Partager

Dunia 1 | Ep. 6

Auteur: Beauty_Hazell
last update Date de publication: 2026-04-07 00:12:06

Ruangan itu sangat sunyi. Bukan sunyi yang tenang, melainkan sunyi yang terasa menekan.

Perkataan Ruan Yu masih menggantung di udara, seperti pisau tipis yang siap jatuh kapanpun.

Mata phoenix Lu Shenyuan menatap lurus pada perempuan di depannya. Tidak lagi sekedar dingin. Ada sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang perlahan bergerak di luar kendalinya.

Untuk beberapa detik, dia tidak menjawab. Hanya menatap serta mengamati. Seolah ingin membedah lapisan tersembunyi di balik wajah cantiknya.

"Lalu?" Ucap Lu Shenyuan pada akhirnya. Rendah serta berat.

"Tujuanmu?" Lanjutnya tajam, langsung tanpa basa-basi

Ruan Yu tersenyum tipis. "Presiden Lu, sangat pintar"

"Langsung ke intinya" Ujarnya pelan.

Dia tidak menjawab, melainkan langsung memutar. Menghindar dengan cara elegan. Namun justru hal itu membuat mata Lu Shenyuan semakin tajam.

"Jawab" Satu kata. Namun lebih dingin dari sebelumnya.

Ruan Yu tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapnya selama beberapa detik. Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

Kemudian...

Dia melangkah, satu langkah lebih dekat. Jarak mereka semakin menyempit. Tidak terlalu dekat, namun cukup untuk menginvasi wilayah lawan.

Aroma itu semakin dalam. Halus serta mematikan.

Kelopak mata Lu Shenyuan sedikit menyipit. Dia tidak mundur maupun bergerak. Rahangnya sedikit mengeras, seolah ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh perempuan di hadapannya ini.

Kepala Ruan Yu sedikit miring ke samping. "Apakah semua hal harus punya tujuan?"

"Atau... "

Senyum di bibirnya semakin dalam. "Presiden Lu tidak terbiasa dengan sesuatu yang... di luar kendali?"

Udara terasa membeku.

Suasana seketika menegang.

Untuk pertama kalinya ada seseorang yang tidak takut padanya. Tidak tunduk, juga tidak mencoba untuk menyenangkannya.

Seseorang yang berani bermain-main di hadapannya.

Sangat mengusik. Namun ada sesuatu yang secara perlahan mulai terbangun di dalam dirinya. Samar, namun sangat jelas bagi dirinya yang terbiasa mengontrol segala hal.

"Tidak ada yang diluar kendaliku"

Suara Lu Shenyuan terdengar datar. Tapi terasa dalam, seolah ada sesuatu yang coba untuk dia ditahan.

"Benarkah?" Satu kata sederhana, namun cukup untuk menusuk.

Mata mereka beradu. Tidak ada yang mengalah. Kedua mata dengan bentuk berbeda itu seolah berkonfrontasi. Ketegangan halus terjadi di antara mereka.

Selanjutnya, Lu Shenyuan melangkah maju selangkah. Jarak mereka runtuh. Terlalu dekat... terlalu berbahaya.

Wajah mereka berdua sangat dekat. Napas mereka hampir beradu, tercium oleh masing-masing.

Mereka berdua tampak seperti seorang pemburu yang menunggu kelemahan lawan.

Ruan Yu tidak mundur. Dia justru sedikit mendongakkan kepala seolah tengah menyambut lawannya.

Mata phoenix Lu Shenyuan sedikit menyipit. Tangannya terulur dengan cepat. Tanpa peringatan menangkap pergelangan tangan Ruan Yu.

Genggamannya tidak kasar, namun cukup kuat. Tidak memberi ruang untuk bisa terlepas.

Untuk pertama kalinya, kontrol berpindah. Atau... setidaknya terlihat seperti itu

Iris mata Ruan Yu sedikit bergetar. Bukan karena rasa takut. Melainkan karena sebuah ketertarikan.

