Share

Bab 2

Author: Kayla Sango
Jantungku membeku saat melihat Elisa lagi, menatap tepat ke arahku seolah siap menelanjangi aku, mempermalukan aku. Tapi untungnya, dia segera dibawa pergi untuk persiapan terakhir. Upacara akan segera dimulai.

"Anggur Grup Mahendra? Dari mana dia dapat itu?" Aku bertanya.

Dia menunjuk salah satu pelayan yang berjalan di ruangan resepsi, menghidangkan minuman. Adriel mengambil satu botol dan menaruhnya di depan label yang tertulis [Mahendra].

"Dari teman terbaik kita malam ini," katanya sembari menuang dua gelas sampai penuh. "Aku rasa kamu butuh ini untuk memulai."

"Pintar, pilih nama yang sudah terkenal. Tapi kamu ngerti soal anggur nggak sih?"

"Aku tahu anggur itu seperti orang," jawabnya dengan senyum nakal sambil mencondongkan badan begitu dekat sampai aku bisa merasakan hangat tubuhnya. "Yang terbaik harus dinikmati pelan-pelan... pertama cium aromanya..." Matanya sekilas menatap bibirku. "Lalu cicip sedikit, biarkan rasanya menyebar..." Suaranya menurun jadi bisikan. "...dan baru kemudian kau nikmati setiap tegukan, merasakannya menghangatkan dari dalam, sampai momen terakhir."

"Kamu jelas nggak ngerti apa-apa soal anggur." Aku akhirnya bisa berkata, berusaha tetap tenang. "Tapi aku akui, kamu memang memikat."

Aku sudah mengira upacara ini bakal jadi mimpi buruk, tapi sejujurnya tidak ada yang bisa mempersiapkanku untuk ini. Duduk di bangku, memegangi tangan Adriel erat-erat, aku berusaha tetap tenang sambil Elisa dan Alex saling mengucapkan janji cinta. Setiap kali terdengar kamu cinta sejatiku, yang ingin aku lakukan hanyalah berdiri dan berteriak pengkhianat kepada mereka berdua.

Setiap kata seperti tamparan. Dan kalau aku menutup mata sesaat saja, aku bisa mengingat hari ketika Alex mengucapkan kata-kata yang sama persis padaku.

Tanganku menggenggam tangan Adriel begitu erat sampai jariku sendiri terasa pegal. "Kalau kamu terus meremas seperti itu, sayang, aku bakal mati rasa," bisiknya.

"Maaf. Lagi sedikit hancur dalam diri."

"Aku tahu. Mau aku pura-pura pingsan biar upacaranya berhenti?"

"Enggak. Maksudku... mungkin. Kalau semua gagal, tumpahin anggur ke gaun pengantin aja."

Dia terkekeh, tapi tak menolak kalau memang benar-benar kusuruh melakukannya.

Setelah upacara, resepsi berubah menjadi ajang pamer kekayaan. Cahaya hangat dan mewah, prasmanan mewah, para pelayan menyusuri kerumunan sambil membawa sampanye dalam gelas kristal.

Begitulah Elisa menemukanku, aku tampak memegang gelas kedua seolah hidupku bergantung padanya. "Vivian! Aku senang banget kamu datang," katanya dengan nada manis yang bikin mual. "Ini sangat berarti bagiku bahwa kita bisa melupakan semua hal sebelumnya."

Melupakan semua? Hah. Seolah aku yang kecil hati karena nggak bisa memaafkan.

Alex mendekat, menatapku pelan dari atas sampai bawah. "Kamu kelihatan beda, Vivian."

Rasanya hampir seperti dia merasa aku seharusnya tidak tampil seperti ini. Cantik. Tersenyum. Utuh. Mereka ingin melihat aku hancur.

"Terima kasih."

Elisa tersenyum saat lihat Adriel. Matanya melirik dia, kayak orang ngecek produk. "Wah, kejutan. Dapat pacar secepat ini?"

Sebelum aku sempat jawab, Adriel terkekeh. "Tunangan," koreksinya santai sambil tangannya melingkar di pinggangku dengan cara kasual tapi posesif. Matanya menatap Elisa dengan tatapan menantang. "Lucu juga kamu bilang begitu, Elisa. Sepertinya bukan Vivian yang masih hidup di masa lalu."

Senyum Elisa tak goyah, tapi aku lihat matanya menyipit, tangannya sedikit mengencangkan pegangan pada gelas sampanyenya. Dia berusaha sembunyiin, tapi jelas serangan itu kena di hatinya. Dia marah. Sementara aku, harus berjuang menahan senyum agar tak muncul di wajahku.

