Share

Dunia 1 | Ep. 5

Author: Beauty_Hazell
last update publish date: 2026-04-05 18:00:52

Pagi datang tanpa suara.

Kabut tipis menyelimuti kaca-kaca gedung tinggi, memantulkan cahaya matahari yang masih terasa dingin. Kota perlahan terbangun dari tidurnya. Suara aktifitas mulai terdengar semarak.

Di lantai presiden gedung Lu Group, ritme kerja mulai berjalan dengan teratur seperti biasanya. Namun, ada sesuatu yang terasa sedikit berbeda.

Langkah kaki terdengar dari koridor yang panjang. Mantap, stabil, serta tak tergesa.

Lu Shenyuan berjalan melewati meja kerja tanpa menoleh. Wajahnya tetap dingin tanpa riak, seolah tak ada satupun yang dapat memengaruhinya. Namun hari ini, langkahnya sedikit melambat. Tanpa sadar, pandangannya menyapu area kerja.

Satu meja.

Dua meja.

Tiga... kosong.

Tidak ada sosok yang dia cari.

Kedua alis Lu Shenyuan sedikit berkerut. Hanya sepersekian detik, namun cukup untuk membuatnya berhenti. Mata phoenix di balik kacamatanya sedikit menajam.

Keheningan tiba-tiba terjadi.

Para sekretaris di sekitar tanpa sadar menahan napas mereka. Tidak ada yang berani untuk bersuara.

Beberapa mata dari mereka secara otomatis menatap pria berkacamata hitam yang berdiri di belakang sang presiden. Seolah bertanya apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Asisten Yang yang berdiri mengikuti di belakang Lu Shenyuan juga merasa sedikit bingung.

"Presiden?" Tanyanya dengan sedikit hati-hati memecah kesunyian.

Lu Shenyuan tidak langsung menjawab. Pandangannya masih tertuju pada meja kosong itu.

"Penerjemah itu... " Suaranya masih datar, namun pertanyaannya terlalu tiba-tiba.

Mata Asisten Yang sedikit berkedip ketika mendengarnya.

"Ruan Yu, Presiden?" Tanyanya dengan nada sedikit ragu.

"Hn"

Lu Shenyuan berhenti sejenak.

"Dia tidak datang hari ini?" Pertanyaan tiba-tiba itu keluar dengan nada dingin. Namun terkesan agak janggal.

Udara terasa semakin menyesakkan.

Para sekretaris sedikit menundukkan kepala mereka untuk menyembunyikan emosi kompleks di mata mereka. Sejak kapan presiden begitu memperhatikan para karyawannya?

Dia adalah Lu Shenyuan. Seorang gila kerja yang tidak pernah tertarik pada apapun. Kecuali tunangannya yang diperlakukan dengan lembut, dia sama sekali tidak peduli pada hidup orang lain.

Asisten Yang tertegun sepersekian detik ketika mendengarnya, lalu kembali tersadar.

Mengangkat pergelangan tangannya, Asisten Yang menatap jam seraya menjawab. "Seharusnya dia datang. Mungkin ada keterlambatan di pihaknya, Presiden"

Setelah mendapat jawaban, Lu Shenyuan tidak mengatakan apapun lagi. Dia berbalik dan melanjutkan perjalanan menuju ruang kerjanya.

Langkahnya tetap stabil, namun ada sesuatu yang terasa ganjil.

.

.

.

Di dalam ruang kerja presiden, sunyi kembali menguasai. Berkas dokumen di atas meja terbuka. Layar komputer menyala. Semuanya terlihat tampak normal.

Namun tangan Lu Shenyuan tidak bergerak. Matanya menatap dokumen, namun dia sama sekali tidak dapat membaca setiap katanya.

Beberapa detik kemudian.

Terdengar helaan napas berat, Lu Shenyuan meletakkan pena di atas meja. Alisnya berkerut tipis. Perasaan mengganggu itu datang kembali. Bahkan lebih terasa.

Bukan karena aroma serta kehadirannya. Melainkan karena... ketiadaan sosoknya.

Melihat ketidakhadiran sosok perempuan itu, sedikit rasa jengkel muncul di hatinya.

Seharusnya tidak seperti ini. Dia seharusnya tidak terlalu peduli dengan keberadaan wanita itu.

Perasaan mengganggu itu terlalu mempengaruhi pikiran. Membuat segalanya tampak berantakan.

Hening yang terasa menekan.

