Share

Bab 4

Author: Allina
last update publish date: 2026-03-30 15:53:43

Tanpa menunggu persetujuan, tangan kekar Arya langsung melingkar kuat di pinggang ramping Sisca. Wanita pemilik klab itu menjerit kaget saat tubuhnya ditarik paksa. Tubuh Sisca langsung menempel rapat pada dada bidang Arya yang penuh keringat.

"Lepaskan aku, Arya! Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu ya! Berani-beraninya kamu menyentuh bosmu sendiri di depan semua orang!" ronta Sisca sambil berusaha memukul pundak raksasa pria itu sekuat tenaga.

"Lepaskan tangan kotor ini dari tubuhku sekarang juga! Aku janji akan memecatmu dan membuat hidupmu menderita selamanya!"

Arya mengabaikan pukulan lemah Sisca sama sekali. Pria purba itu langsung membopong tubuh montok wanita itu di atas bahu kanannya dengan sangat mudah.

"Tunjukkan di mana sarangmu, Betina! Kita selesaikan urusan aroma gairah ini di ruang kerjamu saja. Sebagai kepala suku yang baik, aku harus memastikan betinaku mendapat kepuasan batin, bahkan kalau perlu, sampai kamu pingsan!!"

"Turunkan aku, dasar cowok gila! Kalian semua ngapain cuma diam saja, hey, cepat tolongin aku!" teriak Sisca terus histeris sepanjang lorong menuju ruang kerja pribadinya di ujung ruangan.

Dan ya, tidak ada satupun yang berani menentang sosok Alpha satu ini.

Entahlah, satpam-satpam hanya diam setelah Arya menunjukkan kekuatan tangannya. Untung masih tangan aja, sih, untung satpam itu tidak kena tamparan pusaka gading Mammoth milik Arya, kemungkinan besar langsung koma 3 hari.

Pintu kayu berukir itu akhirnya terbuka lebar menerima kedatangan pejantan purba yang sedang kelaparan. Arya melangkah masuk dan langsung menendang pintu itu hingga tertutup rapat.

Di atas meja kayu jati yang kelewat luas itu, tubuh Sisca terguncang hebat. Laporan keuangan miliknya sampai berhamburan jatuh ke lantai keramik akibat pergerakan brutal dari sang pria purba.

Arya sama sekali tidak memberikan ampun kepada wanita bos yang tadinya marah-marah tersebut.

"Arya, ampun! Sumpah, aku udah nggak kuat nerima punya kamu ini!" jerit Sisca sambil meremas ujung meja dengan jari gemetaran. "Napasku bisa putus beneran kalau kamu ngegas terus kayak gini!"

Sambil menyeringai lebar, pria purba itu justru menahan pinggul Sisca makin rapat. "Tadi kamu galak banget ngancam mau ngurung kepala suku. Sekarang malah nangis minta ampun, tapi anehnya jepitan kamu makin kencang di bawah sana. Udahlah Betina, ngaku aja kamu suka sama milik kepala suku, kan?"

Sisca hanya diam dan coba berontak, meski bagian bawahnya bergoyang dengan sendirinya.

"Dasar betina aneh! Marah-marah terus, padahal kamu cuma butuh pejantan tangguh buat nurunin sifat kasar kamu itu, kan?" goda Arya sambil kembali memompa senjatanya lebih dalam.

Wanita pemilik klab itu hanya bisa mendongakkan kepalan. Keringat mereka bercucuran deras membasahi permukaan meja kerja yang tadinya rapi. Tidak lama setelah itu, terdengar suara decitan pintu yang sengaja dibuka sedikit dari arah luar.

Tepat dari celah pintu yang tidak tertutup rapat itu, Sonya sedang mengintip kejadian panas di dalam. Aktris cantik itu menelan ludahnya susah payah melihat stamina Arya yang seakan tidak ada matinya.

"Gila aja, tulangku pasti rontok semua kalau harus ngelayanin dia sendirian tiap malam," batin Sonya sambil mengusap keringat dingin di dahinya. "Aku harus bagi jatah sama wanita lain biar badanku bisa istirahat, tapi dia masih kuat aja, mana abis gelut juga!"

Saking paniknya melihat Sisca hampir pingsan karena keperkasaan Arya, Sonya langsung mendorong pintu ruang kerja itu lebar-lebar. Wanita itu melangkah masuk dengan mengenakan mantel tebal untuk menutupi pakaian dalamnya yang sudah robek.

"Kepala Suku, udah cukup mainnya, kamu harus ikut aku. Sekarang waktunya makan!" panggil Sonya dengan nada suara yang sengaja dibuat keras.

Mendengar suara berisik itu, Arya menghentikan gerakannya dan menoleh dengan dahi berkerut tajam.

"Ngapain kamu masuk ke sarang betina ini dan nyuruh aku berhenti? Aku masih mau nanam benihku sekali lagi biar betina galak ini beneran tunduk padaku! Jangan berani-beraninya ganggu urusan kepala suku!"

