Home / Romansa / Pria 'Shift Malam' / Bab 3: Jebakan Reni dan Chikita

Share

Bab 3: Jebakan Reni dan Chikita

Author: mrd_bb
last update Last Updated: 2025-03-26 19:49:55

Kini kedua wanita itu sudah kembali berada di satu meja dengan Rey. Mereka pun melanjutkan obrolan-obrolan ringan, basa-basi seputar dunia modelling.

Reni izin untuk mengangkat panggilan, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia menjauh beberapa meter dari meja Rey dan Chikita.

Chikita kini memandangnya. “Rey… agaknya si Reni suka sama kamu.”

Rey melirik, masih tidak bereaksi apa pun.

“Ingat pesanku di telepon kemarin yaa, kamu turuti apa saja kemauannya. Namanya juga orkay, Rey, egonya tinggi. Jadi kamu nggak usah terlalu jaim, kalau dia dah suka, soal ini…” Chikita menggesekkan dua jarinya, membentuk gestur uang, “Dia nggak bakal perhitungan!”

Rey yang masih tak curiga hanya mengangguk.

Saat Reni masih nelepon, Rey izin mau ke toilet. Begitu punggung Rey menghilang, Chikita langsung memasukan isi dari sebuah pil kecil ke minuman Rey. Dia mengaduk-aduk perlahan, memastikan pil ini langsung larut.

“Mana dia?” Reni pun kembali dan bertanya perihal keberadaan Rey pada Chikita.

“Ke toilet.” Chikita lantas memberikan kode pada matanya ke arah gelas minuman Rey. “Sudah aman, ya.”

Reni langsung tersenyum dan angkat jempol.

Tak lama kemudian, Rey balik lagi ke meja ini.

10 menitan kemudian, gantian ponsel Chikita yang berdering. Dia langsung mengangkat, dan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat.

“Ren, Rey… aku pergi dulu yaa, si papiku nelepon, biasa pingin lepas pejuh paling. Sekalian, aku mau minta jatah shopping bulanan he-he!” kata Chikita sambil matanya beri kedipan ke Rey.

“Oke deh. Selamat bersenang-senang!” sahut Reni.

Chikita cipika-cipiki dengan Reni dan Rey, lalu pergi meninggalkan keduanya di lobby hotel merangkap kafe ini.

Tidak dipungkiri, Rey gugup! Dia tidak terbiasa berbincang banyak pada orang baru. Jika tadi terbantu Chikita yang bisa jadi penengah, kini dia bingung harus apa.

Diseruputnya kopi untuk meredakan kegugupan. Dia bahkan menghabiskan kopinya sekali tandas. Mata Reni yang tak lepas dari Rey, membuat sebuah senyum merekah.

Gairah wanita 30-an yang masih terlihat seperti usia 20-an itu jadi langsung terpancing. Reni mulai harap-harap cemas, menunggu reaksi obat yang dimasukan Chikita ke minuman Rey.

Tak lama, harapan Reni mulai menunjukan reaksi.

“Kenapa, Rey?” tanya Reni, menampilkan sedikit ekspresi bingung, di sela ekspresi kehausannya.

Rey terlihat gelisah sendiri. Dia tiba-tiba merasakan hawa panas melingkupi tubuhnya.

“Kamu kegerahan, Rey? Panas ya, di sini?” Reni semakin menempeli tubuhnya dengan lengan Rey. “Kita pindah aja, yuk! Biar kamu nggak kepanasan.”

“Aneh… kenapa aku jadi begini? Kenapa kejantananku bangun tanpa dirangsang?” batin Rey kebingunan sendiri.

Bak kerbau yang sudah jinak, Rey bagai tidak punya kendali atas tubuhnya sendiri. Dia langsung menurut ketika Reni mengajaknya pindah dari kafe di lobi menuju lift.

Rey tahu ke mana dia akan berakhir….