Tangan Lu Shenyuan kemudian menyalakan interkom. "Masuk"

Pintu terbuka hampir seketika. Asisten Yang masuk ke dalam ruangan dengan cepat, seolah dia sudah tahu bahwa panggilan itu akan datang.

"Presiden?" Panggilnya dengan penuh hormat. Siap menerima intruksi kapan saja.

Lu Shenyuan tidak mengangkat kepalanya.

"Hubungi bagian proyek" Titahnya tetap dengan datar.

"Pastikan jadwal hari ini tidak tertunda"

Asisten Yang mengangguk. "Baik, Presiden"

Dia segera berbalik untuk melaksanakan tugas, ketika kembali mendengar panggilan dari belakang.

"Tunggu"

Langkah Asisten Yang terhenti. Dia kembali berbalik menghadap atasannya yang masih menunduk membaca dokumen.

"Ada lagi, Presiden?"

Sunyi sejenak.

"Jika dia datang... "

Asisten Yang menunggu.

Beberapa detik berlalu sebelum kalimat itu selesai.

"Langsung laporkan"

Asisten Yang sedikit terkejut. Matanya di balik kacamata berkedip aneh, namun dengan cepat ekspresinya kembali normal.

"...Baik, Presiden" Asisten Yang mengangguk.

Dia kembali berbalik dan keluar dari kantor dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan.

.

.

.

Di sisi lain.

Lift yang berjalan tampak berhenti dengan bunyi pelan. Pintu terbuka dan seorang perempuan keluar dari dalamnya.

Sepatu hak rendahnya menyentuh lantai marmer dengan suara yang lembut dan teratur.

Ruan Yu hari ini mengenakan kemeja panjang putih. Rok merah anggur memeluk pinggang rampingnya. Rambut panjang ikalnya tergerai rapi di belakang punggung. Membingkai wajah cantik pucatnya yang seperti porselen.

Sederhana, namun sulit untuk diabaikan.

Dia menyusuri koridor dengan langkah tenang serta anggun. Tidak terburu-biru, serta tidak lambat.

["Terdeteksi peningktan fokus target"]

["Frekuensi observasi telah meningkat"]

Senyum tipis perlahan muncul di wajah Ruan Yu. "Dia mulai mencari"

["Tuan Rumah, ketertarikan target meningkat sebesar 16%"]

Ruan Yu terkekeh geli. "Masih rendah"

Nada suaranya sama sekali tidak menunjukkan ketidakpuasan. Justru sebaliknya, dia tampak menikmati setiap perubahan emosi mangsa yang telah diincar.

Langkahnya terhenti di samping kaca besar. Tersembunyi di sudut, cukup untuk membuat orang lain tidak dapaat menyadari keberadaannya.

Lantai presiden.

Kelopak matanya terangkat. Iris cokelatnya menatap tanpa emosi dan terkesan cukup dingin.

"Cukup untuk tahap ini"

Sudut mulutnya sedikit terangkat. "Mari kita sedikit naikkan tensinya"

Tangannya terulur dan mendorong pintu kaca di depannya.

Di dalam.

Beberapa sekretaris yang sedang bekerja seketika mengangkat kepala mereka. Perhatian mereka seketika tertuju padanya. Namun kali ini tatapan mereka tampak berbeda dari biasanya.

Dan... seseorang sudah lebih dulu mengetahui keberadaannya.

Pintu ruang kerja presiden seketika terbuka.

Langkah kaki yang biasanya tampak mantap serta tenang kini terasa sedikit lebih cepat daripada biasanya.

Tatapan Ruan Yu terangkat.

Mata bunga persiknya seketika bertemu dengan mata phoenix.

Di tengah suasana yang tampak sunyi, untuk sepersekian detik hanya mata mereka yang saling beradu.

Kedua alis Lu Shenyuan sedikit berkerut. Napasnya hampir tak terasa sedikit tertahan. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa langkahnya berhenti tepat di depannya. Terlalu dekat dari jarak yang seharusnya.

Aroma familiar itu kembali hadir. Terasa nyata, serta sedikit menekan rasa gangguan karena ketidakhadirannya.

Asisten Yang yang melihat kedatangan tiba-tiba Presiden sedikit terkejut. Dia bahkan belum menyampaikan kabar, namun Presiden sudah datang dengan sendirinya.

"Terlambat" Suara Lu Shenyuan terdengar dingin.

Ruan Yu menatapnya dengan tenang. Sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanannya.

