Share

Putra Takdir

Author: Beauty_Hazell
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-01 19:13:41

Ruan Yu tertegun sejenak, lalu sedetik kemudian tertawa terbahak-bahak seolah mendengar suatu lelucon yang luar biasa lucu. Tawa itu sangat keras namun mengandung semacam ironi serta kesedihan.

Tubuhnya membungkuk geli, mulutnya mengeluarkan tawa keras, namun matanya mengalir dengan air mata penuh kebencian.

Tawa itu terselip isak tangis atas penderitaan yang selama ini ditanggungnya tanpa tahu kenapa.

Dan sekarang, dia diberitahu bahwa alasan dia ditempatkan di tempat sialan ini adalah karena kecantikannya? Sungguh lelucon yang luar biasa!

Setelah beberapa saat, tawanya sedikit mereda. Tubuhnya kembali berdiri tegak. Menyeka air mata di sudut matanya, dia mencibir remeh. "Heh, menggelikan sekali"

Mata Ruan Yu dengan dingin menatap entitas aneh di depannya. "Hanya karena kecantikan, aku dilabeli dosa keji?"

Sistem yang melayang di udara sedikit terhenti. Dia menatap perempuan yang sangat cantik di depannya. Dia yang telah melewati banyak dunia dan melihat berbagai wanita cantik, tidak pernah melihat kecantikan luar biasa seperti perempuan di depannya.

Bahkan para mantan tuan rumahnya yang dipilih dengan cermat, masih kalah dengan wajah serta sosok di depannya.

Perempuan ini memiliki mata bunga persik yang menawan. Irisnya berwarna cokelat terang. Hidungnya kecil namun tinggi. Bibir merahnya yang tampak alami. Surai panjang ikal bergelombang di belakang punggung.

Lekuk tubuhnya sempurna. Dada penuh, pinggang ramping, dan pinggul yang melengkung halus. Membawa kesan sensual yang tidak bisa diabaikan.

Seluruh tubuhnya sekarang memiliki partikel hitam yang disebabkan oleh korosi jiwanya yang terus-menerus dilahap.

Namun meski begitu, dia tetap tampak seperti mahakarya sempurna yang sama sekali tidak ternoda.

Di ruang yang penuh dengan kebencian ini, dia tampak seperti suar ditengah lautan kegelapan yang tak bertepi.

Terang... namun juga mengundang kehancuran.

"Penjelasan definisi 'dosa' pada dirimu tidak sepenuhnya karena tindakanmu" Jelas sistem dengan tenang.

"Jadi?" Ucap Ruan Yu dengan dingin.

"Data yang kupindai menunjukkan bahwa keberadaanmu memicu distorsi emosi pada manusia lain. Misalnya... kecemburuan, obsesi, keserakahan, hingga pembunuhan"

Ruan Yu sedikit terdiam "Heh, orang lain yang gila, namun aku yang dihukum?" katanya dengan tawa geli sekaligus miris.

"Nona Ruan, mungkin kau lupa, tapi di dunia asalmu kau telah memicu peperangan yang sangat besar di antara enam alam"

"Kau adalah perwujudan dari bunga sedap malam yang telah membius banyak orang untuk kehilangan akal sehat mereka"

Suara sistem tetap datar tanpa fluktuasi, namun penjelasannya bagai palu yang menghantam kesadaran Ruan Yu.

Ruan Yu terdiam, bukan karena terkejut. Namun karena sebuah peristiwa yang telah lama dia lupakan tiba-tiba kembali menyapa.

Enam alam...

Dua kata itu terasa asing, namun juga membawa kenangan yang terasa sangat familiar.

"Peperangan?" Lirih Ruan Yu pada dirinya sendiri ketika kembali mengingat pertempuran besar yang sangat menghancurkan.

Meskipun sistem tahu perempuan di depannya tidak bertanya kepadanya, dia tetap menjelaskan. "Benar. Banyak entitas tingkat tinggi jatuh, jalur keseimbangan hancur, emosi kolektif terdistorsi. Bahkan alam yang sangat indah dan mengandung banyak kemurnian berada dalam ambang kehancuran"

"Roh bumi yang menjaga keseimbangan dunia sangat marah dan langsung menempatkanmu dalam ruang terdistorsi ini untuk menanggung dosa-dosa yang secara tidak langsung diakibatkan olehmu"

Sudut bibir Ruan Yu terangkat manis, tapi matanya yang indah menatap dengan sangat dingin dan penuh kebencian. "Heh, jadi begitu?"

