登入Ayu memutar gagang pintu apartemennya. Suasana ruang tengah temaram, namun pemandangan di atas sofa langsung membuat dadanya dingin tak bergemuruh.Di sana, Roselyn tertidur lelap dalam dekapan Rangga. Kedua manusia itu saling menempel tanpa jarak.(Batin Ayu: Menjijikkan. Benar-benar sempurna.)Ayu melangkah lurus tanpa memedulikan mereka. Ia masuk ke kamar, menarik koper besar, dan melipat pakaiannya dengan cekatan."Mau ke mana kamu, Ayu?"Suara Rangga terdengar di ambang pintu kamar. Pria itu berdiri dengan kemeja kusut dan mata menyipit tajam.Ayu sama sekali tidak menoleh. Ia terus melipat bajunya dan melemparnya kasar ke dalam koper."Ayu! Aku sedang bicara padamu! Jawab aku, kamu mau ke mana malam-malam begini?!" teriak Rangga, suaranya mulai menggelegar memenuhi ruangan.Ayu menutup ritsleting koper dengan sekali tarikan keras, lalu perlahan memutar tubuhnya menatap pria yang pernah ia panggil suami itu."Apa pedulimu aku mau ke mana?!" teriak Ayu tak kalah keras, matanya mem
Ayu tersentak, napasnya tertahan di tenggorokan saat jemari Bima mulai merayap liar di balik gaunnya. Sensasi asing itu membakar kulitnya, namun ada penolakan hebat yang menjerit dari dalam dadanya."Uuuh... eeh... lepaskan, Bim! Aku sedang tidak ingin melakukannya!" seru Ayu seraya berusaha memadatkan sisa tenaganya untuk mendorong dada bidang pria itu.Bima tidak bergeming sedikit pun. Kekuatan tangannya mengunci pinggul Ayu, sementara senyum sinis nan meremehkan terukir jelas di wajahnya yang tampan namun manipulatif."Tidak ingin, hah? Dari tadi itu yang selalu kamu katakan dari bibir indahmu," kekeh Bima dengan nada penuh kemenangan. "Tapi lihat dirimu, Ayu. Respons tubuhmu tidak bisa berbohong. Kamu membuang muka, tapi kamu membiarkanku menyentuhmu."“Kenapa denganku? Aku benci dengan tubuh yang pengkhianat ini!) jerit Ayu dalam hatinya, air mata keputusasaan merembes keluar membasahi pipinya. (Hatiku sedang hancur, jiwaku baru saja diinjak-injak, tetapi kenapa aku seolah membia
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku, Bim?!" jerit Ayu, suaranya bergetar hebat memecah keheningan apartemen gelap itu."Aku hanya menginginkanmu, Ayu," jawab Bima tenang. Ia mulai melangkah perlaham mendekati Ayu."Berhenti di situ!" Ayu refleks memundurkan kakinya. "Jangan mendekat!""Kenapa? Kamu takut padaku, Ayu? Atau kamu takut pada dirimu sendiri?""Kalian semua sama saja!" isak Ayu pecah. "Daniel, Rangga, dan kamu... kalian semua bajingan! Kalian hanya menganggapku rendah! Kalian pikir aku ini apa, hah?!""Aku tidak pernah menganggapmu rendah, Ayu," sanggah Bima. "Aku selalu memujamu.""Memujaku?!" Ayu tertawa hambar dengan air mata yang terus mengalir. "Dengan menjebakku?! Dengan bersekongkol bersama suamiku untuk menjadikanku umpan bisnis?! Begitu caramu memuja seorang wanita?!""Itu caraku menyingkirkan penghalang di antara kita.""Kamu gila, Bima! Kamu menghancurkan hidupku!""Tidakkah kamu sadar, Ayu? Tidakkah kamu melihat bagaimana aku mencoba segala hal hanya untuk
"S-suara itu..."Ayu menutupi mulutnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Matanya membelalak, membeku menatap sosok tinggi di balik remang kegelapan.(Ya Tuhan... suara ini... Bagaimana mungkin aku bisa melupakan suara ini? Suara yang dulu pernah merobek seluruh hidup dan kewarasanku di Bali... Kenapa rasa gila dari sentuhannya dulu mendadak merayapi kulitku kembali?)Pria itu melangkah keluar dari bayang-bayang. Cahaya remang menyiram wajahnya yang dingin dan penuh dominansi."B-Bima...?" desah Ayu terpatah-patah. "Kamu... Bima?""Akhirnya kamu ingat, Ayu," jawab Bima dengan senyum tipis. "Aku sempat agak kecewa saat kamu tidak mengenali sentuhanku. Padahal, tubuhmu merekam jelas apa yang terjadi di antara kita saat di Bali.""Teman Daniel...?" cicit Ayu dengan napas memburu. "Kam, kenapa... kenapa kamu ada di sini, Bima?! Kenapa kamu melakukan semua ini padaku?!""Teman Daniel?" Bima terkekeh sinis. "Ayu, Ayu... kamu sungguh sangat polos. Mana sudi aku berteman dengan pria kerd
Pintu apartemen itu tertutup dengan suara klik pelan, meninggalkan Roselyn yang masih tergeletak kacau di atas sofa.Ayu melangkah menyusuri lorong yang sepi. Tidak ada air mata lagi yang menetes dari pelupuk matanya. Kering. Habis. Yang tersisa di dadanya kini hanyalah lubang hitam menganga yang menyedot seluruh akal sehat, empati, dan rasa hormatnya pada dunia.Ia tidak tahu harus pergi ke mana. Kakinya melangkah tanpa arah, namun instingnya menuntunnya menaiki tangga darurat, menuju satu-satunya tempat yang membekas di benaknya hari ini. Tempat di mana ia merasa benar-benar dihancurkan, namun ironisnya, tempat yang kini terasa paling jujur baginya."Bodoh..." gumam Ayu, suaranya memantul di dinding tangga darurat yang dingin. "Kamu benar-benar perempuan paling bodoh, Ayu."Ia terus melangkah naik, meracau sendirian."Kalian semua pembohong. Semuanya palsu! Tidak ada satu pun dari kalian yang benar-benar peduli padaku!"Ayu mendorong pintu darurat di lantai atas. Lorong itu kembali
"Ayu, cukup!""Kenapa, Rose? Kita baru saja mulai."Ayu memiringkan kepalanya, menjilat perlahan garis rahang Roselyn yang halus. Roselyn terlonjak kaget. Sebuah lenguhan kecil yang tertahan meluncur dari tenggorokan wanita berblazer putih itu."Lihat?" desis Ayu di leher Roselyn. "Tubuhmu merespons. Kamu bilang parfum itu aromaterapi penambah gairah, kan? Sepertinya aromanya juga menempel padaku... dan sekarang bekerja padamu."Roselyn memejamkan matanya rapat-rapat, dadanya naik turun dengan kencang. "Jangan... jangan lakukan ini ...""Kenapa?" tantang Ayu. "Bukannya ini yang kalian inginkan? Bukankah ini skenario yang kalian buat?"Ayu makin menekan cengkeramannya pada rahang Roselyn, memaksa wanita itu menatapnya kembali."Katakan padaku, Roselyn! Pria itu... siapa dia sebenarnya?" bentak Ayu pelan, namun penuh penekanan. "Apakah kamu mengenalnya?"Roselyn menatap mata Ayu yang membara. Di dalam mata itu, tidak ada lagi Ayu yang polos dan penurut. Yang ada hanyalah sosok wanita ya







