Share

BAB 2: LAKONAN

Author: Kak Upe
last update publish date: 2026-06-03 21:21:23

Ning Yuan menatap perut Ning Xue'er, lalu menatap Shen Ziyuan yang mendekat dengan ekspresi dingin.

Wanita itu, Ning Xue’er, adalah adik tirinya. Ia adalah anak dari pelayan di kediaman Ning yang diangkat sebagai selir ayahnya.

"Ning Yuan," sergah Shen Ziyuan, suaranya keras penuh kebencian, "Kemana saja kau? Keluyuran di malam hari tanpa izin?"

Ning Yuan menatap mereka dengan tenang. 

"Aku baru saja menyelesaikan urusanku di Paviliun Bulan," katanya lembut, masih mempertahankan peran istri patuh. "Urusan keluarga. Tidak perlu kau khawatirkan."

"Urusan keluarga?" Shen Ziyuan mendengus. "Apa yang lebih penting dari menyambut kepulangan suamimu?"

Ning Yuan tersenyum lembut. "Bukankah kau sudah datang dengan selamat?"

Tatapannya beralih ke Ning Xue'er. "Dan kau membawa hadiah tak terduga. Selamat, Adik. Kalian pasti bersenang-senang sekali dalam perjalanan kali ini."

Kata-kata itu membuat wajah Shen Ziyuan memerah. Ia merasa tersindir, karena perjalanan yang seharusnya berhubungan dengan pekerjaan politik itu malah berakhir dengan kehamilan selirnya.

"Jaga bicaramu, Ning Yuan! Sepertinya aku terlalu baik padamu dua tahun ini! Sekarang kau semakin tidak tahu diri!"

Ning Yuan tetap berdiri tegak. Tidak mundur. Matanya menatap Shen Ziyuan dengan tenang—seolah amarahnya hanyalah angin lalu.

"Maafkan aku," katanya. "Aku sama sekali tidak bermaksud lancang. Malahan aku berpikir, ini adalah hal yang baik. Akhirnya, kau dan ibumu bisa mendapat keturunan yang selama ini mereka dambakan dari wanita yang kau sukai."

Shen Ziyuan membeku. Ning Xue'er yang tadinya tersenyum mulai terlihat canggung, jari-jarinya meremas ujung lengan bajunya.

"Kakak," potong Ning Xue'er dengan suara bergetar. "Aku tahu kau marah karena Kak Ziyuan meninggalkanmu di malam pernikahan. Aku tahu ini sulit bagimu. Apalagi saat tahu aku hamil anak suami kita."

Ia menatap Ning Yuan dengan mata berkaca-kaca. "Tapi tidak berarti kakak boleh bicara seperti itu. Jika kakak ingin hamil juga, aku akan minta suamiku—maksudku suami kita—untuk menghabiskan malam bersama kakak. Walaupun kesempatan itu kecil, sebab kakak kan..."

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu. Tapi semua orang tahu, jika Ning Yuan selama ini dianggap mandul.

Ning Yuan menatap Ning Xue'er, lalu tersenyum tipis.

"Kau benar, Adik. Ini mungkin sulit bagiku." Dia melangkah perlahan mendekati Ning Xue'er. Anggun. Penuh percaya diri. Seperti singa betina mengitari mangsanya. 

"Melihatmu yang tidak lebih dari anak pelayan yang mencuci pakaian ibuku, kini berdiri di sini dengan perut yang katanya berisi anak suamiku… sungguh sebuah perjuangan yang luar biasa."

Ning Xue'er tersentak. Wajahnya memerah—bukan malu, tapi marah karena diingatkan asal-usulnya. "K-Kakak—"

"Tapi kau tahu," Ning Yuan melanjutkan, suaranya masih lembut, "kehamilan itu rapuh. Aku berharap kau menjaga diri dengan baik, Adik. Banyak hal bisa terjadi dalam sembilan bulan."

Senyumnya semakin lebar. Ning Xue'er merinding. Tanpa sadar, tangannya memegangi perutnya, seolah melindunginya dari Ning Yuan.

"Ning Yuan! Beraninya kau mengancam Xue’er?" Shen Ziyuan berteriak. Dia melangkah di antara mereka, melindungi Ning Xue'er dengan tubuhnya. "Kau bahkan tidak bisa mengandung anakku! Dan sekarang mengancam wanita yang bisa memberiku anak?!"

Ning Yuan menatap suaminya yang kini berdiri di depan Ning Xue'er seperti perisai. Hatinya sesak—perih. Tapi dia tidak membiarkan rasa sakit itu muncul di wajahnya.

"Aku tidak mengancam siapa pun," katanya datar. "Aku hanya mengingatkan. Sebagai kakak yang peduli."