Wajahnya yang tersenyum seketika melihat menjadi sangat dingin. "Lalu apakah roh bumi sialan itu tahu bahwa aku sama sekali tidak ingin menjadi benda yang diperebutkan? Apakah dia tahu aku sama sekali tidak pernah merayu salah satu dari mereka? Apakah dia tahu betapa jijiknya diriku selalu diperebutkan oleh para pria sialan itu!?" suaranya mendesis dengan racun kebencian.

Ruan Yu menatap benda bulat bercahaya itu dengan tatapan dingin menusuk. "Dia tahu, tapi dia tidak peduli bukan?"

Sistem yang mengambang sedikit terdiam, namun tetap menjawab. "Iya"

"Heh!" Tawa lirih keluar dari bibir indahnya, lama kelamaan menjadi tawa keras yang sedikit menyimpang.

"Hahaha... betapa menggelikannya!"

"Aku adalah korban, namun dicap sebagai pelaku?" Ucap Ruan Yu dengan geli.

Dia tidak tahu harus melampiaskan segala kemarahan dan rasa frustrasinya kepada siapa. Pada roh bumi itu? Pada para pria yang memperebutkannya? Atau bahkan pada kecantikannya yang menjadi semua tragedi ini?

Tidak peduli seberapa marah dan dendamnya Ruan Yu, dia telah dilempar ke tempat ini dan telah menjalani siksaan selama hampir ratusan tahun.

Tapi tetap saja dia tidak dapat menerimanya! Dia sama sekali tidak rela! Kenapa dia harus menanggung dosa yang tidak masuk akal?!

Mengangkat kelopak matanya, dia tahu bahwa benda di depannya ini pasti memiliki sesuatu yang dapat membantunya. "Kau di sini pasti dapat membantuku untuk melampiaskan segala amarahku bukan?"

"Kau benar, aku dapat membantumu... dan disamping semua alasan itu, ada juga sebab lain kenapa roh bumi sangat tidak menyukaimu" Kata Sistem dengan tiba-tiba.

"Kau membuat para putra takdir tergila-gila padamu, mengakibatkan mereka tidak bisa bersama pasangan yang telah ditakdirkan untuk mereka. Membuat keilahian roh bumi sangat berkurang dan mengakibatkannya melemah"

"Pasangan yang ditakdirkan?" Ruan Yu menatap benda di depannya dengan sedikit kebingungan di mata bunga persiknya. "Apa hubungannya mereka tidak bersama dengan melemahnya roh bumi?"

"Putra takdir adalah seseorang yang memiliki keberuntungan yang sangat besar. Mereka dilahirkan untuk lebih unggul, lebih kuat, dan lebih hebat daripada orang lain. Kelahiran mereka adalah untuk menjadi pilar penopang keseimbangan dunia"

Ucapan sistem terdengar datar, namun setiap kalimat terasa berat.

"Setiap putra tardir memiliki jalur hidup yang sudah ditentukan. Persatuan seumur hidup mereka dengan pasangan yang ditakdirkan akan memperkuat keberuntungan serta fondasi dunia. Terlebih lagi... "

Sistem melayang dengan tenang di hadapan Ruan Yu. Namun kalimat yang diucapkannya selanjutnya cukup mencengangkan. "... Pasangan yang ditakdirkan untuk putra takdir adalah pecahan jiwa dari roh bumi"

Pupil Ruan Yu seketika menyusut tajam. Dia menatap benda yang melayang di depannya dengan keseriusan untuk pertama kalinya.

"Karena alasan itulah roh bumi semakin membencimu. Kau tidak hanya mengacaukan dunia, kau juga membuat inkarnasinya tidak bisa bersama dengan putra takdir hingga mengakibatkan roh bumi tidak bisa menyerap keberuntungannya"

Ruan Yu terdiam mendengar penjelasan benda di depannya. Tiba-tiba, sudut mulutnya terangkat menjadi senyuman manis yang semakin menambah pesona pada kecantikannya yang menakjubkan.