Saat di lift, hidung Reni sudah kembang kempis. Dia benar-benar mencuri start sejak dini. Menempelkan hidungnya pada lengan dan bahu Rey yang sedang dipengaruhi obat.

Rey tahu itu, tapi anehnya dia tidak bisa berkelit. Justru, gairahnya semakin terpancing dengan tingkah laku Reni yang terus  merangseknya.

Kejantanannya makin liar saja dalam sangkarnya.

“Sial banget, kenapa aku pakai celana jenis katun saat ini,” keluh Rey dalam hati, sambil membenahi celananya yang terasa kesempitan.

Gerakan Rey tak luput dari mata nakal Reni. Wanita itu langsung terlihat makin bersemangat ketika melihat tonjolan yang terlihat jelas dan tersembunyi di dalam celana berbahan katun Rey.

“Nah, sini, Rey Sayang. Di kamar ini AC-nya lebih dingin. Kamu harusnya nggak akan kepanasan.”

Kini keduanya sudah sampai di kamar hotel mewah ini. Reni membawanya ke sofa. Wanita itu langsung menjamu Rey dengan wine mahalnya.

Rey menerimanya. Dia meneguknya langsung, tujuannya untuk redakan hatinya yang makin aneh saja.

“Rey?” Reni memanggil, yang kemudian hanya disahuti oleh dehaman Rey. “Tipe wanita gimana yang kamu sukai?” lanjutnya bertanya, sembali tangannya lincah bergerilya di atas paha Rey.

Akibatnya, hasrat Rey makin naik. Kepalanya langsung pusing, karena jari lentik Reni ibarat bensin yang menyiram api, yang mulai berkobar dalam dirinya.

“Wanita… kamu juga masuk kriteria aku, kok!” sahut Rey asal.

Reaksi obat kuat yang dicampur Chikita di minumannya membuat Rey mulai terbuai suasana.

Reni semakin berani berbuat nakal ketika Rey menjawabnya demikian. “Kalau wanita yang agresif kayak gini, gimana?”

Tanpa aba-aba, Reni langsung duduk di pangkuan Rey. Jakun pria itu sudah turun naik.

“A-aku….”

Reni memajang tampang sedihnya, mengira Rey kurang suka pada wanita agresif. Dia lantas bersiap bangun dari pangkuan Rey. Namun, belum sempat Reni sempurna berdiri, Rey sudah lebih dulu menarik tubuh Reni lagi.

Dan tanpa aba-aba, Rey langsung mencecap bibir Reni yang sedari tadi terus menggodanya.

Persetan dengan prinsip untuk tidak menjadi laki-laki bayaran, laki-laki penghangat ranjang, atau gigolo. Yang Rey tahu saat ini adalah… setiap kali dia bersentuhan dengan Reni, gairah membaranya terasa menemukan pelepasannya.

“Ah, Rey….” Reni menjerit di tengah lumatan intens dan penuh nafsu dari Rey yang berbadan kekar itu.

Wajahnya sudah seperti kepiting rebus, sedari tadi merasakan tonjolan di pangkal kaki Rey yang terus menekan bagian bawahnya, sementara bibirnya dikuasai cumbuan liar pria itu.

Rey yang saat ini sudah sangat dikuasai gairah pun, tak bisa lagi menolak. Dia butuh melepaskan hasratnya.

Dia menggendong tubuh Reni yang terbilang mungil tapi seksi itu tanpa memutus pagutan. Kemudian, mengempaskan tubuh wanita binal itu ke atas ranjang.

Pakaian mereka kini sudah tidak berbentuk. Kancing kemeja Rey, berserakkan. Sementara gaun yang dipakai Reni, sudah terlepas, dan bahkan tercabik beberapa bagian.

Kini… tinggal satu bagian pakaian yang melekat di tubuh Rey, yang saat ini pun sudah akan dia tanggalkan.

“Reni… aku harap kamu cukup mengimbangiku.”

