Share

Bab 63

Author: Kayla Sango
Aku tetap berbaring di antara barisan anggur, tubuhku masih bergetar oleh sisa hasrat saat Adriel melangkah menjauh untuk menjawab panggilan kakeknya. Gaun yang robek itu nyaris tak menutupi tubuhku, pakaian dalam hitam dengan aksen merah memantul lembut di bawah cahaya bulan. Angin malam menyapu kulitku yang panas, dan perlahan menarikku kembali ke kenyataan.

Menit demi menit terasa lambat saat aku menatap bintang-bintang, dan pikiranku kacau oleh pertimbangan yang saling bertentangan. Apa yang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 248

    Sudut Pandang Anna.Aku sedang tenggelam dalam laporan penjualan kuartal ketiga ketika sesuatu yang lembut jatuh tepat di atas kepalaku. Aku mendongak dan melihat Aurelia berdiri di samping mejaku, dengan tangan di pinggang, dan senyum jahil seolah dia sangat bangga pada dirinya sendiri."Aurelia, apa …?" Aku berkata sambil meraba ke atas dan merasakan kain yang lembut."Topi Natal." Dia mengumumkannya dengan gaya dramatis, seolah sedang mempersembahkan sebuah karya besar. "Cocok banget di kamu."Aku tidak bisa menahan tawa melihat betapa puasnya dia. Aku melepas topi itu dan memperhatikannya. Salah satu topi merah klasik dengan pom-pom putih, mungkin dibeli dari toko terdekat."Bukannya ini agak terlalu cepat?" tanyaku masih tertawa. "Ini baru November.""Anna, coba lihat ke luar!" katanya dengan antusiasme menular yang sudah jadi ciri khasnya. "Seluruh Londoria sudah masuk mode Natal. Ada pohon lampu di setiap sudut, toko-toko sudah dihias penuh, bahkan bus merah pun pakai dekorasi.

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 247

    Sudut pandang Nathaniel.Aku menatap layar ponselku untuk kesepuluh kalinya dalam lima menit terakhir membaca ulang pesan Anna. Cahaya pagi Minggu masuk perlahan melalui jendela apartemenku, tapi aku hampir tidak bisa fokus pada apa pun selain kata-kata yang kembali menyala di sana.Aku menginstal ulang aplikasi itu setelah tanpa sengaja mendengar Anna mengaku pada Vivian bahwa dia mulai memakainya lagi untuk berbicara denganku. Atau … versi lain dariku. Percakapan itu terjadi di sudut apartemen, tapi aku cukup dekat untuk menangkap beberapa kata kunci. Aku tidak bisa menahan diri begitu menyadari dia menginstal ulang aplikasi itu khusus untuk mencariku. Aku menginstalnya lagi dan menemukan pesan itu sudah menungguku.Anna menjawab: [Mungkin seseorang yang menantangku. Atau mungkin aku hanya suka merusak hidupku sendiri, karena itu yang kamu lakukan. Kamu muncul, hingga pikiranku jadi kacau total, dan aku tidak tahu kenapa. Untuk beberapa menit, aku bahkan bisa melupakan dia … dan itu

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 246

    Sabtu terasa seperti jeda yang menyegarkan setelah semua kekacauan di pesta. Aku masih bangun dengan sisa-sisa mabuk, tapi aku bertekad menikmati hari-hari terakhirku bersama Vivian dan Adriel sebelum mereka terbang kembali ke Verdania. Rasanya aneh saat tahu mereka akan segera berada di seberang lautan lagi. Kembali ke panggilan video dan pesan WhatsApp.Daniel datang sekitar jam sepuluh membawa kopi dan roti segar dari sebuah toko roti di Eldranic."Program Keluarga Kusuma," katanya begitu aku membuka pintu. "Vivian sudah setuju. Hari ini kita jadi turis di kotamu."Kami menghabiskan sepanjang hari mengunjungi tempat-tempat terkenal di Londoria yang entah bagaimana belum pernah aku lihat dengan benar sejak pindah ke sini. Kami mulai dengan Taman Linden, di mana Vivian mengambil puluhan foto Elio di kereta bayinya, dan tertawa setiap kali dia membuat ekspresi bayi yang dramatis."Dia persis seperti Ayah," kataku sambil memperhatikan Elio yang mengerutkan alisnya dengan cara yang sama

