ANMELDENNing Yuan menatap perut Ning Xue'er, lalu menatap Shen Ziyuan yang mendekat dengan ekspresi dingin.
Wanita itu, Ning Xue’er, adalah adik tirinya. Ia adalah anak dari pelayan di kediaman Ning yang diangkat sebagai selir ayahnya.
"Ning Yuan," sergah Shen Ziyuan, suaranya keras penuh kebencian, "Kemana saja kau? Keluyuran di malam hari tanpa izin?"
Ning Yuan menatap mereka dengan tenang.
"Aku baru saja menyelesaikan urusanku di Paviliun Bulan," katanya lembut, masih mempertahankan peran istri patuh. "Urusan keluarga. Tidak perlu kau khawatirkan."
"Urusan keluarga?" Shen Ziyuan mendengus. "Apa yang lebih penting dari menyambut kepulangan suamimu?"
Ning Yuan tersenyum lembut. "Bukankah kau sudah datang dengan selamat?"
Tatapannya beralih ke Ning Xue'er. "Dan kau membawa hadiah tak terduga. Selamat, Adik. Kalian pasti bersenang-senang sekali dalam perjalanan kali ini."
Kata-kata itu membuat wajah Shen Ziyuan memerah. Ia merasa tersindir, karena perjalanan yang seharusnya berhubungan dengan pekerjaan politik itu malah berakhir dengan kehamilan selirnya.
"Jaga bicaramu, Ning Yuan! Sepertinya aku terlalu baik padamu dua tahun ini! Sekarang kau semakin tidak tahu diri!"
Ning Yuan tetap berdiri tegak. Tidak mundur. Matanya menatap Shen Ziyuan dengan tenang—seolah amarahnya hanyalah angin lalu.
"Maafkan aku," katanya. "Aku sama sekali tidak bermaksud lancang. Malahan aku berpikir, ini adalah hal yang baik. Akhirnya, kau dan ibumu bisa mendapat keturunan yang selama ini mereka dambakan dari wanita yang kau sukai."
Shen Ziyuan membeku. Ning Xue'er yang tadinya tersenyum mulai terlihat canggung, jari-jarinya meremas ujung lengan bajunya.
"Kakak," potong Ning Xue'er dengan suara bergetar. "Aku tahu kau marah karena Kak Ziyuan meninggalkanmu di malam pernikahan. Aku tahu ini sulit bagimu. Apalagi saat tahu aku hamil anak suami kita."
Ia menatap Ning Yuan dengan mata berkaca-kaca. "Tapi tidak berarti kakak boleh bicara seperti itu. Jika kakak ingin hamil juga, aku akan minta suamiku—maksudku suami kita—untuk menghabiskan malam bersama kakak. Walaupun kesempatan itu kecil, sebab kakak kan..."
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu. Tapi semua orang tahu, jika Ning Yuan selama ini dianggap mandul.
Ning Yuan menatap Ning Xue'er, lalu tersenyum tipis.
"Kau benar, Adik. Ini mungkin sulit bagiku." Dia melangkah perlahan mendekati Ning Xue'er. Anggun. Penuh percaya diri. Seperti singa betina mengitari mangsanya.
"Melihatmu yang tidak lebih dari anak pelayan yang mencuci pakaian ibuku, kini berdiri di sini dengan perut yang katanya berisi anak suamiku… sungguh sebuah perjuangan yang luar biasa."
Ning Xue'er tersentak. Wajahnya memerah—bukan malu, tapi marah karena diingatkan asal-usulnya. "K-Kakak—"
"Tapi kau tahu," Ning Yuan melanjutkan, suaranya masih lembut, "kehamilan itu rapuh. Aku berharap kau menjaga diri dengan baik, Adik. Banyak hal bisa terjadi dalam sembilan bulan."
Senyumnya semakin lebar. Ning Xue'er merinding. Tanpa sadar, tangannya memegangi perutnya, seolah melindunginya dari Ning Yuan.
"Ning Yuan! Beraninya kau mengancam Xue’er?" Shen Ziyuan berteriak. Dia melangkah di antara mereka, melindungi Ning Xue'er dengan tubuhnya. "Kau bahkan tidak bisa mengandung anakku! Dan sekarang mengancam wanita yang bisa memberiku anak?!"
Ning Yuan menatap suaminya yang kini berdiri di depan Ning Xue'er seperti perisai. Hatinya sesak—perih. Tapi dia tidak membiarkan rasa sakit itu muncul di wajahnya.
"Aku tidak mengancam siapa pun," katanya datar. "Aku hanya mengingatkan. Sebagai kakak yang peduli."
"Peduli?" Shen Ziyuan tertawa pahit. "Kau tidak pernah peduli pada siapa pun! Kau hanya peduli posisimu sebagai Nyonya Shen! Uang dan tanah warisanmu!"