"Kamu tadi bilang mau tempat yang banyak makanan enak, kan?" bujuk Sonya dengan cepat sebelum Arya mengamuk. "Aku bakal beliin kamu daging sapi paling tebal dan paling enak di luar sana."

"Kamu juga butuh kain penutup badan yang baru karena kemejamu udah hancur semua. Ayo cepetan lepasin Mami Sisca dan ikut aku makan daging sekarang!" tambah wanita itu sambil berkacak pinggang.

Mendengar kata daging, telinga Arya seketika berdiri tegak. Insting laparnya langsung mengalahkan gairah kawin yang masih tersisa di dalam perutnya. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung mencabut pusakanya dari tubuh Sisca yang langsung terkulai lemas.

"Itu yang kepala suku mau! Daging, arghh, daging apa yang kamu maksud? Apa Brontosaurus, Trecaroteps, atau Mammoth yang agak-agak empuk itu?" Arya melangkah mendekati Sonya dengan napas masih ngos-ngosan.

Sonya menghela nafas berat, sebelum menjawab pertanyaan gila Arya. "Ikut aja, nanti kepala suku tau sendiri daging yang kayak gimana!"

"Awas aja kalau kamu bohong! Bakal aku kurung kamu di dalam gua gelap sampai besok pagi!"

Seketika Sonya melemparkan sebuah handuk besar untuk menutupi bagian bawah tubuh Arya yang masih berdenyut-denyut. Pria itu melilitkan handuk tersebut ke pinggangnya dengan asal-asalan saja

Beberapa menit kemudian, mereka berdua berjalan cepat meninggalkan lorong klab malam menuju tempat parkir.

Sesampainya di area parkir bawah tanah, udara dingin langsung menusuk permukaan kulit. Sonya berjalan mendahului Arya menuju sebuah mobil berwarna merah mengkilap. Tiba-tiba pria purba itu menghentikan langkahnya dan menatap benda tersebut dengan penuh curiga.

"Ayo cepetan masuk! Kita harus pergi dari sini sebelum ada wartawan yang motret penampilanku," perintah Sonya sambil membuka pintu kemudi.

Tepat saat itu juga, lampu depan mobil menyala sangat terang dan mesinnya menderu keras.

Mata Arya langsung membelalak lebar melihat kilatan cahaya di depannya. Pria kekar itu refleks melompat mundur dan memasang kuda-kuda bertarung yang kokoh.

"Awas, Sonya! Jauh-jauh dari monster besi itu sekarang juga! Dia punya dua mata nyala dan suaranya menggeram ngeri banget!"

Sebagai Alpha, tentu perasaan melindungi seperti ini sudah mutlak ada dalam diri Arya.

"Aku bakal pukul kepalanya sampai hancur biar kamu selamat, betina!" seru Arya sambil mengepalkan tangan kanannya erat-erat. Pria itu sudah bersiap berlari kencang ke arah kap mesin mobil.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Purba Sang Pemuas   Bab 8

    Dua bodyguard bule raksasa itu sontak maju selangkah memasang badan tegap menghalangi jalur jalannya."Minggir!" Arya mendesis tajam memberikan peringatan mematikan untuk kedua pria asing tersebut."Kalian berdua pejantan bule kelebihan lemak mending minggir dari hadapanku sekarang juga sebelum terlambat! Jangan sampai aku mematahkan leher besar kalian persis seperti matahin ranting kering di dalam hutan sana!"Tentu saja kedua bule sombong itu tidak paham bahasa Arya dan malah balik mendorong dada bidang sang kepala suku. Hanya bermodalkan satu sapuan punggung tangan kosongnya, Arya membalas dorongan pelan itu. Kedua bodyguard berbadan terlatih tersebut seketika terpental jauh mundur belasan langkah ke arah belakang.Punggung raksasa kedua bule itu menabrak tembok ruangan marmer sampai berbunyi retakan luar biasa kencang.Karina langsung membelalakkan matanya lebar-lebar saking shock berat melihat pemandangan ajaib barusan. Jarak antara sang ratu es dan sang kepala suku kini tersisa

  • Purba Sang Pemuas   Bab 7

    Sisca sontak mendongakkan kepalanya ke atas dan tertawa terbahak-bahak tanpa canggung. Wanita bergaun merah marun itu menggeser posisi duduknya menempel sangat rapat ke paha berotot Arya."Ya ampun, Arya! Kita ini lagi asyik baca komentar netijen-netijen di internet tentang kamu. Coba deh kamu lihat medsos sekarang juga, biar kamu liat sendiri. Video pas kamu berantem sama preman-preman tadi udah ditonton dua juta orang se-Indonesia, kamu viral banget loh!"Bola mata Arya terbelalak hingga nyaris keluar tepat ketika dia melihat layar ponsel tersebut. Jantung sang kepala suku berdegup super kencang berdebar-debar merasakan ketakutan luar biasa."Sihir!" Arya refleks melompat jauh ke belakang menabrak dinding marmer dengan bantingan keras."Gila, kalian semua, betina kota emang suka main ilmu hitam, ya! Benda sihir mematikan apa yang kalian pegang? Kenapa wajah dan seluruh tubuhku bisa ditarik masuk ke dalam kotak kecil bercahaya itu dengan gampang? Cepetan hancurin batunya! Keluarin ji

