Share

Bab 70

Penulis: Kayla Sango
Aku terbangun oleh hangatnya sinar matahari Eldoria yang menyentuh wajahku, kontras tajam dengan hembusan angin pagi yang sejuk. Sesaat aku tetap menutup mata sambil menikmati ketenangan yang membungkusku. Tubuh Adriel menempel di tubuhku, dan kehangatannya menjadi perisai yang menenangkan dari dunia luar. Lalu aku menyadari sesuatu yang janggal, ada suara. Beberapa suara, berbicara cepat dalam Bahasa Valentia ... dan terdengar begitu dekat.

Mataku terbelalak, panik menyerbu seperti disiram air
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 102

    Rutinitas itu terbentuk jauh lebih cepat dari yang aku bayangkan. Pagi-pagi selalu dimulai dengan cara yang sama, aku bangun sebelum alarm berbunyi, buru-buru ke kamar mandi untuk menahan gelombang mual yang tak kunjung hilang, menyiram wajah dengan air dingin, lalu menyikat gigi dengan tekad berlebihan seolah bisa menghapus semua jejaknya.Setelah itu dimulailah pencarian pekerjaan dengan mengirim CV, menjalani wawancara yang sopan tapi selalu berakhir dengan senyum kaku dan janji kosong yang sama, kami akan menghubungi Anda. Dan pada malam-malam ketika Adriel berada di Telaga Permata untuk rapat bisnis, yang untungnya belakangan ini semakin sering, ada perasaan seolah hidup kembali normal. Sebuah tujuan muncul. Sesuatu yang hampir terasa seperti pernikahan sungguhan."Sudah larut." Adriel meregangkan tangannya di atas kepala, bahunya berbunyi setelah berjam-jam membungkuk di atas berkas yang berserakan di meja makan. "Sepertinya kita cukup sampai di sini malam ini."Aku mengangguk sa

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 101

    Sudut Pandang Vivian.Jet pribadi itu melesat ke langit menuju Telaga Permata, meninggalkan Lembah Cemara dan akhir pekan kacau yang baru saja kami lewati. Di luar jendela, matahari sedang terbenam, mewarnai awan dengan semburat merah muda dan oranye. Pada hari biasa, pemandangan seperti itu pasti membuatku terpikat. Tapi pikiranku sama kacau seperti udara yang membuat pesawat berguncang.Anna duduk sangat diam di kursi di depanku, matanya menatap layar ponselnya. Meski begitu, aku ragu dia benar-benar membaca pesan-pesan yang terus dia gulir. Keheningan di antara kami terasa aneh. Anna tidak pernah sependiam ini, biasanya dia selalu punya lelucon atau komentar sarkastik siap dilontarkan."Kamu kenapa?" Akhirnya aku bertanya, memecah keheningan yang sudah berlangsung setengah jam.Dia mengangkat kepala, senyum tipis yang terasa dipaksakan muncul di bibirnya."Tidak apa. Cuma sedikit lelah. Akhir pekan itu ... cukup berat.""Anna." Nada suaraku jelas menunjukkan aku tidak percaya. "Ini

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 100

    "Apa kamu sadar kekacauan apa yang sudah kamu buat?" Rivan berdiri di tengah ruang tamu, dan melambaikan tangan dengan dramatis seperti hanya seorang Valentia yang benar-benar kehabisan kesabaran. "Aku terpaksa harus mengarang cerita konyol tentang Anthony jatuh dari tangga hanya untuk menjelaskan hidungnya yang patah dan darah di seluruh wajahnya!"Adriel kini mengenakan kemeja katun biru tua yang bersih, dan memasang ekspresi datar, meski memar di pipinya dan luka di alisnya menceritakan hal yang berbeda."Kakek percaya?" tanyanya mengabaikan kemarahan dramatis sepupunya."Tidak sama sekali." Rivan merebahkan diri di sofa di samping Anna. "Tapi dia pura-pura percaya, dan itu mungkin lebih parah. Dan mereka berdua …." Dia menggelengkan kepala. "Victoria buru-buru memasukkan pakaian ke koper. Mereka pergi seperti rumah ini lagi kebakaran.""Bagus," kata Adriel sambil duduk di kursi berlengan di hadapan mereka, dan posturnya hanya sedikit memberi tahu rasa sakit di tulang rusuknya. "Itu