Ning Yuan menatapnya tajam. "Uang dan tanah warisan yang mana? Aku tidak pernah mendapatkan apapun selama dua tahun ini. Yang aku lihat, justru selir barumu ini yang memakai perhiasan dan gaun sutra baru."
Wajah Shen Ziyuan memucat. "Kau—"
"Tuan muda! Nyonya muda!"
Semua orang menoleh. Seorang pelayan tua berlari tergesa-gesa dari dalam kediaman, wajahnya panik.
"Tuan Muda, Nyonya Muda... Nyonya Besar memanggil kalian semua ke ruang utama. Segera. Urusan penting."
Shen Ziyuan menurunkan tangannya perlahan. Amarah masih terpancar di matanya. "Baik. Tapi ini belum selesai, Ning Yuan."
Dia menoleh ke Ning Xue'er—dan ekspresinya langsung berubah. Lembut. Penuh perhatian. Seperti dua orang yang sangat berbeda. "Xue'er, ayolah. Kita pergi."
Dia menggandeng Ning Xue'er dengan hati-hati, membimbingnya melewati Ning Yuan seolah wanita itu tidak ada di sana.
Ning Xue'er menoleh sekilas. Dan untuk sesaat, dia tersenyum—senyum kemenangan penuh kebencian. Tapi suaranya tetap lembut, tetap manis, tetap seperti korban.
"Kakak Ning Yuan," katanya pelan, "semoga kau bisa bergabung dengan kami segera. Nyonya Besar pasti ingin membicarakan masa depan keluarga ini."
Ning Yuan berdiri di pelataran, menyaksikan mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah. Dingin malam mulai menyusup ke tulang-tulangnya, tapi dia tidak bergerak.
Qinglan, pelayan pribadinya, mendekat dengan hati-hati. "Nyonya... kau baik-baik saja?"
Setelah Shen Ziyuan pergi, gazebo menjadi sunyi.Ning Yuan berdiri di tempatnya, tidak bergerak. Matanya menunduk, tapi pikirannya berputar cepat. Rasa sakit yang tadi menusuk dadanya masih terasa."Aku jatuh cinta padanya sejak sepuluh tahun lalu."Kata-kata Kaisar terus terngiang.Bodoh kau, Ning Yuan. Di mata Kaisar, kau tidak lebih dari wanita penghangat ranjangnya.Kaisar mengamatinya diam-diam. Matanya menyipit melihat ekspresi Ning Yuan yang dingin, tertutup, menjaga jarak.Ada apa dengan wanita ini? Kenapa dia tiba-tiba berbeda?"Kau diam sekali," ucap Kaisar pelan. "Apa kau tidak senang berada di sini?"Ning Yuan mengangkat kepalanya, wajahnya datar. "Hamba senang, Yang Mulia.""Kau berbohong.""Tidak, Yang Mulia. Hamba hanya..." dia berhenti, mencari kata, "...tidak nyaman."Kaisar tersenyum tipis. Tidak nyaman. Benar! Dia pasti tidak nyaman karena aku memaksanya menerima titah ini.Dia tidak tahu bahwa Ning Yuan berbohong. Dia mengira Ning Yuan tidak nyaman karena cara lici
Di gazebo istana, Kaisar tersenyum gembira melihat kedatangan Ning Yuan dari kejauhan. Tapi senyum itu langsung pudar saat melihat Shen Ziyuan berjalan dibelakang Ning Yuan."Dia sengaja membawa suami sialannya." Kaisar mengepalkan tinjunya di balik lengan jubah. "Agar aku tidak bisa terlalu dekat dengannya. Pintar juga kau, Ning Yuan." "Apa kau pikir aku tidak bisa menyingkirkan pria sialan itu dari sini?""Kasim Zhao," panggilnya pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari Ning Yuan yang berjalan mendekat.Kasim Agung Zhao langsung mendekat, menunduk hormat. "Ada apa, Yang Mulia?"Kaisar berbisik sesuatu di telinganya. Kasim Zhao mengangguk, senyum tipis terukir di wajah tuanya. "Hamba mengerti, Yang Mulia."Kasim Zhao pun pergi.***Ning Yuan dan Shen Ziyuan tiba di gazebo. Mereka memberi hormat dengan sopan."Hamba Shen Ziyuan dan istri hamba, Ning Yuan, datang menghadap Kaisar." ucap Shen Ziyuan dengan suara penuh semangat. "Semoga Yang Mulia selalu panjang umur."Kaisar mengangguk
