LOGINSudut Pandang Nathaniel.Setelah makan siang, suasana rumah dengan sendirinya terbagi menjadi beberapa kelompok. Para wanita, Vivian, Anna, dan Aurelia duduk di teras belakang, tempat mereka bisa mengobrol lebih privat sementara Elio bermain di atas selimut di lantai. Dari dalam, aku masih bisa mendengar suara mereka yang ramai, sesekali diselingi tawa Vivian yang begitu menular."Mau minum?" tanyaku pada Adriel sambil mengangguk ke arah bar di ruang tamu. "Setelah penerbangan lintas Atlantik dengan bayi, sepertinya kamu butuh itu.""Ya ampun, iya." Dia tertawa dan mengikutiku ke bagian rumah yang lebih tenang. "Aku sayang anakku, tapi tiga jam menangis tanpa henti di pesawat itu benar-benar ujian kesabaran yang tidak seharusnya dialami siapa pun."Ruang tamu punya suasana yang berbeda dari bagian rumah lainnya. Lebih maskulin, dengan kursi kulit, rak penuh buku, dan bar yang lengkap, yang hampir tidak pernah kusentuh saat aku sendirian. Pencahayaan di sini juga lebih lembut, dan lebih
Sudut Pandang Anna.Bandara Harrington di Sabtu pagi ternyata jauh lebih ramai dari yang aku bayangkan. Aurelia dan aku sudah sampai satu jam lebih awal, sama-sama dipenuhi rasa antusias untuk menyambut Vivian, Adriel, dan Elio yang akhirnya tiba di Londoria."Itu penerbangan mereka," kata Aurelia sambil menunjuk papan kedatangan. "Mereka mendarat dua puluh menit yang lalu."Aku berjinjit dan mencari sosok kakakku di antara arus orang yang keluar dari kedatangan internasional. Saat akhirnya aku melihatnya dengan Elio di pinggangnya, sementara Adriel berjuang membawa dua koper besar, gelombang emosi menghantamku begitu keras sampai aku hampir kehilangan keseimbangan."Kakak!" teriakku sambil melambaikan tangan seperti orang gila.Dia melihatku, dan wajahnya langsung bersinar meskipun jelas kelelahan setelah perjalanan panjang. Aku berlari menghampirinya dan memeluknya begitu erat sampai hampir menjepit Elio di antara kami."Adikku," bisiknya di telingaku dan memelukku erat. "Aku sangat
Sudut pandang Nathaniel."Apa kamu yang mengirim bunga itu?" tanya Aurelia, dan matanya terkunci padaku. "Kamu orang dari aplikasi itu?""Tentu bukan," jawabku cepat, berusaha terdengar tersinggung dengan tuduhan itu. "Apaan sih kamu?""Itu kamu," katanya bersikeras dan tubuhnya sedikit condong ke depan. "Semua masuk akal sekarang. Cara kamu menatap dia, cara kamu selalu mencari alasan untuk bekerja dengannya, cara kamu langsung kaku saat aku menyebut pria misterius itu .…""Aurelia, Anna dan aku itu teman. Hanya teman.""Hentikan akting teman itu," katanya sambil melambaikan tangan dengan kesal. "Kalian berdua sudah terobsesi dengan satu sama lain sejak kalian … berhubungan di pesawat itu."Rahangku mengencang. Bagaimana dia bisa begitu lancang? Bagaimana dia bisa membahas sesuatu yang begitu pribadi dengan cara yang kasar seperti itu? Statusnya sebagai teman Anna tidak memberinya hak untuk ikut campur sejauh ini dalam hidup pribadiku. Apalagi merendahkan apa yang terjadi antara aku d
Sudut pandang Nathaniel.Aku sedang di ruanganku sambil meninjau kontrak, ketika memutuskan untuk mengirim pertanyaan berikutnya ke Anna. Sudah hampir pukul sepuluh pagi, dan dia belum mengatakan apa pun tentang bunga itu. Mungkin dia belum sempat mencerna hadiah itu, atau mungkin dia tenggelam dalam pekerjaan.Aku membuka aplikasi dan mengetik.[Pertanyaan keempat. Kamu lebih tertarik pada orang yang menantangmu atau yang melengkapi kamu?]Aku menekan kirim lalu meletakkan ponsel, mencoba fokus kembali ke dokumen di depanku. Tapi sulit berkonsentrasi ketika sebagian pikiranku terus membayangkan ekspresinya saat melihat mawar itu. Aku berharap dia menyukainya, dan memahami maksud di balik kaitannya dengan percakapan kami semalam.Ketukan tajam di pintu menarikku dari lamunan."Masuk," kataku, dan Aurelia masuk dengan ekspresi serius."Nate, aku perlu bicara soal masalah keamanan.""Tentu. Silakan duduk. Ada apa?""Seseorang masuk ke kantor kita pagi ini dan meninggalkan bunga di meja A
