로그인Tresna masih berdiri mematung di halaman depan dengan mata terbelalak lebar menatap satu titik di tengah semak belukar yang nampak sangat janggal. Ia melihat sebuah patung singa penjaga yang terbuat dari batu hitam pekat di antara tanaman liar tersebut.
Kondisi patung itu bersih tanpa lumut sedikit pun, seolah baru saja ada tangan gaib yang merawat permukaannya di tengah hutan jati yang angkuh. Hal ini sangat kontra
Tante Arum tak menjawab. Langkah kakinya yang tenang terus mendekati tempat Clara dan Wira berada. Mengikuti arah napas dan isakan kecil balita itu, Tante Arum meraba pelan rumput pekarangan lalu berlutut tepat di depan Wira."Sini, Nak," bisik Tante Arum lembut.Dari saku kebayanya, Tante Arum mengeluarkan batu hitam kecil yang tadi sempat dia gunakan. Batu itu kini tak lagi panas, melainkan memancarkan hawa sejuk yang aneh. Jemari Tante Arum meraba perlahan, menemukan dahi Wira yang basah oleh keringat dingin, lalu menempelkan batu hitam itu tepat di tengahnya."Tante... Itu buat apa?" tanya Clara panik, menahan napas seraya memegang bahu anaknya."Tahan sebentar, Clara. Demamnya bukan hanya karena demam biasa," sahut Tante Arum tenang. "Hawa panas sudah menyumbat dadanya."Wira yang tadinya terengah-engah mendadak tenang. Napas bocah empat tahun itu pelan-pelan makin teratur. Rasa hangat dan sesak di dadanya mendadak hilang begitu dahi kecilnya tersentuh batu sejuk itu."Ibu..." bi
"Tolong! Maling! Cegat mereka!" jerit Silvi dari samping amben, meringis menahan sakit di kakinya yang terkilir saat mencoba berdiri.Namun tiga penyusup itu tak memedulikan teriakan Silvi. Mereka melompati pagar besi pekarangan dan menghilang di balik pekatnya malam desa.Fwooosh!Lidah api yang tadi menyambar jerami kering kini kian tak terkendali. Kobaran api menyambar dinding kayu bagian samping rumah joglo dengan cepat dan memancarkan asap hitam tebal ke udara. Suara kayu jati tua yang mulai terbakar berderak nyaring, membawa hawa panas yang menyengat hingga ke teras."Gusti! Apinya membesar! Linda, apinya nyamber!" teriak Silvi panik, matanya membelalak menatap kobaran merah di samping rumah."Ambil air!" seru Linda dari pintu depan. Sambil menahan bahunya yang terkilir, Linda berlari pincang menuju gentong tanah liat di sudut teras. Dia mengambil air menggunakan ember plastik tua.Tanpa memedulikan rasa nyeri di kakinya, Silvi ikut menyeret tubuhnya ke dekat gentong. Tangannya
"Lepasin! Jangan sentuh anakku!" teriak Clara dari lantai dengan suara parau.Sambil merangkak cepat di atas lantai berdebu, Clara langsung memeluk erat kaki kanan penyusup itu. Dia menahan kaki si penyusup sekuat tenaga agar tidak bisa melangkah mendekati kasur."Lepas, Bangsat!" bentak si penyusup gusar.Pria itu mengibaskan kakinya kasar, tapi Clara makin meremas pergelangan kakinya. Langkah pria itu tertahan, jarinya batal menyambar baju Wira."Lepas nggak?!" teriak pria itu seraya menghentakkan kakinya."Nggak bakal!" seru Clara histeris, terus mengunci kaki pria itu.Wira yang melihat ibunya diseret di lantai mendadak berhenti menangis. Matanya yang sembap menatap Clara yang sedang ditahan pria itu. Meski badannya masih lemas dan sempoyongan bekas demam, anak balita itu memaksakan diri bangun."Lepasin Ibu! Jangan nakal!" teriak Wira dengan suara serak.Dengan kaki gemetaran, Wira berdiri di atas kasur sambil memegangi pinggiran dipan. Tangan mungilnya mengepal, lalu memukul-muk
Suasana pekarangan rumah joglo terasa makin mencekam saat hari berganti gelap. Suara hentakan sepatu lars yang berat di atas pecahkan ubin teras terdengar jelas, mendekat dengan cepat ke arah mereka."Linda! Mereka makin dekat! Gimana ini?!" bisik Silvi panik dengan napas terengah-engah."Kalian di dalam aja! Amankan berkasnya!" potong Linda cepat, langsung melangkah keluar kamar menuju teras."Tapi mereka bertiga!" seru Silvi menyusul dari belakang."Aku tahu. Tapi kita nggak boleh biarin mereka masuk!" jawab Linda tegas, matanya tertuju pada tiga pria berbadan tegap di pekarangan.Silvi tak mau tinggal diam. Ia berlari ke teras depan sambil menengok kanan-kiri, mencari apa saja yang bisa dipakai melipat lawan. Tangannya refleks menyambar tampah bambu bekas jemuran kerupuk di samping amben."Pergi kalian! Nggak usah macam-macam di sini!" teriak Silvi sambil mengangkat tampah tinggi-tinggi."Silvi, awas!" seru Linda dari tangga teras.Tanpa pikir panjang, Silvi melempar tampah itu sek
Keheningan seketika menyelimuti kamar tengah rumah joglo saat deru tangis Wira perlahan mereda. Tangan mungilnya yang memar terkulai lemas di atas kasur, matanya yang bening menatap lurus ke arah celah di balik lemari kayu jati yang telah bergeser."Clara, coba kamu lihat ke balik lemari itu," seru Linda menahan napasnya. Kedua tangannya masih menempel ketat di daun pintu kamar demi menahan sisa getaran dari arah teras. "Sesuatu yang diomongin Wira pasti ada di sana!"Clara tidak membuang waktu. Dengan langkah bergetar, dokter itu melangkah mendekati sudut kamar. Debu semen putih berterbangan menutupi lantai kayu di sekitar celah tersebut."Hati-hati! Siapa tahu ada pecahan bata atau hewan berbisa di dalamnya!" peringat Silvi setengah berbisik, matanya ikut melirik waspada ke sudut ruangan."Iya, Sil," jawab Clara pelan.Clara berlutut di atas lantai kayu yang kotor oleh serpihan semen. Dia menyipitkan mata, mengamati rongga rahasia berukuran satu jengkal yang tersembunyi di balik sus
Suara gemuruh nyaring mendadak muncul dari dalam bumi, persis di bawah pijakan kaki mereka. Meja teras bergetar hebat hingga cangkir teh yang tersisa bergoyang keras dan jatuh berdenting ke ubin."Awas!" teriak Linda refleks merangkul bahu Silvi dan Tante Arum.Ubin teras berwarna abu-abu yang berada tepat di bawah amben bambu mendadak terbelah. Retakan panjang merambat cepat sepanjang satu meter, memperlihatkan celah hitam di balik ubin yang pecah.Dari balik retakan tanah tersebut, kepulan asap tipis berwarna keabu-abuan keluar perlahan. Aroma sengatan belerang yang sangat tajam dan hawa panas mendadak menyeruak memenuhi teras rumah joglo, membuat mereka semua terbatuk-batuk."Asap apa ini?!" jerit Silvi sambil menutupi hidung dan mulutnya pakai keliman baju. "Baunya aneh banget! Panas!""Asap belerang..." bisik Linda dengan mata terbelalak menatap ubin yang terbelah.Clara memeluk erat tubuh Wira yang makin kejang di dalam dekapannya. "Linda! Silvi! Asapnya makin tebal!""Jangan di







