Share

Aku Mencintaimu?

last update Terakhir Diperbarui: 2022-05-30 18:20:18

"Woi bangun lu, tidur Mulu perasaan dah." Ucapan itu berhasil membuatku bangun dari tidur nyenyak sebelumnya.

Kedua mataku menangkap sosok pria yang duduk di sebelahku. "Kenapa emangnya? Jangan ganggu gue tidur!" balasku membentak.

Aku langsung terbaring kembali di atas kasur, tidak mempedulikan Freza yang berteriak memanggil namaku.

"Fiona, bangun nggak? Lo udah jadi beban, jangan nambah beban lagi," ujar Freza menarik selimut yang membungkus tubuhku.

A
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Priaku di Kursi Roda   Ayah Angkat?

    Freza menatapku dengan tajam, beberapa orang berdiri di belakangnya membuat semua warga di sini memperhatikan mereka. "Siapa dia?" Putra bertanya padaku, wajahnya begitu serius. Aku bingung harus menjawabnya seperti apa, kuputuskan untuk menghampiri Freza dan menghiraukan pertanyaan Putra. "Ngapain lo di sini?" Aku bertanya berbisik pada Freza yang menarikku pada pangkuannya. "Gini ya kelakuan lo, malah kabur. Lo pikir lo bisa kabur dari gue gitu aja?" Aku muak mendengar ocehan Freza, gigiku menggertak. Segera kutarik badanku dan langsung berdiri. Rasanya aku ingin menampar Freza. "Surat perceraian kita udah gue simpen di meja kerja lo, jadi bukan urusan lo lagi gue harus kemana." Aku bergegas pergi, tetapi Freza kembali menarik lenganku. "Lo ga bisa kabur dari gue!" Aku tersenyum sinis menatap Freza yang terlalu yakin dengan ucapannya. "Satu hal yang lo lupa, Za. Ini bukan tempat lo dan gak ada kuasa lo yang bisa dilakuin di sini." Freza terdiam sesaat, seperti mencerna ka

  • Priaku di Kursi Roda   Kembali?

    Aku terbangun dari tidurku, dan kutatap sekeliling. Nafasku tidak karuan, mimpi ini benar-benar gila. Bagaimana mungkin aku bermimpi jika Freza menangis untukku dan Ardi yang bunuh diri. "Tenanglah Fiona, ini hanya mimpi." Mataku menatap sekitar yang sudah gelap, segera aku menyalakan lilin dan lampu minyak. Kehidupan di sini jauh dari teknologi, bahkan untuk pencahayaan pun mereka masih memakai manual tanpa listrik. Aku keluar dari rumah dan menatap lurus ke depan. Kuputuskan untuk menuju sisi pantai dan ketika menemukan sebuah batu besar, lantas aku duduk di sana. Suara ombak yang menabrak batu karang, diiringi dengan angin malam yang sejuk benar-benar membuatku menjadi segar. Rasanya sudah lama aku tidak mendengar suara ini, karena seringnya aku mendengar sebuah kendaraan. Kuusap perutku yang masih rata. "Nak, apa kau senang berada di sini?" tanyaku sambil melihat perutku sendiri. "Fiona?" Kepalaku menoleh ke kanan dan menemukan seorang pria seumuran denganku menatapku de

  • Priaku di Kursi Roda   Cinta Pertama?

    Tengah malam aku baru sampai di rumah, sengaja aku pergi ke sebuah taman dan merenung cukup lama di sana. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi saja, baik dari Freza maupun Ardi. Aku hanya ingin menikmati hidupku, dan membesarkan anakku sendirian. Ketika di rumah aku tidak bertemu dengan Freza. Mungkin pria itu sudah tertidur, tadinya aku ingin mengobrol dengan dia sebentar. Ada sesuatu hal yang harus aku tanyakan padanya. Namun, aku mengurungkan niatku, sepertinya aku pergi pun Freza tidak akan peduli. Saat melewati ruang kerja Freza aku mendengar percakapan dari dalam sana. Langkahku terhenti dan bersembunyi di balik pintu, aku begitu penasaran karena ternyata Freza masih belum tidur. "Tuan, saya sudah datang ke tempat yang Anda perintahkan, tetapi tidak ada hal yang bisa saya dapatkan." "Kemana lagi aku harus mencarinya! Dia mungkin sekarang tengah mengandung anakku." "Aku tidak mau tahu, kau harus mendapatkan informasi tentang wanita malam itu, karena dia sangat berharga, yan