  • Purba Sang Pemuas   Bab 6

    Tanpa menunggu balasan Arya, Sonya segera menarik kencang tangan pria yang masih menjilati sisa saus di jarinya itu. Mereka berdua bergegas lari kabur menuju mobil dan meninggalkan restoran sebelum polisi datang.Sesampainya di area depan klab milik Sisca, suasana mendadak riuh menyambut kedatangan mereka.Rumor tentang keperkasaan Arya melempar pengusaha dan staminanya di kamar VVIP sudah menyebar luas. Banyak LC elit dan tamu kaya raya sengaja berkumpul padat di depan pintu masuk."Wah, itu dia si Arya yang lagi viral diomongin! Katanya tenaganya brutal banget dan staminanya nggak ada matinya, ya?" goda seorang LC muda sambil mengedipkan matanya genit ke arah Arya."Minggir kalian semua, kalian ini LC murha, beda sama kita. Minggir, cepat, dasar pelayan klab! Arya, mending temenin tante malam ini di hotel paling mewah. Tante bakal langsung beliin kamu mobil sport baru asalkan kamu bisa bikin tante puas sampai pagi!" sahut wanita paruh baya berdandan menor dari barisan depan.Mendapa

  • Purba Sang Pemuas   Bab 5

    Melihat kelakuan barbar itu, Sonya langsung menjerit histeris. Aktris itu buru-buru merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi laju tubuh besar Arya."Berhenti, Arya! Ini tuh mobil buat jalan-jalan di kota, benda ini aman dan nggak bakal gigit kamu sama sekali!" omel Sonya sambil memelototi wajah Arya kesal. "Kalau kamu pukul mobil ini, kepalamu yang ganti aku pukul pakai hak sepatu!""Mobil itu fungsinya mirip kuda raksasa yang bisa lari cepat. Emang ya, dasar orang Purba! Kamu duduk tenang aja di kursi, nanti monster ini bakal bawa kita ke tempat makanan. Udah, jangan banyak tingkah, atau kamu ga jadi makan daging!"Setelah mendengar omelan panjang itu, perlahan Arya menurunkan kepalan tangannya dengan ragu-ragu. Pria itu masih menyempatkan diri mengendus-endus bagian pintu mobil untuk mencari tahu apakah ada bahaya."Kuda raksasa apaan ini? Badannya keras banget dan dingin pas aku pegang," ucap Arya sambil duduk pelan-pelan di kursi penumpang. "Oke, aku naik ke perut monster in

  • Purba Sang Pemuas   Bab 4

    Tanpa menunggu persetujuan, tangan kekar Arya langsung melingkar kuat di pinggang ramping Sisca. Wanita pemilik klab itu menjerit kaget saat tubuhnya ditarik paksa. Tubuh Sisca langsung menempel rapat pada dada bidang Arya yang penuh keringat."Lepaskan aku, Arya! Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu ya! Berani-beraninya kamu menyentuh bosmu sendiri di depan semua orang!" ronta Sisca sambil berusaha memukul pundak raksasa pria itu sekuat tenaga."Lepaskan tangan kotor ini dari tubuhku sekarang juga! Aku janji akan memecatmu dan membuat hidupmu menderita selamanya!"Arya mengabaikan pukulan lemah Sisca sama sekali. Pria purba itu langsung membopong tubuh montok wanita itu di atas bahu kanannya dengan sangat mudah."Tunjukkan di mana sarangmu, Betina! Kita selesaikan urusan aroma gairah ini di ruang kerjamu saja. Sebagai kepala suku yang baik, aku harus memastikan betinaku mendapat kepuasan batin, bahkan kalau perlu, sampai kamu pingsan!!""Turunkan aku, dasar cowok gila! Kali

  • Purba Sang Pemuas   Bab 3

    Seketika suasana lorong VVIP itu berubah menjadi sangat kacau balau. Beberapa wanita berpakaian ketat langsung menjerit keras sambil menutup mata mereka rapat-rapat."Mau pamer kalau punya dia gede kali ya, mentang-mentang lorong VVIP isi cewek cakep semua!" teriak seorang wanita gemuk dengan riasan menor sambil menutup mulutnya, tak percaya.Tentu saja mereka kaget melihat Arya berjalan sangat percaya diri, tanpa pakaian, dengan cacing besar alaska miliknya yang menyapa para pengunjung.Meskipun begitu, ada juga wanita hidung belang yang justru sengaja membuka celah jarinya lebar-lebar. Mereka malah mengintip Arya sambil menelan ludah berkali-kali, melihat betapa bagusnya bentukan traktor Arya.Padahal, selama ini Arya dirumorkan traktornya ga bisa nyala. Atau ya, kalau nyala, palingan cepat lowbet karena dua menit saja sudah keluar.Berbeda dengan si pria Purba dalam diri Arya, dia sama sekali tidak peduli traktornya yang sangat besar dan menyita perhatian. Purba satu ini malah teru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status