Se connecterMalam turun dengan tenang. Sang surya telah lama digantikan oleh rembulan yang bertahta.
Lampu-lampu kota secara bertahap mulai menyala memantulkan cahaya di permukaan kaca gedung-gedung tinggi. Jalanan masih sibuk. Orang-orang terus bergerak tanpa henti. Namun untuk sebagian orang, malam adalah waktu jeda untuk beristirahat dan menenangkan pikiran. Bagi Lu Shenyuan, malam tidak ada bedanya dengan siang. Di dalam ruang kerjanya yang luas serta dingin, hanya suara lembaran dokumen yang dibalik terdengar pelan di ruang sunyi. Satu halaman, dua halaman... Suara gesekan kertas itu mengisi kesunyian, hingga tiba-tiba gerakannya terhenti. Jemarinya yang panjang menahan sudut kertas itu tanpa membaliknya. Pandangannya terpaku pada kalimat yang mendadak buram akibat bayangan sepasang mata bunga persik berkelebat tanpa diundang. Tenang dan memikat, namun terasa sangat dalam seolah tanpa dasar. Alisnya sedikit berkerut dengan halus. Pikiran itu sangat mengusiknya. Memijat pangkal hidungnya, Lu Shenyuan segera mengenyahkan ilusi yang mengusik. Halaman kertas kembali dibalik. Gerakannya kembali stabil dan tanpa emosi seolah bukan dirinya yang telah mengalami distraksi. Meskipun semuanya kembali tenang, bayangan itu tetap meninggalkan noda yang tak terbantahkan dalam kehidupan statisnya. . . . Jauh di distrik timur. Ruan Yu berada di dalam apartemen miliknya. Menghadap jendela kaca, dia dapat melihat pejalan kaki yang masih aktif bergerak dalam aktifitas. Gemerlap lampu kota terpantul di kedalaman iris cokelatnya yang berkilau, namun tidak membawa kehangatan sama sekali. Tenang sekaligus membawa bahaya tersembunyi. ["Tuan Rumah, target telah mengalami fluktuasi ringan"] ["Sumbernya berasal dari kontak visual yang dilakukan sebelumnya"] Ruan Yu tersenyum lucu. "Hanya fluktuasi ringan?" ["Sebagai pengingat, target memiliki kontrol emosi tingkat tinggi"] ["Tuan Rumah, lebih baik hindari pendekatan secara langsung"] Ruan Yu tertawa ringan mendengar ucapan sistem. "Aku memang tidak pernah berniat untuk mendekat secara langsung" Kelopak matanya sedikit menyipit, menatap tajam pemandangan kota di bawahnya. "Jika mangsa terlalu waspada... " Jemari lentiknya menyentuh permukaan kaca dengan ringan. Mata indahnya menatap pantulan dirinya sendiri dengan penuh minat. "Maka dia akan menghindar sebelum aku bisa mendekat" ["Tuan Rumah, besok target misi akan mengadakan pertemuan bisnis internasional pukul 10:00 pagi"] ["Dan perusahaannya membutuhkan seorang penerjemah bahasa asing baru"] Senyum Ruan Yu semakin melebar. Matanya berkilau dengan cahaya yang indah. "Kejutan yang datang tiba-tiba..." Ruan Yu kemudian berbalik. Membuka laptop di atas meja. Dia segera mencari situs lowongan pekerjaan untuk perusaan Lu Group. Wajah cantiknya yang diterangi oleh cahaya dari layar laptop terasa indah sekaligus melamun, namun membawa nuansa yang terasa sedikit menyeramkan. . . . Keesokan harinya, gedung perusahaan Lu Group tampak lebih sibuk daripada biasanya. Para karyawan tampak berjalan dengan langkah cepat seraya membawa dokumen, tablet, serta berbagai alat untuk persiapan yang akan dilakukan dalam rapat penting nanti. Di ruang rapat utama, suasana sudah dipersiapkan dengan matang. Kursi-kursi ditata dengan rapi. Proyektor yang akan dijalankan telah siap. Dokumen-dokumen diletakkan dengan baik. Pintu masuk ruang rapat tiba-tiba terbuka. Ruan Yu masuk ke dalam dengan langkah ringan serta anggun. Sepatu hak rendahnya