"Maaf, Presiden" Jawab Ruan Yu dengan ringan, namun tidak ada rasa bersalah di dalamnya.

Tatapan di antara mereka tidak pernah terputus.

Lu Shenyuan mengamati wajah cantik di depannya dengan seksama. Seolah sedang mencari sesuatu. Namun setiap detail, setiap ekspresi tidak ada yang salah.

Dia sendiri sedikit bingung. Apa sebenarnya yang dia harapkan untuk muncul di wajah cantik perempuan di depannya?

Namun tetap tidak ada. Bahkan sedikit riak pun tidak. Semuanya tampak tenang serta kosong. Dan hal itu membuatnya semakin kesal.

Gangguan yang sempat tertekan karena aromanya kembali muncul lebih jelas. Rasa tersinggung muncul dengan sendirinya.

"...Masuk"

Perintah itu keluar dengan tiba-tiba, bahkan sebelum dia sempat untuk memikirkannya.

Asisten Yang yang berdiri mengamati tidak jauh dari sana sedikit membeku.

Masuk? Bukankah sekarang belum waktunya untuk rapat?

Tidak ada jadwal pertemuan langsung. Tapi tidak ada seorangpun yang berani untuk mempertanyakannya.

Ruan Yu mengangkat kedua alisnya. Sangat tipis, hampir tak terlihat. Namun gestur itu menunjukkan bahwa dia telah menyadari sesuatu.

"Baik, Psresiden" Jawabnya dengan pelan.

Ruan Yu mengikuti langkah Lu Shenyuan. Memasuki ruang kantor, pintu di belakang mereka akhirnya tertutup rapat.

Asisten Yang memperhatikan punggung mereka dengan pandangan rumit. Sebuah pikiran absurd dan tidak masuk akal mulai muncul di dalam benaknya. Namun dengan cepat ditekan kembali ketika bayangan tunangan presiden muncul.

Menundukkan kepalanya, dia kembali mengerjakan dokumen di depannya.

Sementara itu, para sekretaris saling melirik dengan pandangan halus. Tidak ada yang berbicara maupun bersuara. Namun jelas terasa ada sesuatu yang tak dapat dijelaskan perlahan mengalir di udara.

.

.

.

Di dalam ruang kerja, atmosfir terasa lebih berat. Ruan Yu berdiri di tengah ruangan dengan tenang tanpa sedikitpun kegugupan.

Lu Shenyuan berdiri di depannya beberapa langkah. Tidak bersuara, namun menatapnya intens dengan aura mengintimidasi.

Hening selama beberapa detik.

Lalu...

"Kenapa terlambat?" Nada suara Lu Shenyuan tampak rendah. Namun nadanya seolah bukan hanya sekedar pertanyaan.

Kelopak mata Ruan Yu sedikit tertunduk. Senyum tipis muncul di wajahnya. Ketika matanya kembali mendongak, dia menatap dengan pandangan penuh misteri.

"Presiden Lu ingin tahu?" Jawabnya dengan nada terselip sebuah godaan.

Udara seolah membeku.

Untuk pertama kalinya, Ruan Yu tidak menjawab dengan nada profesional.

Hati Lu Shenyuan sedikit tertegun. Namun wajahnya tetap datar. Mata phoenix-nya sedikit menyipit penuh penilaian.

"Jawab" Satu kata, namun terasa lebih berat daripada biasanya.

Ruan Yu menatapnya dengan dalam dan tenang. Namun matanya memunculkan sebuah sorot permainan.

"Kalau aku bilang... "

Dia berhenti sejenak.

Ruan Yu maju selangkah. Tidak terlalu dekat, namun cukup untuk mengaburkan batas di antara mereka.

Senyumannya semakin dalam. "...aku sengaja terlambat?"

Tiba-tiba ruangan menjadi sunyi.

Atmosfir seketika menegang.

Iris Lu Shenyuan sedikit berketar, tipis, tetapi cukup untuk menunjukkan betapa mengejutkannya pernyataan perempuan di depannya.

Untuk pertama kalinya, dia tidak bisa mengendalikan reaksinya. Dan dia... tidak tahu bagaimana harus menanggapi.

Di sisi Ruan Yu... dia melihat semua perubahan itu dengan jelas. Senyum di bibirnya semakin lembuy, namun membawa misteri yang tersembunyi.

Dan di balik kelembutannya, sisi gila sedang tertawa keras dalam kegelapan.