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pria 'Shift Malam'   Bab 407: Berawal dari Cukur

    “Kecuali musuh-musuhku sudah habis, baru aku mikir dekati wanita,” itulah dulu tekad Langga dan sampai 1,5 tahunan lebih, Langga belum pecah telor dekati wanita.Kenapa dia begitu royal dengan keluarga Gaby? Karena uang-uang ‘haram’ yang dulu dia ambil bersama Lettu Toni masih banyak dan terus dia bagikan pada siapa saja yang membutuhkan.Uangnya itu malah bunga berbunga terus di rekeningnya.Dan saat ini yang beruntung tentu saja Gaby dan keluarganya, yang ketiban rejeki nomplok di bantu Langga, yang berawal dari niatnya ingin selidiki Renggo, yang di curigainya terlibat pembunuhan mendiang Julia.“Gaby kita pulang yuks, ini sudah sore,” ajak Langga dan Gaby mengangguk, namun baru saja akan naik motor Langga, dealer tempat Langga dan Gaby beli motor matic tadi menelpon, tak bisa mengantar motor baru itu sore ini ke rumah Gaby.“Jalan-jalan di tutup polisi, bahkan mulai sore ini akan di berlakukan jam malam, pasca demo rusuh tadi. Jadi kami minta maaf ya dek Gaby, besok pagi baru bisa

  • Pria 'Shift Malam'   Bab 406: Makin Dekat dengan Gaby

    Langga berlari dan beberapa batu melayang ke arahnya, namun dia tak peduli, melihat angkot ingin di balik massa, denga nekat ia terjang beberapa orang yang ingin balik angkot ini.Lalu dengan cepat tarik tangan Gaby juga beberapa orang yang terjebak di dalam angkot tersebut.“Cepat kalian berlari ke tempat aman,” seru Langga pada penumpang angkot tersebut dan kembali satu batu melayang ke tubuhnya.Tapi pria kokoh ini tak peduli, dia bahkan menarik tubuh Gaby agar berlindung di belakangnya, hindari batu-batu yang melayang dari mana-mana tersebut.“Kamu pegang ujung jaketku, jangan menjauh” seru Langga. Gaby hanya bisa mengangguk, suaranya tenggelam oleh teriakan ribuan pendemo yang makin beringas.Dorr…dorrr..tembakan mulai terdengar dan asap putih menyebar kemana-mana. Langga sambar tangan Gaby dan dia kaget, remaja cantik ini berteriak matanya perih.Ternyata bunyi tembakan itu dari senjata gas airtmata.Langga lalu gendong tubuh Gaby dan berlari menjauh dari asap putih yang merupak

  • Pria 'Shift Malam'   Bab 405: Jadi Akrab dengan Cepu

    Langga menatap tajam wajah Renggo, seakan ingin memastikan apakah pria setengah tua ini tak bohong.“Minum dulu pa Langga, terima kasih loh sudah membantu, nggak tanggung-tanggung belikan sembako sampai satu gerobak gede,” tiba-tiba istrinya Renggo muncul dan bawakan dua gelas kopi.“Loh…bu, jadi tuan Langga belikan kita sembako yaa?” tanya Renggo terkejut-kejut, tak menyangka tamunya ini telah menanam budi buat keluarganya.“Iya pak, tadi kan ibu belanja sembako, mau ngutang aslinya, kan beras kita hampir habis, trus ketemuan sama pa Langga yang mau beli rokok. Eeh nggak tahunya dia malah meminta aku nge-borong, bahkan semua utang kita dilunasi. Ini juga baru ngasih lagi uang kontan sebanyak 100 juta, katanya buat keperluan sekolahnya Gaby juga kita sehari-hari! Renggo melongo…dan tiba-tiba dia berjongkok lalu bersimpuh di depan Langga dan ucapkan terima kasihnya sambil terisak.Langga yang tadinya masih curiga, seketika luruh juga, apalagi saat melihat mata Renggo yang berurai air