"Kau pikir ini permainan?" Suaranya rendah serta dalam.

Ruan Yu menatapnya tanpa berkedip. Lalu tertawa pelan.

"Lalu menurutmu ini apa, Presiden?" Balasnya seraya menatap lurus ke arahnya tanpa rasa takut.

Jemari Lu Shenyuan sedikit mengencang. Untuk sepersekian detik, dia ingin menghentikan senyuman manis itu. Menghapusnya serta menghancurkannya.

Kesadaran itu justru membuatnya merasa sangat jengkel.

"Jangan main api denganku" Titahnya dengan dingin penuh ancaman.

Ruan Yu kembali mendekat setengah langkah. Jarak di anatara mereka hampir terhapus. Aroma tubuhnya semakin terasa. Memikat serta menekan napas Lu Shenyuan.

"Kalau begitu... " Kepalanya sedikit miring.

"Jangan sampai terbakar" Ucapnya lembut, namun menusuk seperti pisau.

Detik itu, sesuatu dalam kendalinya seolah telah retak.

Tubuh Lu Shenyuan sedikit tegang. Napasnya sedikit tertahan. Matanya menyorot dengan dingin.

Itu cukup.

Dia melepaskan tangan yang dipegangnya. Mundur satu langkah. Memutus segala jarak yang ada.

Ekspresinya kembali normal dan terkendali seolah peristiwa tadi tidak pernah terjadi.

"Mulai besok kau tidak perlu duduk di area luar"

Jeda selama beberapa detik.

"Kau akan langsung bekerja di bawahku"

Kali ini tidak ada alasan profesional. Tidak ada penjelasan. Hanya keputusan sepihak dari pihaknya.

Ketika kalimat itu jatuh, senyum Ruan Yu semakin jelas serta dalam.

"Baik, Presiden Lu" Seolah dia sudah menunggu kalimat itu.

"Keluar" Satu kata dingin serta keras. Tanpa ada ruang untuk bantahan.

Ruan Yu menatapnya selama beberapa detik seolah sedang mencari sesuatu. Lalu... kembali tersenyum lembut seolah tidak terjadi apa-apa.

"Baik, Presiden" Ucapnya kembali dengan sikap profesional.

Dia berbalik dengan langkah ringan. Meninggalkan ruangan dengan tenang dan ringan.

Namun saat pintu tertutup, ruangan tidak lagi terasa sama.

Beberapa detik kemudian, tangan Lu Shenyuan terangkat. Melonggarkan dasinya dengan gerakan kecil, namun terkesan frustrasi.

Napasnya sedikit lebih berat daripada biasanya. Matanya tertutup untuk menenangkan diri. Tanpa sadar, dia menghirup udara.

Aroma itu... masih ada.

Dan untuk pertama kalinya dia tidak yakin. Apakah yang tertinggal itu aroma... atau seseorang.

Di luar, Ruan Yu kembali memasang ekspresi profesional disertai senyum lembut di bibirnya.

Beberapa sekretaris meliriknya dengan samar. Kemudian mereka kembali mengerjakan perkerjaan di merja mereka.

Asisten Yang menatapnya dengan pandangan rumit. Dia ingin bertanya. Namun dia urungkan ketika merasa bahwa itu bukanlah urusannya.

Jika memang menyangkut pekerjaan. Presiden pasti nanti akan memberitahunya. Jadi dia memilih untuk tetap diam. Mengabaikan atmosfir halus yang sempat terjadi di udara.

Ruan Yu melangkah dengan tenang ke arah mejanya. Dia tidak peduli pada beberapa mata yang sesekali meliriknya dengan penasaran.

Duduk di mejanya. Dia kembali menyelesaikan dokumen yang belum sempat dia terjemahkan.

.

.

.

Waktu berlalu dengan sangat cepat. Lantai presiden sunyi. Hanya ada sedikit cahaya yang menerangi. Para karyawan telah pulang meninggalkan semua kesibukan.

