LOGINSinar matahari pagi yang cerah menembus kaca jendela besar Bandara Internasional Kingsford Smith, Sydney. Udara dingin khas awal musim dingin langsung menyapa kulit saat Ayu melangkah keluar dari garbarata, mengekor di belakang Rangga. Langkah kaki Rangga terasa mantap, sementara Ayu harus berjuang keras menyeimbangkan langkahnya yang gontai. Rasa lelah, kantuk, dan kecemasan yang membakar dadanya sepanjang malam di atas pesawat masih menyisa utuh.Ayu memegang erat tali tas tangannya. Setiap kali ia melirik Rangga, bayangan pesan singkat rahasia di ponsel suaminya semalam kembali teringat jelas: “Semua persiapan di Sydney sudah siap. Pastikan dia tidak curiga.”"Kamu kuat banget pegang tasnya, Ay. Kenapa? Ada yang ketinggalan di pesawat?" tanya Rangga pelan seraya menoleh, menangkap kegelisahan istrinya.Ayu menggeleng cepat, memaksakan senyum tipis. "Enggak, Sayang. Cuma agak dingin saja.""Nanti di mobil langsung pakai jaket tebal, ya. Kita jalan ke area penjemputan sekarang," kata
Deg!Seketika itu juga, jantung Ayu berdetak begitu kencang hingga serasa hendak meloncat keluar dari rongga dadanya. Darah di dalam tubuhnya mendadak berhenti mengalir, menyisakan rasa dingin merayap dari ujung kaki hingga ke tempurung kepalanya.“Pastikan dia tidak curiga?”Kata-kata itu menari-nari liar di dalam ingatan Ayu, membakar habis sisa-sisa ketenangan yang coba ia bangun sepanjang hari. Otaknya bekerja secara instan, membedah setiap suku kata dari pesan misterius tersebut dengan kepanikan yang luar biasa.“Dia? Siapa yang dimaksud 'dia' dalam pesan ini?” bisik Ayu di dalam batinnya yang kini berteriak histeris. “Apakah 'dia' itu aku?! Siapa yang mengirim pesan ini malam-malam begini? Apakah nomor ini milik Roselyn? Ataukah orang lain yang disuruh oleh Rangga? Persiapan apa yang sudah siap di Sydney? Ya Tuhan... persiapan apa?!”Ayu meremas selimut tebal yang melingkupi kakinya. Napasnya mulai tersengal-sengal, naik-turun dengan cepat. Keringat dingin menetes pelan dari pel
Suasana area keberangkatan internasional Bandara Soekarno-Hatta malam itu terasa lengang. Lampu-lampu LED bercahaya kekuningan memantul dingin di atas lantai marmer yang mengilap, membiaskan bayangan Rangga dan Ayu yang berjalan berdampingan. Dua orang petugas porter berjas rapi mendorong tiga koper besar milik mereka di belakang.Ayu melangkah gontai. Tubuhnya terasa begitu lelah, bukan hanya karena keletihan fisik setelah seharian mengurus surat pengunduran diri di kantor, melainkan akibat badai emosi yang terus menguras jiwanya. Tangan kanannya berada dalam cengkeraman Rangga—genggaman yang terasa begitu hangat, protektif, tetapi sekaligus seperti borgol halus yang membelenggu pergelangan tangannya."Kamu tampak lelah, Ay?" tanya Rangga pelan saat mereka melintasi karpet tebal menuju pintu masuk Lounge First Class.Ayu menoleh tipis, memaksakan segaris senyum yang terasa kaku di bibirnya. "Sedikit, Mas. Kepalaku agak berat.""Nanti di pesawat kamu bisa langsung tidur. Aku sudah mem
Kilau matahari perlahan terhalang oleh kaca mobil Alphard hitam yang melaju mulus melintasi Tol Sedyatmo menuju Bandara Soekarno-Hatta. Di dalam kabin yang senyap dan sejuk, keheningan terasa begitu pekat, seolah melapisi setiap sudut ruang dengan ketegangan yang tak kasatmata.Ayu menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Di luar, pepohonan dan papan reklame besar melesat cepat, berganti menjadi bayang-bayang kelabu. Jakarta, kota yang menyimpan seluruh cerita, rahasia, dan kehancurannya, perlahan-lahan tertinggal di belakang.Rangga duduk tepat di sampingnya. Pria itu tampil rapi dengan kemeja kasual premium berwarna abu-abu gelap yang lengannya tergulung rapi hingga ke siku. Jemari tangannya yang kokoh bertengger santai di paha, sementara pandangannya tertuju pada layar tablet bisnis di pangkuannya.“Begitu mudahnya dia membawaku pergi,” gumam Ayu dalam hatinya, merasakan denyut nyeri yang samar di dada bagian kirinya. “Seolah-olah semua perbuatannya selama ini tidak pe