"Jadi kalian bener-bener tunangan?" Elisa menyilangkan tangan. "Wah... aku belum pernah lihat apa pun tentang kalian berdua."

"Itu hal pribadi," jawab Adriel.

Amanda dan salah satu kenalan kuliah lamaku yang lain, mendekat bersama kelompok kecilnya.

"Jadi ini tunangan pewaris terkenal?" tanyanya sambil senyum sinis.

"Adriel Mahendra." Dia memperkenalkan diri.

"Mahendra?" Helena mengangkat alis. "Belum pernah denger satu pun Mahendra lajang di Telaga Permata."

"Itu nggak aneh buatku." Adriel menjawab dengan senyum sopan yang diselipi rasa meremehkan. "Lagipula, aku kan bukan lajang, iya kan??"

Alex berusaha mengendalikan situasi. "Mahendra... dari Grup Mahendra? Yang menangin penghargaan di seluruh dunia itu?"

Aku merinding. Ini ujian. Adriel, atau apapun nama aslinya, cuma pria sewaan. Apa dia ngerti soal anggur mewah?

"Iya, itu dia," jawab Adriel santai. "Tapi aku lebih fokus ke investasi internasional keluarga. Jarang banget ke kilang anggur."

Mata Elisa sedikit melebar. "Aku bekerja dengan beberapa merek anggur premium, tapi aku belum pernah melihatmu di acara mana pun."

"Aku lebih sering di Averra." Adriel bilang santai. "Ngomong-ngomong, Alex, gimana proyek di Teluk Angkasa? Dengar-dengar kamu kesulitan dengan izin lingkungan."

Wajah Alex berubah pucat. "Kamu tahu itu dari mana?"

Adriel cuma mengangkat bahu.

"Aku punya koneksi."

Rahangku ternganga, dan Adriel meremas tanganku, seolah mengingatkanku untuk mengangkat dagu. Kapan dia sempat mencari-cari aib Alex?

Elisa menyela, jelas kesal, "Pertunangan ini pasti baru banget." Dia menatapku dengan rasa kasihan yang hampir tak disembunyikan. "Setelah semua ini, aku nggak nyangka kamu bisa melupakan semua hal dengan begitu cepat."

Cara dia bilang melupakan semua hal terdengar kayak aku menjijikkan.

"Jangan remehkan Vivian," potong Adriel. "Dia jauh lebih hebat dari yang kalian kira."

Elisa tersenyum merendahkan. "Tentu saja dia bisa. Aku senang banget untukmu, sayang. Aku sempat khawatir kamu mungkin... yah, nggak akan bisa melupakannya. Tapi masalahnya..." Dia melirik Adriel. "Kalian berdua terlihat begitu... berbeda. Seperti berasal dari dunia yang benar-benar berbeda."

"Atau mungkin," kata Adriel sambil tersenyum pelan, menarikku lebih dekat. "Kamu saja yang nggak pernah tahu nilai aslinya."

Tenggorokanku panas, air mata nyaris jatuh saat aku ingat kata-kata Elisa bahwa nggak akan ada yang mau aku. Dia jelas nggak nyangka aku bakal diinginkan oleh seseorang kayak Adriel. Pria kaya, tampan. Memang semua palsu, tapi dia nggak akan pernah tahu itu.

"Mau menari?" tanyanya, matanya menatapku seolah bisa membaca bahwa aku butuh diselamatkan. "Tentu."

Adriel membawa aku ke tengah ruangan resepsi, tangannya melingkar di pinggangku. Dari jauh, aku lihat Elisa menatap tajam, berbisik sesuatu ke Alex.

"Jangan biarin mereka pengaruhin kamu," bisik Adriel. "Kamu luar biasa, Vivian."

Tawa pahit terlepas dari bibirku.

"Aku cuma seorang penjual gaun pengantin mewah. Dan dia salah satu humas paling terkenal di negara ini, hidup yang selalu aku impikan. Jalan-jalan, selebriti... Alex..."

Adriel menatap mataku tanpa setitik iba. "Kalau hidup yang kamu impikan itu jadi ular yang nikah sama idiot tukang selingkuh, kamu serius harus mikir ulang tujuan hidupmu."

Aku terpaku, terkejut dengan keterusterangannya. Lalu, tanpa sadar, senyum mulai muncul di bibirku.

"Kamu menyebalkan."

"Tapi menggoda," balasnya sambil mengedipkan mata.

Aku tertawa sambil menggeleng.

"Matamu bersinar," katanya lembut. "Bukan senang, tapi amarah yang terpendam."

"Aku nggak ngerti maksudmu."