Ning Xue'er menggigit bibirnya. "Sialan! Ning Yuan telah berhasil menjerat kak Shen Ziyuan di ranjangnya! Aku tidak boleh tinggal diam.""Tapi Kakak Ziyuan," ujarnya dengan suara bergetar, menundukkan kepala, "Itu berarti kau akan terus mendatangi kamar kak Ning Yuan hingga dia bisa hamil? Kak Ziyuan, apa permainan ranjang kak Ning Yuan jauh lebih memuaskanmu di banding aku? Aku rela melakukan apapun untuk memuaskanmu di ranjang kak.""Tidak! Tidak begitu sayang. Permainan ranjangmu jauh lebih liar dan panas dibandingkan dia. Aku menidurinya hanya demi keluarga Shen. Tidak lebih. Percayalah padaku." ucap Shen Ziyuan buru-buru menenangkan Ning Xue'er."Tapi jika kak Ning Yuan benar-benar nantinya hamil, lantas anak yang ada di dalam kandunganku ini bagaimana? Posisiku hanyalah selir. Aku tidak ingin anakku nanti merasakan nasib seperti aku yang selalu ditindas oleh anak dari istri sah. Aku juga tidak ingin anak kita ini pandang rendah oleh orang-orang." rengeknya sambil menangis tersed
Ning Xue'er menunggu di koridor sejak fajar.Matanya mengawasi pintu kamar Ning Yuan dengan sabar. Dia yakin semalam tidak terjadi apa-apa antara Ning Yuan dan Shen Ziyuan. "Jangan harap malam-malam kesepianmu akan berakhir! Aku sudah menguasai hati Shen Ziyuan sepenuhnya selama dua tahun ini. Pria itu tidak akan pernah menyentuh wanita lain selain diriku." Ucapnya pelan penuh kesombongan.Akhirnya pintu terbuka dan Ning Yuan melangkah keluar, Ning Xue'er segera menghampiri dengan senyum manis. Di tangannya, sepiring manisan berwarna-warni."Kakak," sapa Ning Xue'er dengan suara lembut. "Aku sengaja menunggu kakak di sini. Aku bawakan manisan untuk kakak."Ning Yuan berhenti. Matanya menatap Ning Xue'er dengan datar, menunggu drama apa yang akan dimulai pagi ini."Aku tahu kakak pasti sedih," Ning Xue'er melanjutkan, suaranya penuh kepura-puraan. "Kesempatan yang selama dua tahun kakak nantikan ternyata tidak seperti yang kakak bayangkan. Tapi sudahlah, kakak tidak usah bersedih."Nin
Pagi hari. Sinar matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai.Shen Ziyuan membuka mata. Kepalanya terasa berat, pikirannya kabur. Tapi satu hal yang dia sadari, dia berada di kamar Ning Yuan—di ranjang yang sama dengan semalam.Semalam... aku datang ke kamarnya. Lalu...Dia menoleh. Ning Yuan duduk di kursi dekat jendela, berpakaian rapi, wajahnya tenang. Tapi di lehernya, ada tanda merah—bekas ciuman yang tidak bisa disembunyikan.Shen Ziyuan tersenyum puas. Jadi semalam benar-benar terjadi.Dia bangkit, berjalan mendekati Ning Yuan dengan langkah sok percaya diri. "Kau terbangun lebih dulu?"Ning Yuan menatapnya datar. Tidak menjawab."Kau tahu," Shen Ziyuan melanjutkan, suaranya penuh kebanggaan, "aku pikir kau akan sulit ditaklukkan. Tapi ternyata..." dia menyentuh tanda merah di leher Ning Yuan, "...kau begitu jinak setelah aku taklukkan di ranjang semalam."Ning Yuan menahan senyum sinis. "Sepertinya dia tidak ingat apa-apa. Pengawal Kaisar pasti memberinya sesuatu." Batin
Ning Yuan membeku. Matanya membelalak melihat sosok di hadapannya. "Yang—Yang Mulia?"Kaisar berdiri tegak, matanya gelap menyala. Dia menatap Ning Yuan—rambut kusut, selimut melorot, pergelangan tangan masih terikat kain dan terlihat bekas merah. Lalu matanya beralih ke Shen Ziyuan yang terkapar di lantai.Tanpa sepatah kata, Kaisar menendang tubuh Shen Ziyuan hingga terguling ke sudut ruangan."Yang Mulia—" Ning Yuan mencoba bangun."Kau terluka," potong Kaisar, suaranya dingin. "Duduk."Ning Yuan menurut. Tangannya masih gemetar saat merapikan selimut menutupi tubuhnya. "Bagaimana—bagaimana Yang Mulia bisa berada di kamarku?"Kaisar berbalik, melangkah ke arah pintu. "Jadi kau lebih suka dia yang ada di sini? Kalau begiiu aku akan pergi.""Tidak! Bukan begitu maksudku. Aku hanya bertanya mengapa Yang Mulia bisa berada di sekitar kamar ku." Sela Ning Yuan, membiarkan Kaisar membuka ikatan tangannya."Sepertinya kau memang tidak suka melihatku." Ujar Kaisar dingin, lalu berdiri untuk







