LOGIN
"S-sakit... Kenapa gelap sekali?" batin Reta.
Hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang menyentak kesadaran Reta. Namun, rasa nyeri yang hebat di sekujur tubuh memaksanya tetap terpejam. "Argh!" Reta mengerang, merintih dalam sesak. Saat kelopak matanya perlahan terbuka, ia tertegun. Dunianya jungkir balik. Tubuhnya tersungkur tak berdaya di atas langit-langit mobil yang ringsek. Reta baru tersadar, mobil yang ia tumpangi mengalami kecelakaan hebat. Tangannya gemetar, meraba sumber rasa sakit yang menghunjam. "Sshhh..." Tak ada luka terbuka yang terlihat, namun bagian dalam tubuhnya terasa terbakar, seolah puluhan belati baru saja dihujamkan ke organ vitalnya. Dengan sisa tenaga yang ada, Reta bersusah payah membalikkan tubuh. Napasnya terengah saat menatap lantai mobil yang kini berada di atas kepalanya. Benar saja, mobil itu terbalik setelah terguling ke dasar jurang yang kelam. Di tengah keheningan hutan yang mencekam, ingatan Reta berputar. Ada tiga orang lainnya di dalam mobil hitam itu. Ia melirik panik, mencari keberadaan mereka. Seharusnya, malam ini menjadi perayaan ulang tahun pertama pernikahannya. Namun, perjalanan menuju pesta itu berubah menjadi tragedi. Rem mobil mendadak blong, melempar mereka ke dalam kegelapan jurang. "Ryan! Ryan! Hei, bangun!" Suara pekikan itu memecah keheningan. Seorang gadis tampak tergesa-gesa mendekat. Suaranya yang melengking menarik Reta dari lamunan traumatisnya. "Siapa?" Reta mendongak, mencoba merangkak di sela-sela kursi belakang yang remuk. Ia melihat salah satu sahabatnya sudah berhasil keluar. "Syla?" "Syukurlah... dia selamat," gumam Reta dengan napas lega. Tubuh Reta kembali ambruk. Tenaganya luruh. Rasa sakit itu kian mencekik, bahkan hanya untuk mengangkat tangan pun ia tak mampu. Sakit. Luar biasa sakit! Reta kembali menoleh saat melihat seorang pria mulai bergerak sadar. Pria itu tampak meringis memegangi bahu kanannya yang cedera. "Bagaimana dengan Reta?" tanya Ryan setelah berhasil merangkak keluar dari bangkai mobil. Ia menatap sekilas helai rambut yang menjuntai dari jendela yang pecah. "Ryan..." Reta mendongak dengan tatapan sayu. Suaranya hilang di tenggorokan. Secercah senyum pahit terukir di sudut bibirnya. "Tentu saja pria itu mengkhawatirkanku," pikirnya. Tangan Reta terulur dengan gemetar, mencoba meraih bantuan. "Aku... di sini---" "Buat apa dipikirkan? Tujuanmu sudah berhasil, biarkan saja dia mati di dalam," potong Syla dengan nada ketus yang dingin. Langkah kaki Ryan terhenti. "Lagi pula, selama ini kamu hanya pura-pura mencintainya, kan?" sambung Syla lagi. DEG. Reta terpaku. Bibir keringnya terkatup rapat. Sorot mata penuh harap itu seketika padam, digantikan oleh kekosongan yang mengerikan. "Bohong! Itu pasti khayalan. Kepalaku pasti terbentur terlalu keras... iya, kan?" Tanpa sadar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Reta tak bisa lagi membohongi diri sendiri. Hatinya jauh lebih sakit daripada tulang-tulangnya yang patah. Dadanya sesak, perutnya mual, ia merasa baru saja ditampar oleh kenyataan yang paling menjijikkan. "Apa maksudnya?" Reta tersenyum getir di tengah kegelapan. Sulit dipercaya bahwa setiap kecupan, setiap janji, dan kenangan indah selama ini hanyalah sandiwara murahan. Harta, perusahaan, jabatan, Reta bahkan rela memutus hubungan dengan keluarga yang merawatnya sejak kecil demi pria ini. Ia percaya Ryan adalah dermaga terakhirnya. "Apa yang Syla maksud? Tujuan... apa?" suara Reta serak, nyaris tak terdengar. "Tidak. Ryan sangat mencintaiku..." Reta menangis terisak. Hatinya menolak fakta yang