Home / Romansa / Pria 'Shift Malam' / Bab 2: Menyerah Karena Butuh Duit

Share

Bab 2: Menyerah Karena Butuh Duit

Author: mrd_bb
last update Last Updated: 2025-03-26 19:47:19

“Ehem!!! Punya pacar tajir begitu, bayar dong, kos kamu! Udah 3 bulan telat, nih!”

Terdengar suara teguran bernada sinis dari belakang tubuh Rey.

Pria itu kaget, dan menoleh. Di teras kosnya, sudah menunggu Tante Ivon, si pemilik tempatnya berteduh dengan wajah masam, tak sedap dipandang mata.

Rey pun merogoh dompetnya. Hanya ada uang 1,5 juta, uang depe dia lenggak-lenggok di catwalk tadi.

Tante Ivon lansung ngitung uang ini setelah Rey berikan. “Ih masih kurang… harusnya 6 juta! Kan kamu nunggak 3 bulan, ditambah 1,5 juta untuk bulan ini,” sungut Tante Ivon, yang kalau urusan duit, otaknya cepat sekali jalan.

“5 hari lagi saya bayar tante, setelah sisa honor di bayar!” Rey minta despensasi lagi.

“Nggak bisa! Besok sore paling telat, atau kamu angkat kaki dari kos ini, selamat malam!” tante Ivon pun melengang pergi.

Limit yang kejam, tapi begitulah sifat Tante Ivon.

Selepas kepergian Tante Ivon, Rey berjalan dengan bahu yang lunglai. Sampai di kamarnya, Rey merebahkan diri dan menatap ponselnya.

“Apa aku ambil aja ya, ajakan Chikita tadi?” pikirnya, menimbang-nimbang.

Toh, Chikita bilang, temannya hanya butuh teman ngobrol dan status pacaran. Rey jadi berpikir, jika dia bisa dapat uang tambahan per jam, jika menjadi teman ngobrol janda beranak satu yang tadi Chikita ceritakan.

Setelah menimbang beberapa menit, Rey pun memutuskan menghubungi Chikita.

“Kenapa?” sahut Chikita langsung pada dering ketiga.

“Tawaran kamu tadi, masih berlaku nggak?” tembak Rey to the point.

Terdengar Chikita terkikik sebelum meledeknya, “Hemm… jadi berubah pikiran nih? Tapi ada syaratnya, loh!”

“Syarat? Apa Syaratnya?” desak Rey penasaran. “Nggak sampai harus begituan, kan?”

Sejenak, Chikita terdiam, sebelum kemudian wanita itu kembali berceloteh panjang, “Ah, gampang, kok! Pokoknya, begitu kamu sudah bertemu Reni, kamu wajib ikutin apapun kemauan dia.”

Nada bicara wanita itu terdengar tegas di akhir kalimat. “Ingat loh, dia ini si ratu skincare, uangnya tak berseri. Satu hal lagi, temanku ini pemilih orangnya, banyak artis dan model ternama yang dia tolak mentah-mentah, kamu pun aku belum bisa jamin apakah dia suka?”

Meski kedengarannya seperti tidak beda dengan job yang ditawari Mami Meni, tapi karena sudah mengenal Chikita dan mempercayainya… Rey pun yakin, jika Chikita tidak mungkin melakukan hal demikian.

“Rey…. Oiii Rey, dengar nggak apa yang aku barusan omongin, kok kamu diam?”  sentak Chikita di seberang telpon.

Rey tersentak. Pikirannya yang tadi memikirkan ‘kemungkinan dia dijebak oleh Chikita’ langsung terputus.

“Iya Chikita, aku dengar…!” sahut Rey perlahan.

“Nahh gitu donggg, okee yaa nanti aku atur, tunggu kabar dariku,” ceplos Chikita lalu menutup telepon.

Rey pun hanya termangu. Dia hanya bisa berharap, semoga tawaran dari Chikita benar-benar menghasilkan. Dan semoga… tawaran Chikita ini benar-benar hanya berhenti sampai menjadi teman cerita, dan status palsu saja.

