LOGINReaksi Damar saat mendengar kabar bahwa dia akan menjadi kakek buyut tampak persis seperti yang aku harapkan, bahkan lebih dari itu.Selama beberapa detik yang terasa panjang, dia sama sekali tidak bergerak, seolah pikirannya butuh waktu untuk mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan Adriel. Lalu matanya dipenuhi air mata, dan senyum cerah yang hampir seperti anak kecil perlahan menyebar di wajahnya yang penuh keriput."Seorang bayi ...." bisiknya dengan suaranya yang bergetar oleh emosi. "Seorang bayi … dalam keluarga ini … setelah sekian lama .…"Kemudian dia tenggelam dalam kebahagiaan yang begitu tulus. Dia berdiri dari kursinya dengan kelincahan yang mengejutkan dan menarik kami berdua ke dalam pelukan erat yang berlangsung lama sekali. Kata-katanya mengalir dalam campuran bahasa Maravinese dan Valentia yang cepat dengan luapan kebahagiaan."Ini kabar terbaik yang pernah ada!" serunya dan mencium puncak kepalaku berulang kali. "Bayi keluarga kita! Akhirnya, akhirnya!"Makan mal
Aku tidak pernah menyangka secara manusiawi mungkin untuk mencabut seluruh kehidupan dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Tapi ini beneran terjadi. Aku menatap ke luar jendela jet pribadi saat Telaga Permata mengecil di bawah kami, seluruh duniaku kini hanya tersisa beberapa koper yang disimpan di bagasi.Kami berhasil mengemas semuanya dalam satu hari, itu merupakan sebuah hal yang masih terasa tidak nyata. Adriel menyewa tim pindahan profesional yang bekerja seperti koloni semut, mengemas setiap barang, setiap kenangan, setiap bagian kecil dari kehidupan yang aku bangun di apartemen kecil itu. Kami pun mengembalikan kunci kepada pemilik, sementara Adriel bahkan tidak berkedip melihat biaya pemutusan kontrak lebih awal atau noda anggur merah mencurigakan di dinding. Saat pria itu mencoba berdebat soal penalti dan klausul, Adriel hanya mengeluarkan ponselnya, melakukan transfer dalam jumlah cukup besar yang langsung membuatnya diam, dan selesai sudah.Begitu saja, hidupku tersu
Adriel sudah membungkuk di atas meja makan selama lebih dari dua jam, meneliti berkas-berkas yang Alex ambil dari komputer Elisa. Hard drive, email yang dicetak, kata sandi dan login, cadangan chat, dan tangkapan layar transfer bank. Segunung data terbentang di hadapan kami, seperti kepingan-kepingan dari sebuah teka-teki kelam yang rumit."Ada menemukan sesuatu?" tanyaku, berjalan mendekat sambil membawa dua cangkir kopi panas.Dia mengembuskan napas berat, menyibakkan rambutnya dengan satu tangan, kelelahan jelas terlihat di wajahnya. Lingkaran hitam di bawah matanya sudah menjelaskan segalanya, dia hampir tidak tidur, atau bahkan tidak tidur sama sekali."Selain yang sudah jelas, tidak banyak." Dia ngaku sambil menerima cangkir dariku lalu menyesapnya. "Ada banyak percakapan dengan Lydia, beberapa di antaranya terlalu pribadi dan ditambah beberapa transfer mencurigakan dan kontak Euradia yang tidak aku kenal. Tapi tidak ada yang berupa pengakuan langsung. Tidak ada yang bisa kita pa
Ketika aku tiba di kafe, Alex sudah ada di sana, duduk di meja yang sama seperti terakhir kali. Dia berdandan lebih rapi dari biasanya dengan rambut yang ditata sempurna, kemeja biru yang licin, dan parfum yang dulu selalu dia pakai setiap kali ingin membuatku terkesan. Jelas sekali dia datang ke sini bukan hanya untuk berbicara."Vivian," katanya sambil berdiri saat melihatku. Dia mencondongkan tubuh untuk mencium pipiku, tapi aku melangkah mundur."Alex," jawabku dingin dan langsung duduk tanpa ragu."Kamu terlihat cantik," katanya sambil tersenyum dengan campuran kenangan lama dan tampak penuh harapan. "Gaun itu terlihat sempurna di kamu.""Terima kasih," kataku datar, lalu meletakkan tasku di atas meja di antara kami seperti penghalang fisik."Aku senang kamu menelepon," lanjutnya sedikit condong ke depan. "Aku sudah memikirkan percakapan terakhir kita, tentang semua yang kita katakan. Tentang kita.""Alex." Aku memotong tajam. "Kita jujur saja di sini."Dia berkedip, jelas terkeju
