakkan dagunya. Kelemasan akibat kabar buruk tentang sang ayah seketika tertutup oleh lapisan baja kemarahan yang membakar dadanya. Ia menatap Kyle bukan lagi dengan rasa sakit atau air mata, melainkan dengan tatapan paling dingin yang pernah ia tunjukkan seumur hidupnya.​"Jaga jarak dariku, Kyle," desis Arabella tajam, suaranya menusuk tanpa gentar. "Dan berhenti berteriak di depan kamar ayahku! Kau tidak punya hak sedikit pun untuk mengatur dengan siapa aku datang, atau dengan siapa aku pergi. Hubungan ki

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status