**

“Sudah punya kekasih atau mantan Mas Rey? Soalnya, kalau kamu bilang belum pernah punya pacar, aku jadi curiga nih… jangan-jangan….”

Di sinilah Rey sekarang, di sebuah kafe yang terletak di lobi sebuah hotel berbintang. Chikita bilang, Reni memilih tempat ini karena dia baru saja ada urusan pekerjaan.

Rey yang biasanya cool, sedikit terkejut mendapati pertanyaan itu. Untuk apa juga Reni bertanya hal seperti itu, padahal kan… mereka hanya akan berstatus pacarana pura-pura saja.

Meski begitu, Rey tetap menjawab, “Aku normal. Hanya memang, saat ini tidak punya pacar.”

Mungkin, pikir Rey… Reni hanya jaga-jaga. Kalau Rey punya pacar, kemungkinan besar Reni bisa dibuat viral karena merebut pacar orang.

“Tunggu di sini ya Rey, aku dan Reni ada bisnis kecil berdua,” ungkap Chikita yang langsung bangkit menggandeng tangan Reni.

Rey pun mengangguk dan persilahkan Chikita dan Reni bergeser ke meja lainya dan keduanya berbicara.

Dia tidak bisa mendengar perbincangan itu, hanya bisa melihat wajah-wajah penuh antusias dari dua wanita, entah mengobrolkan apa.

“Wah, beneran lebih ganteng aslinya daripada di foto, Chiki! Ternyata kamu nggak bohong!”

“Aku nggak pernah bohong, Ren! Gimana? Sesuai kriteria kamu, kan?” Chikita menaik-turunkan alisnya.

Wanita cantik berkulit putih dengan rambut sebagian disemir coklat dan dibikin berombak itu tampak menatap teliti penampilan Rey dari meja lain.

Rey sadar dirinya diamati, tetapi dia memilih tidak mengacuhkan.

Reni tampak tersenyum puas, dia lantas berbicara ke arah Chikita, “Iya. Aku jadi nggak sabar.”

Yang Rey dengar hanyalah suara cekikikan Reni, juga Chikita bergantian.

“Jangan kaget… itunya juga ukuran jumbo Honey!

Detik itu, wajah Reni yang ditangkap oleh mata Rey, sedikit berubah. Alis wanita itu berkerut, dengan tatapan sedikit menajam ke arah Chikita.

“Sudah kamu coba yah? Jadinya bekas kamu dong?”

Terlihat, Chikita mengibaskan tangannya ke udara. Lalu kemudian berbincang lagi. “Ish, bukan, lah! Mana berani aku kasih yang bekas ke kamu?” kilahnya. “Aku nggak pernah pake dia, tapi pernah nggak sengaja lihat saat kami fashion show ketika sama-sama ganti baju waktu fashion show. Pokoknya, top markotop, deh. Kamu nggak akan kecewa!”

Setelahnya, Reni tertawa lepas. Bahkan, pipi wanita itu terlihat memerah.

“Tapi, dia benaran bukan ani-ani tante lainnya, kan?” tanya Reni, masih memastikan.

“Iya, aku jamin dia bersih!” Chikita meyakinkan kembali. “Pokoknya kamu nggak bakalan nyesel, lagian juga sangat disiplin orangnya, pendiam dan tak suka banyak omong!”

Chikita seolah beri jaminan, sehingga semakin membuat Reni makin bergairah.

“Oke, kalo gitu. Aku juga jadi makin nggak sabar, nih. Jantungku sudah deg-degan dari tadi.” Reni memegang jantungnya, yang terus berdegup terlebih ketika melihat manik Rey. “Bisa langsung eksekusi nggak? Aku sudah lama nggak ganti oli nihh…!” ceplos Reni blak-blakan.

“Aku bilangnya kamu nyari pacar dulu, soalnya! Takutnya dia kaget dan malu-malu kalau kamu nyerang. Tapi, sebentar….” Chikita langsung mengorek isi tasnya dan mengeluarkan sebungkus pil tanpa nama. “Nih, ada satu pil sisa gadunku. Aku jamin dia bakalan seperti kuda jantan binal.”