"Pura-pura jadi wanita tangguh dan tak terkalahkan ini pasti menyakitimu dari dalam," bisiknya. "Kamu nggak pantas ngalamin itu."

Gelombang emosi menghantamku, aku harus berjuang supaya air mata nggak jatuh di situ juga. Gimana dia bisa begitu tepat sasaran?

"Aku nggak mau di sini lagi," bisikku.

"Aku sudah pesenin kamar di hotel ini. Kalau kamu mau bikin investasimu berharga... kita bisa ninggalin pesta membosankan ini dan bener-bener bersenang-senang."

"Aku mau," jawabku tanpa ragu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 370

    Sudut pandang Valerie.Tawa lolos dari bibirku.Bukan tawa karena merasa lucu, melainkan tawa yang terdengar nyaris histeris dan gemetar, muncul dari keterkejutan luar biasa atas semua yang baru saja terjadi dalam beberapa menit terakhir.Suara itu bergema di seluruh ruangan dengan cara yang bahkan terasa sedikit mengganggu. Dan ketika akhirnya aku berhasil menghentikannya, kata-kata langsung keluar tanpa sempat kusaring."Kamu gila," kataku sambil menggeleng keras. "Ini ide paling tidak masuk akal yang pernah kudengar seumur hidupku."Dewa terus menatapku dengan keseriusan yang sama sekali tidak cocok dengan situasi gila yang sedang dia usulkan.Seolah meminta orang asing untuk menikah dengannya adalah hal paling wajar di dunia."Bagaimana mungkin kamu melamar seseorang yang bahkan tidak kamu ketahui namanya?" lanjutku, merasakan campuran antara ketidakpercayaan dan sesuatu yang nyaris berubah menjadi histeria. "Ini ... ini benar-benar kegilaan.""Memangnya itu perlu?" tanyanya tenang

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 369

    Sudut pandang Rivan."Dewi?" ulangku sambil perlahan mendekatinya ketika dia tidak menjawab pertanyaanku yang pertama.Dia berdiri membeku di tengah ruangan, wajahnya pucat pasi, menatap lantai tempat ponselnya terjatuh dan menghantam marmer. Tangannya gemetar jelas terlihat, dan dia tampak benar-benar syok, seolah baru saja melihat hantu.Tanpa berpikir panjang, aku menjatuhkan handuk yang masih melingkar di pinggangku lalu mengenakan celana pendek yang tergeletak di atas tempat tidur. Pikiranku sudah langsung masuk ke mode waspada.Ada sesuatu yang sangat tidak beres.Dewi bukan tipe orang yang mudah panik. Aku sudah mempelajarinya selama beberapa hari terakhir. Jadi jika dia terlihat seperti ini, apa pun yang baru saja dia lihat di ponselnya pasti sangat serius."Ada apa?" tanyaku lagi sambil menyentuh lengannya dengan lembut.Dia hanya menggeleng, dan masih menatap perangkat yang tergeletak di lantai.Aku mengambil ponsel itu dengan hati-hati dan melihat bahwa meskipun terjatuh, la

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 368

    Sudut pandang Valerie.Hari-hari berikutnya berubah menjadi rangkaian momen yang terasa seperti diambil langsung dari film romantis Hollywood.Anggur-anggur yang harganya tidak masuk akal dan bahkan tidak pernah kuketahui keberadaannya. Hubungan intim yang membuatku kehilangan napas. Pemandangan yang begitu tidak nyata hingga terkadang aku harus mencubit diri sendiri hanya untuk memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi.Jika rencana awalku untuk melupakan Darren adalah meringkuk di sofa sambil memegang seember es krim dan menonton maraton film-film drama, maka Dewa sudah bekerja dengan baik. Pria sewaan pribadiku, seperti yang suka dia sebutkan sebagai lelucon, terbukti sangat efektif menjalankan perannya.Kami menghabiskan pagi-pagi kami saling berpelukan di tempat tidur, terbungkus seprai katun yang lembut, dan menjelajahi setiap sisi satu sama lain seolah waktu tidak ada. Dewa menyentuhku dengan cara yang membangunkan seluruh tubuhku, seakan setiap ujung sarafku memang diciptakan