terpampang nyata. Ia mencoba memanggil nama pria yang ia puja itu sekali lagi. "Ryan---" "Kamu benar. Tujuanku sudah tercapai," sahut Ryan dingin. Tak ada lagi nada lembut yang biasanya menenangkan Reta. "Aku sudah berhasil mengambil alih seluruh kekayaan keluarga Sidney." "Ryan? Kenapa..." Reta tercengang. "Lima tahun! Setelah semua yang kita lalui... apa sedetik pun kamu tidak pernah tulus mencintaiku?" Air mata kian deras membasahi pipi yang berlumuran debu. Reta jatuh ke dasar kekecewaan yang paling dalam. "Ayo cepat! Kita harus pergi sebelum mobil ini meledak!" Syla menarik paksa lengan Ryan. Suara langkah kaki mereka terdengar menjauh, kian samar, lalu hilang ditelan sunyi. "Semua yang kuberikan... apa belum cukup?" "Bukankah hartaku sudah lama kamu kuasai?" "Tidak bisakah... kamu belajar mencintaiku sedikit saja?" "Kenapa?" "Heh... tidak kusangka. Suami dan sahabatku sendiri... bersekongkol untuk membunuhku." "Haha... Hahaha!" Reta tertawa lantang. Tawanya terdengar gila di tengah reruntuhan. Ia menertawakan kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa ia tertipu oleh topeng yang begitu sempurna? Kebahagiaan yang ia bangga-banggakan ternyata hanyalah pedang beracun yang kini tertancap tepat di jantungnya. "Argh..." Sebuah rintihan dari sisi lain mengejutkan Reta. Ia tersentak, mencari sumber suara itu. "Lia!" Mata Reta membelalak. Sahabatnya yang lain ternyata terpental keluar dari mobil. Gadis itu tampak kesakitan, berusaha bangkit dengan tubuh gemetar. Dalam posisi tengkurap, Lia menoleh dengan pandangan linglung. "Reta!" pekik Lia saat melihat Reta masih terjepit di dalam. Ia merangkak dengan sisa tenaga, mencoba meraih tangan Reta. "Kamu tidak apa-apa?" "Lia... cepat pergi!" tegas Reta, menepis tangan itu. "Tapi, Reta... aku harus membantumu dulu, ayo cepat!" Lia menangis, suaranya serak karena cemas. Ia terus menggapai-gapai ke dalam kabin yang sempit. "Jangan, Lia! Tidak ada waktu! Sebentar lagi mobil ini akan meledak!" "Bodo amat! Kamu jangan mengusirku!" bentak Lia keras kepala. "Cepat, berikan tanganmu!" Lia mulai tersedu-sedu, wajahnya memerah karena tangis dan amarah. "Ayo, Reta... aku tidak mau pergi tanpamu. Bangunlah, pegang tanganku!" Namun, Reta tahu ia sudah mencapai batasnya. Rasa sakit itu sudah berubah menjadi mati rasa yang dingin. Tubuhnya seolah lumpuh. Hanya suara parau yang sanggup ia keluarkan. "Aku mohon... demi aku. Larilah." "Tidak!" "Hubungi Om Neil! Katakan padanya... aku belum menandatangani surat alih kuasa," ujar Reta dalam satu tarikan napas yang menyakitkan. "Bilang padanya untuk mengambil alih kembali seluruh aset Sidney. Jangan biarkan Ryan menyentuhnya sedikit pun!" Lia terisak semakin kencang. "Kenapa jadi seperti ini? Reta, ayo kita pulang..." "Kamu pulanglah lebih dulu. Sampaikan pesanku, oke?" Reta memaksakan sebuah senyuman hangat, senyum perpisahan. Seketika, aroma bensin yang tajam menusuk hidung. Lia melirik ke belakang, asap putih mulai mengepul tebal, menghalangi pandangan. Dengan berat hati dan raungan tangis, Lia terpaksa mundur dam berlari menjauh tepat sebelum api menjilat bangkai mobil. "Terima kasih," bisik Reta lega. Ia kembali dipeluk oleh keheningan. "Hhh... jadi begini rasanya akan mati. Sepi sekali." "Uhuk! Uhuk!" Reta terbatuk keras, memuntahkan cairan merah pekat yang kental. Bau besi berkarat memenuhi indra penciumannya. Darah mengalir membasahi gaun indah yang seharusnya ia pamerkan malam ini. Napasnya pendek dan putus-putus. Betisnya kaku, dan rasa dingin mulai menjalar dari ujung kaki ke jantungnya. Di detik-detik terakhirnya, bayangan seseorang