Reni sumringah seketika. “Ish, kamu emang paling tau aku, deh!”

“Selamat menikmati malam dahsyat yang tak bakalan terlupakan” Chikita terkekeh dan kemudian berlalu.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pria 'Shift Malam'   Bab 405: Jadi Akrab dengan Cepu

    Langga menatap tajam wajah Renggo, seakan ingin memastikan apakah pria setengah tua ini tak bohong.“Minum dulu pa Langga, terima kasih loh sudah membantu, nggak tanggung-tanggung belikan sembako sampai satu gerobak gede,” tiba-tiba istrinya Renggo muncul dan bawakan dua gelas kopi.“Loh…bu, jadi tuan Langga belikan kita sembako yaa?” tanya Renggo terkejut-kejut, tak menyangka tamunya ini telah menanam budi buat keluarganya.“Iya pak, tadi kan ibu belanja sembako, mau ngutang aslinya, kan beras kita hampir habis, trus ketemuan sama pa Langga yang mau beli rokok. Eeh nggak tahunya dia malah meminta aku nge-borong, bahkan semua utang kita dilunasi. Ini juga baru ngasih lagi uang kontan sebanyak 100 juta, katanya buat keperluan sekolahnya Gaby juga kita sehari-hari! Renggo melongo…dan tiba-tiba dia berjongkok lalu bersimpuh di depan Langga dan ucapkan terima kasihnya sambil terisak.Langga yang tadinya masih curiga, seketika luruh juga, apalagi saat melihat mata Renggo yang berurai air

  • Pria 'Shift Malam'   Bab 404: Mayor Teddy Tahu Jati Diri Langga

    Langga diam saja mendengarkan kisah Bonang, sama sekali tidak menyela cerita si centeng ini, yang justru menolongnya dari kematian, karena mau buka-bukaan, andai berbelit-belit pasti dia menyusul Acong.Tapi…tempurung kedua kakinya hancur di tembak Langga, yang menghilang bak hantu setelah lakukan aksi ganasnya ini, meninggalkan Bonang yang pingsan dan tak lama kemudian satu regu polisi datang dan mengamankannya.Sekaligus bawa tubuh Bonang yang pingsan dan hampir mati kehabisan darah ke rumah sakit.Langga dengan ‘kode khusus’ nya sengaja kontak petinggi kepolisian sekaligus sebutkan apa peran Bonang dan rekannya Acong yang sudah jadi mayat tersebut.“Hmm…jadi Renggo hanya jadi cepu bagi si Teddy dan Abon Gurai,” gumam Langga yang kini sudah berada di penginapannya lagi, ini adalah hari ke 3 dia di sini.Mayor Teddy yang sudah desersi tentu saja cepat-cepat kabur dari Bagoya, begitu tahu dua anak buahnya di hajar Langga.Teddy kini ngeri sendiri dengan Langga, dia yakin pembunuh Acon

  • Pria 'Shift Malam'   Bab 403: Si Mata Satu

    “Renggo, kamu pulang saja, jangan tunjukan sikap aneh-aneh, biarkan orang yang mirip Langga itu akan di selidiki Acong dan Bonang ini,” kata si pria yang membelakangi jendela beri perintah ke ayah Gaby yang bernama Renggo ini.Renggo pun lalu pamit meninggalkan 3 orang tersebut dan motornya terdengar meninggalkan vila ini. Sepintas Langga melihat orang ini agaknya 'tertekan' tapi tak berani membantah.Langga tak mendengar lagi apa yang di bicarakan mereka bertiga, orang yang membelakangi jendela ini berdiri lalu keluar dari ruangan dan menuju ke halaman.Dan sepintas Langga antara kenal dan tidak dengan laki-laki ini, cuman yang bikin Langga terheran-heran, orang ini menutup matanya dengan sebuah tutup hitam, sehingga jadi mirip tokoh bajak laut saja.“Rasa-rasa kenal dengan orang itu…tinggi besar, kulitnya putih bak bule, kenal di mana yaa...?” batin Langga sambil menatap mobil itu, yang sudah sangat jauh meninggalkan vila ini dengan mobil SUV mahalnya.“Astagaaa…wajahnya…mirip Mayo