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 245

    Pesta terus berlanjut setelah Adriel dan para direktur operasional selesai berbicara. Lampu kembali ke cahaya hangatnya yang biasa, percakapan menjadi lebih cair lagi, dan suara denting gelas sampanye yang pelan memenuhi udara.Aku sudah mencoba lebih dari sekali untuk mencari momen berbicara dengan Nate. Rasanya seperti semesta memang memutuskan bahwa setiap kesempatan untuk bicara berdua harus diblokir dengan segala cara.Setiap kali aku merasa ada celah, selalu ada sesuatu yang terjadi. Pertama, saat aku melihatnya menjauh dari kelompok di dekat bar, seorang investor penting Ardawirans tiba-tiba mendekat bersama rombongan eksekutif di belakangnya. Nate langsung berubah ke mode profesional yang rapi dan terkontrol yang sudah sangat kukenal. Dan aku hanya bisa berdiri di sana dengan gelas anggur di tangan, melihatnya tenggelam dalam pembicaraan bisnis.Kedua kalinya, saat aku akhirnya melihatnya sendiri di dekat balkon utama, Vivian tiba-tiba datang entah dari mana dan langsung mengga

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 244

    Setiap langkahku menuju pintu kaca terasa semakin berat. Penuh tekanan. Seolah aku sedang berjalan langsung ke dalam sebuah momen yang akan mengubah sesuatu, dan sesuatu yang mungkin tidak bisa kuperbaiki lagi setelah ini. Detak jantungku meningkat. Saraf dan tekad bercampur dalam aliran listrik yang berdesir di bawah kulitku.Aku mencapai pintu berhias itu. Angin dingin menyelinap dari celahnya, dan menyentuh kulitku yang panas seperti undangan tanpa kata. Aku mengangkat tangan ke gagang emasnya dan menarik napas untuk menenangkan diri."Lihat nih .…"Suara Alexandra yang tajam terdengar dari belakangku. Setiap kata membawa nada menusuk yang sudah kukenali."Siap berpura-pura seolah tidak ada yang terjadi di luar sana. Kamu berani juga. Tapi aku penasaran, sejauh apa keberanian itu bertahan ketika seluruh kantor Grup Mahendra mulai membicarakanmu."Aku berbalik perlahan. Dia berdiri beberapa meter dariku. Postur sempurna. Rambut sempurna. Gaunnya membalut dirinya yang tampak sangat te

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 243

    Sudut Pandang Anna.Aku dan Vivian berjalan kembali ke pesta dengan langkah mantap. Lengan kami saling terkait, sebuah bentuk dukungan tanpa kata-kata yang memberiku kekuatan di setiap langkah."Kamu yakin kamu baik-baik saja?" bisik Vivian, jari-jarinya sedikit mengencang di lenganku, hangat dan protektif."Aku baik-baik saja," kataku sembari berusaha menampilkan senyum kecil.Saat itulah Henry muncul. Dia melangkah keluar dari kelompok kecil di dekat tangga utama dan berjalan ke arah kami dengan keanggunan alami yang selalu melekat padanya. Ekspresinya menyimpan sedikit kekhawatiran yang berasal dari kepedulian tulus, dan bukan sekadar rasa ingin tahu sosial."Anna," katanya saat mendekat, suaranya tenang dan sopan seperti yang sudah kuharapkan darinya. "Boleh aku bicara denganmu secara pribadi sebentar?"Vivian langsung menangkap maksudnya."Aku cari Adriel dulu," gumamnya, lalu kembali menggenggam lenganku dengan penuh dukungan. "Sampai jumpa nanti, ya?""Iya," jawabku dan memperha

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 66

    Matahari Eldoria perlahan tenggelam di balik perbukitan, mewarnai kebun anggur dengan warna emas dan merah menyala. Aku duduk di atas dinding batu tua yang mengelilingi salah satu teras vila, dan memutar-mutar gelas anggur di tanganku tanpa benar-benar meminumnya. Di bawah sana, lembah terbentang se

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 68

    Vila Mahendra hanya diterangi oleh cahaya perak bulan dan bintang yang tersebar di langit Eldoria. Kaki kami masih ternoda ungu dari jus anggur, meninggalkan jejak di jalan batu saat kami berjalan berdampingan, dan bahu kami sesekali bersentuhan."Aku benar-benar berantakan," kataku sambil menatap g

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 65

    Suara itu memecah keheningan, dan seketika menghancurkan keintiman yang sempat terbangun di antara kami. Adriel menegang di sampingku, seluruh tubuhnya membeku. Saat aku menoleh, aku berhadapan langsung dengan sosok yang sangat kukenal, yang tidak lain adalah Lydia Wijaya.Dia tetap memesona seperti

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 61

    Senja Valentia mewarnai langit dengan warna jingga dan merah muda ketika mobil kami berkelok naik di jalan yang dipagari pohon cemara. Setelah dua belas jam di pesawat bersama mertua dan hari yang menguras tenaga di Virelia, tubuhku benar-benar butuh istirahat. Namun mataku tetap terjaga, tak sanggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status