Namun, senyum itu tidak membawa kehangatan sedikit pun. Sebaliknya, ada sesuatu yang perlahan mengendap di dalamnya.

Dingin, licin, serta berbahaya.

"Jadi seperti itu..." gumam Ruan Yu dengan suara pelan.

Matanya yang berbentuk bunga persik menatap lurus ke arah benda bercahaya di depannya. Kali ini, tidak ada lagi kebingungan samar di kedalaman iris coklat terangnya.

Yang tersisa hanyalah... sebuah pemahaman.

Pemahaman yang membuat segalanya terasa semakin menjijikkan dan menggelikan.

"Heh" Kekeh Ruan Yu dengan geli. "Lalu apa tujuanmu ingin membuat kesepakatan denganku?" Tanya Ruan Yu menatap tajam pada benda di depannya.

"Nona Ruan, aku ingin kau pergi ke berbagai dunia untuk memisahkan setiap pasangan takdir yang ditakdirkan untuk bersama. Mengkhianati pasangan mereka dan merebut para putra takdir. Membuat roh bumi di setiap dunia tidak dapat menyerap keberuntangan para putra takdir, dan melemahkan kekuatan mereka. Dengan begitu, ini bukan hanya bisa dianggap sebagai bentuk balas dendammu, tetapi juga dapat membantu untuk menyehatkan jiwamu jika bersama dengan putra takdir"

Kepala Ruan Yu sedikit dimiringkan ke samping, senyum lucu terukir di bibirnya. Mata bunga persik cantiknya menatap dengan geli pada makhluk aneh yang ada di depannya.

"Kau berbicara tentang keuntunganku. Lalu apa yang akan kau dapatkan dengan aku melakukan semua ini?"

Sistem sedikit terdiam lama, lalu kembali berbicara dengan suaranya yang datar. "Aku adalah sebuah sistem ilegal di alam semesta ini. Keberadaanku adalah untuk menyerap kegelapan orang lain. Semakin gelap dan terdistorsi emosi seseorang, maka semakin banyak energi yang aku dapatkan"

"Dengan kau merebut para putra takdir dan membuat pasangan mereka memiliki emosi negatif, aku akan dapat menyerap emosi mereka. Terlebih... Emosi gelap dari pecahan jiwa roh bumi sangat besar dibandingkan manusia lain dan akan sangat menguntungkanku"

Iris Ruan Yu berkedip. Dia menatap benda yang menyebut dirinya sebagai sistem ini dengan penuh minat. "Sistem ilegal? Jadi ada sistem lain yang sangat berbeda denganmu?"

"Iya, mereka adalah sistem yang terdaftar. Keberadaan mereka adalah untuk membantu orang-orang terpilih mencapai jalur takdir yang telah ditentukan. Dengan membantu mereka, dunia akan semakin seimbang. Mereka adalah penjaga keseimbangan, sementara aku adalah..."

Jeda singkat.

"Pengganggunya"

Mata Ruan Yu semakin berkilat. "Menarik" Lirihnya dengan geli.

"Keberadaan sistem ilegal seperti kami sangatlah sedikit di alam semesta. Begitu kami ditemukan, kami secara otomatis akan dihancurkan oleh... sebut saja orang-orang dari biro sistem"

"Karena itu, Nona Ruan, jika kau bersedia melakukan kesepakatan ini denganku, kau harus berhasil dalam misi ini. Jika gagal, bukan hanya kau yang akan dibunuh. Aku juga akan dimusnahkan"

"Ini bukan hanya perjudian dari pihakmu. Ini juga perjudian besar bagiku. Jika kita berhasil, keuntungan akan sangat besar. Jika gagal, maka hanya ada pemusnahan"

"Maka... calon Tuan Rumahku, Nona Ruan Yu, apakah kau bersedia membuat kesepakatan dengan sistem no. 13?"

Kelopak mata Ruan Yu terangkat. Mata bunga persiknya menatap benda melayang di depannya dengan sedikit keseriusan.

Sunyi.

Tidak ada jawaban langsung.