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 99

    Pintu kamar menutup pelan di belakang kami. Adriel langsung menuju kamar mandi, membuka kemeja yang penuh noda darah dengan gerakan cepat dan tidak sabar. Aku mengikutinya, masih mencoba mencerna apa yang terjadi di taman."Lepas kemejamu," kataku saat melangkah ke kamar mandi luas itu, di mana dia sudah membuka kabinet P3K. "Aku perlu lihat seberapa parah dia melukaimu."Adriel menatapku dengan pandangan yang campur aduk antara kelelahan dan keras kepala, hampir seperti anak kecil yang menantang."Aku baik-baik saja. Kebanyakan ini darahnya dia.""Kemejanya. Lepas." Suaraku tegas. "Sekarang."Mungkin nada suaraku memberi tahu dia bahwa aku tidak akan berdebat soal ini. Dengan helaan napas pasrah, akhirnya dia melepaskan kemeja yang sudah rusak itu, memperlihatkan tubuhnya yang terlepas dari situasinya tetap saja memukau. Tapi perhatianku langsung tertuju pada memar ungu gelap yang menyebar di rusuk kanannya."Hanya memar," gumamnya ketika menangkap tatapanku."Dan wajahmu." Aku menunj

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 98

    Suara Adriel terdengar tajam dan tegas. Dia berdiri di pintu masuk labirin pagar yang kecil itu, dan aku belum pernah melihat ekspresi seperti itu di wajahnya. Itu bukan sekadar kemarahan. Itu adalah amarah yang siap meledak, ditahan hanya oleh sisa kendali diri."Adriel." Anthony cepat menenangkan dirinya, lalu merapikan jasnya. "Aku hanya mengobrol santai dengan … istrimu.""Menjauh darinya. Sekarang." Adriel melangkah maju beberapa langkah, dan setiap ototnya tampak menegang."Dia tidak terlihat menolak sampai beberapa detik yang lalu." Mata Anthony menoleh ke arahku, niat buruk berkilat di sana."Dia mencoba menyentuhku," kataku dengan suaraku yang sedikit bergetar. "Dia tahu tentang ….""Tentang kesepakatan menarik yang kalian berdua punya?" Anthony memotong dengan senyum penuh niat jahat di bibirnya. "Kesepakatan yang menarik, harus kuakui. Sangat praktis."Rasanya seperti menyaksikan kecelakaan mobil dalam gerak lambat. Aku melihat momen tepat ketika kendali Adriel runtuh. Kedut

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 97

    Sore merayap perlahan di atas perkebunan Keluarga Mahendra, mewarnai kebun anggur dengan nuansa emas dan oranye. Setelah seharian dipaksa beristirahat, sementara Adriel mengawasi aku minum obat dan cairan dengan serius yang hampir terlihat lucu, aku akhirnya merasa cukup kuat untuk keluar dari kamar.Aku berjalan melewati taman, menghirup udara segar yang sudah lama aku rindukan. Virus itu sudah agak mereda, hanya menyisakan kelelahan ringan dan rasa lapar yang mulai muncul kembali setelah beberapa hari hanya minum cairan.Adriel bersikeras ingin menemaniku, tapi panggilan mendesak dari Rivan tentang investor Niharan menarik perhatiannya. "Sepuluh menit aja dan jangan pergi jauh," katanya sambil cium dahiku sebelum masuk lagi.Taman itu seperti labirin canggih, dengan pagar tanaman yang dipangkas rapi dan patung-patung klasik. Damar pernah bilang kalau taman ini tiruan dari taman Eldoria, yang dirancang oleh ayahnya sendiri saat kediaman ini dibangun.Aku menemukan sebuah bangku batu y

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 91

    Anthony berdiri hanya beberapa langkah dariku, sosoknya yang elegan langsung mencolok di antara para tamu. Dengan senyum palsunya, dia mengulurkan salah satu dari dua gelas sampanye yang dipegangnya ke arahku."Seorang wanita sepertimu seharusnya tidak sendirian di pesta seperti ini," komentarnya de

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 90

    Ruang utama tampak semakin ramai ketika Anna dan aku turun. Musik biola kuartet telah diganti dengan daftar lagu yang lebih riang, dan beberapa tamu bergerak di lantai dansa. Damar dikelilingi sekelompok pria tua, gesturnya hidup saat menceritakan sebuah kisah yang pasti lucu, dapat terlihat dari ta

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 85

    Jet pribadi Keluarga Mahendra melayang di atas perbukitan Gravona, dan aku masih belum bisa membiasakan diri dengan gagasan bahwa, setidaknya secara teknis, pesawat ini juga milikku. Anna, di sisi lain, sudah tampak benar-benar nyaman dengan kenyataan baru ini."Jelaskan lagi ke aku, kenapa kamu mas

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 94

    Sudut Pandang Adriel.Vivian menatap tangannya beberapa detik, seolah mengumpulkan keberanian. Akhirnya dia menatapku."Aku rasa iya," bisiknya sembari melangkah menuju kamar mandi. "Kamu benar. Kita harus tahu."Aku mengambil tes dari meja, sekilas membaca petunjuk di kotaknya. Tampak mudah dilakuk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status