Di balik kaca jendela besar. Langit malam menangis sangat keras. Awan kelabu bergumul dengan kilatan putih yang menakutkan. Teriakan guntur sesekali memekakkan telinga. Tetesan air menghujam kaca menimbulkan suara berderak.

Di koridor yang tampak sepi, terdengar langkah kaki tenang serta mantap. Suaranya yang menggema sedikit membawa nuansa menyeramkan di gedung yang terasa sunyi.

Namun semua itu tak berarti bagi Lu Shenyuan.

Kegelapan adalah hal biasa. Kesunyian adalah temannya.

Langkahnya membawanya masuk ke dalam lift. Turun ke basement. Kemudian berjalan ke arah mobil mewahnya.

Mengendarai mobil,  Lu Shenyuan segera meninggalkan gedung di tengah derasnya hujan.

Mobil itu melaju dengan ringan. Kabut hujan sedikit mengaburkan pandangan. Namun matanya dengan tajam dapat melihat jalanan di depannya.

Pada suatu titik, iris hitamnya menangkap sesuatu.

Atau... Seseorang.

Siluet indah perempuan yang tengah duduk sendirian di bawah lampu halte bus.

Di bawah guyuran deras air hujan, Lu Shenyuan dapat dengan jelas melihat sosok itu.

Ruan Yu.

Perempuan yang selalu mengusik pikirannya.

Dia duduk dengan tenang. Menatap hujan dengan pandangan ringan. Sosoknya tampak melamun. Seolah dia adalah satu-satunya sumber cahaya di antara tirai abu-abu ini.

Tangan Lu Shenyuan sedikit mengencang pada kemudi. Matanya kembali menatap lurus ke depan.

Rolls-Royce hitam itu dengan cepat melewati halte bus. Tanpa keraguan sedikitpun.

["Tuan Rumah, target berada di dalam mobil yang baru saja lewat"]

Mata bunga persik Ruan Yu seketika berkedip. Senyum lembut perlahan muncul di bibirnya. Seolah dia tahu bahwa sesuatu pasti akan terjadi.

Di dalam mobil.

Lu Shenyuan menatap tajam pada hujan yang terbelah di depannya. Namun pikirannya masih terbayang sosok yang duduk sendirian.

Seorang perempuan yang sangat cantik. Sendirian di tengah hujan badai. Apakah dia akan baik-baik saja?

Mata phoenix miliknya sedikit goyah selama sepersekian detik.

Rahangnya sedikit menegang. Genggamannya di kemudi semakin mengencang. Perasaan gelisah semakin menjadi.

Mobil yang melaju mulus itu tiba-tiba berbelok tajam. Berbalik dan kembali.

Sebuah keputusan telah dibuat.

Keputusan yang dia sendiri bahkan tidak tahu apakah benar atau malah akan semakin menjerumuskannya.

Namun satu hal yang pasti. Ketika dia memilih ini, tidak ada jalan untuk kembali.

Lu Shenyuan berkendara dan berhenti di sisi jalan. Tepat di depan perempuan itu.

Ruan Yu yang tengah menikmati suasana hujan, menatap mobil mewah yang berdiri di depannya.

["Lihat, bukankah dia kembali"]

Ruan Yu berbicara pada Sistem 13. Namun wajahnya tidak menunjukkan apapun.

Kaca depan mobil perlahan turun. Wajah tampan Lu Shenyuan muncul. Menatapnya dengan tajam.

"Masuk" Ucap Lu Shenyuan tanpa ruang untuk bantahan.

Iris cokelat Ruan Yu berkedip halus.

"Presiden Lu yakin?"

Bukan menolak, bukan juga menerima. Seolah memberinya kesempatan untuk menarik kembali perkataannya.

Mata phoenix di balik kacamatanya sedikit mengeras.

"Aku tidak mengulang perkataan" Ucapnya dengan dingin.