  • Pria 'Shift Malam'   Bab 404: Mayor Teddy Tahu Jati Diri Langga

    Langga diam saja mendengarkan kisah Bonang, sama sekali tidak menyela cerita si centeng ini, yang justru menolongnya dari kematian, karena mau buka-bukaan, andai berbelit-belit pasti dia menyusul Acong.Tapi…tempurung kedua kakinya hancur di tembak Langga, yang menghilang bak hantu setelah lakukan aksi ganasnya ini, meninggalkan Bonang yang pingsan dan tak lama kemudian satu regu polisi datang dan mengamankannya.Sekaligus bawa tubuh Bonang yang pingsan dan hampir mati kehabisan darah ke rumah sakit.Langga dengan ‘kode khusus’ nya sengaja kontak petinggi kepolisian sekaligus sebutkan apa peran Bonang dan rekannya Acong yang sudah jadi mayat tersebut.“Hmm…jadi Renggo hanya jadi cepu bagi si Teddy dan Abon Gurai,” gumam Langga yang kini sudah berada di penginapannya lagi, ini adalah hari ke 3 dia di sini.Mayor Teddy yang sudah desersi tentu saja cepat-cepat kabur dari Bagoya, begitu tahu dua anak buahnya di hajar Langga.Teddy kini ngeri sendiri dengan Langga, dia yakin pembunuh Acon

  • Pria 'Shift Malam'   Bab 403: Si Mata Satu

    “Renggo, kamu pulang saja, jangan tunjukan sikap aneh-aneh, biarkan orang yang mirip Langga itu akan di selidiki Acong dan Bonang ini,” kata si pria yang membelakangi jendela beri perintah ke ayah Gaby yang bernama Renggo ini.Renggo pun lalu pamit meninggalkan 3 orang tersebut dan motornya terdengar meninggalkan vila ini. Sepintas Langga melihat orang ini agaknya 'tertekan' tapi tak berani membantah.Langga tak mendengar lagi apa yang di bicarakan mereka bertiga, orang yang membelakangi jendela ini berdiri lalu keluar dari ruangan dan menuju ke halaman.Dan sepintas Langga antara kenal dan tidak dengan laki-laki ini, cuman yang bikin Langga terheran-heran, orang ini menutup matanya dengan sebuah tutup hitam, sehingga jadi mirip tokoh bajak laut saja.“Rasa-rasa kenal dengan orang itu…tinggi besar, kulitnya putih bak bule, kenal di mana yaa...?” batin Langga sambil menatap mobil itu, yang sudah sangat jauh meninggalkan vila ini dengan mobil SUV mahalnya.“Astagaaa…wajahnya…mirip Mayo

  • Pria 'Shift Malam'   Bab 402: Buntuti Ayahnya Gaby

    “Jalan-jalan ke rumah ya Bang,” Gaby langsung sebutkan alamatnya dan Langga sebut Insha Allah dan ucapkan terima kasih atas undangan remaja cantik ini, saat Langga pamit, ortunya dan ortu Boba masih berada di ruang perawatan.“Nanti kalau Boba sudah bisa pulang dan masih ada sisa depe-nya, ambil saja buat kamu yaa!” sahut Langga lagi dan Gaby langsung mengangguk, sebab Gaby bilang, agaknya hari ini Boba bisa pulang.Dengan motornya yang bergaya klasik yang berharga lebih 300 jutaan, Langga pun pergi dari rumah sakit milik Abang-nya ini.Namun sebuah rencana sudah tersusun di otaknya.Langga lalu cari sebuah penginapan biasa di pusat kota Bagoya ini, dia sengaja tak mau memberi tahu keluarganya di sini, kalau dirinya ada di Kota Bagoya.Padahal sepupu-sepupu ayahnya, keturunan mendiang kakek Aldi Sulaimin yang saat muda di juluki ‘Macan Gurun’ dan semasa hidup miliki 4 istri, yang anehnya hanya miliki 4 anak, masing-masing satu dari istri-istrinya, masih banyak yang tinggal di sini dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status