Ruan Yu hanya berdiri diam di tengah ruang kosong itu. Cahaya dari Sistem 13 memantul di iris cokelat terangnya, membuat matanya tampak seperti genangan air tenang... namun tanpa dasar.

"Perjudian..." gumamnya pelan.

Ujung jarinya bergerak ringan, menyentuh partikel hitam yang melayang di sekitar lengannya. Partikel itu bergetar, lalu perlahan hancur seperti debu yang tak berarti.

"Bukankah aku sudah lama berada di titik di mana aku tidak punya apa pun untuk dipertaruhkan?"

Dia tertawa kecil, namun tawa itu tampak kosong.

Matanya perlahan terangkat, menatap lurus ke arah Sistem 13.

"Kau adalah salah satu hal menarik yang muncul setelah ratusan tahun kebosananku" lanjutnya santai. "Jika aku tetap di sini, aku akan menghilang. Jika aku ikut denganmu, setidaknya... aku bisa menghancurkan sesuatu bukan?" senyumnya perlahan terangkat.

Indah...

Namun membuat siapa pun yang melihatnya akan merinding.

"Jika dunia menganggapku sebagai dosa. Maka aku akan menjadi dosa yang tidak akan pernah bisa mereka hapus"

Sistem 13 terdiam sepersekian detik, lalu...

"Mengkonfirmasi niat Tuan Rumah"

"Persentase keberhasilan kontrak 87%"

Cahaya di sekitarnya sedikit menebal.

Ruan Yu memiringkan kepala. "Lalu?" tanyanya ringan.

Sistem menjawab tanpa ragu. "Silakan nyatakan persetujuan secara verbal seraya metakkan jari ke dalam cahaya sebagai kesepakatan"

Ruan Yu tersenyum tipis. Langkahnya maju satu kali. Cukup untuk membuat jarak di antara mereka nyaris lenyap.

"Baiklah..."

Dia mengangkat tangan. Jari-jari putihnya yang ramping perlahan menembus cahaya benda di depannya.

Anehnya tidak ada rasa panas, tidak ada rasa sakit. Hanya sensasi hangat yang menjalar sampai ke dalam jiwanya.

"Aku, Ruan Yu..." Suaranya lembut, namun sangat jelas. "...menerima kesepakatan ini"

Detik itu juga cahaya meledak. Bukan seperti ledakan biasa. Melainkan seperti sesuatu yang selama ini terkunci akhirnya dilepaskan.

Ruang dosa bergetar.

Kegelapan retak.

Bisikan-bisikan yang selama ini memenuhi telinganya secara perlahan menjadi lirih kemudian menghilang sepenuhnya.

Partikel hitam yang menempel di tubuh Ruan Yu mulai terlepas satu per satu, terseret ke dalam pusaran cahaya yang berputar liar. Namun tidak semuanya menghilang. Sebagian kecil tetap tertinggal. Melekat seperti bayangan yang tak akan pernah benar-benar pergi.

Notifikasi dingin dari sistem bergema di tengah ruang kosong.

"Kontrak berhasil diikat"

"Sinkronisasi jiwa dimulai"

"Menghapus sebagian korosi"

"Mengunci inti kesadaran..."

Ruan Yu tidak bergerak.

Dia hanya berdiri di tengah badai cahaya itu.

Matanya perlahan menutup. Namun sebelum kesadarannya sepenuhnya tenggelam, sudut bibirnya terangkat.

"Roh bumi..." Suaranya sangat pelan. Hampir tidak terdengar.

"Tunggu, aku akan menghancurkan semua yang kau inginkan"