berbunyi pelan di ubin lantai marmer yang dingin. Tidak menarik perhatian, namun cukup untuk membuat semua orang menyadari keberadaanya. Dia mengenakan pakaian formal sederhana. Kemeja putih serta rok hitam yang jatuh rapi di bawah lutut. Surai panjang ikalnya diikat sederhana ke belakang menampakkan wajah cantiknya yang semakin tampak kecil. Pakaian yang dikenakannya tidak terlalu mencolok, namun dia terlalu sempurna untuk diabaikan oleh siapapun. Beberapa staf meliriknya berkali-kali. Bahkan ada karyawan pria yang sempat sampai tersipu ketika melihatnya. Ruan Yu tidak mencoba untuk menarik perhatian. Namun keberadaannya saja sudah membuat daerah di sekitarnya menjadi kusam serta buram. "Apakah kau penerjemah yang direkomendasikan?" Seorang staf wanita bertanya dengan nada profesional. Ruan Yu mengangguk pelan. "Iya" Staf wanita itu mengangguk. "Tolong tunggu sebentar. Presiden Lu akan segera datang" Ruan Yu tidak banyak bicara. Dia hanya mengangguk, berjalan ke sisi meja dan berdiri dengan diam seolah dia hanyalah bagian dari ruangan itu sendiri. Tidak terlalu mencolok, namun sangat sulit untuk diabaikan. . . . Setelah beberapa menit kemudian, pintu ruang rapat terbuka. Langkah kaki yang stabil serta mantap memasuki ruangan. Lu Shenyuan memasuki ruang rapat dengan setelan hitamnya yang tetap sempurna. Dasinya terpasang rapi tanpa ada lipatan yang salah. Aura dingin serta mendominasi miliknya langsung menyerbu seluruh ruang rapat. Semua orang yang ada di dalamnya secara otomatis langsung menegakkan tubuh mereka. Mata dingin di balik kacamata berbingkai emasnya sedikit menyapu seluruh ruang rapat. Langkahnya yang mantap sempat terhenti sepersekian detik. Mata phoenix miliknya tertuju pada satu titik. Perempuan itu... dia berdiri di sana dengan tenang seolah tidak terpengaruh sedikitpun oleh kehadirannya. Alis tebal Lu Shenyuan sedikit berkerut. "Mulai rapat" Suaranya yang datar dan dingin terdengar. Dia duduk di kursi utama dengan tenang. Iris hitamnya kembali menyapu wajah cantik itu lalu dengan cepat ditarik kembali. "Siapa dia?" Pertanyaan itu diajukan kepada asisten yang berada di dekatnya. Asisten pria itu sempat bingung dengan pertanyaan atasannya. Namun karena dia sudah bertahun-tahun menjadi asisten bosnya, dia segera paham. Matanya seketika dengan cepat menyapu ruang rapat dan berhenti pada wajah cantik namun asing yang ada di dalam. "Seorang penerjemah yang direkomendasikan untuk proyek ini, Presiden" Jawabnya dengan lugas. Melihat sikap tidak biasa dari atasannya, pria berkacamata berbingkai hitam itu bertanya. "Presiden, apakah ada yang salah?" Wajah Lu Shenyuan sangat tenang seolah tak ada sedikitpun gelombang di dalamnya. "Tidak" Jawabnya singkat. Setelah mendapat jawaban, asisten pria itu segera kembali diam dan mengamati jalannya proses rapat yang akan segera terjadi. Mata Lu Shenyuan kembali teralih pada dokumen di depannya. Namun kali ini, fokusnya tidak ada di sana. Rapatpun dimulai. Perwakilan asing mulai berbicara dalam bahasa mereka. Semua mata seketika tertuju pada Ruan Yu. Dia dengan ringan berdiri dari kursinya, melangkah maju dengan tenang tanpa perasaan gugup ataupun ragu. Kalimat-kalimat diterjemahkan dengan sangat jelas. Suaranya sangat stabil, ritmenya jelas, serta tidak ada kesalahan. Dia tampak sangat profesional dan sempurna. Lu Shenyuan mendengarkan. Tidak menunjukkan reaksi apapun. Namun, pandangannya sesekali akan mendarat pada perempuan cantik yang sedang