🍷 Bersambung 🍷

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 33

    Keheningan di ruang tamu itu terasa begitu berat. Detak jam dinding terdengar seperti dentuman palu yang mengiringi ketegangan. Ye Shiwan membeku. Isak tangis yang tadi dia buat-buat seketika terhenti, seolah tertahan di kerongkongannya. Kalimat Lu Shenyuan itu bagai bom yang semakin memperkeruh keadaan. Dia mendongak, menatap Lu Shenyuan yang masih berdiri tegak dengan keangkuhan yang tak tergoyahkan. Bahkan terkesan bosan, seolah semua kejadian ini sama sekali tak menimbulkan sedikitpun riak dalam hidupnya. Harapan yang dia buat agar Kakek Lu dapat membantunya malah menjadi bumerang yang menghancurkan jalan masa depannya. "Ayuan... kau pasti bercanda kan?" Bisik Ye Shiwan dengan suara tercekat. Kali ini rasa sakit di matanya bukan lagi akibat cubitan, melainkan rasa sakit yang menghujam jantungnya dengan keras. Lu Shenyuan tidak menjawab. Dia bukan tipe orang yang akan mengulangi kalimatnya. Dia hanya berdiri di sana dengan tenang, membiarkan keheningan itu menjawab pertanya

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 32

    Mobil mewah itu berhenti tepat di depan vila yang tampak angkuh. Pintu pengemudi terbuka, seorang supir dengan sigap membukakan pintu belakang.Detik berikutnya, sosok tegap Lu Shenyuan keluar dari mobil. Jas tiga potongnya masih terpasang dengan sempurna. Namun aura yang dipancarkannya tampak lebih berbahaya dan mengintimidasi.Ye Shiwan datang dengan langkah sedikit cepat. Dia segera mencubit pahanya dengan keras, dan seketika matanya menjadi merah dan berkaca-kaca. Semua sisa kemarahan di wajahnya seketika lenyap digantikan oleh emosi menyedihkan. Dia dengan cepat menghampiri Lu Shenyuan saat pria itu sudah menaiki tangga vila."Ayuan, kau sudah pulang" Suara Ye Shiwan terdengar serak, seolah dia telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menangis. Lu Shenyuan tidak berhenti. Dia bahkan tidak melirik ke arah perempuan yang masih berstatus tunangannya. Langkah kakinya stabil dan mantap, berjalan menuju pintu kayu jati besar yang telah terbuka di depannya."Ayuan, tunggu!" Ye Shiwa

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 31

    Di sudut taman vila keluarga Lu. Tampak Ye Shiwan tengah mondar-mandir dengan resah. Gaun biru mudanya yang anggun tampak kontras dengan wajah pucatnya. Kedua alisnya berkerut rapat. Mata almond miliknya sesekali melihat ke arah gerbang utama dengan perasaan gelisah. Menunggu deru mesin mobil yang sangat dikenalnya. Seharusnya dia ada di dalam. Duduk manis bersama dengan Kakek Lu dan Ayahnya. Namun dinding-dinding mewah vila itu bagai penjara yang membuat napasnya sesak. Berulang kali dia akan mengecek ponselnya dan melihat tren Weibo yang menolak untuk turun. Daftar puncak masih dipegang oleh berita tunangannya dan wanita jalang sialan itu. Melihat kedua orang di dalam foto itu. Amarah Ye Shiwan kembali tersulut. Dia ingin berteriak, ingin menghancurkan ponselnya. Namun sedetik kemudian Ye Shiwan sadar di mana dia sedang berdiri. Dia harus tetap menjadi tunangan yang sempurna dan bermartabat di depan Kakek Lu. Namun... perasaan cemas itu sangat mengganggu hingga dia me

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 30

    Lu Shenyuan membeku. Deru napasnya masih terasa hangat di leher Ruan Yu. Namun suara dering ponsel yang terus menerus bagai siraman air es yang mengembalikan sisa-sia kewarasannya.Dia tidak segera menjauh. Mata phoenix di balik kacamata bingkai emas itu menatap tajam pada Ruan Yu. Seolah tatapan itu menjanjikan bahwa interupsi dari ponsel tak akan menyelamatkan nasib Ruan Yu selamanya. Ruan Yu tersenyum manis, dengan kesan menantang. Jemari lentiknya menelusuri dasi Lu Shenyuan dengan gerakan malas."Angkatlah, Presiden. Mungkin itu penting"Lu Shenyuan mendengus dingin. Dengan enggan, dia mengambil ponsel yang berdering di celananya. Namun tetap tak melepaskan belitan lengannya di pinggang lembut perempuan itu.Melihat nama yang tertera di layar, kedua alis Lu Shenyuan sedikit berkerut. Dering ponsel itu terus menyala seolah tak akan berhenti sampai pemilik telepon mengangkatnya.Dengan perasaan kesal, Lu Shenyuan tidak langsung menjawabnya. Dia membiarkan dering itu berteriak sam