🍷 Bersambung 🍷

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 33

    Keheningan di ruang tamu itu terasa begitu berat. Detak jam dinding terdengar seperti dentuman palu yang mengiringi ketegangan. Ye Shiwan membeku. Isak tangis yang tadi dia buat-buat seketika terhenti, seolah tertahan di kerongkongannya. Kalimat Lu Shenyuan itu bagai bom yang semakin memperkeruh keadaan. Dia mendongak, menatap Lu Shenyuan yang masih berdiri tegak dengan keangkuhan yang tak tergoyahkan. Bahkan terkesan bosan, seolah semua kejadian ini sama sekali tak menimbulkan sedikitpun riak dalam hidupnya. Harapan yang dia buat agar Kakek Lu dapat membantunya malah menjadi bumerang yang menghancurkan jalan masa depannya. "Ayuan... kau pasti bercanda kan?" Bisik Ye Shiwan dengan suara tercekat. Kali ini rasa sakit di matanya bukan lagi akibat cubitan, melainkan rasa sakit yang menghujam jantungnya dengan keras. Lu Shenyuan tidak menjawab. Dia bukan tipe orang yang akan mengulangi kalimatnya. Dia hanya berdiri di sana dengan tenang, membiarkan keheningan itu menjawab pertanya

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 32

    Mobil mewah itu berhenti tepat di depan vila yang tampak angkuh. Pintu pengemudi terbuka, seorang supir dengan sigap membukakan pintu belakang.Detik berikutnya, sosok tegap Lu Shenyuan keluar dari mobil. Jas tiga potongnya masih terpasang dengan sempurna. Namun aura yang dipancarkannya tampak lebih berbahaya dan mengintimidasi.Ye Shiwan datang dengan langkah sedikit cepat. Dia segera mencubit pahanya dengan keras, dan seketika matanya menjadi merah dan berkaca-kaca. Semua sisa kemarahan di wajahnya seketika lenyap digantikan oleh emosi menyedihkan. Dia dengan cepat menghampiri Lu Shenyuan saat pria itu sudah menaiki tangga vila."Ayuan, kau sudah pulang" Suara Ye Shiwan terdengar serak, seolah dia telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menangis. Lu Shenyuan tidak berhenti. Dia bahkan tidak melirik ke arah perempuan yang masih berstatus tunangannya. Langkah kakinya stabil dan mantap, berjalan menuju pintu kayu jati besar yang telah terbuka di depannya."Ayuan, tunggu!" Ye Shiwa

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 31

    Di sudut taman vila keluarga Lu. Tampak Ye Shiwan tengah mondar-mandir dengan resah. Gaun biru mudanya yang anggun tampak kontras dengan wajah pucatnya. Kedua alisnya berkerut rapat. Mata almond miliknya sesekali melihat ke arah gerbang utama dengan perasaan gelisah. Menunggu deru mesin mobil yang sangat dikenalnya. Seharusnya dia ada di dalam. Duduk manis bersama dengan Kakek Lu dan Ayahnya. Namun dinding-dinding mewah vila itu bagai penjara yang membuat napasnya sesak. Berulang kali dia akan mengecek ponselnya dan melihat tren Weibo yang menolak untuk turun. Daftar puncak masih dipegang oleh berita tunangannya dan wanita jalang sialan itu. Melihat kedua orang di dalam foto itu. Amarah Ye Shiwan kembali tersulut. Dia ingin berteriak, ingin menghancurkan ponselnya. Namun sedetik kemudian Ye Shiwan sadar di mana dia sedang berdiri. Dia harus tetap menjadi tunangan yang sempurna dan bermartabat di depan Kakek Lu. Namun... perasaan cemas itu sangat mengganggu hingga dia me

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 30

    Lu Shenyuan membeku. Deru napasnya masih terasa hangat di leher Ruan Yu. Namun suara dering ponsel yang terus menerus bagai siraman air es yang mengembalikan sisa-sia kewarasannya.Dia tidak segera menjauh. Mata phoenix di balik kacamata bingkai emas itu menatap tajam pada Ruan Yu. Seolah tatapan itu menjanjikan bahwa interupsi dari ponsel tak akan menyelamatkan nasib Ruan Yu selamanya. Ruan Yu tersenyum manis, dengan kesan menantang. Jemari lentiknya menelusuri dasi Lu Shenyuan dengan gerakan malas."Angkatlah, Presiden. Mungkin itu penting"Lu Shenyuan mendengus dingin. Dengan enggan, dia mengambil ponsel yang berdering di celananya. Namun tetap tak melepaskan belitan lengannya di pinggang lembut perempuan itu.Melihat nama yang tertera di layar, kedua alis Lu Shenyuan sedikit berkerut. Dering ponsel itu terus menyala seolah tak akan berhenti sampai pemilik telepon mengangkatnya.Dengan perasaan kesal, Lu Shenyuan tidak langsung menjawabnya. Dia membiarkan dering itu berteriak sam

