Share

Bab 7

Author: F.F
"Apa yang kamu tertawakan?" Aditya merasa merinding mendengar tawa itu, dan amarahnya semakin memuncak.

Yunita mendongak, sorot matanya sedingin pisau, menatap tajam Yuan yang masih berpura-pura lemah. "Kamu sangat suka berakting, kan? Bagus, aku akan membiarkanmu berakting sepuasnya!"

Dalam sekejap, Yunita mengambil sebuah pena besi dari meja rias dan dengan kecepatan kilat, langsung menusukkannya dengan kuat ke punggung tangan Yuan yang sedang menopang tubuhnya di lantai!

"Ah ...!"

Jeritan melengking terdengar saat ujung pena menembus telapak tangan Yuan, memakukannya ke lantai, darah segar langsung mengalir deras.

"Kamu! Kamu keterlaluan! Dasar gila!" Tubuh Aditya sampai gemetar karena marah, dia menunjuk ke arah pintu. "Keluar! Pergi dari sini! Rumah ini nggak punya tempat lagi buatmu!"

Dia segera memanggil pelayan untuk menyeretnya keluar dari rumah dengan paksa. Mereka melemparnya keluar gerbang bersama koper kecilnya.

Yunita terhuyung sejenak sebelum kembali berdiri seimbang.

Dia menggosok lengannya yang terasa sakit tanpa ekspresi, lalu membungkuk dan mengeluarkan kalung safir yang berhasil dia rebut, menggenggamnya erat-erat.

Yunita menatap rumah yang megah namun dingin itu untuk terakhir kalinya, lalu berbalik dan pergi tanpa ragu.

Belum jauh melangkah, tiba-tiba hujan deras mulai turun tanpa peringatan.

Tetesan hujan besar menghantam tubuhnya, dan membuatnya basah kuyup dalam sekejap.

Dinginnya awal musim semi meresap hingga ke tulang-tulangnya melalui pakaiannya yang basah. Dia menggigil tak terkendali dan hanya bisa berlari mencari perlindungan di bawah emperan sebuah toko.

Hujan menetes dari ujung rambutnya. Sambil memeluk dirinya sendiri, dia menatap hujan yang berkabut di depannya, hatinya terasa sedih.

Tepat saat itu, sebuah mobil mewah hitam yang tampak familiar perlahan berhenti di depannya.

Jendela mobil diturunkan, memperlihatkan wajah Gery yang tegas.

Dia melihat Yunita yang terlihat basah kuyup dan berantakan di bawah emperan toko, alisnya langsung mengerut.

Pria itu pun keluar dari mobil dan berjalan beberapa langkah ke arahnya. "Cepat masuk."

"Aku nggak butuh bantuanmu." Yunita memalingkan wajah.

Gery tidak mau membuang waktu. Dia langsung mencengkeram lengan Yunita dengan kuat hingga tidak bisa melepaskan diri, bahkan setengah memaksanya masuk ke kursi penumpang.

Pemanas mobil menyala, menghilangkan rasa dingin dari tubuhnya.

Gery memberinya handuk bersih, lalu diam-diam membawa Yunita ke kediamannya.

Dia pun memberikan kemeja dan celana bersih miliknya untuk dipakai Yunita, lalu mengambil kotak obat dan mengoleskan salep pada wajah Yunita yang memar dan bengkak.

"Apa yang terjadi?" Dia bertanya dengan suara berat, pandangannya tertuju pada pipi Yunita yang bengkak dan rambutnya yang basah, membuatnya tampak rapuh.

Yunita mengatupkan bibir, enggan berbicara.

Tepat saat itu, bel pintu berbunyi.

Gery bangkit untuk membuka pintu. Di luar, berdiri Yuan dengan tangan dibalut perban tebal, wajahnya terlihat pucat.

"Kak Gery .…" Mata Yuan langsung berkaca-kaca begitu melihatnya. "Kakak diusir papa, aku sangat khawatir .… Meskipun dia hampir membunuhku waktu itu, dan kali ini dia menusuk tanganku dengan pena … tapi kami tetap saudara, aku nggak tega membiarkannya. Jadi, aku datang ingin membawanya pulang .…"

Yunita yang mendengar ucapannya dari ruang tamu, merasa sangat jijik hingga hampir muntah.

Dia berjalan ke pintu, dan menatap Yuan dengan dingin. "Yuan, kalau kamu berani memainkan drama menjijikkan ini lagi di depanku, percayalah, aku akan merobek mulutmu sekarang juga!"

"Yunita!" Wajah Gery berubah gelap, nada suaranya dipenuhi amarah. "Kapan kamu akan berhenti berulah? Memukul, mendorong, sampai menusuk telapak tangan orang dengan pena! Apa semua ini pantas dilakukan perempuan terhormat? Yuan sangat tulus padamu, dia nggak menyimpan dendam padamu, bahkan bersedia datang menjemputmu. Apa begini caramu memperlakukannya?"