menerjemahkan di depannya. Bukan karena ketertarikan. Melainkan karena sesuatu yang tidak dapat dia definisikan dengan benar. . . . Rapat telah berakhir dengan sukses. Para staf karyawan mulai berdiri dan merapikan dokumen-dokumen di meja. Mereka semua secara bertahap meninggalkan ruang rapat dengan tenang disertai beberapa bisikan lirih. Masih membahas tentang hasil rapat yang telah diselesaikan. Ruan Yu kembali ke posisinya untuk merapikan barang bawaannya. Gendang telinganya mendengar langkah kaki yang perlahan mendekat. Dari sudut matanya, dia melihat sepasang sepatu kulit hitam mengkilap yang berhenti tepat di sampingnya. Mendongak dengan tenang, dia menatap iris hitam yang memandangnya dengan tajam. "Apakah kita pernah bertemu?" Lu Shenyuan bertanya dengan ketajaman dalam nada suaranya. Pertanyaan yang tampak biasa, namun langsung ke intinya. Mata bunga persik milik Ruan Yu menatap tanpa gentar pada sepasang mata phoenix yang tajam itu. "Belum, Presiden Lu" Jawab Ruan Yu dengan ringan. Sunyi terasa. Tatapan mereka bertahan selama beberapa detik lebih lama. Iris hitam Lu Shenyuan memindai wajah cantik perempuan di depannya. Menatap Iris cokelat terang yang sangat berbeda dengan kegelapan mata miliknya. Melihat apakah ada kebohongan yang terdeteksi di mata indahnya, namun hasilnya... nihil. Ruan Yu kembali menundukkan kepalanya dengan sikap sopan dan terkendali Lu Shenyuan tidak mengatakan apapun lagi. Namun kedua alisnya yang seperti pedang berkerut dengan halus. Di ruang rapat yang luas, hanya ada mereka berdua di dalamnya. Tidak ada kebisingan, hanya suara dari Ruan Yu yang masih membereskan barang bawaannya. Namun, udara di antara mereka terasa kental. Ruan Yu kembali mendongak menatap Lu Shenyuan. "Presiden Lu" Setelah memberi salam dan anggukan, Ruan Yu meninggalkan sosok Lu Shenyuan yang masih berdiri dengan tenang di tempatnya. Suara sepatu hak rendahnya kembali terdengar mengetuk lantai ubin. Langkahnya tidak cepat maupun lambat. Saat tangannya menggenggam pegangan pintu yang dingin, Ruan Yu sedikit berbalik ke belakang. "Presiden Lu" Suaranya yang pelan memanggil, cukup untuk dapat didengar oleh pria itu. Lu Shenyuan menoleh dan menatap ke arahnya. Senyum tipis terukir di wajah Ruan Yu. Dari jarak jauh, mata mereka berdua kembali bertemu. "Kita memang belum pernah bertemu... " Ruan Yu sedikit berhenti sejenak. "Namun... kau sudah pernah melihatku" Ceklek. Pintu terbuka, Ruan Yu keluar dan menutup pintu di belakangnya dengan tenang. Sunyi kembali memenuhi ruang rapat. Saat ruangan kembali tertutup, seharusnya udara kembali dingin serta netral. Namun entah sejak kapan ada sesuatu yang masih tertinggal. Samar, tapi terasa lembut. Seperti wangi bunga yang mekar di malam hari. Tidak mencolok, namun aroma manisnya perlahan menyusup ke indranya tanpa izin. Alis Lu Shenyuan berkerut. Perasaannya kembali terganggu. Dan dia... tidak menyukai perasaan yang terasa janggal ini. . . . Di dalam lift, Ruan Yu berdiri sendirian di dalam. Matanya menatap pada pantulan samar dirinya di dinding logam. Sudut bibirnya perlahan terangkat. "Umpan kedua... " Bisiknya pelan. Mata bunga persiknya berkilat tipis. "Kembali ditebar" 🍷 Bersambung 🍷Keheningan di ruang tamu itu terasa begitu berat. Detak jam dinding terdengar seperti dentuman palu yang mengiringi ketegangan. Ye Shiwan membeku. Isak tangis yang tadi dia buat-buat seketika terhenti, seolah tertahan di kerongkongannya. Kalimat Lu Shenyuan itu bagai