分享

Rumah curian

last update publish date: 2026-06-19 08:02:30

Udara di dalam mobil mendadak terasa menyesakkan. Kalimat Ana tentang rasa penasaran pada rumah keluarga terkaya sepertinya menyulut sesuatu yang jauh lebih gelap dalam diri Maxime.

CKIIIIITT!

Max menginjak rem dengan paksa di tengah jalan sepi. Tubuh Ana terdorong ke depan, tertahan oleh sabuk pengaman yang menyentak dadanya. Dalam keheningan yang mencekam itu, hanya terdengar deru napas Max. Pria itu mencengkram erat kemudi hingga ujung jemarinya memutih.

"Penasar
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Pria milik 'ARANA'   Rumah curian

    Udara di dalam mobil mendadak terasa menyesakkan. Kalimat Ana tentang rasa penasaran pada rumah keluarga terkaya sepertinya menyulut sesuatu yang jauh lebih gelap dalam diri Maxime.CKIIIIITT!Max menginjak rem dengan paksa di tengah jalan sepi. Tubuh Ana terdorong ke depan, tertahan oleh sabuk pengaman yang menyentak dadanya. Dalam keheningan yang mencekam itu, hanya terdengar deru napas Max. Pria itu mencengkram erat kemudi hingga ujung jemarinya memutih."Penasaran dengan rumah keluarga terkaya?" Max mengulang kalimat tadi dengan nada rendah yang menakutkan.Ana tersentak, tertekan oleh tatapan Max. Pria itu menoleh menunjukkan ekspresi membingungkan. Campuran antara amarah, cemburu juga obsesi yang terpendam."Kalau kamu memang begitu penasaran dengan kemewahan, maka akan kutunjukkan padamu rumah yang jauh lebih mewah dari milik bajingan itu!"Tanpa menunggu jawaban, Max kembali menginjak gas sedalam mungkin. Mobil itu melesa

  • Pria milik 'ARANA'   Kunci ahli waris

    "Kalian tidak tahu," bisik Ana pada pantulan dirinya di cermin yang kini tampak lebih tajam dan berbahaya. "Bahwa kunci yang kalian pegang saat ini justru akan mengunci peti mati kalian sendiri."Hawa lembap memenuhi kamar mandi mewah itu. Dengan gerakan penuh kehati-hatian, Ana meraba punggung, menarik map cokelat yang terasa kasar di kulitnya.Begitu map itu berada di genggaman, Ana menyeringai. Sebuah seringai yang tidak akan pernah dibayangkan oleh Ryan, jika jiwa istrinya telah bangkit untuk menagih keadilan."Kalian tidak tahu," bisik Ana menatap cermin yang berlukis pantulan dirinya. "Bahwa selama ini, kalian telah menyimpan kunci peti mati kalian sendiri."Ana membuka map itu. Jemarinya gemetar saat menyentuh lembaran kertas di dalamnya. Ingatan membawa Ana melayang ke masa lalu, ke sebuah sore yang tenang di perpustakaan rumah ini, saat ia masih di tubuh Reta."Ryan, aku berpikir untuk membuat surat wasiat dan ahli waris. Menging

  • Pria milik 'ARANA'   Kamar lama yang masih sama

    Ana menempelkan telinga ke pintu. Mencoba memastikan keadaan di luar, dan menyelinap di tengah kesunyian.Berjinjit pelan lalu berlari seringan kucing. Ana mendatangi sebuah ruang berpintu jati di ujung lorong, kamar utama yang dulu mereka tempati sebagai suami istri."Aku harus mencari surat itu sekarang," bisiknya pada kegelapan.Pintu itu tidak terkunci. Ryan terlalu percaya diri bahwa tidak akan ada yang berani masuk ke wilayah pribadinya.Kamar mereka masih memiliki tata letak yang sama, namun dekorasinya kini terasa lebih dingin dan maskulin. Aroma parfum Reta yang dulu memenuhi ruang telah digantikan aroma tembakau yang menyesakkan."Apa dia masih menempati kamar ini?" batin Ana terheran, merasakan jejak baru di sana.Ia beralih ke depan lemari pakaian yang menempel di dinding. Di sana, tanpa sepengetahuan Ryan, di balik panel kayu yang tampak biasa itu, tersembunyi sebuah brankas baja."Aku harus cepat," bisik An