Adriel masih mengancingkan kancing terakhir kemejanya saat aku membuka pintu dan mendapati Anna serta Rivan di luar. Adikku langsung masuk seperti badai dengan penuh energi dan antusiasme tentang berita pentingnya, sementara Rivan menyusul di belakangnya dengan wajah yang sangat serius sampai terasa kontras dengan suasana hati Anna. Tidak butuh waktu lama untuk menyadari ketegangan di antara mereka. Mereka menjaga jarak sopan, dan ini sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada."Hai, Kak!" sapa Anna dan mengecup pipiku sebelum tiba-tiba berhenti. Matanya berpindah cepat antara aku dan Adriel, alisnya langsung terangkat. "Kenapa kalian berdua kelihatan seperti habis lari maraton? Dan kenapa Adriel kelihatan seperti kalah berantem sama sisir?"Wajahku langsung panas saat aku buru-buru merapikan rambut."Anna," gumamku yang malu setengah mati."Ohhh," katanya sambil tertawa saat melihat ekspresi Adriel. "Ngerti. Maaf soal waktunya, tapi sumpah ini penting!""Sebaiknya memang penting," gumam
Sudut pandang Vivian.Cahaya lembut dari TV berkedip di wajah kami saat kami menonton film konyol tentang alien yang jatuh cinta dengan manusia. Adriel bersikeras kami butuh sesuatu yang santai dan tanpa stres, jujur saja, dia benar. Setelah semua yang kami lewati beberapa minggu terakhir ini, malam tenang di rumah memang tepat seperti yang kami butuhkan.Aku meringkuk di dadanya di atas sofa, sambil memegang mangkuk di pangkuanku yang berisi ngidam terbaruku yaitu es krim vanila dengan irisan acar dan mustar. Aku tahu ini terdengar menjijikkan, tapi entah kenapa aku tidak bisa berhenti memakannya."Vivian," kata Adriel sambil memperhatikanku mencelupkan acar lagi ke dalam es krim. "Itu mungkin hal paling aneh yang pernah kulihat kamu makan.""Bukan salahku," kataku sambil mengambil suapan besar. "Ini gara-gara hormon. Itu bikin aku ngidam hal-hal paling aneh.""Itu bahkan lebih dari sekedar aneh," godanya sambil mengecup puncak kepalaku. "Minggu lalu cokelat dan sarden. Sekarang ini.
Hari terakhir kami di Valentia dipenuhi dengan perpisahan. Perpisahan dengan vila itu, dengan langit-langit berlukis dan jendela-jendela yang membingkai pemandangan seperti kartu pos. Perpisahan dengan Lusi, dia memelukku seolah aku sudah menjadi keluarga selama bertahun-tahun, berbisik memberkatiku
Sudut pandang Adriel.Sarapan di kediaman Keluarga Mahendra di Lembah Cemara selalu menjadi momen yang sepi bagiku. Saat kecil dan remaja, jarang sekali kulihat orang tuaku duduk di meja. Para staf menjaga jarak dengan penuh hormat dan aku terbiasa makan dalam keheningan sambil menata rencana hari i
Kemungkinan itu terasa menggantung di udara, dan hampir bisa dirasakan. Kata-kata Anna bergaung di kepalaku seperti lagu yang tidak bisa kuabaikan. Membatalkan kontrak? Mengubah sandiwara kita menjadi nyata? Itu sesuatu yang bahkan belum pernah kuizinkan untuk dipikirkan, dan terlalu takut terjebak
"Kita butuh pakaian yang nyaman," kata Adriel sambil melangkah masuk ke kamar tepat saat aku selesai bersiap untuk makan malam. Matanya langsung berbinar ketika melihat kalung batu kecubung di leherku. "Kamu menyukainya."Itu bukan pertanyaan, tetapi aku menangkap sedikit keraguan dalam suaranya. Se