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 367

    Sudut pandang Rivan.Aku mengamati Dewi pada pagi setelah makan malam penuh pengakuan itu, dan aku menyadari ada sesuatu yang berbeda dari gestur dan pembawaannya. Dia tampak lebih ringan, seolah akhirnya berhasil melepaskan beban besar yang selama ini dipikulnya setelah membagikan rasa sakitnya kepadaku. Namun di saat yang sama, ada kerapuhan baru di sana, seakan satu beban telah digantikan oleh beban lain. Mungkin ketakutan karena sudah membuka dirinya terlalu jauh. Karena sudah mempercayakan rahasia terdalamnya kepada seseorang yang pada dasarnya masih orang asing.Dia berdiri di dek dengan secangkir kopi di tangan, dan menatap laut sebening kristal di hadapannya. Namun bahunya sedikit membungkuk, seolah bayang-bayang malam sebelumnya masih belum benar-benar pergi. Saat itulah aku memutuskan bahwa hari ini harus diisi dengan hal-hal yang ringan. Aku ingin menarik Dewi sepenuhnya keluar dari orbit gelap masa lalunya dan mengembalikannya ke surga kecil yang hanya menjadi milik kami."

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 366

    Sudut Pandang Valerie.Sunyi.Itu saja yang tersisa di antara kami setelah aku selesai menceritakan kisahku. Kata-kataku masih seolah menggantung di udara malam tropis yang hangat, bercampur dengan suara ombak yang jauh dan gumaman pelan pasangan lain yang sedang makan di meja-meja sekitar. Aku terus menatap gelas anggur di depanku, dan memperhatikan cahaya lilin yang berkilau di dalam cairan merah gelap itu, karena tidak sanggup menatap Dewa.Aku sudah menceritakan semuanya padanya. Atau hampir semuanya.Aku sudah menceritakan pengkhianatan yang kutemukan di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupku. Tentang aku mendapati tunanganku yang bahkan tidak pernah kusebutkan nama aslinya bersama wanita yang kukira sahabat terbaikku, menyusun rencana untuk menjadikan pernikahanku sebagai alat tukar dalam permainan yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah kubayangkan. Aku juga menceritakan tentang orang tuaku, tentang bagaimana aku menyadari mereka bukan hanya tahu s

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 365

    Tiga Hari Sebelumnya, Sudut Pandang Valerie."Apa kamu melihat itu?" Suaraku keluar nyaris seperti bisikan."Tenang!""Apa kamu melihat itu?!" Kali ini aku berteriak."Tenang!" Ibu membentakku balik.Clarisa Salvino, yang selalu sempurna dalam gaun biru tua berbordir tangan, membuatku duduk di sofa dan menyodorkan segelas sampanye. Bahkan di tengah kekacauan, dia tetap mempertahankan ketenangan elegan yang menjadi cirinya."Kamu sudah tahu?" tanyaku dan keterkejutan membuatku tiba-tiba tenang dengan cara yang aneh. "Kamu sudah tahu?""Aku menduganya," katanya jujur sambil merapikan lipatan yang seolah-olah ada di roknya. "Ayahmu juga.""Kenapa kalian membiarkanku menjalani ini?"Ibu mendekat dan duduk di sebelahku, tangan sempurnanya yang terawat mencengkeram tanganku dengan kekuatan yang tidak nyaman."Sejujurnya, Valerie .…" Dia menghela napas. "Karena kita membutuhkan pernikahan ini sama seperti Darren membutuhkan kita.""Maksud Ibu apa?""Taman hiburan itu, sayang. Kita bangkrut. B

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 24

    Adriel menoleh ke arahku, pertanyaan tentang Lydia masih menggantung di antara kami. Lalu tiba-tiba, dia tersenyum dengan senyum miring yang biasanya muncul saat dia memutuskan untuk mengubah aturan permainan."Kalau kamu sendiri?" tanyanya dan tatapannya tidak lepas dari mataku. "Kamu masih peduli

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 13

    Bel rumah berbunyi pukul delapan pagi di hari Senin, membangunkanku dari tidur yang tidak tenang sejak tadi malam. Sejak Adriel pergi dari rumahku kemarin, pikiranku tidak berhenti sama sekali. Ciuman itu, kesepakatan itu, dan perjalanan itu terus berputar di kepalaku seperti sesuatu yang tidak mau

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 75

    Setelah Lydia pergi, aku tetap duduk lama di teras, kata-katanya berputar-putar di kepalaku seperti daun yang diterbangkan badai. Aku perlu tahu lebih banyak, dan memahami apa yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun lalu.Tepat saat ini Lusi muncul dengan kopiku, dan saat dia menata meja, aku memutus

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 62

    Teras utama tertata dengan perhatian yang hanya dimiliki orang Valentia saat menyiapkan sebuah hidangan. Lilin-lilin berkelip lembut diterpa angin malam, memancarkan cahaya hangat di atas porselen antik dan perak yang berkilau. Dari dapur, aroma rempah dan saus yang direbus perlahan menyebar seperti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status