Yuan segera melangkah maju, meraih lengan baju Gery, dan berkata pelan, "Kak Gery, nggak apa-apa. Asalkan kakak mau pulang bersamaku ...."

"Minta maaf padanya." Gery menatap Yunita dan memberi perintah.

"Nggak mungkin." Yunita berkata tegas.

Keduanya berdebat di pintu. Gery mencoba menarik Yunita, tetapi Yunita menyentaknya dengan keras.

Dalam aksi saling tarik itu, lengan Gery tanpa sengaja menyenggol termos di lemari dekat pintu masuk.

Terdengar suara termos jatuh.

Termos itu jatuh ke lantai dan meledak seketika, air mendidih berhamburan ke mana-mana!

Dalam sekejap, Gery refleks langsung tersentak ke samping, lalu menarik Yuan erat-erat ke dalam pelukannya yang berdiri lebih dekat dengannya, menggunakan punggungnya untuk melindungi wanita itu dari sebagian besar cipratan air.

Yunita yang berdiri di sisi lain, tidak punya waktu untuk menghindar. Air panas itu terciprat ke sebagian besar tubuhnya, dari betis hingga lengan. Seketika, mengirimkan rasa sakit yang membakar dan menyiksa ke seluruh tubuh!

Dia membungkuk kesakitan, wajahnya berubah pucat pasi.

Gery dengan cepat memeriksa Yuan yang berada dalam pelukannya dan menemukan bahwa hanya terkena beberapa tetes yang terciprat ke punggung tangan, memberinya sedikit bintik merah.

Dia segera melepaskan Yuan, baru kemudian menyadari Yunita di sisi lain yang sedang meringkuk kesakitan.

Kulitnya yang terbuka dengan cepat membengkak dan memerah, menunjukkan pemandangan yang mengerikan.

Pupil matanya menyempit, dia refleks langsung ingin melangkah maju.

"Kak Gery!" Yuan meraih lengannya pada saat itu, suaranya terisak, "Aku baik-baik saja, cuma sedikit sakit … tapi kakak .… Kak Yunita sepertinya terluka parah. Apa Kakak nggak mau memeriksanya dulu?"

Langkah Gery terhenti. Tatapannya beralih dari ekspresi kesakitan Yunita dan wajah Yuan yang penuh pengertian. Mengingat “kesalahan” Yunita sebelumnya, sorot matanya yang dalam berubah menjadi dingin dan keras.

Gery mengalihkan pandangannya, dan mengangkat Yuan ke dalam pelukannya. Suaranya tanpa emosi. "Biarkan saja dia. Biar dia menderita sedikit, agar dia nggak … menyakitimu lagi seenaknya nanti."

Setelah itu, dia menggendong Yuan dan melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 28

    Waktu berlalu dengan cepat, sepuluh tahun telah berlalu dalam sekejap mata.Yunita dan Davin diundang untuk menghadiri sebuah konser klasik bergengsi di Kota Valien, Auremon.Waktu seolah sangat baik kepada Yunita, pesona kedewasaan menambah daya tariknya, membuatnya tampak semakin anggun dan tenang. Berdiri di samping Davin yang masih tampan dan tak terkekang tetapi sekarang tampak jauh lebih dewasa, mereka tetap menjadi pasangan yang membuat orang iri.Selama waktu istirahat, Yunita pergi ke toilet, sementara Davin ditahan oleh seorang musisi yang dikenalnya untuk berbincang.Dia berjalan sendirian menyusuri koridor yang dilapisi karpet tebal, namun di tikungan, dia berpapasan dengan seseorang secara tak terduga.Dia adalah seorang pria yang duduk di kursi roda, dan didorong oleh seorang perawat. Dia mengenakan mantel gelap yang rapi, selimut menutupi lututnya. Rambutnya hampir seluruhnya putih, wajahnya tampak tua dan kurus dipenuhi kerutan. Hanya sorot matanya yang masih dalam, di

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 27

    Tidak ada kata-kata indah yang berlebihan, tidak ada janji palsu, hanya pengakuan paling lugas dengan gaya khas Davin. Namun, hal itu sangat menyentuh hati Yunita dibandingkan kata-kata manis apa pun.Memandang pria di hadapannya yang bersedia menerima semua kekurangannya dan memberinya kebebasan tanpa batas, matanya memanas, sementara senyum bahagia yang begitu cerah merekah di wajahnya.Dia mengulurkan tangan, mengangguk kuat, dan berkata dengan suara jernih serta tegas, "Iya! Aku mau menikah denganmu!"Davin terpaku sejenak, lalu melompat kegirangan, buru-buru memasangkan cincin di jari manisnya, ukurannya pas sekali!Davin mengangkatnya ke dalam pelukan, memutar-mutarnya di tempat, sangat bahagia seperti anak kecil yang menemukan harta karun paling berharga di dunia!"Yuhuu! Akhirnya aku punya istri!" teriaknya ke arah ladang lavender, suaranya bergema di senja hari.Yunita melingkarkan lengannya ke leher Davin, tertawa hingga air mata mengalir di wajahnya. Matahari terbenam menyi