bom yang semakin memperkeruh keadaan. Dia mendongak, menatap Lu Shenyuan yang masih berdiri tegak dengan keangkuhan yang tak tergoyahkan. Bahkan terkesan bosan, seolah semua kejadian ini sama sekali tak menimbulkan sedikitpun riak dalam hidupnya. Harapan yang dia buat agar Kakek Lu dapat membantunya malah menjadi bumerang yang menghancurkan jalan masa depannya. "Ayuan... kau pasti bercanda kan?" Bisik Ye Shiwan dengan suara tercekat. Kali ini rasa sakit di matanya bukan lagi akibat cubitan, melainkan rasa sakit yang menghujam jantungnya dengan keras. Lu Shenyuan tidak menjawab. Dia bukan tipe orang yang akan mengulangi kalimatnya. Dia hanya berdiri di sana dengan tenang, membiarkan keheningan itu menjawab pertanya
Mobil mewah itu berhenti tepat di depan vila yang tampak angkuh. Pintu pengemudi terbuka, seorang supir dengan sigap membukakan pintu belakang.Detik berikutnya, sosok tegap Lu Shenyuan keluar dari mobil. Jas tiga potongnya masih terpasang dengan sempurna. Namun aura yang dipancarkannya tampak lebih berbahaya dan mengintimidasi.Ye Shiwan datang dengan langkah sedikit cepat. Dia segera mencubit pahanya dengan keras, dan seketika matanya menjadi merah dan berkaca-kaca. Semua sisa kemarahan di wajahnya seketika lenyap digantikan oleh emosi menyedihkan. Dia dengan cepat menghampiri Lu Shenyuan saat pria itu sudah menaiki tangga vila."Ayuan, kau sudah pulang" Suara Ye Shiwan terdengar serak, seolah dia telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menangis. Lu Shenyuan tidak berhenti. Dia bahkan tidak melirik ke arah perempuan yang masih berstatus tunangannya. Langkah kakinya stabil dan mantap, berjalan menuju pintu kayu jati besar yang telah terbuka di depannya."Ayuan, tunggu!" Ye Shiwa
Di sudut taman vila keluarga Lu. Tampak Ye Shiwan tengah mondar-mandir dengan resah. Gaun biru mudanya yang anggun tampak kontras dengan wajah pucatnya. Kedua alisnya berkerut rapat. Mata almond miliknya sesekali melihat ke arah gerbang utama dengan perasaan gelisah. Menunggu deru mesin mobil yang sangat dikenalnya. Seharusnya dia ada di dalam. Duduk manis bersama dengan Kakek Lu dan Ayahnya. Namun dinding-dinding mewah vila itu bagai penjara yang membuat napasnya sesak. Berulang kali dia akan mengecek ponselnya dan melihat tren Weibo yang menolak untuk turun. Daftar puncak masih dipegang oleh berita tunangannya dan wanita jalang sialan itu. Melihat kedua orang di dalam foto itu. Amarah Ye Shiwan kembali tersulut. Dia ingin berteriak, ingin menghancurkan ponselnya. Namun sedetik kemudian Ye Shiwan sadar di mana dia sedang berdiri. Dia harus tetap menjadi tunangan yang sempurna dan bermartabat di depan Kakek Lu. Namun... perasaan cemas itu sangat mengganggu hingga dia me
Lu Shenyuan membeku. Deru napasnya masih terasa hangat di leher Ruan Yu. Namun suara dering ponsel yang terus menerus bagai siraman air es yang mengembalikan sisa-sia kewarasannya.Dia tidak segera menjauh. Mata phoenix di balik kacamata bingkai emas itu menatap tajam pada Ruan Yu. Seolah tatapan itu menjanjikan bahwa interupsi dari ponsel tak akan menyelamatkan nasib Ruan Yu selamanya. Ruan Yu tersenyum manis, dengan kesan menantang. Jemari lentiknya menelusuri dasi Lu Shenyuan dengan gerakan malas."Angkatlah, Presiden. Mungkin itu penting"Lu Shenyuan mendengus dingin. Dengan enggan, dia mengambil ponsel yang berdering di celananya. Namun tetap tak melepaskan belitan lengannya di pinggang lembut perempuan itu.Melihat nama yang tertera di layar, kedua alis Lu Shenyuan sedikit berkerut. Dering ponsel itu terus menyala seolah tak akan berhenti sampai pemilik telepon mengangkatnya.Dengan perasaan kesal, Lu Shenyuan tidak langsung menjawabnya. Dia membiarkan dering itu berteriak sam