Jumat pagi aku datang ke kantor lima belas menit lebih awal, dan berharap bisa menikmati sedikit ketenangan sebelum hari menjadi kacau. Tapi begitu aku melangkah masuk ke ruangan kami, aku langsung membeku.Di mejaku ada buket mawar merah besar setidaknya dua lusin yang tersusun sempurna dalam vas kristal yang elegan. Aroma lembutnya sudah tercium bahkan sebelum aku mendekat."Dan ...." kata Aurelia sambil mengintip dari balik layar komputernya dengan ekspresi serius. "Ada apa ini?"Aku bergegas ke arah bunga itu seperti anak kecil di pagi Natal, dan mencari kartu. Sebuah amplop putih kecil terselip di antara kelopak mawar. Tanganku sedikit gemetar saat membukanya."Hadiah pertama dari banyak yang akan datang."Jantungku langsung berdebar. Tidak ada tanda tangan, tapi aku tahu persis siapa yang mengirimnya.Semuanya bermula saat aku dan Wanderer melanjutkan permainan tanya jawab kami. Waktu itu giliranku, dan aku memilih sesuatu yang sudah lama membuatku penasaran.[Pertanyaan ketiga,
Sudut pandang Nathaniel.Lift sudah bergerak naik saat Anna buru-buru masuk, jelas terlambat untuk sebuah rapat. Napasnya sedikit terengah ketika pintu menutup, dan menyisakan kami berdua di dalam."Selamat pagi," kataku yang menjaga nada suaraku tetap senatural mungkin."Selamat pagi," balasnya sambil merapikan tasnya dan menatap lurus ke angka yang terus naik di atas pintu. "Setidaknya kali ini aku tidak sedang memegang secangkir kopi."Referensi ke momen saat kami hampir berciuman itu langsung membuatku lengah. Aku tertawa pelan."Kemejaku berterima kasih untuk itu," kataku. Saat mata kami bertemu, udara di dalam lift terasa menebal.Anna segera mengalihkan pandangan, dan pipinya berubah menjadi merah muda lembut yang sudah sangat kukenal. Aku yakin dia teringat apa yang hampir terjadi di lift yang sama ini. Aku sendiri jelas mengingatnya.Lift berhenti di lantai sepuluh dengan bunyi ding pelan, dan memotong momen itu."Ngomong-ngomong," kataku saat pintu terbuka. "Kita perlu kerja
Hari terakhir kami di Valentia dipenuhi dengan perpisahan. Perpisahan dengan vila itu, dengan langit-langit berlukis dan jendela-jendela yang membingkai pemandangan seperti kartu pos. Perpisahan dengan Lusi, dia memelukku seolah aku sudah menjadi keluarga selama bertahun-tahun, berbisik memberkatiku
Sudut pandang Adriel.Sarapan di kediaman Keluarga Mahendra di Lembah Cemara selalu menjadi momen yang sepi bagiku. Saat kecil dan remaja, jarang sekali kulihat orang tuaku duduk di meja. Para staf menjaga jarak dengan penuh hormat dan aku terbiasa makan dalam keheningan sambil menata rencana hari i
Kemungkinan itu terasa menggantung di udara, dan hampir bisa dirasakan. Kata-kata Anna bergaung di kepalaku seperti lagu yang tidak bisa kuabaikan. Membatalkan kontrak? Mengubah sandiwara kita menjadi nyata? Itu sesuatu yang bahkan belum pernah kuizinkan untuk dipikirkan, dan terlalu takut terjebak
"Kita butuh pakaian yang nyaman," kata Adriel sambil melangkah masuk ke kamar tepat saat aku selesai bersiap untuk makan malam. Matanya langsung berbinar ketika melihat kalung batu kecubung di leherku. "Kamu menyukainya."Itu bukan pertanyaan, tetapi aku menangkap sedikit keraguan dalam suaranya. Se