Pagi itu, suasana koridor kantor tampak ramai seperti biasa. Namun, begitu melangkah masuk melalui pintu kaca utama bersama Rangga, sosok Rina yang berdiri di dekat meja resepsionis langsung mengenali Ayu dari kejauhan."Ayuuuu!" jerit Rina histeris. Ia berlari kencang mendekati Ayu, lalu tanpa aba-aba langsung menjatuhkan tubuhnya, memeluk Ayu dengan sangat erat."Huuuhuuuhuuu... Tega kamu, Ayu! Udah lama enggak masuk kerja, sekalinya masuk malah bawa surat resign! Huuuuuhuuuhuuu!" Rina terisak kencang di bahu Ayu, meratapi kepindahan sahabatnya itu.Ayu menepuk-nepuk punggung Rina dengan lembut. "Iya, Rin, iya... maafin aku, ya."Ayu melepaskan sedikit dekapan hangat sahabatnya. "Bentar deh, aku antar surat resign ini dulu ke dalam. Kalau udah kelar semua urusannya, nanti kita ngobrol, ya?""Beneran, ya? Janji, ya?" tagih Rina sambil mengusap air matanya yang mengalir di pipi. "Awas kamu kalau tiba-tiba hilang lagi!""Iya, Rin, beneran janji," jawab Ayu meyakinkan.Rangga yang berdi
Saat Rangga baru saja merebahkan tubuh Ayu secara perlahan di atas kasur kamar tidur mereka, tiba-tiba ponsel Ayu yang tergeletak di atas meja rias bergetar kencang.Drrt... drrt... drrt...Di layarnya yang menyala terang, tampak nama "Rina" memanggil. Ayu merapikan kain yang menutupi dadanya, lalu meraih ponsel itu dan menggeser ikon hijau untuk menekan tombol terima."Halo, Rin?" panggil Ayu dengan suara yang masih agak serak.Seketika terdengar suara tangisan yang cukup keras dari seberang telepon."Ayuuu! Kamu beneran mau resign?!" jerit Rina di balik telepon sambil sesenggukan. "Aku baru dengar dari HRD tadi pagi! Kamu bercanda, kan, Yu? Kamu tega banget sih ninggalin aku sendiri di kantor ini!"Ayu mendesah pelan, mencoba menenangkan sahabatnya. "Rin, pelan-pelan bicaranya. Jangan menangis begitu, malu kalau didengar orang kantor.""Gimana aku enggak menangis, Yu!" potong Rina dengan nada sangat sedih. "Kamu tahu, kan, kalau bagiku kamu itu lebih dari sekadar partner kerja. Masa
Ayu: "Berhenti sok tau. Aku mau istirahat."Daniel: "Istirahat? Yakin bisa tidur? Padahal badan kamu masih panas gara-gara tadi. Aku masih bisa cium wangi kamu di kemejaku, Yu. Manis banget."Pipi Ayu memanas membaca pesan itu. Ingatan tentang sentuhan kasar Daniel di toilet, napasnya yang memburu,
Daniel tidak perlu diminta dua kali. Tangannya bergerak cekatan, menyingkap gaun Ayu ke atas. "Kamu basah," bisik Daniel serak saat jarinya menyentuh area pribadi Ayu yang hanya terhalang kain tipis. "Gara-gara aku pegang di bar tadi? Atau gara-gara ngebayangin ini?""Diem... jangan banyak omong,"
Ayu turun dari kursi bar, kakinya sedikit gemetar karena heels dan adrenalin. Ia melangkah mengikuti punggung tegap Daniel. Mereka melewati kerumunan orang yang sedang berdansa, melewati pelayan yang membawa nampan berisi botol-botol mahal.Daniel berbelok ke lorong yang sedikit lebih sepi, menuju
Ayu menyesap gelas cocktail-nya perlahan, matanya tidak sedetik pun lepas dari interaksi di sofa seberang. Dentum musik house yang menggema di beach club itu seolah menjadi latar suara bagi badai yang mulai bergemuruh di kepalanya.Pandangannya terpaku pada tangan Jack. Pria Australia itu kini meny