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 29

    "Pakai pakaianmu dengan benar!" Tegur Lu Shenyuan seperti perintah militer, namun suaranya terdengar serak seolah tengah menahan sesuatu. Kedua alis Ruan Yu terangkat ringan. Dia tertawa pelan, suaranya seperti lonceng yang menggema manis di dalam ruangan.Dia bersandar santai di sandaran ranjang. Salah satu tali bahunya melorot, memperlihatkan kulit putihnya yang provokatif."Presiden..."Ruan Yu menjeda sejenak. Mata bunga persiknya menatap Lu Shenyuan dari atas ke bawah. Lalu kembali menatap netra gelap pria itu. "Jika aku ingat dengan benar. Bukankah kau yang menerobos masuk ke apartemenku?"Kepalanya sedikit miring ke samping. "Secara teknis aku adalah seorang korban, dan kau... adalah penyusup yang tidak sopan"Ruan Yu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Iris cokelat terangnya berkilat geli."Jadi, dengan hak apa kau mengatur apa yang kupakai di tempat tidurku?"Lu Shenyuan tidak langsung menjawab. Keheningannya justru terasa lebih menyesakkan dari pada amarah.Dia melang

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 28

    Aula itu masih diselimuti oleh keheningan. Suara napas dari sang juru lelang bahkan sampai terdengar lewat mikrofon yang menyala, saking sunyinya ruang itu.Satu miliar dollar untuk sebuah mahkota bunga sedap malam. Itu bukan lagi sebuah lelang, melainkan sebuah upacara diam untuk penaklukkan. Tok! Palu diketukkan dengan gemetar. "Terjual kepada... meja 01!"Lu Shenyuan masih duduk dengan tenang menatap Ruan Yu. Mengabaikan sorak-sorai serta tatapan ngeri dari sekitarnya. Baginya, satu-satunya yang layak untuk ditonton adalah perempuan di depannya ini. Petugas lelang membawa nampan dengan bantal beludru itu mendekat. Langkahnya tampak sangat hati-hati, seolah dia tengah membawa jantung yang terhubung dengan hidupnya. Di atas bantal merah anggur itu, The Midnight Tuberose itu berkilau dengan dingin.Mahkota bertatahkan moonstone itu tampak hidup, kelopaknya seolah hidup membawa keharuman yang memabukkan. Lu Shenyuan berdiri. Membuka kotak kaca lalu meletakkannya di atas meja. Meng

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 6

    Ruangan itu sangat sunyi. Bukan sunyi yang tenang, melainkan sunyi yang terasa menekan. Perkataan Ruan Yu masih menggantung di udara, seperti pisau tipis yang siap jatuh kapanpun. Mata phoenix Lu Shenyuan menatap lurus pada perempuan di depannya. Tidak lagi sekedar dingin. Ada sesuatu yang lebih

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 5

    Pagi datang tanpa suara. Kabut tipis menyelimuti kaca-kaca gedung tinggi, memantulkan cahaya matahari yang masih terasa dingin. Kota perlahan terbangun dari tidurnya. Suara aktifitas mulai terdengar semarak. Di lantai presiden gedung Lu Group, ritme kerja mulai berjalan dengan teratur seperti bia

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 4

    Waktu berlalu dengan cepat. Senja mulai menampakkan kanvas indahnya. Namun, sisa-sisa dari keresahan itu sama sekali tidak menghilang. Tidak ada bunga serta aroma, bahkan tidak ada hal apapun yang akan mengacaukan segala pikirannya. Kedua alis Lu Shenyuan berkerut halus. Matanya menatap layar komp

  • Priamu adalah Milikku! (Transmigrasi Cepat)   Dunia 1 | Ep. 3

    Malam telah larut. Cahaya lampu kota yang gemerlap memantul di kaca-kaca gedung tinggi, menciptakan ilusi tidak pernah benar-benar tertidur. Di lantai gedung tertinggi Lu Group, lampu di ruang kerja presiden masih menyala dengan terang. Suasana terasa tenang. Hanya menyisakan suara lembaran k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status