  • Pria 'Shift Malam'   Bab 402: Buntuti Ayahnya Gaby

    “Jalan-jalan ke rumah ya Bang,” Gaby langsung sebutkan alamatnya dan Langga sebut Insha Allah dan ucapkan terima kasih atas undangan remaja cantik ini, saat Langga pamit, ortunya dan ortu Boba masih berada di ruang perawatan.“Nanti kalau Boba sudah bisa pulang dan masih ada sisa depe-nya, ambil saja buat kamu yaa!” sahut Langga lagi dan Gaby langsung mengangguk, sebab Gaby bilang, agaknya hari ini Boba bisa pulang.Dengan motornya yang bergaya klasik yang berharga lebih 300 jutaan, Langga pun pergi dari rumah sakit milik Abang-nya ini.Namun sebuah rencana sudah tersusun di otaknya.Langga lalu cari sebuah penginapan biasa di pusat kota Bagoya ini, dia sengaja tak mau memberi tahu keluarganya di sini, kalau dirinya ada di Kota Bagoya.Padahal sepupu-sepupu ayahnya, keturunan mendiang kakek Aldi Sulaimin yang saat muda di juluki ‘Macan Gurun’ dan semasa hidup miliki 4 istri, yang anehnya hanya miliki 4 anak, masing-masing satu dari istri-istrinya, masih banyak yang tinggal di sini dan

  • Pria 'Shift Malam'   Bab 401: Keanehan Ayahnya Gaby

    “Bawa dia ke rumah sakit terdekat, aku akan ikuti dari belakang dengan motorku, nanti kamu aku bayar dobel,” kata Langga, sehingga si sopir angkot ini langsung mengangguk, tapi dia tak ragu minta di bayar di muka.Mau tak mau Langga cabut dompetnya dan berikan 5 lembar uang pecahan 100 ribu, sehingga si sopir angkut sumringah dan tak lagi segan bantu mengangkat tubuh pelajar yang pingsan tersebut.Langga yang di bantu si sopir ini angkat tubuh pelajar malang ini dan minta si pelajar wanita temani ke rumah sakit.“Aku takut Om?” si pelajar wanita ini malah ragu naik angkot tersebut.“Aku akan ikuti di belakang dengan motorkku, jangan takut, dia akan selamat,” kata Langga sambil dorong tubuh si pelajar wanita ini masuk angkot tersebut, sekaligus jangan buang-buang waktu. Langga tak peduli lagi dengan nasib ke 7 pelajar yang tadi dia hajar.Bahkan 4 orang yang sebelumnya dia tampar dan tendang, ke 4 orang tadi malah dia tambahi lagi dengan injakan di kaki, akibatnya ke empatnya bernasib

  • Pria 'Shift Malam'   Bab 400: Tolong Pelajar

    Pria ini belum terlalu tua, wajahnya pun masih sangat tampan, namun brewok lebat di tambah rambut yang sebahu, membuatnya terlihat lebih tua dari usianya yang sebenarnya.Sudah lebih 1,5 tahun dia melacak pembunuh istrinya, namun belum juga menemukan titk terang. Sudah kemana-mana pria bergerak melacak, tapi jejak 2 pembunuh Julia belum juga ditemukan.Dialah Langga Kasela, sang pengusaha merangkap agen dan kini berpangkat Mayor di Institusi Intelejen Negara.Sampai keliling Kalimantan ia lacak bahkan Jakarta, Bandung hingga ke Surabaya, namun usahanya seolah menemui jalan buntu.Ia bahkan kini ada di Sulawesi, tepatnya di Bagoya, yang tetanggaan dengan Propinsi Sulawesi Utara, yang terkenal dengan gadis-gadis jeiltanya yang mirip blasteran, yang beribukota Manado.Kota yang memiliki hubungan erat dengan kakek-kakeknya juga kakek buyutnya, juga ibu kandungnya yang berasal dari sini.Langga kini duduk termangu di sebuah kafe pinggir jalan, dia sudah bosan nongki di café mahal, pria ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status