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 29

    "Pakai pakaianmu dengan benar!" Tegur Lu Shenyuan seperti perintah militer, namun suaranya terdengar serak seolah tengah menahan sesuatu. Kedua alis Ruan Yu terangkat ringan. Dia tertawa pelan, suaranya seperti lonceng yang menggema manis di dalam ruangan.Dia bersandar santai di sandaran ranjang. Salah satu tali bahunya melorot, memperlihatkan kulit putihnya yang provokatif."Presiden..."Ruan Yu menjeda sejenak. Mata bunga persiknya menatap Lu Shenyuan dari atas ke bawah. Lalu kembali menatap netra gelap pria itu. "Jika aku ingat dengan benar. Bukankah kau yang menerobos masuk ke apartemenku?"Kepalanya sedikit miring ke samping. "Secara teknis aku adalah seorang korban, dan kau... adalah penyusup yang tidak sopan"Ruan Yu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Iris cokelat terangnya berkilat geli."Jadi, dengan hak apa kau mengatur apa yang kupakai di tempat tidurku?"Lu Shenyuan tidak langsung menjawab. Keheningannya justru terasa lebih menyesakkan dari pada amarah.Dia melang

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 28

    Aula itu masih diselimuti oleh keheningan. Suara napas dari sang juru lelang bahkan sampai terdengar lewat mikrofon yang menyala, saking sunyinya ruang itu.Satu miliar dollar untuk sebuah mahkota bunga sedap malam. Itu bukan lagi sebuah lelang, melainkan sebuah upacara diam untuk penaklukkan. Tok! Palu diketukkan dengan gemetar. "Terjual kepada... meja 01!"Lu Shenyuan masih duduk dengan tenang menatap Ruan Yu. Mengabaikan sorak-sorai serta tatapan ngeri dari sekitarnya. Baginya, satu-satunya yang layak untuk ditonton adalah perempuan di depannya ini. Petugas lelang membawa nampan dengan bantal beludru itu mendekat. Langkahnya tampak sangat hati-hati, seolah dia tengah membawa jantung yang terhubung dengan hidupnya. Di atas bantal merah anggur itu, The Midnight Tuberose itu berkilau dengan dingin.Mahkota bertatahkan moonstone itu tampak hidup, kelopaknya seolah hidup membawa keharuman yang memabukkan. Lu Shenyuan berdiri. Membuka kotak kaca lalu meletakkannya di atas meja. Meng

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 1 [Sang Presiden Dingin - Lu Shenyuan]

    Bising. Itu adalah kata pertama yang terlintas di pikiran Ruan Yu ketika kesadarannya pulih kembali. Tapi entah kenapa membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Membuka mata bunga persiknya, hal pertama yang dia lihat adalah keramaian yang padat. Orang-orang berlalu-lalang dengan tergesa-gesa. La

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Putra Takdir

    Ruan Yu tertegun sejenak, lalu sedetik kemudian tertawa terbahak-bahak seolah mendengar suatu lelucon yang luar biasa lucu. Tawa itu sangat keras namun mengandung semacam ironi serta kesedihan. Tubuhnya membungkuk geli, mulutnya mengeluarkan tawa keras, namun matanya mengalir dengan air mata penuh

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Ruang Dosa

    "Sudah berapa lama aku ada di sini?" Tidak ada yang menjawabnya. Hanya bisikan tentang dosa, kekejaman, serta kebejatan sifat manusia yang terus mengulang di telinganya. Nada itu terasa ringan, namun bergerigi. Seperti suara amplas yang menggosok gendang telinga, membuat kulit kepala kesemut

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 6

    Ruangan itu sangat sunyi. Bukan sunyi yang tenang, melainkan sunyi yang terasa menekan. Perkataan Ruan Yu masih menggantung di udara, seperti pisau tipis yang siap jatuh kapanpun. Mata phoenix Lu Shenyuan menatap lurus pada perempuan di depannya. Tidak lagi sekedar dingin. Ada sesuatu yang lebih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status