Ruan Yu tersenyum lembut.

"Baik"

Dia berdiri, masuk ke dalam kursi penunumpang.

Ketika pintu tertutup.

Tiba-tiba ruang terasa sempit.

Wangi bunga yang mekar di malam hari semakin membius.

Lu Shenyuan tidak mengatakan apapun lagi. Pandangannya lurus ke depan. Mobil mulai menyala.

Perjalanan terasa hening.

Keheningan yang menyembunyikan sebuah gejolak.

Suara hujan di luar bagai penjara yang mengikat kedua orang itu.

Ruan Yu menatap ke arah jendela. Lebih tepatnya pada bayangan pria yang terpantul di kaca mobil.

"Presiden Lu"

Suaranya yang lembut memecah kebuntuan.

"Apa?" Lu Senyuan tetap menatap ke depan.

Ruan Yu menoleh ke arah pria di sampingnya. Senyuman perlahan muncul di bibirnya.

"Kenapa mengantarku?"

Jeda yang terlalu lama.

"Lewat" Jawabnya singkat dengan dingin. Namun jelas bukan sebuah kebenaran.

Dia sadar bahwa alasan lewat itu bohong. Tapi yang lebih mengganggu adalah dia sendiri tidak tahu alasan sebenarnya.

Senyum muncul di iris cokelat Ruan Yu. Kepalanya mengangguk. "Baiklah"

Dia tidak bertanya lagi. Tidak juga mengejar jawaban. Namun justru karena itu, Lu Shenyuan merasa semakin tidak stabil.

"Alamat" Satu kata dingin yang keluar terdengar tanpa riak. Namun hanya Lu Shenyuan sendiri yang tahu betapa kesal dia di dalam.

"Tidak jauh"

Jawaban tidak pasti Ruan Yu membuat kedua alis Lu Shenyuan berkerut halus.

Dia melirik perempuan di sampingnya sebentar, lalu kembali menatap ke depan.

Suara hujan yang memukul kaca terasa lama. Memecah keheningan di antara mereka.

Belasan menit kemudian, suara halus Ruan Yu kembali terdengar.

"Presiden Lu, kita berhenti di sini"

Mobil yang mrlaju itu perlahan berhenti.

Suara hujan di luar semakin terdengar.

"Sudah sampai" Ucap Lu Shenyuan.

Tidak ada jawaban.

Beberapa detik kemudian, Lu Shenyuan menoleh ke samping. Menatap perempuan yang masih tampak duduk santai.

"Kenapa tidak turun?"

Ruan Yu menoleh ke arahnya dengan tenang. "Aku sedang menunggu"

Kedua alis Lu Shenyuan berkerut. "Menunggu apa?"

Kepala Ruan Yu sedikit miring ke samping. Senyum tipis namun penuh godaan muncul.

"Menunggu... kapan Presiden Lu akan menyuruhku untuk turun"

🍷 Bersambung 🍷

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 33

    Keheningan di ruang tamu itu terasa begitu berat. Detak jam dinding terdengar seperti dentuman palu yang mengiringi ketegangan. Ye Shiwan membeku. Isak tangis yang tadi dia buat-buat seketika terhenti, seolah tertahan di kerongkongannya. Kalimat Lu Shenyuan itu bagai bom yang semakin memperkeruh keadaan. Dia mendongak, menatap Lu Shenyuan yang masih berdiri tegak dengan keangkuhan yang tak tergoyahkan. Bahkan terkesan bosan, seolah semua kejadian ini sama sekali tak menimbulkan sedikitpun riak dalam hidupnya. Harapan yang dia buat agar Kakek Lu dapat membantunya malah menjadi bumerang yang menghancurkan jalan masa depannya. "Ayuan... kau pasti bercanda kan?" Bisik Ye Shiwan dengan suara tercekat. Kali ini rasa sakit di matanya bukan lagi akibat cubitan, melainkan rasa sakit yang menghujam jantungnya dengan keras. Lu Shenyuan tidak menjawab. Dia bukan tipe orang yang akan mengulangi kalimatnya. Dia hanya berdiri di sana dengan tenang, membiarkan keheningan itu menjawab pertanya

