LOGINPagi hari. Sinar matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai.Shen Ziyuan membuka mata. Kepalanya terasa berat, pikirannya kabur. Tapi satu hal yang dia sadari, dia berada di kamar Ning Yuan—di ranjang yang sama dengan semalam.Semalam... aku datang ke kamarnya. Lalu...Dia menoleh. Ning Yuan duduk di kursi dekat jendela, berpakaian rapi, wajahnya tenang. Tapi di lehernya, ada tanda merah—bekas ciuman yang tidak bisa disembunyikan.Shen Ziyuan tersenyum puas. Jadi semalam benar-benar terjadi.Dia bangkit, berjalan mendekati Ning Yuan dengan langkah sok percaya diri. "Kau terbangun lebih dulu?"Ning Yuan menatapnya datar. Tidak menjawab."Kau tahu," Shen Ziyuan melanjutkan, suaranya penuh kebanggaan, "aku pikir kau akan sulit ditaklukkan. Tapi ternyata..." dia menyentuh tanda merah di leher Ning Yuan, "...kau begitu jinak setelah aku taklukkan di ranjang semalam."Ning Yuan menahan senyum sinis. "Sepertinya dia tidak ingat apa-apa. Pengawal Kaisar pasti memberinya sesuatu." Batin
Ning Yuan membeku. Matanya membelalak melihat sosok di hadapannya. "Yang—Yang Mulia?"Kaisar berdiri tegak, matanya gelap menyala. Dia menatap Ning Yuan—rambut kusut, selimut melorot, pergelangan tangan masih terikat kain dan terlihat bekas merah. Lalu matanya beralih ke Shen Ziyuan yang terkapar di lantai.Tanpa sepatah kata, Kaisar menendang tubuh Shen Ziyuan hingga terguling ke sudut ruangan."Yang Mulia—" Ning Yuan mencoba bangun."Kau terluka," potong Kaisar, suaranya dingin. "Duduk."Ning Yuan menurut. Tangannya masih gemetar saat merapikan selimut menutupi tubuhnya. "Bagaimana—bagaimana Yang Mulia bisa berada di kamarku?"Kaisar berbalik, melangkah ke arah pintu. "Jadi kau lebih suka dia yang ada di sini? Kalau begiiu aku akan pergi.""Tidak! Bukan begitu maksudku. Aku hanya bertanya mengapa Yang Mulia bisa berada di sekitar kamar ku." Sela Ning Yuan, membiarkan Kaisar membuka ikatan tangannya."Sepertinya kau memang tidak suka melihatku." Ujar Kaisar dingin, lalu berdiri untuk
"Aku tidak bersedia."Suara Ning Yuan datar, tegas. Matanya menatap lencana emas di tangannya, lalu kembali pada Shen Ziyuan. "Katakan pada Kaisar, aku tidak layak menjadi desainer pribadinya. Sebaiknya beliau cari orang lain."Nyonya Besar yang baru saja memeluknya langsung terkejut. "Ning Yuan, kau pasti masih marah karena kesalahpahaman tadi. Tapi menolak titah Kaisar itu tidak baik."Ning Yuan menatap ibu mertuanya. Dia tahu wanita ini hanya berpura-pura peduli. Tadi malam, ketika Shen Ziyuan menghukumnya, Nyonya Besar diam. Tidak membela. Tidak melindungi."Aku tidak marah, Ibu. Aku hanya tidak mau."Nyonya Besar berusaha tersenyum. "Xue'er, cepat minta maaf pada kakakmu. Karena ucapanmu, dia jadi dihukum Ziyuan."Ning Xue'er menunduk, wajahnya penuh kepura-puraan. "Aku hanya tidak ingin keluarga kita kena masalah bu—""Kau juga Ziyuan," potong Nyonya Besar, menoleh pada putranya. "Cepat minta maaf pada istrimu. Lalu bawa dia ke kamar. Temani dia. Kakinya pasti sakit karena berlu
Di dalam kamar, tirai sutra merah bergoyang pelan tertiup angin malam.Ning Yuan terbaring di pelukan Kaisar, napasnya masih terengah-engah. Keringat membasahi dahinya, dan tubuhnya masih bergetar karena sisa-sisa kenikmatan yang baru saja berlalu.Kaisar menyusuri punggungnya dengan jemari, gerakan lembut yang membuat Ning Yuan ingin memejamkan mata selamanya. Tapi ia tidak bisa."Yang Mulia," bisiknya pelan, "kau melakukan semua ini... untuk membalaskan dendamku?"Kaisar berhenti. Matanya menatap Ning Yuan—dalam, gelap. "Aku tidak suka melihat orang lain menyakitimu.""Kenapa?"
Ning Yuan membuka mata. Samar-samar, ia melihat wajah tampan di hadapannya. Raut tegas, mata dalam, senyum tipis di bibir."Ah... aku pasti bermimpi." Ia tersenyum kecil, bergumam pelan. "Karena terlalu rindu padanya, aku sampai memimpikannya...""Jadi kau rindu padaku?"Suara itu nyata. Terlalu nyata.Kesadaran Ning Yuan kembali menyentak. Matanya membelalak, tubuhnya langsung duduk tegak. "Yang—Yang Mulia?!"Ia melihat sekeliling. Ini bukan kamarnya. Dan jelas juga bukan altar leluhur keluarga Shen. Ini kamar tidur mewah dengan tirai sutra merah dan ukiran naga d
Janda Permaisuri membuka pintu.Di dalam, Ning Yuan sedang membantu Kaisar mengenakan jubah naga. Kedua tangannya merapikan lipatan sutra hitam di bahu sang penguasa, wajahnya tenang. Jubah itu pas di tubuh Kaisar, sulaman naga emas berkilau di bawah cahaya lilin.Janda Permaisuri mengamati putranya—diam, patuh, tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan. Kekhawatirannya perlahan sirna."Aku kira kau menghukum Ning Yuan karena ada yang tidak pas dengan jubah ini," ujar Janda Permaisuri. "Kalian pergi lama sekali. Pesta bahkan telah usai."Dia berjalan mendekat, meraih tangan Ning Yuan. "Kau tidak apa-apa, kan? Kaisar tidak berkata kasar atau bersikap kasar padamu?"