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 26

    Ketika dokter keluar dengan wajah lelah dan mengumumkan, "Operasinya berhasil, tapi kondisinya masih kritis. Pemulihan selanjutnya akan sangat lama dan kemungkinan besar akan meninggalkan komplikasi serius," kaki Yunita terasa lemas. Dia hampir terjatuh ke lantai, untungnya Davin segera menopangnya.Gery terbaring tak sadarkan diri di unit perawatan intensif selama dua minggu.Selama itu, Heriadi Group kehilangan pimpinan, harga saham anjlok, dan situasi internal kacau.Melalui koneksi Davin, Yunita secara anonim memberitahukan kondisi Gery pada seorang tetua Keluarga Heriadi yang cukup dapat dipercaya untuk sementara menstabilkan keadaan. Saat Gery akhirnya pulih dan perlahan membuka matanya, yang dilihatnya hanyalah warna putih yang kabur.Rasa sakit yang hebat menjalar ke seluruh anggota tubuhnya, terutama di dada. Setiap tarikan napas terasa seperti siksaan yang menyakitkan.Dia memutar bola matanya yang kering, penglihatannya perlahan-lahan menjadi fokus dan melihat Yunita dengan

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 25

    Gery selalu memantau gerak-gerik Yunita secara diam-diam. Setelah mengetahui mereka berada di pulau ini, awalnya dia hanya ingin mengamati dari kejauhan. Namun, tanpa diduga menemukan tingkah mencurigakan Yuan dan anak buahnya, membuatnya melacak mereka hingga ke sini!"Lepaskan dia!" teriak Gery dengan mata berkilat merah seperti binatang terluka yang sekarat, menatap Yuan dengan tajam."Gery?" Yuan terdiam sejenak sebelum tawanya semakin gila. "Hahahaha! Kamu juga datang! Bagus! Sangat bagus! Sekalian saja aku mengirim kalian semua ke neraka!""Kamu mau apa? Lampiaskan padaku saja!" Gery melangkah maju perlahan, suaranya serak. "Lepaskan dia, nyawaku ini milikmu.""Nyawamu?" Yuan mencibir. "Aku sekarang nggak butuh apa-apa! Aku cuma mau dia menderita! Aku mau kamu lihat gimana caraku menyiksanya!"Untuk memprovokasi Gery, Yuan dan anak buahnya mulai melontarkan hinaan kejam pada Yunita, bahkan memukul Davin yang terikat dengan tongkat.Mata Gery memerah, tinjunya terkepal begitu erat

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 24

    Gery melangkah keluar, memandang wanita di bawah kakinya yang tergeletak seperti lumpur. Tak ada sedikit pun emosi di matanya."Cinta?" Dia mencibir, suaranya dingin dan menusuk. "Aku tahu betul bagaimana kamu dan ibumu bersekongkol untuk menindas Yunita. Dulu aku nggak menyentuh kalian karena merasa itu akan mengotori tanganku, dan juga ... agar Yunita bisa membalasnya sendiri."Pria itu berpikir sejenak, suaranya penuh dengan kebencian yang mendalam. "Sekarang, dia sudah bertindak. Aku sangat puas."Dia berbalik dan melemparkan kalimat terakhir kepada para pengawal di belakangnya, "Usir dia."Pintu utama tertutup dengan keras.Yuan terduduk lemas di lantai yang dingin, seolah-olah dia telah jatuh ke jurang.Dalam keputusasaannya, Yuan entah bagaimana menemukan tempat tinggal Yunita. Tubuhnya kurus kering, tatapannya berbisa seperti ular. Dia menjerit mengutuk Yunita, "Yunita! Dasar wanita terkutuk! Kamu akan mati dengan mengerikan! Kamu mencuri segalanya dariku! Kamu akan mendapatka

  • Pulihnya Sayap-Sayap Patah   Bab 23

    Kota Bandan, ruangan eksekutif di lantai teratas gedung Heriadi Group, suasananya sunyi seperti makam.Tirai tebal tertutup rapat, memutus seluruh cahaya dari luar. Gery terkulai di kursi eksekutifnya yang besar, botol-botol minuman keras kosong berserakan di kakinya.Tubuhnya kurus hingga tak berbentuk, rongga matanya cekung, rambut peraknya yang mencolok menambah kesan putus asa dan aneh.Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah foto hasil jepretan paparazi yang agak buram namun tetap jelas.Di sebuah kafe terbuka di sebuah kota kecil di Aurela Selatan, Yunita mengenakan gaun kuning pucat yang cerah, dia mendongak sambil tertawa, menyuapi Davin satu suap es krim.Davin memandangnya dengan wajah penuh kasih, jarinya mencubit lembut hidung Yunita. Sinar matahari menyelimuti mereka, tampak indah hingga menyilaukan mata."Uhuk!"Seteguk darah menyembur dari mulut Gery tanpa peringatan, memercik ke layar ponsel dan karpet wol mahal, menyebarkan warna merah menyala.Dia terbatuk hebat,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status