"Peduli?" Shen Ziyuan tertawa pahit. "Kau tidak pernah peduli pada siapa pun! Kau hanya peduli posisimu sebagai Nyonya Shen! Uang dan tanah warisanmu!"

Ning Yuan menatapnya tajam. "Uang dan tanah warisan yang mana? Aku tidak pernah mendapatkan apapun selama dua tahun ini. Yang aku lihat, justru selir barumu ini yang memakai perhiasan dan gaun sutra baru."

Wajah Shen Ziyuan memucat. "Kau—"

"Tuan muda! Nyonya muda!"

Semua orang menoleh. Seorang pelayan tua berlari tergesa-gesa dari dalam kediaman, wajahnya panik.

"Tuan Muda, Nyonya Muda... Nyonya Besar memanggil kalian semua ke ruang utama. Segera. Urusan penting."

Shen Ziyuan menurunkan tangannya perlahan. Amarah masih terpancar di matanya. "Baik. Tapi ini belum selesai, Ning Yuan."

Dia menoleh ke Ning Xue'er—dan ekspresinya langsung berubah. Lembut. Penuh perhatian. Seperti dua orang yang sangat berbeda. "Xue'er, ayolah. Kita pergi."

Dia menggandeng Ning Xue'er dengan hati-hati, membimbingnya melewati Ning Yuan seolah wanita itu tidak ada di sana.

Ning Xue'er menoleh sekilas. Dan untuk sesaat, dia tersenyum—senyum kemenangan penuh kebencian. Tapi suaranya tetap lembut, tetap manis, tetap seperti korban.

"Kakak Ning Yuan," katanya pelan, "semoga kau bisa bergabung dengan kami segera. Nyonya Besar pasti ingin membicarakan masa depan keluarga ini."

Ning Yuan berdiri di pelataran, menyaksikan mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah. Dingin malam mulai menyusup ke tulang-tulangnya, tapi dia tidak bergerak.

Qinglan, pelayan pribadinya, mendekat dengan hati-hati. "Nyonya... kau baik-baik saja?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   TAMAT

    Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka dengan keras. Weitian menerobos masuk, diikuti oleh Pangeran Ketiga, Weijun. Wajah Weitian panik."Yuan! Apa kau baik-baik saja?!" dia berlutut di samping Ning Yuan, meraih tangannya. "Kami mendapat laporan ada orang mencurigakan masuk ke paviliunmu—"Weitian berhenti. Dia melihat wajah Ning Yuan. Mata yang berkaca-kaca. Ekspresi yang penuh pertanyaan."Yuan... ada apa?"Ning Yuan menatapnya. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Dia ingin bertanya. Dia ingin tahu. Tapi dia takut.Weitian menggenggam tangannya lebih erat. "Yuan, katakan padaku. Apa yang terjadi?""Weihu," Ning Yuan akhirnya bersuara, suaranya serak. "Dia datang. Dia mengatakan...."Weitian menegang. "Apa yang dia katakan?"Ning Yuan menatapnya. "Dia bilang... kakekku adalah Jenderal Lin Zhongtian. Dan dia dihukum mati demi mendiang kaisar naik tahta. Dan kau... kau tahu tentang itu. Kau tahu siapa aku sebenarnya."Weitian membeku."Yuan—""Apakah kau benar mencint

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 106

    Malam itu sunyi. Ning Yuan duduk di depan meja, memandangi luka di lengannya yang sudah dibalut. Pikirannya masih berkecamuk dengan semua yang terjadi—pesta, pengkhianatan, Janda Permaisuri yang ditangkap, dan Weihu yang kabur.Dia menghela napas panjang. Semua ini... terlalu banyak.Tiba-tiba, angin berhembus dari jendela yang sedikit terbuka. Ning Yuan menoleh, dan jantungnya hampir berhenti berdetak.Di ambang jendela, berdiri Long Weihu. Pria itu tersenyum—senyum yang dingin dan penuh kebencian."Selamat malam, Ning Yuan."Ning Yuan berdiri dengan panik. "Kau—bagaimana kau bisa masuk?!""Paviliun ini terlalu mudah untuk dimasuki," Weihu melangkah masuk dengan santai. "Pengawal-pengawal itu terlalu sibuk menjaga depan, mereka lupa jendela belakang."Ning Yuan mundur, tangannya meraih belati di meja. "Pergi dari sini. Atau aku akan berteriak.""Berteriaklah," Weihu tersenyum. "Tapi sebelum pengawal datang, aku ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu."Ning Yuan ragu. Ada