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 32

    Mobil mewah itu berhenti tepat di depan vila yang tampak angkuh. Pintu pengemudi terbuka, seorang supir dengan sigap membukakan pintu belakang.Detik berikutnya, sosok tegap Lu Shenyuan keluar dari mobil. Jas tiga potongnya masih terpasang dengan sempurna. Namun aura yang dipancarkannya tampak lebih berbahaya dan mengintimidasi.Ye Shiwan datang dengan langkah sedikit cepat. Dia segera mencubit pahanya dengan keras, dan seketika matanya menjadi merah dan berkaca-kaca. Semua sisa kemarahan di wajahnya seketika lenyap digantikan oleh emosi menyedihkan. Dia dengan cepat menghampiri Lu Shenyuan saat pria itu sudah menaiki tangga vila."Ayuan, kau sudah pulang" Suara Ye Shiwan terdengar serak, seolah dia telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menangis. Lu Shenyuan tidak berhenti. Dia bahkan tidak melirik ke arah perempuan yang masih berstatus tunangannya. Langkah kakinya stabil dan mantap, berjalan menuju pintu kayu jati besar yang telah terbuka di depannya."Ayuan, tunggu!" Ye Shiwa

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 31

    Di sudut taman vila keluarga Lu. Tampak Ye Shiwan tengah mondar-mandir dengan resah. Gaun biru mudanya yang anggun tampak kontras dengan wajah pucatnya. Kedua alisnya berkerut rapat. Mata almond miliknya sesekali melihat ke arah gerbang utama dengan perasaan gelisah. Menunggu deru mesin mobil yang sangat dikenalnya. Seharusnya dia ada di dalam. Duduk manis bersama dengan Kakek Lu dan Ayahnya. Namun dinding-dinding mewah vila itu bagai penjara yang membuat napasnya sesak. Berulang kali dia akan mengecek ponselnya dan melihat tren Weibo yang menolak untuk turun. Daftar puncak masih dipegang oleh berita tunangannya dan wanita jalang sialan itu. Melihat kedua orang di dalam foto itu. Amarah Ye Shiwan kembali tersulut. Dia ingin berteriak, ingin menghancurkan ponselnya. Namun sedetik kemudian Ye Shiwan sadar di mana dia sedang berdiri. Dia harus tetap menjadi tunangan yang sempurna dan bermartabat di depan Kakek Lu. Namun... perasaan cemas itu sangat mengganggu hingga dia me

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 30

    Lu Shenyuan membeku. Deru napasnya masih terasa hangat di leher Ruan Yu. Namun suara dering ponsel yang terus menerus bagai siraman air es yang mengembalikan sisa-sia kewarasannya.Dia tidak segera menjauh. Mata phoenix di balik kacamata bingkai emas itu menatap tajam pada Ruan Yu. Seolah tatapan itu menjanjikan bahwa interupsi dari ponsel tak akan menyelamatkan nasib Ruan Yu selamanya. Ruan Yu tersenyum manis, dengan kesan menantang. Jemari lentiknya menelusuri dasi Lu Shenyuan dengan gerakan malas."Angkatlah, Presiden. Mungkin itu penting"Lu Shenyuan mendengus dingin. Dengan enggan, dia mengambil ponsel yang berdering di celananya. Namun tetap tak melepaskan belitan lengannya di pinggang lembut perempuan itu.Melihat nama yang tertera di layar, kedua alis Lu Shenyuan sedikit berkerut. Dering ponsel itu terus menyala seolah tak akan berhenti sampai pemilik telepon mengangkatnya.Dengan perasaan kesal, Lu Shenyuan tidak langsung menjawabnya. Dia membiarkan dering itu berteriak sam