melintas. Senyum hangat pria yang sudah ia anggap sebagai ayah kandung sendiri. "Om Neil... apa Om akan memaafkanku?" "Dulu, Om selalu melarangku berhubungan dengan Ryan." "Andai ada kesempatan kedua... aku tidak akan pernah sudi mengenal bajingan itu."Ana melirik kakaknya, Leo, yang duduk tepat di seberang meja. Sejak tadi, pria yang biasanya menjadi orang paling vokal menentang hubungannya dengan Max, tampak jauh lebih tenang.Leo menikmati hidangannya dengan saksama, memotong daging steak dengan gerakan presisi seolah ia mulai menerima kenyataan pahit bahwa adiknya kini bukan lagi tanggung jawabnya.Namun, ketenangan itu terusik saat rasa mual tiba-tiba naik ke kerongkongan Ana. Aroma truffle dan rempah masakan yang tadinya menggugah selera, mendadak berubah menjadi bau yang menusuk dan memuakkan. Perutnya bergejolak hebat.Ana membekap mulutnya dengan serbet, wajahnya memucat seketika dalam hitungan detik.Tanpa suara, sebuah tangan besar mendarat di punggung Ana. Max, dengan kepekaan yang tajam, mengelus punggung istrinya dengan gerakan memutar yang menenangkan. Sorot matanya yang dingin berubah menjadi penuh perhatian."Ada apa?" tanya Citra, ibu Ana, dengan raut cemas yang kentar
Malam itu, kemacetan Jakarta seolah tak berani menyentuh iring-iringan mobil hitam mengilap yang dikirimkan Max. Tidak tanggung-tanggung, Max mengirimkan satu unit Rolls-Royce untuk orang tua Ana, dan masing-masing satu unit Mercedes-Benz untuk keluarga paman dan sepupu-sepupunya.Sarah dan Mia duduk di dalam kabin mobil yang kedap suara, jemari mereka meraba jok kulit yang terasa begitu mahal. Alih-alih merasa senang, wajah mereka justru masam, mencari celah untuk mencela namun hanya bisa terpana saat mobil-mobil itu berhenti di lobi sebuah hotel bintang lima yang telah dipesan secara privat."Ini berlebihan," gumam Sarah saat mereka melangkah menuju penthouse dining room yang menyajikan pemandangan 360 derajat kota Jakarta. "Pasti ini semua hasil dari hutang."Namun, ucapan Sarah tertelan saat ia melihat Max berdiri di ujung meja panjang. Pria itu tampak sangat berkuasa dalam setelan bespoke suit yang membalut tubuh tegapnya."Tunggu..." Sarah m
Di lantai bawah, Helena menatap Max dengan tatapan memohon. "Lalu bagaimana, Max? Meski terlambat... aku ingin membujuknya. Aku ingin Syla kembali."Max terdiam sejenak, menatap kosong ke arah taman luar yang mulai gelap. "Tidak ada cara lain, Bu. Syla sudah dibutakan oleh kebencian. Kita harus menghancurkan Sidney dulu lalu mengambil alih seluruh asetnya. Biarkan mereka jatuh hingga ke titik terendah."Suara Max terdengar dingin tanpa ampun. "Setelah mereka tidak punya apa-apa lagi, selanjutnya terserah Ibu. Ibu bisa datang sebagai penyelamat dan mengajak putri Ibu pulang. Saat itulah dia tidak punya pilihan selain bersandar pada Ibu.""Tapi..." Max menjeda kalimatnya, "jika aku tahu dia melakukan kejahatan yang lebih parah di luar pemalsuan wasiat ini, Ibu tidak boleh melindunginya. Hukum tetap harus berjalan."Helena mengangguk pelan dengan wajah lesu. "Baiklah."Max berbalik, meninggalkan ibunya yang masih meratapi nasib di sofa. Ia
Di lantai bawah, suasana mendadak hening. Max berdiri mematung di dekat jendela besar, sementara Helena memperhatikan putranya dari sofa. Sebagai ibu, ia sadar ada sesuatu yang mengusik ketenangan Max. Wajah kaku putranya itu seakan sedang menahan badai besar yang siap meledak kapan saja."Ada apa, Max?" tanya Helena lembut.Max tidak langsung menjawab. Ia membalikkan tubuh, menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Syla kemarin datang menemuiku."Tring!Gelas teh yang dipegang Helena berdenting halus saat bersentuhan dengan tatakannya. Tangan wanita itu bergetar. Ia terdiam, raut wajahnya berubah tegang, namun ia memilih bungkam, seolah sedang menimbang-nimbang rahasia yang harus ia simpan selamanya."Dia bilang, dia adik kandungku," lanjut Max dengan suara rendah. "Aku tidak memiliki ingatan apa pun tentangnya. Karena itu, aku menganggapnya gila dan mengusirnya."Helena membuang muka, menatap hampa ke arah lantai. Ia