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 105

    Di dalam ruangan pesta, suasana mulai berubah.Janda Permaisuri mengamati para tamu yang mulai menikmati anggur. Senyumnya melebar saat melihat beberapa orang mulai terlihat mengantuk. Satu per satu, para tamu mulai terjatuh ke kursi mereka—kepala terkulai, tubuh lemas tak berdaya."Anggurnya sudah bekerja," bisik seorang pelayan di telinga Janda Permaisuri."Bagus," Janda Permaisuri tersenyum puas. "Sekarang, kirim sinyal pada Pangeran Kedua. Saatnya pasukannya bergerak."Pelayan itu mengangguk dan berlari keluar. Janda Permaisuri duduk di kursinya, menikmati pemandangan di hadapannya—puluhan bangsawan tergeletak tak sadarkan diri, tidak ada yang bisa melawan.Sempurna, pikirnya. Sekarang tinggal menunggu Weihu datang dan mengambil alih.Tidak lama kemudian, suara langkah kaki berat terdengar dari luar. Pintu ruangan terbuka lebar, dan masuklah Long Weihu dengan puluhan pasukan bersenjata lengkap. Mereka langsung menyebar, mengamankan setiap sudut ruangan.Weihu melangkah masuk denga

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 104

    Di paviliun Ning Yuan, Weitian dan Ning Yuan masih berpelukan setelah menerima laporan dari Ye Haoran. Mereka berdua diam, merenungkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.Sebelumnya saat Ye Haonan datang."Yang Mulia," Ye Haoran masih berlutut di hadapan mereka, "hamba juga mendengar bahwa Janda Permaisuri akan mengadakan pesta besar besok malam. Konon, untuk merayakan kembalinya Yang Mulia ke istana."Weitian mengerutkan kening. "Pesta? Untuk apa?""Ya, Yang Mulia. Dan hamba mendengar bahwa Janda Permaisuri telah memerintahkan persiapan yang sangat matang. Ada sesuatu yang mencurigakan."Weitian berjalan ke jendela, pikirannya berputar. Pesta besar... di saat yang hampir bersamaan dengan rencana Weihu untuk bergerak... ini pasti bukan kebetulan."Aku harus mencari tahu apa rencana mereka," gumamnya pelan. "Haoran, selidiki lebih dalam. Cari tahu detail pesta itu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya mereka rencanakan.""Baik, Yang Mulia," Ye Haoran mengangguk dan pergi.Ning Yuan men

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 103

    Di paviliun Pangeran Kedua, suasana terasa tegang. Long Weihu duduk di kursi utamanya, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme tidak sabar. Di hadapannya, seorang pria berpakaian hitam berlutut dengan kepala menunduk."Lapor, Yang Mulia," kata pria itu dengan suara rendah. "Pasukan pengawal Kaisar dan Pangeran Ketiga saat ini sedang mengusut kasus penyerangan di kediaman keluarga Shen beberapa waktu lalu. Mereka juga menyelidiki serangan di lembah saat Kaisar dalam perjalanan pulang."Weihu berhenti mengetuk. Matanya menyipit. "Apa mereka sudah menemukan sesuatu?""Belum, Yang Mulia. Tapi penyelidikan mereka semakin mendekati kebenaran. Kaisar memerintahkan Jenderal Zan dan Ye Haoran untuk menyelidiki para penyerang waktu itu. Jika mereka terus melacak, cepat atau lambat... mereka akan menemukan bukti yang mengarah ke Yang Mulia."Weihu terdiam. Pikirannya berputar cepat. Dia sudah menduga ini akan terjadi. Weitian tidak bodoh. Dan Weijun juga tidak bodoh. Mereka pasti akan mencari ta

  • Pria Simpananku Ternyata Kaisar   BAB 102

    Weitian mengikuti ibunya berjalan menyusuri taman istana. Udara sore terasa sejuk, tapi suasana di antara mereka terasa tegang.Janda Permaisuri berjalan dengan langkah anggun, sesekali berhenti untuk mengagumi bunga-bunga di tepi jalan. Weitian mengikuti di sampingnya, diam, menunggu ibunya memulai pembicaraan."Kau tahu, Yang Mulia," Janda Permaisuri akhirnya bersuara, "aku sangat khawatir padamu saat kau pergi. Istana tanpa kaisar seperti kapal tanpa nahkoda.""Maafkan aku karena membuat Ibu khawatir," jawab Weitian sopan."Tidak apa-apa," Janda Permaisuri tersenyum. "Yang penting kau kembali. Dan kau membawa Ning Yuan." dia berhenti, menatap putranya. "Aku harus mengakui, jodoh diantara kalian sangat kuat Dia wanita yang cantik. Aku bisa paham mengapa kau tergila-gila padanya."Weitian tersenyum tipis. "Terima kasih, Ibu.""Tapi," Janda Permaisuri melanjutkan, suaranya sedikit berubah, "kau tahu apa yang akan dikatakan para bangsawan, bukan? Mereka akan bertanya, 'Bukankah dia dah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status