  • Pria milik 'ARANA'   Makan malam mewah

    Matahari di ufuk barat telah menghilang, tergantikan oleh selimut malam yang dingin.Ana berdiri di depan cermin, menatap bayangan gadis muda yang kini menjadi cangkangnya. Wajah ini mungkin masih terasa asing, namun di balik mata itu, bersemayam jiwa yang hangus terbakar oleh pengkhianatan.Jiwa Reta, seorang wanita yang pernah mempercayakan seluruh hidupnya pada seorang pria."Satu langkah lagi, Ryan," bisik Ana bernada sedingin es.Ia memilih sebuah dress selutut berwarna hitam pekat yang kontras dengan kulit putih pucatnya. Potongan punggung sengaja dirancang rendah guna memamerkan lekuk tubuhnya yang anggun.Rambut lurusnya kini Ana tata sedikit bergelombang, lalu dikumpulkan ke sisi kiri, membiarkannya jatuh di satu bahu, tak lupa memakai kalung pemberian Ryan yang berhasil dia temukan semalam.Sentuhan terakhir adalah aroma. Ana menyemprotkan parfum dengan note melati dan sandalwood. Ia tahu persis, aroma ini adalah kelem

  • Pria milik 'ARANA'   Hutang tiga milliar

    Keributan yang diciptakan Sarah dan Mia segera diredam oleh pihak keamanan. Mereka diseret ke area belakang pesta dalam kondisi masih meracau,Meninggalkan atmosfer ruangan yang dipenuhi bisik-bisik sinis.Di tengah distraksi itu, seorang pria dengan raut wajah tegas namun tampak lelah mendekati Max."Maaf, atas keributan yang terjadi." ungkap Leo kakak kandung Ana,Leo berdiri dengan segelas sampanye di tangan, menghadap Max sambil mempertahankan senyum."Tidak perlu sungkan, seharusnya saya yang minta maaf---karena tidak bisa membantu apa pun. Pasti sulit mengurus pesta seperti ini," Max menepuk bahu Leo singkat."Iya, ini lebih melelahkan dari mengurus perusahaan." Leo tersenyum sepat,"Oh ya, Tuan Max. Sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan---Soal uang 3 miliar yang anda pinjamkan pada adik saya,"Max tertegun, hampir menjatuhkan gelas di tangannya. Dia tidak tahu jika Ana membeberkan rahasia itu pada Leo,

  • Pria milik 'ARANA'   Kehancuran di tengah pesta

    Ana berjalan keluar dengan jantung yang masih berdegup kencang. Di depan cermin besar koridor, ia menoleh.Jemarinya yang sedikit gemetar begitu tergesa-gesa menata ulang rambutnya, membiarkan helaian gelombang guna menutupi leher.Ana mencoba menyembunyikan tanda merah yang Max tinggalkan. Dia juga berbalik, memastikan resleting gaunnya kembali sempurna,"Huft...tenanglah," gumam Ana menarik napas dalam, memaksakan topeng santai di wajahnya.Menerbitkan senyum sebelum kembali ke aula pesta,Di sana Ryan tampak mencari dan langsung menghampiri."Ana, dari tadi aku menunggumu." ujar Ryan merendahkan suara,Matanya segera tertuju pada leher Ana yang dibiarkan polos. "Lho, dimana kalung berliannya? Kenapa tidak kamu pakai?""Ha? Mm..." Ana terbata-bata, merasakan perutnya melilit.Teringat bagaimana Max merenggut kalung itu dan membuangnya entah kemana.Ia memaksakan senyum tipis yang terlihat ren

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status