"Pakai pakaianmu dengan benar!" Tegur Lu Shenyuan seperti perintah militer, namun suaranya terdengar serak seolah tengah menahan sesuatu. Kedua alis Ruan Yu terangkat ringan. Dia tertawa pelan, suaranya seperti lonceng yang menggema manis di dalam ruangan.Dia bersandar santai di sandaran ranjang. Salah satu tali bahunya melorot, memperlihatkan kulit putihnya yang provokatif."Presiden..."Ruan Yu menjeda sejenak. Mata bunga persiknya menatap Lu Shenyuan dari atas ke bawah. Lalu kembali menatap netra gelap pria itu. "Jika aku ingat dengan benar. Bukankah kau yang menerobos masuk ke apartemenku?"Kepalanya sedikit miring ke samping. "Secara teknis aku adalah seorang korban, dan kau... adalah penyusup yang tidak sopan"Ruan Yu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Iris cokelat terangnya berkilat geli."Jadi, dengan hak apa kau mengatur apa yang kupakai di tempat tidurku?"Lu Shenyuan tidak langsung menjawab. Keheningannya justru terasa lebih menyesakkan dari pada amarah.Dia melang
Aula itu masih diselimuti oleh keheningan. Suara napas dari sang juru lelang bahkan sampai terdengar lewat mikrofon yang menyala, saking sunyinya ruang itu.Satu miliar dollar untuk sebuah mahkota bunga sedap malam. Itu bukan lagi sebuah lelang, melainkan sebuah upacara diam untuk penaklukkan. Tok! Palu diketukkan dengan gemetar. "Terjual kepada... meja 01!"Lu Shenyuan masih duduk dengan tenang menatap Ruan Yu. Mengabaikan sorak-sorai serta tatapan ngeri dari sekitarnya. Baginya, satu-satunya yang layak untuk ditonton adalah perempuan di depannya ini. Petugas lelang membawa nampan dengan bantal beludru itu mendekat. Langkahnya tampak sangat hati-hati, seolah dia tengah membawa jantung yang terhubung dengan hidupnya. Di atas bantal merah anggur itu, The Midnight Tuberose itu berkilau dengan dingin.Mahkota bertatahkan moonstone itu tampak hidup, kelopaknya seolah hidup membawa keharuman yang memabukkan. Lu Shenyuan berdiri. Membuka kotak kaca lalu meletakkannya di atas meja. Meng
Ruangan itu sangat sunyi. Bukan sunyi yang tenang, melainkan sunyi yang terasa menekan. Perkataan Ruan Yu masih menggantung di udara, seperti pisau tipis yang siap jatuh kapanpun. Mata phoenix Lu Shenyuan menatap lurus pada perempuan di depannya. Tidak lagi sekedar dingin. Ada sesuatu yang lebih
Bising. Itu adalah kata pertama yang terlintas di pikiran Ruan Yu ketika kesadarannya pulih kembali. Tapi entah kenapa membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Membuka mata bunga persiknya, hal pertama yang dia lihat adalah keramaian yang padat. Orang-orang berlalu-lalang dengan tergesa-gesa. La
Ruan Yu tertegun sejenak, lalu sedetik kemudian tertawa terbahak-bahak seolah mendengar suatu lelucon yang luar biasa lucu. Tawa itu sangat keras namun mengandung semacam ironi serta kesedihan. Tubuhnya membungkuk geli, mulutnya mengeluarkan tawa keras, namun matanya mengalir dengan air mata penuh
"Sudah berapa lama aku ada di sini?" Tidak ada yang menjawabnya. Hanya bisikan tentang dosa, kekejaman, serta kebejatan sifat manusia yang terus mengulang di telinganya. Nada itu terasa ringan, namun bergerigi. Seperti suara amplas yang menggosok gendang telinga, membuat kulit kepala kesemut