Di dalam ruang kerja yang kedap suara itu, suasana mendadak terasa berat. Ana duduk gelisah di sofa, jemarinya meremas satu sama lain, sementara matanya sesekali melirik ke arah meja kerja besar di sudut ruangan.Di sana, Max berdiri sebelum akhirnya duduk dengan khidmat. Wajahnya mengeras, sangat serius, seolah dunia sedang dipertaruhkan dalam tumpukan kertas yang diberikan Fero. Bunyi lembaran dokumen yang dibalik terdengar tajam di tengah keheningan.Pikiran Ana melantur jauh pada bisikan Fero sebelumnya. "Sebenarnya siapa yang mereka maksud?" batin Ana getir. Tangannya tanpa sadar mengelus perutnya yang masih rata. "Jangan bilang... ada gadis lain di luar sana yang juga sedang mengandung anaknya?"Rasa sesak yang asing merayapi dada Ana. Ia merasa seperti terjebak dalam labirin rahasia pria yang kini menjadi suaminya.Sementara itu, di balik meja kerja, Max terpaku pada baris demi baris hasil penyelidikan Fero tentang Syla.Max menari
Ana duduk terdiam di deretan kursi tunggu rumah sakit. Aroma antiseptik yang tajam biasanya membuatnya mual, namun perhatiannya kini teralih sepenuhnya pada layar televisi besar yang terpasang di sudut ruangan.Sebuah berita finansial sedang memutar cuplikan konferensi pers megah. "...kehadiran Djiwa Group, perusahaan global yang baru saja meresmikan cabang utamanya di Indonesia, diprediksi akan mengubah peta ekonomi nasional secara drastis. Di sisi lain, saham Sidney Group dilaporkan anjlok ke titik terendah dalam satu dekade terakhir. Para analis menduga ada persaingan pasar yang memojokkan Sidney... mereka bahkan mulai mempertanyakan langkah apa yang akan diambil oleh direktur perusahaan untuk menghadapi krisis tersebut."Mata Ana menyipit. Nama Djiwa Group terdengar asing namun otoritasnya mampu mengguncangkan dunia. Saat itulah, sebuah bayangan tinggi menutupi pandangannya."Ayo. Aku sudah selesai."Max berdiri di depan, menggenggam kantong p
Hening mencekam menyelimuti kamar yang dipenuhi hawa dingin pendingin ruangan. Di atas ranjang luas yang berantakan, dua insan baru saja melewati malam yang penuh gejolak. "Ng..." Arana mengerang, membalikkan tubuhnya yang terasa remuk. Matanya mengerjap, menatap langit-langit kamar mewah yang asi
WARNING!! 21+ ADULT CONTENT. HARAP BIJAK DALAM MEMBACA. Senyum kemenangan terukir di bibir Ana. Jiwa Reta Sidney dalam raga Alana ini rupanya masih memiliki taring yang mematikan. Begitu kartu akses tipis itu berpindah tangan, Ana segera melangkah menuju elevator. Tujuannya hanya satu, lantai terti
Kediaman keluarga Pratama terasa tenang. Meski tak semegah rumah keluarga Sidney, perabotan di sini tertata rapi. Areta, yang kini menghuni tubuh Arana, teringat bahwa keluarga ini terpaksa memecat pelayan demi membiayai pengobatannya. "Biar Leo saja yang mengantar Ana ke atas," tawar Leo sigap. C
Tut... Tut... Tut... Suara monoton alat medis itu adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Reta. Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciumannya, kontras dengan hawa sejuk pendingin ruangan yang membelai kulit. Reta mengerang pelan. Matanya mengerjap, beradaptasi dengan cahaya lampu pu