  • Priaku di Kursi Roda   Terungkapnya Masa Lalu

    "Apa yang kau katakan!?" Segera kulepas genggaman tangannya.Aku tidak mengerti dengan Ardi yang tiba-tiba mengatakan seperti itu.Ardi menarik nafas panjang, dia menatapku dengan tatapan yang serius."Dengarkan aku dulu Fiona.""Aku benar mencintaimu, aku bahkan siap dengan masalalumu. Aku akan membesarkan anak yang tengah kau kandung dan mengatakan pada dunia jika dia adalah anakku.""Ardi cukup! Kau sudah gila apa!? Kita baru bertemu beberapa kali, aku mengikuti keinginanmu bukan berarti aku akan selalu setuju dengan apa yang kau katakan!""Aku memang sudah gila, apa kau lupa Fiona? Di restaurant ini adalah pertemuan pertama kita?" Ardi bertanya membuat dahiku mengernyit.Kutatap sekitar, perasaan familiar ini datang. Tiba-tiba aku teringat dengan masa laluku.Saat itu merupakan

  • Priaku di Kursi Roda   Pengakuan

    Tatapanku menatap kosong ke depan. Pikiranku melayang kemana-mana, hari-hari yang begitu indah kini sudah terganti dengan hari kelam.Satu jam yang lalu Ardi mengantarkanku pulang. Kupikir aku akan diusir dari rumah, tetapi yang mengejutkan Freza menungguku.Dan seperti biasa dia memarahiku, tetapi diriku sudah kebal dengan amarahnya. Jadi aku sekarang bisa menganggapnya angin lalu.Ucapan Ardi waktu itu benar-benar membuatku membuka mataku dengan lebar."Dunia sangat kejam jika kita tidak menikmatinya. Ayolah, tidak semua ucapan orang harus kita dengar, karena untuk mereka kita adalah tokoh sampingan, pun sama dengan kita."Aku tersenyum ketika mengingat Ardi mengatakannya dengan penuh percaya diri. Sulit untuk kupercaya, melihat dirinya sudah memiliki banyak skandal. Dan mungkin aku akan menjadi salah satu bagian dari skandalnya itu.&

  • Priaku di Kursi Roda   Balas Dendam Terbaik

    Freza menatapku dengan tersenyum picik, dia berdiri kemudian mendorong kursi rodanya mendekat padaku. "Apa maksud lo, hah?" Kulempar koran tadi tepat mengenai wajahnya. Aku benar-benar muak, memangnya tidak cukup jika aku hanya digunjing oleh orang-orang di sekitar kita? Kenapa harus melibatkan media juga? "Emang kenyataannya kan? Kalau lo selingkuh dari gue! Kenapa lo harus marah?" Aku terdiam, benar-benar Freza sudah melampaui batasnya. Namun, aku tidak bisa melakukan apa-apa karena aku tidak memiliki apapun. Lebih baik aku memilih pergi, enggan untuk berdebat dengan Freza. Akan tetapi Freza segera menarik tanganku, hingga aku menatap ke belakang."Lepas!" Kulempar tangan Freza yang mengenggam tanganku erat. "Bener ya kalau tampang baik gak selamanya baik. Kayak lo, yang sering main di belakang gue!" tutur Freza dengan rahang yang menegas. Aku tersenyum mendengarnya, "Gue gak peduli sama yang lo pikirin. Dan satu hal lagi, lo gak perlu nyewa anak buah buat gertak gue. Gak ada

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status