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 29

    "Pakai pakaianmu dengan benar!" Tegur Lu Shenyuan seperti perintah militer, namun suaranya terdengar serak seolah tengah menahan sesuatu. Kedua alis Ruan Yu terangkat ringan. Dia tertawa pelan, suaranya seperti lonceng yang menggema manis di dalam ruangan.Dia bersandar santai di sandaran ranjang. Salah satu tali bahunya melorot, memperlihatkan kulit putihnya yang provokatif."Presiden..."Ruan Yu menjeda sejenak. Mata bunga persiknya menatap Lu Shenyuan dari atas ke bawah. Lalu kembali menatap netra gelap pria itu. "Jika aku ingat dengan benar. Bukankah kau yang menerobos masuk ke apartemenku?"Kepalanya sedikit miring ke samping. "Secara teknis aku adalah seorang korban, dan kau... adalah penyusup yang tidak sopan"Ruan Yu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Iris cokelat terangnya berkilat geli."Jadi, dengan hak apa kau mengatur apa yang kupakai di tempat tidurku?"Lu Shenyuan tidak langsung menjawab. Keheningannya justru terasa lebih menyesakkan dari pada amarah.Dia melang

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 28

    Aula itu masih diselimuti oleh keheningan. Suara napas dari sang juru lelang bahkan sampai terdengar lewat mikrofon yang menyala, saking sunyinya ruang itu.Satu miliar dollar untuk sebuah mahkota bunga sedap malam. Itu bukan lagi sebuah lelang, melainkan sebuah upacara diam untuk penaklukkan. Tok! Palu diketukkan dengan gemetar. "Terjual kepada... meja 01!"Lu Shenyuan masih duduk dengan tenang menatap Ruan Yu. Mengabaikan sorak-sorai serta tatapan ngeri dari sekitarnya. Baginya, satu-satunya yang layak untuk ditonton adalah perempuan di depannya ini. Petugas lelang membawa nampan dengan bantal beludru itu mendekat. Langkahnya tampak sangat hati-hati, seolah dia tengah membawa jantung yang terhubung dengan hidupnya. Di atas bantal merah anggur itu, The Midnight Tuberose itu berkilau dengan dingin.Mahkota bertatahkan moonstone itu tampak hidup, kelopaknya seolah hidup membawa keharuman yang memabukkan. Lu Shenyuan berdiri. Membuka kotak kaca lalu meletakkannya di atas meja. Meng

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 5

    Pagi datang tanpa suara. Kabut tipis menyelimuti kaca-kaca gedung tinggi, memantulkan cahaya matahari yang masih terasa dingin. Kota perlahan terbangun dari tidurnya. Suara aktifitas mulai terdengar semarak. Di lantai presiden gedung Lu Group, ritme kerja mulai berjalan dengan teratur seperti bia

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 4

    Waktu berlalu dengan cepat. Senja mulai menampakkan kanvas indahnya. Namun, sisa-sisa dari keresahan itu sama sekali tidak menghilang. Tidak ada bunga serta aroma, bahkan tidak ada hal apapun yang akan mengacaukan segala pikirannya. Kedua alis Lu Shenyuan berkerut halus. Matanya menatap layar komp

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 3

    Malam telah larut. Cahaya lampu kota yang gemerlap memantul di kaca-kaca gedung tinggi, menciptakan ilusi tidak pernah benar-benar tertidur. Di lantai gedung tertinggi Lu Group, lampu di ruang kerja presiden masih menyala dengan terang. Suasana terasa tenang. Hanya menyisakan suara lembaran k

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 2

    Malam turun dengan tenang. Sang surya telah lama digantikan oleh rembulan yang bertahta. Lampu-lampu kota secara bertahap mulai menyala memantulkan cahaya di permukaan kaca gedung-gedung tinggi. Jalanan masih sibuk. Orang-orang terus bergerak tanpa henti. Namun untuk sebagian orang, malam adalah

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status